MasukHening... sangat sepi dan sunyi, Lavannya yang telah tersadar sejak lima belas menit yang lalu hanya berbaring tanpa suara. Terlihat sangat putus asa, yang ia lakukan sejak tadi hanyalah menatap langit- langit rumah sakit, tanpa memikirkan apapun.
Dalam keheningan yang melanda, suara pintu yang terdengar berhasil memecahk lamunannya. Lavannya semakin terdiam saat melihat siapa yang datang. "Ekhem..." Suara daheman yang manly membuat Vannya segera bangkit dari pembaringannya, ia pikir pria itu sudah pergi setelah menolongnya tadi. "Tuan" cicit Vannya untuk menyapa. Jovan hannya diam, berdiri tepat di sisi brankar Vannya. Karena tidak ada suara yang terdengar, itu membuat suasana canngung bagi Vannya, ia tidak mengerti apa tujuan Jovan menghampirinya. "Saya pikir Tuan sudah pergi" suara yang terdengar seperti hanya sebuah angin lalu untuk Jovan, pria itu tetap diam tanpa sedikitpun respon berarti di wajahnya. Karena terlalu canngung, Vannya akhirnya memberanikan diri untuk mendongak dan menatap wajah pria di sebelahnya, dan ketika tatap mereka bertemu, Lavannya justru turut membisu diam. Entah bagaimana wajah tampan itu selalu tampak mempesona, bukan jatuh cinta, Vannya hanya sering diam- diam mengaguminya. "Ah" Vannya segera berpaling saat sadar ia mulai terbawa arus, bisa bahaya jika ia terperangkap dalam pesona Jovan. "Terimakasih Karena..." "Sejak kapan?" "Ha?" Vannya segera merespon ketika Jovan baru saja bersuara, ia tidak mendengarnya karena dirinya juga sedg bicara tadi. "Sejak kapan kalian berkencan?" Kedua alisnya menukik bingung, siapa yang Jovan bicarakan? Siapa yang berkencan? "Kau dan Damian" Jovan segera melanjutkan saat melihat kebingungan di raut wajah Vannya. Ketika mendengarnya ekspresi wajah Vannya berubah seratus delapan puluh derajat, ekspresinya segera kosong bahkan tatapannya mulai tak ter -arah. "Dia memaksamu? Atau kalian sama- sama mau?" Jovan kembali melayangkan pertanyaan yang bahkan tidak sanggup Vannya dengar. "Saya mendengar kalian sedang dekat, seharusnya... Itu bukan paksaan... 'Kan?" Jovan mengkahiri kalimatnya dengan suara lirih, berharap jika dugaan- nya memang benar. Lavannya perlahan menundukan kepalanya, rupanya seperti itu orang- orang akan menatapnya nanti, sebagai gadis murahan yang mudah di goda. "Saat ini tidak ada yang tahu selain kita bertiga, katakan apa yang sebenarnya terjadi" Jovan memaksa, ia sungguh butuh jawaban dari Lavannya saat ini juga. Jovan harap ia mendengar apa yang ingin dia dengar. Ia berharap Vannya memang wanita seperti itu, sehingga ia tidak perlu bertanggung jawab untuk melindungi nama baik keluarga. Vannya yang sejak tadi menunduk perlahan menggeleng, gelengan kepala yang begitu lemah tapi bisa Jovan lihat dengan jelas. Kerutan amarah di antara alisnya seketika mengendur, sepertinya Jovan terlalu berharap. "Dia memaksamu?" Tanya Jovan sekali lagi untuk memastikan. Namun bukannya jawaban yang Jovan dapatkan, melainkan suara isak tangis yang membuat dirinya semakin yakin akan seberapa brengsek adiknya. Tidak pernah Jovan kira Damian yang selalu bersikap baik kepadanya justru menjadi mala petaka untuk orang lain. Menghamili seorang wanita? Apa dia bercanda? "Apa dia mau bertanggung jawab?" Jovan sekali lagi melayangkan pertanyaan, dan harus di jawab saat itu juga. Padahal dia sadar wanita di hadapan- nya ini sudah sangat hancur. Kedua bahu Vannya di cengkram kuat, memaksa wanita muda itu untuk mendongak dan menatap padanya. "Katakan, katakan jika dia mau bertanggung jawab" Lavannya yang berlinang air mata hanya bisa menggeleng dan kembali menangis. Sungguh malu Vannya untuk mengakuinya, rasanya dirinya begitu kotor dan terbuang, tidak ada yang dapat