Share

BAB 7 - MENYERAH

Penulis: Blezzia
last update Terakhir Diperbarui: 2023-10-10 01:33:48

Dua minggu berlalu sejak Rania keluar dari rumah sakit. Ia hanya berdiam diri di rumah Jennie. Tak pernah punya niat melakukan apa pun. Namun, ada hal yang terus mendesak di hatinya. Dorongan untuk mengabarkan semua ini kepada Zack, mulai dari rasa sakit kejadian waktu lalu, dan keadaan bayi mereka yang sangat lemah. Semuanya. Dia ingin bercerita pada pria yang perlahan membuat rindu akan sosoknya.

Rania menggigit bibir, lalu berlari secepat kilat untuk mengambil ponsel di kamar. Dia mencoba untuk menghubungi Zack dan lagi-lagi teleponnya tidak tersambung. Seolah ada tembok penghalang yang tak mampu Rania tembus.

Sembari berdiri gelisah, dia pun beralih menelepon Huges. Saat suara dingin Huges menjawab dari seberang, Rania pun berusaha bersikap tenang.

“Di mana Zack?” Rania tidak repot-repot berbasa-basi.

“Kenapa Anda mencari Mr. Lawson Kembali? Bukankah semua sudah sangat jelas, Nona Camerry”

“Saya ingin bertemu Zack.”

“Untuk apa?”

“Ini maslaah pribadi kami, Mr. Andreas. Pertemukan saja aku dengannya.” Tanpa sadar Rania mengepalkan tangan di sisi tubuh, mendadak merasa sangat kesal pada suara tajam Huges yang sangat tidak menghargainya.

“Mr. Lawson sedang berada di luar kota. Dia maupun saya sangat sibuk, jadi tolong berpikir dewasalah dan pahami keadaannya. Jangan mengganggu, karena semuanya sudah selesai saat terakhir kita bertemu Nona Camerry.”

Dada Rania berdenyut perih, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas hatinya. “Sekali ini saja, please. Aku ingin mengatakan sesuatu.”

Suara Rania terdengar serak dengan tarikan napas yang berat.

“Bahwa Anda sudah menggugurkan kandungannya? Jika bukan kabar itu yang hendak anda bawa, maka jangan repot-repot untuk menghubungi. Mr, Lawson tidak ada waktu mendengar hal lain.”

Rania tercekat. Angin sepoi-sepoi perlahan masuk lewat celah ventilasi kamarnya. Rasa dingin menggigit kulit membuat Rania menggigil.

“Jika Anda bersedia mendengarkan saran saya. Pergilah. Jangan pernah kembali ke sisi Mr. Lawson karena Anda akan terluka semakin dalam, Nona Camerry. Lagi pula Mr. Lawson tidak membutuhkan dirimu di sisinya. Dia sudah memiliki pengganti yang baru, tepat setelah anda meninggalkan apartemen.”

Tangan Rania melemas. Ponselnya terjatuh begitu saja dan dia bahkan tidak peduli dengan itu. Sorot matanya menjadi kosong dalam sekejap. Omongan Huges begitu menusuk perih.

Mengapa semua orang begitu kejam kepadanya? Apa salah dirinya?

“Untuk apa kau mempertahankan kehamilanmu? Zack menunggu kapan kau menggugurkan kandungan itu, dia pasti kesal karena kau masih mempertahankannya.”

“Jangan salah paham, Rania. Kau bukan kekasihku, kau hanya simpanan yang kupelihara sampai aku bosan.”

“Lagi pula Mr. Lawson tidak membutuhkan Anda lagi. Dia sudah punya pengganti yang baru, tepat setelah anda meninggalkan apartemen.”

Rania luruh dengan tangis yang memilukan. Tanpa suara, wanita malang itu hanya memukul pelan dadanya yang begitu sesak. Seolah semesta sedang bekerja sama untuk membuatnya tidak berdaya.

Mengapa dia bisa mencintai lelaki seperti itu?

Dalam sekejap saja dirinya dibuang selayaknya sampah yang bahkan tidak pantas didaur ulang.

Dia pun menggigit bibirnya keras, hingga terasa bau amis besi. Rania tidak peduli. Rasa sakit akibat gigitan itu tidak ada apa-apanya. Dia bahkan masih berpikir bahwa Zack masih punya hati nurani sedikit saja untuk mendengar kabar anak mereka yang nyaris luruh dari rahimnya.

