Share

Pesona mantan

Author: Vellichor_Ann
last update Huling Na-update: 2025-09-21 16:41:39

"Lyra Calista!" Kinan mengeluarkan kepalanya di jendela mobil dengan teriakan khasnya yang melengking.

Setelah mendapat telepon dari temannya itu dia langsung bergegas kemari. Bahkan melewatkan waktu kerjanya untuk sekedar singgah sebentar. Urusan berita memang Kinan harus jadi nomor satu. Untungnya dia bekerja di perusahaan Kakeknya Lyra sendiri.

"Eh, mbak Kinan. Selamat pagi."

"Pak, Lyra ada di dalam?" tanya Kinan pada satpam rumah yang keluar dari pos.

"Di dalam cuma ada Pak Domini. Mbak Lyra baru aja keluar."

Dia pergi? Gadis itu menggerutu dalam hati. Memang temanya ini hanya ingin membuatnya penasaran saja. "Kebiasaan banget bikin orang kesel."

Kinan berniat untuk langsung pergi, namun belum sempat menaikan kaca jendela dia mendengar bunyi klakson dari belakang. Bisa dilihat sebuah mobil datang ke arahnya. Mobil itu berhenti tepat di sebelahnya, terparkir dengan sempurna.

Pintu mobil terbuka, seorang pria turun dari sana dengan pakaian rapihnya. Pria itu tersenyum menatap bangunan di depan sana, sedikit mengurai rambutnya ke belakang dan melepas kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya.

"Tolong buka gerbangnya, Pak. Saya mau bertemu Kakek Domini."

"Loh, Mas Harry?" Sang satpam langsung merogoh saku celana mengeluarkan kunci gerbang. "Siap mas. Tunggu sebentar."

Memang Domini selalu meminta satpam rumahnya untuk selalu mengunci gerbang, entah itu ada orang di dalam ataupun tidak. Karena demi keamanan rumah juga. Sementara itu Kinan sejak tadi hanya diam terlihat terkejut.

Kinan menutup mulutnya yang sejak tadi terbuka lebar. "Harry?"

****

"Harry udah pulang ke Indonesia?"

Lyra memperlambat langkahnya saat membaca pesan dari Kinan. Tangan satunya menenteng kantung kresek berisi makanan yang baru saja dibeli. Niatnya dia akan sarapan di butik barunya, bersama karyawan yang lain.

Saat mengetahui Harry yang berada di rumah Kakeknya, Lyra merasa sedikit cemas. Takut pria itu semakin menghasut kakeknya untuk semakin percaya. Dia sendiri tidak pernah mengerti kenapa Harry bisa dengan mudah mengambil hati sang Kakek.

"Aku ga akan kemakan rayuan kamu lagi," gumamnya meremas ponsel dengan erat.

Tiin...

Suara klakson terdengar nyaring. Lyra menoleh dan terkejut saat melihat mobil melaju ke arahnya. Si pengendara yang melihat Lyra tiba-tiba menyebrang langsung menginjak rem. Namun belum sempat menghindar tubuhnya sudah terserempet.

"Aw! Shhh.." Tubuh rampingnya terjatuh ke jalan. Ponsel dan makanan yang dibawannya juga ikut terhempas. Dengan susah payah Lyra berdiri dan memukul jendela mobil. "Keluar sekarang! Tanggung jawab!"

Tak menunggu lama pintu terbuka, muncullah sesosok pria tinggi dengan setelan jas hitamnya. Beberapa detik Lyra terdiam memandangi wajah itu. Ya ampun! Ini pria semalam. Bagaimana takdir mempertemukan mereka untuk kedua kalinya, atau... Ketiga kalinya?

"Ada yang terluka? Saya minta maaf," ucap Victor memperhatikan Lyra dari atas sampai bawah memastikan gadis itu baik-baik saja.

"Gak lihat orang kesakitan? Bawa mobil itu yang benar, dong! Jangan asal tabrak," gerutunya masih kesal.

"Tapi kamu juga jalan tidak hati-hati. Sambil main ponsel."

"Jadi maksudnya saya yang salah?"

Dengan cepat Victor menggeleng. Pria itu membasahi bibirnya sesaat karena gugup. "Bukan, saya yang salah. Maaf, ya."

Lyra tak membalas lagi. Ia mengambil ponsel dan makanan yang berserakan. Bagian pergelangan kaki dan sikunya terluka. Ponselnya mati, tak dapat menyala. Victor yang melihat langsung menghampiri.

Pria itu tak menyangka akan kembali bertemu dengan Lyra di situasi seperti ini. Dengan cepat ia membantu Lyra mengambil kantung kresek itu dan menuntunnya berdiri. Tapi jika tidak seperti ini apa mereka akan bertemu lagi?