menyelamatkannya dari situasi ini. Jovan melepaskan cengkeramannya dengan perlahan, wajahnya terlihat lebih putus asa dari pada Vannya sendiri. Ia terkejut dan bingung harus bagaimana dan berbuat apa. Ayahnya telah memberinya pilihan, tapi apa Jovan tega melakukannya? Membunuh janin yang bahkan baru saja tumbuh. "Dia memintaku menggugurkannya" kata Vannya di tengah isakan yang terdengar pilu. "Dan memberiku obat, tapi sama sekali tidak berhasil" "Kau juga ingin membunuhnya?" Jovan yang sedang frustasi berbicara dengan nada tinggi. Setidaknya jika itu keputusan mereka sendiri maka tidak masalah. Vannya kembali mendongak, menatap Jovan yang juga sedang menatapnya. Ia mengangguk dengan deraian air mata. "Tidak ada alasan untuk aku mempertahankannya" Jovan terdiam, Vannya terlihat sangat hancur dengan keadaan nya saat ini, pasti akan semakin kacau jika semua orang tahu nanti, apalagi kalau kabar ini sampai ke telinga keluarganya. "Tapi aku ibunya..." Nafasnya tercekat saat akan melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana mungkin seorang ibu membunuh anaknya sendiri" Tangisannya semakin nyaring terdengar, Vannya juga tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan. Ia takut semua orang tahu dan akan di permalukan, tapi ia juga tidak tega membunuh bayinya sendiri, bagaimanapun ia sudah hadir di dunia ini. .... "Jadi, Apa keputusanmu?" Antonio kembali menannyakan keputusan Jovan pagi ini. Jovan bahkan belum sempat menyantap sarapannya, tapi pertanyaan Antonio membuat napsu makan nya jadi kacau. Di ruang makan yang selalu hening, akhirnya kini kembali terdengar pembicaraan di antara mereka. Sudah bertahun-tahun keduanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, tidak pernah ada pembicaraan apapun bahkan tidak untuk saling menyapa. Jovan menghela nafas, menatap ayahnya yang terlihat menikmati sarapannya. Padahal putranya sedang sekarat di rumah sakit, dia justru makan dengan tenang di rumah bahkan malah menanyakan keadaan orang lain. "Saya akan memberinya kompensasi, dan memintanya..." "Artinya kau harus membunuh janin itu" sahut Antonio dengan cepat. "Tidak.." Jovan terpaku saat sang ayah melepaskan sendok dengan kasar, membuat suara dentingan yang cukup keras. Pria itu mulai beralih menatap Jovan dengan nyalang. "Kau akan membiarkan anak itu hidup dan berkelana mencari ayahnya?" Antonio semakin mendramatisir keadaan dengan berteriak kepada putranya. Semua pelayan perlahan mundur dan menjauh, membiarkan ayah dan anak itu membicarakan persoalan serius berdua saja. "Lalu.. apa saya harus mengurus putra orang lain?" Jovan membalasnya dengan nada rendah yang tajam, cukup untuk membalas keangkuhan Antonio. "Aku memberimu pilihan..." Antonio kembali bersuara tanpa mau mengalah. "Kau ingin menutupinya atau membuangnya?" Rahang Jovan perlahan semakin mengeras, tatapannya menyorot begitu tajam untuk menunjukan amarahnya. Meski tahu ayahnya sangat angkuh dan teramat dingin, tapi Jovan pikir Antonio masih memiliki sedikit rasa kemanusiaan. "Kau ingin membuangnya, tapi bakai tetap harus di tutupi Jovan" "Kau tega membiarkan seorang ibu kehilangan anaknya?" Lirih Jovan dengan tatapan kecewa, apa tidak ada sedikit saja belas kasih di hati Ayahnya? Antonio mengangguk. "Aku tega menyingkirkan apapun agar tidak hancur" kata Anton tanpa menunjukan belas kasih sedikitpun. "Jika kau tidak tega, maka menikahlah dan simpan rahasia ini rapat- rapat, jika tidak... maka jalan satu- satunya adalah membuangnya tanpa di ketahui oleh dunia" Inilah mengapa Jovan sangat tidak menyukai karakter ayahnya. Pria itu rela melakukan segalanya agar kekuasaan tetap berada di genggamannya, ia memaksa kedua putranya untuk mengikuti