Beranda / Romansa / Wanita Sewaan Pak Elian / Tawaran Tak Terduga #2

Share

Tawaran Tak Terduga #2

Penulis: Gummy_Smile
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 02:26:26

Di balik dinding kaca ruang kerjanya yang kedap suara, Elian memperhatikan Vior. Selama tiga tahun Vior menjabat sebagai kepala administrasi di divisinya, wanita itu adalah definisi dari presisi. Laporannya selalu bersih, jadwalnya selalu rapi, dan dedikasinya terhadap deadline tidak pernah goyah. Namun, dua minggu terakhir ini, Elian melihat retakan itu. Vior tampak seperti mesin yang kehabisan pelumas; kinerjanya melambat, matanya yang biasa tajam kini sering terlihat kosong, dan sesekali Elian mendapatinya menatap layar komputer tanpa benar-benar mengetik apa pun.

Elian bukan pria yang memiliki banyak empati untuk drama kantor. Baginya, profesionalisme adalah harga mati. Namun, bisik-bisik di pantry kantor tidak bisa ia abaikan sepenuhnya. Dari obrolan tak sengaja antara stafnya, ia mengetahui alasan di balik kemerosotan Vior. pria bernama Rio yang telah meninggalkan Vior demi wanita lain, bahkan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Elian ingat pria itu. Beberapa kali ia melihat pria berperawakan kurus dengan gaya bicara yang terlalu percaya diri itu menjemput Vior di depan lobi.

Biasanya, ia akan memanggil Vior dan melontarkan kritik pedas yang membuat nyali bawahannya menciut. Namun, melihat Vior yang duduk terpuruk di balik kubikal—wanita yang biasanya tangguh itu kini tampak rapuh—Elian merasa sesuatu di dalam dirinya melunak. Vior telah memberikan dedikasi luar biasa selama bertahun-tahun. barangkali, kali ini ia bisa memberikan sedikit kelonggaran.

​Drrtt... Drrtt...

Ponsel di atas meja Elian bergetar hebat. Nama "Ibu" tertera di layar dengan foto profil wanita paruh baya yang tampak anggun namun berwibawa.

"Elian," suara ibunya di seberang telepon terdengar tegas, seperti komandan militer yang sedang bersiap untuk perang.

"Kamu tidak lupa dengan pertemuan keluarga malam ini, kan? Keluarga besar Jayatna akan datang ke rumah. Jangan sampai kamu terlambat lagi seperti bulan lalu."

Elian memijat pelipisnya. Pertemuan dengan keluarga Jayatna bukan sekadar makan malam, itu adalah kode untuk sesi "inspeksi" calon menantu. Ibunya selalu memiliki obsesi untuk segera mencarikan calon pengantin untuk Elian.

"Bu, Elian sedang banyak pekerjaan. Proyek kuartal ini sedang di ujung tanduk," elak Elian, berusaha mencari alasan yang masuk akal.

"Jangan berikan alasan kantor padaku, Elian! Kamu sudah tiga puluh dua tahun. Kamu butuh seseorang yang setara untuk mendampingimu. Keluarga Jayatna sudah menunggu. Kalau kamu tidak datang, Ibu akan menganggap kamu benar-benar tidak menghargai usaha Ibu."

Elian menarik napas dalam, memutar otak. Ia tidak bisa terus-menerus terjebak dalam skenario perjodohan ini.

Tiba-tiba, sebuah ide nekat melintas di kepalanya. Sesuatu yang gila, namun mungkin satu-satunya cara untuk membungkam ibunya untuk sementara waktu.

"Sebenarnya, Bu... aku tidak bisa datang karena aku sedang fokus dengan seseorang," ucap Elian, suaranya berusaha dibuat senatural mungkin.

Hening sejenak di ujung sana.

"Seseorang? Apa maksudmu?"

"Aku punya pacar, Bu. Dia wanita yang cantik, cerdas, dan bekerja di perusahaan yang sama denganku. Selama ini aku belum mengenalkannya karena aku ingin hubungan kami matang terlebih dahulu," ujar Elian.

Ia melirik ke arah kubikal Vior, di mana wanita itu masih termenung menatap layar. Entah mengapa, nama Vior muncul begitu saja di kepalanya sebagai kandidat pelarian.

"Pacar? Kamu tidak sedang membohongi Ibu, kan?" tanya ibunya penuh selidik.

"Untuk apa aku berbohong? Aku serius, Bu."

​"Baiklah kalau begitu. Jika dia memang nyata, bawa dia ke rumah akhir pekan ini. Kalau kamu tidak bisa membawanya, maka malam ini juga kamu harus datang ke rumah keluarga Jayatna. Paham?"

Sambungan telepon terputus sebelum Elian sempat merespons. Ia terpaku, menyadari bahwa ia baru saja menggali lubang untuk dirinya sendiri.

