Share

Aku Sakit....

Pagi-pagi sekali, saat aku bangun hendak mandi, aku sudah tak mendapati Inder di sampingku. Entah kemana perginya itu pria.

Saat aku hendak masuk ke kamar mandi, tiba-tiba Inder masuk dengan pakaian rapi namun rambutnya masih tampak basah.

Wah, ternyata meskipun ia monster, rupanya ia rajin juga. Bangun lebih awal dariku, bahkan sudah rapi.

"Apa liat-liat?" ketus Inder, "apa matamu ketuker dengan mataku."

Eh, apa barusan ia bilang? Astaghfirullah…aku benar-benar kaget, ternyata selain ia monster ternyata ia punya mulut genre 21+, hot alias panas.

Kesel? Tentu. Oleh karena itu, tanpa berkata-kata aku melintas di depannya, segera masuk ke kamar mandi.

"Jangan masuk dulu!"

Sontak kakiku yang sudah menginjak lantai kamar mandi terhenti saat mendengar instruksi dari Inder.

Aku menoleh, menatap Inder yang melangkah ke arahku.

Ingin bertanya apa. Ah, tapi aku malas bicara dengannya.

"Minggir." Tangan Inder menggeser tubuhku dengan kasar. Sungguh, aku seperti tiada harga di depan dia. 

Pengen nangis, tapi aku tak mau jadi istri di film ikan terbang. Ku Menangis….

Inder mengangkat keranjang pakaian kotor, dan membawanya keluar dari kamar mandi.

"Mau dibawa kemana, Mas?" 

Ah, akhirnya aku bertanya juga padanya. Habis aku penasaran. Sebab di keranjang pakai kotor tersebut juga ada pakaianku.

"Mau aku bawa ke laundry," jawabnya ketus tanpa melihatku dan terus berjalan ke arah pintu kamar.

"Tidak perlu, Mas!" 

Langkah Inder sontak terhenti. Dan kali ini menoleh menatapku. Tanpa ekspresi.

"Mulai saat ini…biar aku saja yang mencuci pakaian kita. Jadi gak perlu lagi bawa ke laundry."

Inder diam….

"Biar hemat," lanjutku.

Inder masih diam. Tanpa ekspresi. Pandangannya lekat menatapku.

"Aku bisa kalau hanya mencu—"

"Kalau begitu lakukan dengan baik." Inder meletakkan keranjang pakaian kotoran tersebut dengan kasar di lantai.

Setelahnya, ia melangkah keluar kamar.

Sedangkan aku…aku termangu di tempat. 

Heran!

*****

Pagi ini Inder menawarkan diri untuk mengantarku ke kampus. Entah apa penyebabnya kenapa ia mendadak baik padaku. Apa karena semalam aku menuruti kemauannya, menghangatkan ranjangnya?

Aku rasa bukan, sebab hal itu sudah sebuah kegiatan rutin bagi Inder tiap malam.

 Aku masuk terlebih dahulu  ke dalam mobilnya. Menunggu Inder yang tadi  masih ada sesuatu yang tertinggal didalam.

Saat sudah duduk di dalam mobil, tak sengaja aku melihat Hp Inder di dashboard mobil. Mendadak muncul keinginan untuk menyentuhnya.

Sebuah notif pesan berbunyi tatkala tanganku mengambil Hp Inder. Dan ternyata dari Cleo.

Si mantan terindahnya.

Saat jariku menyentuh layar Hp Inder, foto Cleo langsung terpampang sebagai wallpapernya.

Bus*t…mantan Inder cantik banget. Begitu indah dipandang. Meskipun aku sudah tahu wajah asli Cleo, tapi tetap saja foto ini berlipat-lipat kali cantiknya. Aih…aku minder ngeliatnya. Dan aku….

Mengiri….

Aku tersenyum miris, mungkin di dunia ini hanya aku satu-satunya istri yang tak menyelidiki dan memarahi suaminya saat diam-diam berhubungan dengan wanita lain. Lebih-lebih mantannya. 

Diam-diam?  Entah pantas atau tidak aku sebut diam-diam mengingat hubunganku dengan Florian yang tak sewajarnya, sebagaimana pasutri pada umumnya.

Aku melempar Hp Inder ke tempat asal semula. Percuma, Hp nya terkunci aku tak bisa membaca pesannya.

Tak lama dari itu Inder masuk ke dalam mobil, namun belum sempat menghidupkan mobil, Hp nya kembali berbunyi, lantas ia memeriksanya.

"Ma'af, Din, kayaknya aku gak bisa mengantarmu ke kampus, mendadak aku ada urusan di kantor." Inder berbicara tanpa melihatku, tangannya sibuk mengetik pesan di Hp nya.

Segitu pentingnya kah Cleo untukmu? aku tahu kamu hanya alasan ada urusan di kantor mu,  yang sebenarnya adalah, kamu ingin menemui mantanmu itu, kan? 

Ah, entah mantan atau masih pacarnya yang sekarang sudah menjelma jadi selingkuhan, sebab kan sekarang aku pasangan resmi Inder yang diakui.

Jadi lebih tepatnya, Cleo itu bukan mantan terindahnya Inder, melainkan selingkuhan terindahnya.

Tapi perlu di garis bawahi, bahwa tak selamanya selingkuh itu indah.

"Jadi kamu berangkat dengan taksi saja, ya?" kali ini Inder menatapku.

Aku mengangguk sambil menyelipkan senyuman, tak ingin terlihat kecewa yang akan membuatku terlihat rendah di depannya, dan Cemen.

Aku harus strong. Bukankah aku juga punya misi dalam pernikahan ini, sama dengan Inder.

Tapi…aku cinta Inder. Tapi Inder tak cinta aku. Ia cinta mantannya. Itu yang membedakan.

Hiks….

Sakit sebenarnya menerima kenyataan suami lebih memilih mantan daripada istrinya.

Aku sakit…sungguh sangat sakit.

______

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status