"Ganti rugi!" ucap Lyra menunjukkan ponselnya yang mati. Tentu Lyra mampu membeli yang baru atau lebih mahal. Namun dia tak ingin kehilangan data di ponselnya karena banyak hal yang penting.

"Oke, saya akan ganti rugi. Saya belikan lagi makanan untuk kamu dan ponsel kamu juga. Sekarang kamu mau kemana? Biar saya antar."

"Ga perlu. Saya bawa mobil sendiri di sana," tunjuknya di sebrang jalan.

Victor menghela nafas. "Bukannya kamu mau saya tanggung jawab? Saya obati luka kamu di mobil."

"Tapi.."

"Tidak bisa ditolak."

Tanpa menunggu aba-aba Victor mengangkat tubuh kecil itu ala bridal style. Lyra yang terkejut langsung memeluk pundak Victor dan satu tangan menarik dress-nya yang hanya selutut.

Lyra bisa melihat wajahnya dengan dekat. Pipinya memerah dan ia langsung menatap ke arah lain. Dia dimasukan ke kursi belakang, dan Victor juga duduk di sampingnya. Terlihat Victor mengambil sebuah ponsel dan kotak obat di dashboard.

"Ini ponsel saya sebagai jaminan. Saya punya dua ponsel, jadi selama milik kamu saya perbaiki, kamu bisa pakai yang ini," jelasnya yang disetujui Lyra. "Sekarang angkat kaki kamu."

Perlahan Victor mengangkat kedua kaki Lyra ke atas pangkuannya. Melepas sepatu yang terpasang indah di sana. Sebenarnya Lyra tak begitu nyaman dengan posisi seperti ini apalagi dengan pria yang baru dikenal, bisa dibilang asing.

"Awas ya kalau macam-macam! Saya bisa teriak," ancam Lyra sambil memegang jok mobil dengan erat.

Seketika Victor tertawa pelan. Melihat wajah ketakutan Lyra yang justru klterluhat lucu. "Kamu takut? Padahal harusnya saya yang takut kamu macam-macam. Lupa kalau di awal pertemuan kita, kamu yang cium saya tiba-tiba?"

Ciuman?

Seketika ingatan itu kembali datang. Dimana Lyra menghampiri seorang pria yang ternyata orang itu ada di hadapannya sekarang. Bahkan Lyra juga ingat jika dialah yang menciumnya lebih dulu. Sialan bibir ini!

"Mulai ingat?" tanya Victor menyeringai kecil. "Saya tidak akan macam-macam. Tenang saja."

Sekarang rasanya malu sekali. Wajahnya benar-benar merah. Meskipun dari luar tampilannya seperti wanita dewasa yang nakal, namun nyatanya Lyra hanya mencium satu orang selama hidupnya yaitu mantannya sendiri.

"Pelan-pelan," bisiknya melihat Victor bersiap menyentuh luka dengan kapas.

Tangannya begitu telaten mengobati luka di kaki. Lyra hanya menatap pria dihadapannya dengan tatapan yang penuh kagum. Tampan, hidung mancung, bibir tebal dan bulu di area rahang yang menambah kesan maskulin. Pantas saja malam itu dia tergoda. Namun pikirannya juga penuh tanda tanya, penasaran dengan malam dimana pertama kali mereka bertemu.

"Bapak juga yang kirim bunga bunga buat saya?" tanya Lyra seketika. Tak dapat menahan untuk tidak bertanya.

Victor yang awalnya fokus langsung menoleh. "Jadi sudah kamu terima?" ucapnya balik bertanya.

"Buat apa? Kita aja ga saling kenal."

"Hanya untuk tanda selamat karena butik baru kamu. Supaya lebih pribadi."

"Jadi nama Bapak Vee?"

"Victor. Itu panggilan yang kamu buat, kan?"

Victor yang awalnya sedikit berekspresi kini mulai sering tersenyum. Entah kenapa gadis ini begitu manis dan menggemaskan, namun bisa juga menjadi sexy dalam waktu yang bersamaan. Sangat menarik.

Lyra mulai teringat dengan perkataan Kinan waktu itu. Jika dipikir memang Victor berada di usia matang, apalagi dia tampan dan sukses, mana mungkin belum memiliki pasangan.

"Bapak punya istri?" tanya Lyra spontan.

Pria dihadapannya diam beberapa detik lalu tersenyum simpul dan menurunkan kaki Lyra dari pangkuannya. "Kenapa memangnya?"

"Cuma tanya aja. Saya cuma ga mau dibilang pelakor."

"Jadi kamu bilang tadi mau ke butik, kan? Saya antar kamu sekarang."

Victor langsung pindah ke kursi depan. Sementara Lyra masih memperhatikan pria itu. Apa benar dia single?

