로그인
Vior menyemprotkan parfum dengan wangi musk yang sangat kuat dan menyengat, hampir membuat hidung siapa pun yang menciumnya merasa pening.
Nyonya Saraswati, sudah menunggu di meja makan yang penuh dengan hidangan berkelas. Begitu pintu terbuka, wanita paruh baya yang terkenal sangat menjunjung tinggi etika itu mematung. Matanya membelalak menatap sosok blonde yang menggandeng putranya. "Kau... kau Vior, kan??" tanyanya dengan suara bergetar. Vior tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai lebar, memperlihatkan lipstik merahnya yang mencolok. Elian menarikkan kursi untuk Vior di samping ibunya. "Vior... penampilanmu agak... berbeda" Nyonya Saraswati mencoba menahan diri, meski matanya terus melirik ke arah dada Vior yang terekspos karena jas Elian sudah diletakkan di sandaran kursi. "Oh, maaf ya, Tante. Eh, Ibu maksud saya," Vior tertawa dengan nada yang sengaja dibuat cempreng. "Di kantor saya memang harus pakai setelan pakaian kerja membosankan itu demi gaji. Tapi beginilah saya kalau sedang ingin bersenang-senang. Elian suka kok kalau saya tampil berani begini, ya kan, Sayang?" Vior mengedipkan sebelah matanya pada Elian. Elian sedikit tersentak, akting Vior jauh lebih natural dari yang ia bayangkan. Ia merasa bangga, sekaligus sedikit kesal melihat cara ibunya memandang Vior dengan jijik. "Makanlah dulu. Chef sudah menyiapkan steak dan wine terbaik," ucap Nyonya Saraswati, suaranya mendingin. Sandiwara dimulai. Vior langsung menyambar pisau dan garpu tanpa memperhatikan urutan etika makan fine dining. Ia mengambil potongan daging besar, memasukkannya ke mulut, dan mulai mengunyah dengan suara mengecap yang nyaring. Cap, cap, cap. Nyonya Saraswati meletakkan garpunya sendiri dengan denting pelan di atas piring porselennya. Ia tampak benar-benar kehilangan selera makan. "Ah, enak sekali! Maaf ya Bu, selera makan saya memang tinggi kalau habis 'main' sama Elian," ucap Vior tanpa malu, sengaja memberikan implikasi kotor dalam kalimatnya. Wajah Nyonya Saraswati memucat. Ia menatap Elian dengan pandangan menuntut penjelasan. Elian hanya diam, menyesap wine-nya dengan tenang, seolah perilaku Vior adalah hal yang wajar. *** Dua Minggu sebelumnya kejadian itu, undangan pernikahan berwarna perak itu tergeletak di atas meja kerja Vior, tampak kontras dengan tumpukan dokumen yang berantakan. Kertas bertekstur mahal itu memancarkan aura yang menyesakkan Nama Rio dan Enzy tercetak dengan tinta emas timbul yang berkilauan, seolah mengejek di bawah lampu kubikal kantor yang dingin. Vior terpaku. Dunianya seolah menyusut hanya sebatas meja kerja dan benda terkutuk di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu berputar di kepalanya seperti film rusak. Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari yang ia lalui bersama Rio—pria yang mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri, pria yang tahu persis takaran kayu manis dalam kopi paginya, pria yang dulu menggenggam tangannya di bawah meja perpustakaan kampus—kini telah menjadi orang asing. Dan yang lebih menyakitkan, pria itu memilih Enzy, rekan kerja satu divisi yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Ingatan tentang perpisahan mereka kembali menyerang. Rio mengakhiri tujuh tahun itu dengan kalimat klasik yang klise "Kita sudah tidak cocok lagi." Yang lebih perih adalah rahasia yang disimpan Rio selama ini. Pria itu tidak pernah mengunggah foto Vior di media sosial dengan alasan privasi—bahwa hubungan bukan konsumsi publik. Namun, lihatlah sekarang. Enzy dirayakan, diratukan, dan dipamerkan ke seluruh penjuru dunia maya. Enzy mendapatkan segalanya yang selama tujuh tahun Vior nanti-nantikan tanpa perlu menunggu lama. "Laporan kuartal terakhir, Vior. Sudah selesai?" tanya Elian. Suaranya datar, namun ada tekanan yang membuat Vior merasa