MasukVior duduk di atas sofa beludru yang harganya mungkin setara dengan seluruh isi kamar kosnya. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk tampil provokatif atau berani seperti malam sebelumnya. Tetapi otaknya tetap memikirkan cara untuk melakukan hal unik yang mungkin akan di benci oleh wanita paruh baya di depannya ini.
Nyonya Saraswati duduk tegak di sofa seberang, menyesap teh dari cangkir porselen tipis dengan keanggunan yang intimidatif. Suasana hening, hanya suara denting sendok yang beradu dengan cangkir yang memecah ketegangan. Tiba-tiba, Nyonya Saraswati merogoh ponselnya, menekan sebuah kontak, dan menyalakan mode loudspeaker dengan sengaja. "Elian? Kau sudah pulang?" suara wanita itu terdengar lembut, namun ada nada tuntutan yang kental. "Bagaimana meeting-mu? Kau tidak ingin mengunjungi Ibu hari ini? Kenapa betah sekali tinggal sendirian di apartemen sementara di sini Ibumu masih hidup dan merindukan putranya?" Vior menunduk dalam, jari-jemarinya gemetar saat memegang alat rajut yang baru saja dipaksakan ke tangannya oleh pelayan. Ia bisa mendengar suara Elian dari seberang telepon, suara yang biasanya memberikan ketenangan, kini justru terdengar seperti harapan yang jauh. "Ah, tidak perlu cemas," Nyonya Saraswati tersenyum tipis, matanya mengunci tatapan Vior dengan dingin. "Ibu bersama Vior sekarang. Ya, di rumah kita... Kami sedang menghabiskan waktu bersama." Ada jeda sejenak, Vior bisa membayangkan ekspresi Elian di sana. Nyonya Saraswati kembali tersenyum penuh kemenangan. "Benarkah? Kau akan segera ke sini? Ibu menunggumu. Dan jangan lupa, bawa pakaian ganti. Vior mungkin akan menginap untuk pelajaran lebih lanjut." Sambungan terputus. Nyonya Saraswati meletakkan ponselnya dengan elegan. "Dengar, Vior. Elian akan segera tiba. Jangan buat aku malu. Ingat posisimu sebagai wanita yang sedang belajar menjadi manusia beradab." Vior merasakan dadanya sesak. Ia harus tetap menjalankan perannya sebagai wanita pembangkang, namun tekanan di ruangan ini membuatnya ingin melarikan diri. Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil yang familiar terdengar di halaman depan. Langkah kaki yang tegas dan terburu-buru menggema di lorong mansion, semakin mendekat ke arah ruang keluarga. Elian masuk dengan raut wajah yang kacau—antara lelah akibat perjalanan dinas dan ketegangan yang nyata. Matanya langsung menyapu ruangan dan terkunci pada Vior. Sang gadis terlihat duduk dengan bahu tegang, di tangannya terdapat benang rajut yang kusut. Ia mencoba merajut dengan gerakan kikuk yang tampak sangat menyebalkan. "Ini sulit sekali!" seru Vior, suaranya sengaja dibuat tinggi dan melengking, kontras dengan atmosfer rumah yang tenang. Ia melempar alat rajutnya ke atas meja porselen dengan bunyi dentuman kasar. "Kenapa tidak beli yang langsung jadi saja sih? Membuang-buang waktu!" Nyonya Saraswati melotot, rahangnya mengeras. "Seorang calon ibu harus bisa merajut, Vior! Itu adalah bentuk ketelatenan dan kasih sayang untuk calon buah hatimu kelak!" Vior menoleh, menatap Nyonya Saraswati dengan tatapan menantang yang nyaris membuat jantungnya copot karena ketakutan. "Calon ibu? Tapi saya nanti ingin childfree! Memangnya kenapa kalau tidak punya anak? Itu kan hak saya sebagai wanita modern." Suasana ruangan mendadak membeku. Kalimat childfree di tengah keluarga kolot seperti keluarga Elian adalah sebuah penghinaan besar. Vior merasa keringat dingin membasahi punggungnya. Ia benar-benar telah melampaui batas, dan ia tahu ia sedang mempertaruhkan segalanya. "Bu..." suara Elian memecah keheningan. Pria itu berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit terengah. Tatapannya beralih dari ibunya yang tampak murka menuju Vior yang sedang berusaha keras menahan gemetar. Nyonya Saraswati berdiri, gaunnya berdesir halus. "Elian, lihat calon menantumu. Dia tidak punya tata krama, dia sombong, dan dia baru saja mengatakan bahwa dia tidak menginginkan keturunan. Apa ini yang kau sebut sebagai wanita pilihanmu?" Elian berjalan mendekat, langkahnya mantap. Ia berdiri di antara kedua wanita itu. Suasana di ruangan itu kini terasa sangat berat, seolah oksigen tersedot keluar. Elian menoleh ke arah Vior, tatapannya dingin dan tak terbaca, namun ada kilatan kecil di matanya yang hanya bisa dipahami oleh Vior. "Aku yang memilihnya, Bu," suara Elian rendah dan penuh penekanan. "Dan aku yang memutuskan apa yang terbaik untuk masa depanku. Jika Vior tidak ingin memiliki anak, itu adalah keputusan yang akan kami ambil bersama. Ibu tidak berhak memaksakan visi kuno Ibu pada kami." Vior menatap Elian dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka Elian akan membela pernyataan gila tersebut. Nyonya Saraswati tampak terkejut hingga ia harus berpegangan pada sandaran sofa. "Kau lebih memilih wanita ini daripada prinsip keluarga kita sendiri?" tanya Saraswati dengan suara bergetar. "Aku memilih orang yang membuatku merasa bebas, Bu. Bukan orang yang membuatku merasa terkurung dalam ekspektasi," jawab Elian tegas. Ia kemudian meraih tangan Vior, menariknya berdiri.Dukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu
"Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."
"Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere
"Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo
Pagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru
Pagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih
Kantor yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi arena gladiator yang mencekam. Rio, yang saat itu sedang memamerkan video saat ia menampar Vior pada rekan kerjanya—tentu dengan bumbu kebohongan tentang Vior—sama sekali tidak menyadari badai yang sedang datang. Pintu ruangannya terbuka dengan de
Rasa panas yang menjalar di pipi Vior setelah tamparan keras Rio mendarat seolah membakar sisa-sisa kewarasannya. Ia tidak menyangka Rio akan bertindak sebrutal itu di depan umum. Setelah tamparan balasan itu, Vior tidak berteriak, ia tidak memaki; ia hanya terpaku sejenak, membiarkan rasa perih me
Vior duduk terdiam di dalam mobil Elian, menatap kosong ke arah lampu jalan yang berbayang di balik kaca. Rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda. Setelah kejadian di mansion tadi, ia merasa telah melewati garis batas kewarasannya. Ia bukan lagi sekadar karyawan yang membantu bosnya melakukan aksi
"Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, sep







