Share

Jangan Bodoh!

Akhirnya…aku berjalan ke arah jalan besar, setelah Inder menurunkanku tanpa perasaan dari mobilnya. 

Bahkan Inder tak merasa bersalah saat tadi ia menurunkanku. Padahal tadi aku sempat mengharap Inder akan menurunkan ku di jalan besar, agar aku tak perlu berjalan kaki untuk menunggu taksi.

Jadi seperti ini sakitnya? Saat kita kalah saing dengan mantan?

Apalagi mantannya cantik. Ah, Cleo bukan cantik, ia lebih pantas disebut indah. Sebab cantik milik setiap wanita, namun indah itu hanya milik kamu, sebutan dari  Inder untuk Cleo.

Begitu tulisan tangan Inder yang aku baca di album foto yang kutemukan di bawah bantalnya.

Entah sudah berapa lama aku berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi, namun belum ada satupun taksi yang lewat, bahkan yang ada penumpangnya sekalipun tak kujumpai.

Pada kemana taksi hari ini? Apa mereka lagi sama galaunya sepertiku, hingga mereka melakukan cuti bersama.

"Tittt…."

Aku yang terkejut dengan suara klakson mobil yang seperti sudah sengaja ditujukan padaku, sontak saja aku segera menoleh, menatap ke mobil yang saat ini sedang menepi mendekati tempat dimana aku sedang berdiri.

Jendela kaca mobil turun dan bersamaan dengan itu tampaklah sebuah wajah yang tak asing untukku.

"Mas An!" seruku, saat melihat siapa pemilik mobil tersebut, adalah Andra. Saudara tiri Inder.

"Masuklah!" Ia berkata tanpa menatapku. Dih, sombong amat.

"Aku tahu kamu butuh tumpangan untuk pergi ke kampus. Oleh karena itu aku menawarkan tumpangan padamu." Ia berucap dengan masih tanpa melihatku.

Aku masih bergeming.  Ragu dengan tawarannya.

"Aku tak memaksamu untuk mau, tapi aku bilangin hari ini taksi tak ada."

"Darimana kamu tahu." Tak tahan aku menanyakannya.

Bukannya menjawab, Andra malah menghidupkan mesin mobilnya.

Sontak saja aku segera membuka pintu mobil bagian depan. Takut ditinggal.

Terpaksa, takut  telat masuk kelas. 

Ini semua gara-gara Inder. Dasar suami tak tanggung jawab.

*****

Selama dalam perjalanan, hening.

Aku dan An sama-sama diamnya. Kami tak terlibat dalam sebuah obrolan pendek pun.

"Mas An kenapa mau memberikan tumpangan padaku?" 

Aku yang tak suka kesepian dan diem-dieman saat sedang bersama dengan seseorang pun bertanya, memecah keheningan.

"Hanya sebatas kasihan, tak lebih." Nada suara An saat menjawab terdengar dingin.

Ah, benar-benar sebelas dua belas dengan Inder.

Suasana kembali hening. Tak ada lagi percakak di antara kami berdua.

Aku ingin bertanya lagi tapi tak selera. Aku tak suka yang dingin-dingin.

"Apa saja yang Inder janjikan padamu. Hingga kau mau menikah dengannya. Membantu ia mendapatkan perusahaan yang selama ini ia incar?" An bertanya. 

Entah kenapa aku merasa sebenarnya ini tujuan An mengantarku. Ia ingin mengorek informasi tentang Inder.

Aku tersenyum kecut. Rupanya An sama saja. Suka manfaatin keadaan. Persis Inder.

"Tidak ada. Aku dan Inder punya kesepakatan masing-masing dengan pernikahan ini. Kami punya misi masing-masing," jawabku, juga tanpa meliriknya.

Namun masih dapat kulihat dari pandangan ekor mataku kalau An  tersenyum kecut saat mendengar jawabanku.

"Jangan bodoh. Apa yang kamu dapatkan dari Inder itu tak seberapa dengan apa yang Inder dapatkan dari pernikahan kalian ini." Kali ini An berucap dengan mata melirik. Walaupun sekilas.

"Aku sarankan kamu jangan mau hanya mendapatkan apa yang saat ini kamu sepakati dengan Inder."

"Jadi kamu tahu apa kesepakatan yang aku minta?" Tak tahan aku untuk tidak menanyakannya pada An.

"Hanya uang semester, sih!" An tersenyum sinis di akhir kalimatnya.

"Coba saja kamu perhitungan, uang semestermu berapa. Apalagi aku dengar kuliahmu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Sungguh, itu tak ada seujung  kuku pun dari apa yang Akan didapatkan oleh Inder. Inder dapat besar dari apa yang kalian sepakati ini."

Iya, sebelum nya aku kuliah menggunakan uang warisan peninggalan Bapak, namun tiba-tiba habis saat Dirham juga masuk kuliah.

Aku yang tak mau putus di tengah jalan, akhirnya dapat ide untuk menikah dengan pria kaya. Untuk lanjut membiayai kuliahku.

"Tapi Inder juga memberiku uang!" Aku segera menimpali. Sebab aku tak mau Andra anggap aku ini wanita bod0h, yang tak tahu apa-apa. Dan kesannya saat ini aku sedang dimanfaatin oleh Inder. Tapi aku juga memanfaatkan Inder disini.

Lagi-lagi Andra tersenyum sinis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau benar-benar bod0h ternyata. Aku kira kamu ngejar pendidikan tinggi sudah bisa pintar memilah."

"Apa katamu!" Aku tak terima dengan kata-kata Andra yang secara tidak langsung mengatakan kalau aku ini percuma mengejar pendidikan tinggi tapi masih saja bod*h.

"Apa hanya karena Inder memberimu uang, itu sudah kamu anggap sebuah keuntungan. Heh! Wanita, ingat! Itu bukan keuntungan yang kamu dapat, tapi itu memang nafkahmu, sebagaimana kamu memberikan Inder juga nafkah."

"Apa!" Aku yang terkejut, menatap Andra dengan tajam dari samping.

Andra juga menoleh menatapku, namun ekspresi ya datar. "Tidak mungkin, kan, Inder menganggurkan dirimu di ranjang di tiap malamnya?" Kali ini tatapan Andra tampak mengejek.

Beberapa kali aku mengedip-ngedipkan mata. Berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Andra.

Dan itu benar adanya. Namun….

"Makanya, aku bilang jangan bod0h!"

Aku termangu mendengar kata-kata An. Apa benar yang dikatakan An, kalau aku ini bodoh.

ya, aku rasa aku bodoh. Apa yang diberikan Inder itu sudah jadi nafkah. Seperti halnya yang aku berikan pada Inder disaat malam hari.

Dan sekarang aku sadar. Iya, aku memang bodoh. Sepeti apa yang dikatakan oleh Mas An.

Tak terasa air mataku mengalir karenanya.

______

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status