Kepala Rania blank. Dia tak mampu berpikir jernih ketika dibukanya laci nakas secara terburu-buru dan mengeluarkan botol obat tidur yang isinya masih banyak.

Air mata itu terus menetes tanpa henti. Rasa sesak di dada serta denyut perih yang menyiksa hati berpadu dan membuatnya kacau. Dia membuka botol itu dan mengeluarkan setengah isinya.

Rania menatap tumpukan pil di tangan.

Dia … menyerah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
ShÌntà Rusman
ya ampunnn raniaaaa... kok sempit banget sih pikiran, mau bunuh diri gara2 laki2, bukannnya berjuang buat survive berjuang buat anaknya, loe harusnya bersyukur masih punya sahabat yg siap membantu, berjuang buat hidup dan bukyikan kalo loe kuat dan bisa tampa zack si belegug tea
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
yah jngn bunuh diri dong rania.km harus buktiin ma tu laki kalo km bisa bangkit
goodnovel comment avatar
onm m
lanjut lagi kak author............
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 26 - ANGKAT KAKI DARI PULAU INI

    Zack menahan kedua tangan Rania, dan membawanya begitu dekat hingga jarak tidak lagi jadi prioritas. Begitu dekatnya, sampai-sampai Zack dapat merasakan tubuh Rania yang menggigil karena sapaan angin malam."Aku tidak pantas diperlakukan seperti ini olehmu! Kau pria paling brengsek yang pernah kukenal. Oh, betapa bodohnya aku tiga tahun lalu!"Gadis itu tetap konsisten dengan amarahnya hingga dia memberontak hendak lepas. Akan tetapi, Zack tidak memberinya kesempatan. Pria itu terus memeganginya.Satu tangan pria itu mengunci kedua lengan Rania di dadanya, sementara satunya lagi pelan-pelan melingkar di pinggang mungil yang ukurannya bahkan sudah dia hapal dengan sangat baik.Sekilas mata Zack sedikit menyala. Dia tidak mengira gairahnya terpancing hanya dengan sikap berontak dari gadis keras kepala yang kini berada dalam genggamannya.Sekuat tenaga Zack mengendalikan diri di tengah-tengah pergulatan itu."Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Kau bahkan mencoba memanfaatkanku. Ji

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 25 - AKU MEMBENCIMU

    "Aku tidak mengira kau sangat menyukai laki-laki yang memiliki uang. Apa begini caramu menarik perhatian para laki-laki itu?" Suara Zack yang datang dari arah gelapnya jalanan pun mengejutkan Rania seketika. Wanita itu menarik tangannya cepat dari gagang pintu, dan seketika dia berbalik. Menghadap sumber suara yang kini berjalan mendekat. Tanpa sadar, Rania mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak pintu. Kini, dia benar-benar terjebak antara sosok maskulin Zack Lawson dan pintu toko roti. "Apa kau benar-benar tidak ada pekerjaan hingga memata-mataiku?" ucap Rania di sela-sela geraman kesal. Tatapan yang wanita itu lemparkan pada pria di hadapannya benar-benar menusuk. Zack tersenyum sinis, langkah kakinya semakin mendekat, hingga jarak tak lagi ada di antara mereka. "Kau sangat tahu aku punya segudang pekerjaan, Rania. Tapi keberadaanmu di pulau ini benar-benar mengganggu pandanganku." Hanya dengan sentuhan ringan pada anak rambut Rania yang terkibas angin, Zack Law

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 24 - BIMBANG

    Rania tampak termenung di salah satu kursi setelah menutup tokonya. Cukup lama wanita itu berdiam di sana, dan pandangannya tampak kosong menghadap jalanan di depan pertokoan yang lampunya perlahan-lahan dimatikan.Malam tampaknya semakin larut, akan tetapi pikiran Rania masih berkelana pada penuturan Sofia sore tadi. Bawahannya itu menjelaskan secara rinci bagaimana Oliver diantar oleh salah satu pegawai dari hotel yang baru dibangun itu.Tanpa menanyakan identitas, Rania tahu siapa pegawai yang dimaksud.”Hhh ....” Dia menarik napas dalam-dalam. Batinnya tidak tenang. Peringatan dari Cintya membawa ingatan tiga tahun lalu. “Kupikir hidupku akan mudah di tempat ini. Mengapa takdir membawaku kembali padanya.”Tidak seharusnya Rania menyalahkan takdir, tetapi hanya itu satu-satunya yang bisa ia lakukan.Tidak mungkin dia pergi meninggalkan toko roti yang sudah dibangun dengan susah payah begitu saja. Lagi pula pria itu juga tidak berhak mengusiknya sejauh ini. Kelahiran Oliver juga tid

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 23 - KETEMU, OLIVER!

