Share

Diary-ku

Author: Hitam Putih
last update publish date: 2022-06-08 11:09:23
Usai menyiapkan keperluan untuk berangkat ke kota, aku memilih menemui Ibu di kamarnya, berbantal di pangkuannya dengan perasaan yang semakin lama terasa semakin memberat. Jelas aku bahkan diam-diam berharap kalau yang terjadi akhir-akhir ini hanyalah mimpi buruk. Aku tidak pernah benar-benar ikhlas, dan kalau sudah begini mimpi-mimpi yang dulu terasa nyata hancur berantakan.

"Nanti kalau Rara sudah menikah, apakah Ibu boleh tinggal sama Rara?"

Itu pertanyaan yang dulu sempat Ibu lontarkan s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Wanita Penghibur   Pesan Dari Ravan

    "Teh, apa Teteh sudah membaca diaryku?"Chayra bertanya lemah, suaranya nyaris tak terdengar, bibirnya yang biasa tersenyum itu kini tertutupi selang oksigen. Aku tiba-tiba merasa tidak nyaman, rasa kesalku menguap begitu saja. "Sudah, Cha, tapi belum semuanya."Aku memegang lengan Cha, duduk di sampingnya setelah sebelumnya membantunya bersandar dengan melapisi punggung dipan menggunakan bantal.“Aku tidak tahu kenapa kau memberiku diary itu, Cha.” "Aku hanya tidak mau Teteh salah paham."“Salah paham?” Aku tersenyum miring. "Kau bahkan tidak membahas siapapun selain Devano!" Nadaku tiba-tiba berubah kesal. Tetapi buru-buru sadar dan langsung meminta maaf. "Devano memang akan selalu jadi fokus aku, Teh."Dia tersenyum kecil, jauh sekali dari kata marah, apa dia memang secinta itu? Astaga, wanita ini, sepertinya dia memang sudah tak tertolong lagi."Tapi diary itu bahas Kak Ray juga kok."Kok, dia mengatakan kok, seolah-olah cerita tentang ray sudah dia paksakan sebaik mungkin, se

  • Wanita Penghibur   Rasa Bersalah

    Apa Gana menjebakku? Apa dia yang mencampur obat bius pada jus yang aku minum? Kalau memang benar kenapa Gana bisa seberani itu?Aku tahu sekali siapa Gana, Mami Berta menjadikan Gana orang kepercayaan bukan tanpa alasan. Gana tidak pernah melanggar aturan yang ditetapkan Mami Berta, dan tidak menggangguku adalah aturan yang sejak dulu Mami buat untuk Gana, apalagi Gana juga selalu menujukkan tidak pernah mau berurusan dengan keluarga Bagaskara. Tetapi sekarang? Apa dan kenapa?[Kamu sudah pulang, Rahma?] Itu dari nomor asing, aku baru membacanya setelah naik grab. Nomor itu ternyata bukan sekali itu mengirimiku pesan tapi juga semalam? Sekitar jam 21:40, dan hanya berisi kamu kenapa lama sekali di dalam, Rahma? Saat melihat di foto profilnya, dia ternyata ... Ravan?Astagfirullah, apa yang sebenarnya sudah Rav ketahui selama ini? Jelas sekali bohong kalau dia tidak tahu apa-apa, kehadiran Rav tiba-tiba semalam sudah cukup membuktikan itu, ditambah lagi cara dia menyebut nama Nona se

  • Wanita Penghibur   Jebakan

    "Gue pikir lo gak bakal ke sini lagi, Nona. Apa jadi Nyonya Bagaskara masih buat lo belum cukup uang? Atau karena lo kangen gue?"Gana mendekat, merangkul pinggangku, lalu meminta ditambahkan minuman, dua botol minuman sudah dibawa salah satu pelayan, bersamaan dengan Cha dan Pak Andro yang baru saja keluar. Dua orang itu anehnya bersikap seolah tak mengenaliku, Pak Andro terlihat lebih fokus pada Cha yang mabuk."Gue mau lo bantu gue!" Aku sedikit berkelit, mengeluarkan hp lalu menujukkan pada Gana. Gana melirik sekilas lalu langsung mengangkat tangan."Gue gak bisa!" Tubuh Gana bahkan pindah lalu duduk berhadapan denganku."Gan, lo udah menguasai jual beli di dark web maupun situs-situs gelap lainnya. Lo gak mungkin gak bisa.""Kalau lo tau situs-situs itu lo seharusnya bisa belanja sendiri, Nona! Gak perlu minta tolong gue!"Konyol! Selama jadi Nona Bintang aku tak pernah tahu urusan hal-hal seperti itu. Sekalipun pernah minta tolong pada salah satu teman yang sesama pekerja, mere