jejaknya, berprilaku kejam dan lurus menuju ke atas. Jovan yang muak akhirnya bangkit, sebaiknya pergi saja daripada harus menghadapi ayahnya yang tidak pernah mau kalah. "Kau tidak ingat darimana dirimu berasal Jovan?" Tak Langkahnya terhenti saat itu juga, Jovan sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahannya sejak tadi, tapi Anton tidak sedikitpun mau mengerti. "Aku juga memiliki dua pilihan untuk kesalahanku" Anton semakin memancing putranya yang sudah kalang kabut, ia yakin dengan desakan darinya Jovan akan berani bertindak tanpa dirinya harus turun tangan sendiri. "Itu kesalahanmu sendiri" Jovan menekan kalimatnya dengan wajah memerah menahan amarah. "Yah, dan aku bersalah membiarkan ibumu pergi tanpa melenyapkanmu" Jovan seketika berbalik dan menatap nyalang ayahnya ketika ibunya turut di sebut. Ia tidak akan pernah melupakan betapa buruknya Anton memperlakukan ibunya dahulu. "Jangan pernah menyebutnya, kau tidak pantas" Anton tersenyum melihat putranya yang berapi- api, situasi ini terlihat sangat menarik untuk dirinya, dia sungguh sangat menikmatinya. "Saya tidak membuat kesalahan, tanggung jawab itu bukan kewajiban saya" Jovan kembali berbalik dan segera pergi saat itu juga. "Baiklah, kalau begitu aku sendiri yang akan turun tangan" Jovan dengar, tapi memilih untuk tidak perduli, ia terus melangkah tanpa berbalik sedikitpun, hal itu membuat Anton menggeram marah. Semakin hari semakin sulit mengendalikan Jovan, putranya itu semakin pandai memberontak rupanya."ayo Akhiri hubungan ini"Bagai tersambar petir, Angel terbungkam saat mendengar kalimat itu terucap dari mulut kekasihnya."Hey" Angel menarik Jovan untuk masuk kedalam apartemennya. Gadis itu tercengang, tapi tetap mempertahankan senyuman manisnya."Kau sedang bercanda? Apa ingin memberikan kejutan untukku?" Angel kembali bicara dengan keceriaan, ia membawa Jovan untuk duduk di sofa bersama, tapi pria itu segera menolaknya."Ada apa?" Angel bertanya sembari menggenggam kedua tangan Jovan, matanya terus menyorot kedalam tatapan Jovan untuk mencari kebohongan di sana, setidaknya sedikit saja itu sudah cukup untuk menenangkannya.Tapi sama sekali tidak ada kebohongan di manapun Angel mencari. Ada apa sebenarnya?"Ayo akhiri semua ini!" Jovan menatap Angel yang masih terkejut dengan ucapannya, tanpa senyuman ataupun tatapan lembut penuh makna seperti sebelumnya.Kalimat yang terdengar membuat senyuman Angel berubah getir, ia melepaskan genggaman tangannya dari sang pria lalu mengambil s
"Ayo makan!" Vanya yang termenung di sudut kasur sederhananya segera menoleh, ia tersenyum kepada wanita tua yang masih berdiri di ambang pintu. "Nenek senang kau datang setelah sekian lama, tapi kenapa terus murung dan diam di kamar? Apa ada masalah?" Sudah sejak dua hari yang lalu Juliana meperhatikan cucunya. Gadis yang sejak dahulu selalu tersenyum dan memeluknya saat pulang, hari itu pulang tanpa kabar dan tanpa suara. Wajahnya sembab, terlihat sangat terpuruk dan gelisah, ada ketakutan yang terpancar dari matanya, namun entah hal apa yang membuat gadis itu murung. Vannya tersenyum simpul ketika nenek Juliana duduk di hadapannya, mengusap kepalanya dengan lembut dan memandang wajahnya dengan kasih sayang. "Bukankah hanya cuti selama tiga hari? Ayo keluar dan jalan-jalan" Juliana sebisa mungkin menghibur cucunya tanpa bertanya apa alasan gadis itu murung. Karena tidak mendapatkan ijin untuk berhenti bekerja, Vannya hanya bisa mengajukan cuti selama tiga hari. Ia berharap h