    Hari menjelang sore saat Mrs. Mallory datang ke toko dengan tergesa-gesa. Cukup lama wanita itu memandangi Rania dari ambang pintu.Ada gurat kegelisahan dari balik wajah paruh baya itu, membuat senyum Rania yang tadinya terkembang pun berbalik bertanya. Sementara matanya menyapu sekitar, mencari sosok balita yang biasanya berlari menerjang pintu.”Apa yang terjadi? Dimana Oliver?”Mrs. Mallory pun menggenggam tangan Rania erat. Matanya menunjukkan ketakutan yang cukup kentara.”Maafkan aku, tapi ... aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya padamu.”Mendengar itu, jantung Rania berdesir seketika. Dan rasa takut itu pun menular dengan cepat.Kini, kedua wanita itu saling menggenggam tangan.“Katakan padauk, ada apa Mrs. Mallory? Apakah putraku baik-baik saja?”Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rania. Dia benar-benar tidak bisa menahan perasaan jika menyangkut anak semata wayangnya. Segala skenario mulai berputar di kepala. Melihat gelagat dari wanita tua di hadapan, segala

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 22 - BUKAN TUGAS MUDAH

    Zack keluar dari kamar pribadinya setelah memastikan anak balita yang bersamanya tadi tertidur pulas di atas ranjang. Dia mempercepat langkah menuju gedung kantor. Namun, langkahnya terhenti begitu matanya menangkap sosok Huges yang masih setia menunggu kedatangannya di dekat lift. Langkah Zack melambat. Dia memperhatikan asisten lamanya dengan seksama. Entah mengapa, setiap memandang sosok Huges, Zack merasakan sesuatu yang janggal di hati. Ditepisnya rasa itu. Dan tatapannya lebih lekat, memandangi Huges yang berdiri mematung di dekat lift dengan tatapan kosong menghadap dinding. Tidak tahu apa yang sedang pria itu perhatikan ataupun pikirkan, Zack tidak cukup peduli untuk bertanya. Namun, begitu langkahnya semakin dekat, Huges pun menyadari kehadirannya. Pria itu sedikit berjingkat, terkejut. Namun Zack dapat melihat bagaimana ekspresi itu berubah cepat. Begitu lama mereka bekerja bersama, Zack tidak benar-benar mengenal Huges dengan baik. Selama ini dia hanya peduli d

  • Wanita Rahasia Billionaire   BAB 21 - DADDY & MOMMY

    Zack Lawson terpaku, pada mata sebiru samudra yang terasa sangat familiar. Sesuatu seakan bergetar pelan di dada, namun dia sungguh tidak yakin. Dan ada rasa tercekat di pernapasan yang membuatnya kehilangan sedikit tenaga, nyaris menjatuhkan bola dalam genggaman. Untuk beberapa saat, udara di sekitar seakan menarik diri. Semilirnya menyisakan sesak. “Paman ... kembalikan bolaku.” Suara kecil yang terdengar sedikit ragu itu pun menarik sadar Zack dari perangkap rasa yang sulit ia mengerti. Seketika, tatapan Zack jatuh pada bola yang masih berada di antara kedua tangannya. Dan saat itulah dia sadar, dirinya tengah berhadapan dengan seorang anak balita tanpa pengawasan orang tua. Sebuah senyum lembut terlukis indah di paras rupawan seorang Zack Lawson yang langka. Tanpa bisa ditahan, tangan Zack mengelus pucuk kepala anak kecil tersebut. “Di mana orang tuamu?” tanya Zack, sembari menarik sisi celana sebelum berlutut, menyamakan pandangan dengan sepasang mata polos di hadapan. “Ap

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status