  • Wanita Penghibur   Nekat

    Dengan pelan aku memindahkan lengan Ray yang bertumpu di pinggangku. Aku mengendap-endap ke luar setelah memastikan lelaki itu tidak akan menyadari kepergianku.Banyak penjaga yang berjaga di luar, tetapi aku sudah tidak takut lagi, ada Flo yang akan membantuku, aku sudah berbicara dnegannya semalam. "Jadi lo keluar karena lo mau cari bukti perselingkuhan Ray dan Chayra?"Pertanyaan itu harusnya bernada ingin memastikan, tapi yang aku dengar itu seolah ejekan padaku. Alasan itu hanya alibiku, tapi harusnya itu alibi yang kuat yang satu-satunya bisa membuat Flo membantuku."Lo yakin? Gak ada tujuan lain?"katanya lalu tiba-tiba tergelak, cukup lama sampai aku mengira Flo tak akan membantuku. Sepertinya aku harus bersiap jika dia kemudian melapor tentang permintaanku hari ini pada Ray. "Gue bantu lo, tapi ...." dia seperti sengaja menggantung kalimatnya."Malem kisaran jam 2 lo harus ada di depan pintu!"katanya sebelum akhirnya dia benar-benar pergi, dan di sinilah aku sekarang, sete

  • Wanita Penghibur   Bertengkar

    "Kau harusnya tidak pergi secepat itu, Ra, apalagi sampai mengajak Ibu, itu tidak baik!" Ray malah mengatakan itu setelah sampai rumah, menyusul aku yang sudah lebih dulu sampai dan harus menerima nasihat panjang lebar dari Ibu. Ray mungkin saja sempat berbincang-bincang dengan Ibu Rana, Chayra, dan mungkin lebih-lebih dengan Pak Andro, atau bisa jadi dia berusaha mendekati Oom-nya itu lagi yang meski terkesan menghindarinya, tetapi bukankah itu justru baik? Ray harusnya lebih paham kondisiku sekarang! "Cha dan Ibu Rana sampai khawatir kau sakit, Ra. Kau harusnya paling tidak menahan diri untuk tidak pulang cepat." "Pulang, pulang, dan pulang. Bisa untuk saat ini kau tak mempermasalahkan tentang kepulanganku, Ray? Kau bahkan tak menjelaskan apa dan bagaimana hubunganmu dengan Pak Andro!" Aku tiba-tiba tak bisa menahan lagi, aku bahkan sudah menahan diri saat tadi di depan Ibu, tetapi lihat, Ray memang tak pernah sadar kesalahannya! "Maksudmu kau mempertanyakan kenapa k

  • Wanita Penghibur   Lelaki Dari Masa Lalu

    Lelaki itu bermata sipit dengan hidung bangir. Tahi lalat sebesar biji jagung yang lebih mirip tompel terlihat jelas di atas hidungnya. Aku bisa melihat ada gigi emas terselip di bagian kanan saat ia tertawa, dan saat berdiri ribuan ton beban terasa memenuhi perutnya yang buncit. Aku tidak tahu bagaimana Mami Berta sempat mengatakan bahwa dia lelaki yang pantas untuk menjadi pelanggan pertamaku, bahkan mendapatkan keperawananku? Oh tentu sana tidak, karena jelas sejak awal aku sudah tidak perawan lagi."Kau mau berapa, Nona?" Tangan keriputnya memegangi pipiku dengan nakal, ada kerling yang sempat ia perlihatkan juga dengan posisi mulai merapat. Aku hanya memejamkan mata sekilas. Berusaha menahan sesak dan panas yang sejak tadi bergumul memenuhi dadaku. Jangan, jangan katakan bahwa aku akan kalah berperang dengan perasaan ini. Semuanya hanya akan berpulang pada perasaan rumit karena lagi-lagi aku tak mampu membiayai pengobatan Ibu."Berapa tinggi Anda bisa membayar saya?" Aku menjawa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status