terpojok. Vior menatap layar komputernya yang kosong, lalu beralih ke undangan perak itu. Pertahanan emosinya hampir runtuh. "Saya... saya minta waktu tambahan sedikit lagi, Pak. Hari ini saya agak sulit berkonsentrasi." Biasanya, jawaban seperti itu akan memicu badai. Vior sudah menyiapkan kupingnya untuk mendengar rentetan sindiran tentang profesionalisme. Namun, kali ini sunyi. Elian terdiam, tatapannya sedikit melunak saat melihat undangan yang masih terbuka di meja Vior, lalu beralih ke wajah wanita itu yang terlihat pucat. "Baik," jawab Elian singkat. Kemudian masuk kembali ke ruangannya. Vior menghembuskan nafas lega. Dengan gerakan perlahan namun mantap, Vior mengambil undangan pernikahan itu. Ia tidak merobeknya dengan penuh amarah seperti adegan film drama yang murahan. Ia justru melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam laci meja paling bawah, di bawah tumpukan dokumen kerja yang akan ia selesaikan malam ini. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu Elian, yang entah mengapa kembali lagi ke meja Vior. Pria itu membawa dua cangkir kopi panas di tangannya. "Kamu masih di sini?" tanya Elian sambil meletakkan salah satu cangkir di meja Vior. Vior mendongak, terkejut. "Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak." "Istirahatlah sebentar," ujar Elian seraya menarik kursi kosong di depan meja Vior. "Kopi ini dengan satu sendok gula, karena saya dengar kamu tidak suka jika kopimu terlalu manis." Vior terpaku menatap cangkir itu. Bagaimana mungkin atasannya yang bengis tahu detail kecil tentang seleranya? Elian tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah dilihat karyawan lain di kantor ini. "Dunia tidak berakhir karena sebuah undangan pernikahan, Vior," lanjut Elian dengan nada yang jauh lebih manusiawi.Dukungan yang mengalir melalui media sosial ternyata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada dugaan Elian. Selama dua hari berikutnya, jumlah pesanan justru meningkat. Banyak pelanggan lama sengaja mengunggah foto tanaman yang mereka beli dari Surya Flora Nusantara disertai cerita tentang kualitas bibit dan pelayanan yang mereka terima. Beberapa bahkan menulis bahwa mereka akan tetap membeli dari pembibitan itu apa pun yang terjadi. Melihat semua itu, semangat para pegawai kembali bangkit. Mereka bekerja sambil tersenyum, seolah ingin membuktikan bahwa tempat kecil itu tidak akan mudah dikalahkan.Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai sore hari.Rio yang baru kembali dari mengantar pesanan masuk ke ruang administrasi dengan wajah kusut. Kemejanya basah oleh keringat, sementara tangannya masih menggenggam surat jalan."Pak Elian, tadi ada masalah."Elian yang sedang memeriksa laporan penjualan langsung mengangkat kepala. "Ada apa?""Jalan utama menuju pembibitan mulai ditutu
"Kalau kita memang harus menghadapi badai, kita akan menghadapinya bersama."Kalimat Elian masih terngiang di benak Vior ketika keesokan harinya seluruh pegawai berkumpul di halaman depan pembibitan. Biasanya pertemuan pagi hanya berlangsung beberapa menit untuk membagi tugas, tetapi kali ini suasananya berbeda. Semua orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting akan disampaikan.Elian berdiri di depan mereka tanpa mengenakan pakaian formal. Ia hanya memakai kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya tetap tenang, meski semalaman ia hampir tidak bisa tidur memikirkan langkah berikutnya."Ada satu hal yang harus kalian ketahui," ucapnya sambil memandang satu per satu wajah para pegawai. "Beberapa hari terakhir ada perusahaan properti yang berusaha membeli Surya Flora Nusantara. Kalian mungkin akan melihat aktivitas pembangunan di sekitar pembibitan ini. Aku tidak ingin kalian mendengar kabar itu dari orang lain, jadi lebih baik aku yang menjelaskannya langsung."