****

Sesampainya di depan butik Victor segera turun dan membukakan pintu untu Lyra. Karena pergelangan kaki yang terkilir dia masih harus berjalan dengan pelan. Sebelumnya mereka juga sempat mampir untuk membeli makanan yang baru karena sempat terjatuh.

"Terimakasih Bapak udah antar saya," ucap Lyra tersenyum lembut.

"Saya yang minta maaf untuk kejadian tadi. Oh ya, kamu juga bisa panggil saya cukup dengan nama. Tidak perlu terlalu formal."

"Tapi Pak Victor lebih tua dari saya jadi..."

Seakan mengerti Victor langsung mengangguk. "Oke, panggil sesuka kamu."

Padahal dalam hatinya Victor berharap mendengar panggilan itu lagi. Vee, terkesan lembut dan hangat. Sesuatu yang berbeda dan istimewa.

Tak lama di sana Victor langsung pamit karena masih memiliki pekerjaan. Dia juga mengatakan akan segera kembali menghubungi Lyra saat ponselnya sudah selesai. Bagaimanapun juga dia tak ingin kehilangan data-data penting itu.

Saat hendak masuk Lyra dikejutkan dengan seseorang yang baru saja keluar dari dalam butiknya. Pria dengan pakaian casual. Kaos putih pendek yang menunjukan otot lengannya. "Nice to meet you again, babe," sapa orang tersebut dengan merentangangkan tangan.

"Harry?"

Tampilannya sedikit berubah. satu tahun tidak bersama namun Lyra menyadari perubahannya. Pria itu membentuk tubuhnya dengan sempurna. Apa-apaan? dia berusaha pamer seakan mengatakan tanpa Lyra dirinya bisa lebih keren?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   bertemu rekan bisnis

    "Itu temen kamu di luar? Lebih baik kamu samperin dulu sana."Kinan menghela nafas kasar. Ia menitipkan berkas yang sedang dibawa kepada teman kerjanya. Di depan gedung sana, tepatnya di loby, Jonan berdiri tengah memainkan ponselnya. Beberapa teman Kinan memang mengenal Jonan karena tak jarang pria itu mengantar atau menjemput Kinan.Sebelum menghampiri Jonan, Kinan sempat melihat jam. Masih 30 menit menuju istirahat makan siang tapi karena tugasnya sudah selesai jadi dia rasa tidak apa-apa menemui pria itu sebentar. Masalahnya kalau bukan untuk mencari Kinan memang apa lagi?"Ngapain kamu di sini?" tanya Kinan mendekat."Kenapa emangnya? Gak boleh gue ke sini?" Jonan memasang wajah songongnya. Pria itu memasukan ponsel ke dalam celana. "Jadi Lo udah tau soal Lyra yang kabur?""Emangnya harus bahas sekarang banget? Nanti aja kalau aku udah pulang kerja. Kamu datang ke sini cuma buat bilang itu aja?""Kepedean banget jadi orang. Lagian gue ke sini juga bukan buat ketemu sama Lo. Gue m

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   rencana serius

    "Kenapa semalam bohong?"Kinan memainkan jari jemari tangannya. Ia tak berani menoleh sedikitpun. "Gak bohong, semalam emang Lyra gak ada di rumah aku. Aku yang bohong sama kakek. Tapi ini karena Lyra yang mau. Plis jangan kasih tau, ya.""Jadi semalam dia dimana?""Gak tau. Emangnya ada apa, sih? Tapi dia bilang baik-baik aja, terus sekarang lagi ada urusan kerjaan sama cowoknya."Victor menggenggam erat stir mobil. Yang jelas semalam Lyra bersama Victor karena teleponnya diangkat oleh pria itu. Tak disangka Kakaknya benar-benar sekeras kepala ini. Bahkan sebelum dirinya resmi bercerai dia sudah mendekati wanita lain. Di sisi lain Kinan tak tau apapun. Hanya menerka-nerka apakah Lyra kabur? Tapi tak mungkin. Sepertinya setelah ini dia harus bertanya pada Jonan. Kinan tak mau jika ternyata Lyra memintanya berbohong pada sang Kakek untuk keburukan."Sekarang gue mau minta bantuan Lo, Ki.""Bantuan apa? Aduh, jangan bawa-bawa aku deh.""Kalau Lo bisa bantuin gue, Lo bisa kerja di perus

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Dimana Lyra?