Tiga puluh menit kemudian, Elian keluar dari ruangannya. Ia berjalan menuju kubikal Vior, langkahnya mantap namun pikirannya kacau. Ia tidak berniat melakukan hal ini, namun ia sudah terlanjur berjanji pada ibunya. Vior yang menyadari kehadiran atasannya segera berdiri, wajahnya tampak panik.

​"Maaf, Pak Elian. Laporannya segera saya selesaikan," ujar Vior dengan suara parau.

"Ikut saya ke ruangan saya. Sekarang," perintah Elian dingin, tidak memberi ruang untuk berdebat.

Vior mengikuti langkah Elian dengan perasaan gemetar. Sesampainya di dalam, Elian menutup pintu dan menunjuk kursi di depannya.

"Duduk, Vior"

Vior duduk, menunduk dalam-dalam.

"Saya minta maaf soal kinerja saya, Pak. Saya tahu saya tidak profesional."

"Saya tidak memanggilmu ke sini untuk mendengar permintaan maaf soal laporan," ucap Elian, suaranya kini lebih rendah, hampir mendekati bisikan.

​"Apa yang terjadi denganmu dan pria itu... Rio, kan namanya?" tanya Elian to the point.

Vior terkejut, matanya membelalak.

"Bagaimana Bapak tahu?"

"Kantor ini tidak punya rahasia, Vior. Saya melihatmu hancur karena seseorang yang bahkan tidak layak mendapatkan perhatianmu." Elian memutar pulpen di tangannya, sejenak terdiam sebelum melanjutkan,

"Saya berada dalam situasi yang sama. Ibu saya terus memaksa saya untuk melakukan perjodohan dengan keluarga Jayatna. Saya butuh seseorang untuk menemaniku di acara keluarga hari Sabtu nanti. Seseorang yang bisa berpura-pura menjadi pacarku untuk menghentikan semua omong kosong ini."

Vior mengerutkan kening, bingung.

"Maksud Bapak? Saya? Bapak ingin saya berpura-pura menjadi pacar Bapak?"

"Ya. Kita berdua bisa saling menguntungkan. Kamu butuh sesuatu untuk menutupi kesedihanmu agar mantanmu itu tahu bahwa kamu sudah move on, dan saya butuh seseorang untuk membungkam ibu saya." Elian menatap Vior dalam-dalam.

" Saya akan menemanimu datang ke pernikahan Rio sebagai Pacarmu" lanjutnya.

"Kamu cantik, cerdas, dan profesional. Kamu adalah orang yang paling masuk akal untuk peran ini."

Vior terdiam. Pikirannya berpacu. Di satu sisi, ide ini terdengar gila dan tidak masuk akal. Namun di sisi lain, bayangan Rio dan Enzy yang akan menikah membuatnya merasa ingin membuktikan sesuatu—meskipun ia sendiri tidak yakin apa yang ia kejar.

"Kenapa saya, Pak? Kenapa bukan sekretaris Bapak atau orang lain?" tanya Vior berhati-hati.

Elian menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang hampir tidak pernah ia tunjukkan.

"Karena kamu satu-satunya orang di kantor ini yang saya rasa cukup berani untuk menantang ibu.. Lagipula, kamu butuh alasan untuk kembali bangkit, bukan?"

Vior terdiam cukup lama. Ia menatap mata atasannya yang biasanya bengis itu.

"Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, Pak Elian," jawab Vior pelan.

"Tidak perlu sekarang. Pikirkan tawaran saya. Jika kamu setuju, kita akan atur semuanya. Kamu akan mendapatkan perlindungan dari tekanan kantor, dan saya akan mendapatkan kebebasan saya kembali," ujar Elian, menyodorkan secangkir air mineral ke hadapan Vior. Elian berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

"Ingat, Vior. Pria yang membuangmu itu tidak layak melihatmu hancur. Jika kamu ingin membalasnya dengan cara yang paling elegan, jadilah wanita yang tidak bisa ia miliki lagi. Dan mungkin, berada di sisiku adalah awal yang baik untuk itu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sweet.Moon2025
wow ... tawaran Elian ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Mencari Titik Lemah

    Dukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Melawan Badai

    "Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Sekedar Aset

    "Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Amplop Misterius

    "Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Salah Hitung

    Pagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Bukan Lagi CEO

    Pagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Ketenangan dari Elian #13

    Kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi arena gladiator yang mencekam. Rio, yang saat itu sedang memamerkan video saat ia menampar Vior pada rekan kerjanya—tentu dengan bumbu kebohongan tentang Vior—sama sekali tidak menyadari badai yang sedang datang. Pintu ruangannya terbuka dengan de

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Video yang Viral #12

    Rasa panas yang menjalar di pipi Vior setelah tamparan keras Rio mendarat seolah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak menyangka Rio akan bertindak sebrutal itu di depan umum. Setelah tamparan balasan itu, Vior tidak berteriak, ia tidak memaki; ia hanya terpaku sejenak, membiarkan rasa perih me

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Keributan di Kafe #11

    Vior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Ingin Childfree #10

    Vior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh bay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status