"Aku tidak akan menyerahkan tempat ini begitu saja."Ucapan Elian membuat suasana di ruang kantor menjadi hening. Vior menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan. Ia tahu, pria yang berdiri di hadapannya bukan lagi Elian yang dulu mudah terbakar emosi ketika menghadapi lawan bisnis. Setelah kehilangan segalanya, Elian berubah menjadi jauh lebih tenang. Justru ketenangan itulah yang membuatnya terlihat lebih berbahaya.Pak Hadi meletakkan secangkir kopi di hadapan Elian sebelum duduk perlahan. "Saya sudah bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Selama itu pula saya melihat banyak orang datang menawarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli tempat ini. Almarhum Pak Surya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, 'Selama tanah ini masih bisa ditanami, saya tidak akan menjualnya.'"Elian tersenyum tipis. "Sepertinya aku mulai mengerti alasan Kakek.""Beliau pernah berkata bahwa tanah ini bukan sekadar aset. Tempat ini memberi makan puluhan keluarga."Belum sempat percakapan mere
"Mas, coba lihat ini."Suara Vior membuat Elian mengalihkan perhatiannya dari tumpukan bibit yang sedang ia rapikan. Wanita itu berjalan tergesa-gesa dari ruang administrasi sambil membawa sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Wajahnya tidak sepenuhnya panik, tetapi jelas menyimpan kebingungan."Ada apa?""Kurir tadi mengantar surat ini. Katanya harus diberikan langsung kepadamu."Elian menerima amplop tersebut. Tidak ada logo perusahaan maupun nama pengirim. Hanya tertulis namanya dengan huruf cetak yang rapi. Entah mengapa, perasaannya mendadak tidak enak.Ia membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar surat dan beberapa lembar foto.Senyum di wajah Elian perlahan menghilang."Ada apa, Mas?" tanya Vior yang mulai ikut cemas.Elian tidak langsung menjawab. Ia justru menyerahkan salah satu foto kepada istrinya.Vior membelalak.Foto itu memperlihatkan beberapa pria berpakaian formal sedang berdiri di atas sebuah bukit yang berbatasan langsung dengan Surya Flo
Pagi itu Surya Flora Nusantara diselimuti udara sejuk khas pegunungan. Matahari baru saja muncul di balik perbukitan ketika para pegawai mulai berdatangan. Sebagian langsung menuju rumah kaca untuk memeriksa bibit yang baru disemai, sementara yang lain sibuk menyiapkan pesanan yang harus dikirim sebelum siang. Suasana pembibitan kini jauh berbeda dibandingkan beberapa minggu lalu. Tidak hanya semakin ramai karena jumlah pesanan yang meningkat, tetapi juga terasa lebih hangat karena hampir setiap hari terdengar tawa para pegawai.Elian berjalan menyusuri area pembibitan sambil membawa buku catatan kecil. Ia sesekali berhenti untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, bertanya kepada Pak Hadi mengenai proses perawatan, lalu mencatat hal-hal baru yang belum diketahuinya. Meski secara hukum ia sudah menjadi pemilik perusahaan, Elian tetap bersikeras mempelajari semuanya dari dasar. Sikap itu membuat para pegawai semakin menghormatinya. Mereka tidak lagi melihat Elian sebagai mantan CEO peru
Pagi berikutnya, Vior sudah terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Ia melirik ke samping, mendapati Elian masih tertidur lelap dengan satu tangan masih melingkar di pinggangnya. Selama beberapa detik, Vior hanya memandang wajah suaminya. Dulu, pria itu selalu tidur dengan dahi berkerut, seolah bahkan saat terlelap pun masih memikirkan rapat dan laporan perusahaan. Kini, meski tubuhnya lebih lelah karena bekerja langsung di lapangan, wajahnya justru terlihat jauh lebih damai.Vior mengusap pelan rambut Elian yang mulai sedikit berantakan. "Selamat pagi, Pak Direktur Pembibitan," bisiknya sambil tersenyum.Elian mengerutkan hidung, lalu perlahan membuka mata. Begitu melihat Vior sudah tersenyum di hadapannya, ia ikut tersenyum tanpa sadar."Jam berapa?""Baru setengah enam.""Kok sudah bangun?""Karena hari ini kita punya banyak pekerjaan."Elian menghela napas panjang, lalu kembali merebahkan kepalanya di bantal."Lima menit lagi."Vior terkekeh pelan."Dulu waktu masih
"Ta-tapi Nyonya.." Vior terbata, tenggorokannya tercekat oleh rasa cemas yang mendadak muncul. Ia tidak menyangka permainan sandiwara ini akan menyeretnya ke dalam labirin yang begitu dalam dan menyesakkan. "Tidak ada kata tapi," potong Nyonya Saraswati dengan nada yang lembut namun mengancam, sep
Mobil mewah Elian melaju membelah jalanan kota yang mulai basah diguyur sisa hujan. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Elian, yang biasanya selalu tenang dan terukur dalam segala hal, sesekali melepaskan tawa renyah yang terasa sangat asing di telinganya sen
"Nyonya Besar, Nyonya Saraswati... ada... ada masalah di luar," ucap pelayan itu terbata-bata, keringat dingin membasahi keningnya. Nyonya Saraswati mengabaikan pelayan itu dan beralih menatap putranya dengan tatapan tajam bak silet. "Elian, jelaskan. Apa-apaan ini? Kau membawa wanita murahan,
Karpet merah di aula hotel bintang lima itu terasa seperti panggung catwalk pribadi bagi Vior. Ia bisa merasakan ratusan pasang mata tertuju padanya, atau lebih tepatnya, pada pria yang lengannya ia gandeng dengan begitu erat. Elian berjalan dengan keangkuhan seorang raja, dagunya terangkat, dan ta