    "Ya ampun, Lo tenang dulu dong. Gimana gue mau bantu kalau Lo malah gini.""Gimana gue bisa tenang? Abang gue pasti lagi berduaan sama Lyra. Gue gak terima ada orang yang sentuh dia selain gue."Jonan mengusap wajahnya kasar. "Iya gue ngerti. Tapi Lo harus mikir pake kepala dingin. Gue jadi ga bisa bantu mikir liat Lo mondar-mandir kayak tadi. Pusing gue liatnya."Harry mulai mengatur nafas. Dia duduk di sebelah Jonan. Setelah mengantar Domini pulang Harry langsung mencari Lyra ke apartemennya namun tak ada di sana. Domini yang sudah marah meminta Harry membawa Lyra pulang malam ini. Pria tua itu merasa cucunya sudah berubah semenjak mengenal pria baru, menjadi lebih keras kepala.Harry tak tau dimana Lyra saat ini. Bahkan setelah bertanya pada Kinan, wanita itu juga tak tau keberadaan Lyra. Kini Harry meminta Jonan ikut mencari Lyra. Mungkin saja dia pernah mendengar cerita Lyra yang pergi dengan Victor. "Gue juga udah coba telepon dia tapi gak di angkat. Kalau dia emang sama Abang

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Api cemburu

    "kenapa Lyra belum datang juga? Kakek yakin dia datang, kan?" Harry menatap pintu restaurant seakan menunggu seseorang datang. Domini memang sudah membuat janji untuk makan malam berdua bersama cucunya di luar. Hari itu Lyra juga setuju untuk langsung bertemu di restoran tapi tiba-tiba saja malam ini dia tak bisa dihubungi. "Harusnya datang. Apa dia lupa?""Mungkin lagi berduaan sama pacar barunya. Liat aja, dia sampai lupa sama Kakek. Pasti cowoknya ga baik," ucap Harry memprovokasi. Domini terdiam mulai memikirkan hal tersebut. Benar juga, semenjak Lyra bersama kekasih barunya wanita itu menjadi jarang berbicara dengannya. Bahkan tak banyak bicara."Kamu bicara begitu memangnya tau benar siapa pacar Lyra,?"Harry mengangkat bahunya acuh. "Liat aja nanti.""Sebenarnya kalau saja Lyra bawa orang itu kerumah Kakek bisa saja beri restu selama dia pria yang baik. Apapun yang membuat Lyra bahagia. Tapi dengan dia yang tidak bertindak seperti pria untuk datang ke rumah, itu jadi pertimb

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Persaingan kakak adik

    "Kamu kenapa?"Lyra terlihat panik saat melihat Victor datang ke butiknya dengan wajah dipenuhi lebam. Dengan cepat ia membawa Victor duduk di sofa yang ada di ruangan. Ia meringis melihat darah yang menetes sampai ke baju. Ada yang tak beres."Tolong kamu ke apotik terus beli obat luka, ya. Sekalian minta satu orang ambil air dingin untuk kompres," titah Lyra pada salah satu pekerja."Iya, Mbak.""Cepetan!"Victor merebahkan tubuhnya di atas sofa karena tubuhnya terasa sangat lemah. Bahkan saat dimobil dia mengendarainya begitu pelan karena hampir kehilangan kesadaran. Tak disangka adiknya akan marah dengan menghajarnya seperti tadi.Dengan kondisi tubuh lemah seperti ini seharusnya dia pergi ke rumah dan mengobati lukanya, tapi dia memilih datang menemui Lyra karena takut Harry lebih dulu datang ke sini. Victor tau suatu hari nanti Lyra akan tau semuanya tapi dia ingin melakukan cara agar wanita itu tak meninggalkannya meski tau kebenaran. Dengan cara apa? Manipulasi."Kamu mau ke r

  • Wanita Simpanan Itu Ternyata Aku   Perkelahian

    Di tengah alunan musik yang lembut yang keluar dari radio cafe, dinginnya kipas tak lagi terasa. Suasana berubah menjadi gerah, panas, dan kelam. Jonan melirik Harry yang menjadi diam sejak beberapa menit yang lalu. Meski dirinya tau pria itu pasti sedang marah padanya.Sementara itu Harry kini memijat pelipisnya. Meski sudah mendengar semua penjelasan dari Jo namun dirinya masih belum mencerna jelas, ada rasa tak terima. Bagaimana bisa dan kenapa orang yang tengah memiliki hubungan dengan Lyra adalah kakaknya sendiri. Sudah jelas jika dia memiliki istri. Apa Lyra tau soal ini? Banyak pertanyaan melintas di kepalanya.Tiba-tiba Harry berdiri dan menarik baju Jonan. "Kenapa Lo baru bilang, huh? Lo tau semua ini dan Lo baru kasih tau gue sekarang?""Har, tenang dulu. Gue minta maaf, tapi gue takut Lo kaget. Makanya gue bilang sekarang karena ga ada waktu yang pas, Lo harus tau.""Tapi Lo gak jujur dari awal!" teriaknya yang mendapat tatapan dari para pekerja. Sadar akan tempat dimana me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status