Hening... sangat sepi dan sunyi, Lavannya yang telah tersadar sejak lima belas menit yang lalu hanya berbaring tanpa suara. Terlihat sangat putus asa, yang ia lakukan sejak tadi hanyalah menatap langit- langit rumah sakit, tanpa memikirkan apapun.Dalam keheningan yang melanda, suara pintu yang terdengar berhasil memecahk lamunannya. Lavannya semakin terdiam saat melihat siapa yang datang."Ekhem..."Suara daheman yang manly membuat Vannya segera bangkit dari pembaringannya, ia pikir pria itu sudah pergi setelah menolongnya tadi."Tuan" cicit Vannya untuk menyapa.Jovan hannya diam, berdiri tepat di sisi brankar Vannya. Karena tidak ada suara yang terdengar, itu membuat suasana canngung bagi Vannya, ia tidak mengerti apa tujuan Jovan menghampirinya."Saya pikir Tuan sudah pergi" suara yang terdengar seperti hanya sebuah angin lalu untuk Jovan, pria itu tetap diam tanpa sedikitpun respon berarti di wajahnya.Karena terlalu canngung, Vannya akhirnya memberanikan diri untuk mendongak dan
Setelah kepergian Lavannya, Jovan masih terduduk diam di tempatnya, menyesap kopinya secara perlahan sembari mengetik pesan di ponselnya.Kecelakaan yang di alami Damian ini kemungkinan besar akan membuatnnya sibuk, perusahaan harus segera menjelaskan kondisinya kepada media, agar para penggemar bisa lebih tenang."Bagaimana kondisinya?"Suara yang tidak asing membuat Jovan dengan cepat mendongak, menghentikan kegiatannya yang teramat sibuk dengan pekerjaan di layar ponsel.Antonio Fedorov, ia yang saat itu sedang ada pekerjaan di luar kota segera datang setelah mendengar keadaan Damian, putra bungsunya yang saat ini sedang naik daun.Jovan bangkit dan berdiri di sisi ayahnya, menatap Damian yang tidak berdaya di atas brankar."Buruk, dokter bilang ada benturan hebat yang mengenai dadanya, itu membuat be.... Yah seperti itulah." Jovan berhenti bicara saat ayahnya tampak sudah cukup paham dengan keadaan Damian saat ini.Antonio menghela nafas, ia menatap putra sulungnya yang berdiri d
"ayolah Van, hanya sedikit bermain denganku apa akan menjadi masalah besar untukmu?"Vannya menggeleng lemah, kepalanya terasa berputar- putar dan sangat berat, ia bahkan tidak bisa membuka matanya dengan benar."Ck tidak mau" Vannya terus menolak setiap sentuhan dari pria di sampingnya. Alkohol yang menguasai tubuhnya membuat ia hampir kehilangan kesadaran."Ayolah, semua wanita bukankah sama saja? Mengapa sok jual mahal sekali sih" tampaknya pria itu semakin kesal dengan setiap penolakan Vannya. Ia terus membujuk dan memaksa meskipun Vannya berulang kali menepisnya.Damian memang sedang berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih intens dengan Lavannya, tapi yang membuat pria itu kesal adalah Lavannya yang selalu sok jual mahal. Vannya ingin menjalin hubungan ketika mereka sudah lebih mengenal satu sama lain, tapi dia bahkan sama sekali tidak mau di sentuh, padahal sudah terlihat jelas kalau Vannya juga tertarik kepada Damian.Bagi Vannya dunianya cukup dengan bekerja dan mendapat p
"Tuan... Saya hamil"Pria berdasi yang saat itu sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya sontak mendongak, netranya yang hitam kelam tertuju pada wanita muda yang berdiri di hadapannya.Wanita dengan rambut hitam bergelombang, yang mentapnya dengan rasa gugup sampai berkeringat dingin. Wajah cantiknya bahkan terlihat berkeringat meskipun ruangan ini ber- AC."Ini surat pengunduran diri saya" Tangan seputih susu itu meletakan surat pengunduran di atas meja, membuat pria yang duduk di hadapannya melepaskan berkas-berkas di sisi lain, dan matanya menatap lekat surat pengunduran diri yang baru saja di ajukan.Jovan Fedorov... Sang Presdir yang selama ini di katakan sebagai pemimpin yang tegas juga displin, pria dengan karisma luar biasa yang dengan mudah menaklukan hati para wanita. Tapi selalu saja sikapnya terlalu santai, atau bisa di katakan cuek, dia selalu serius dalam pekerjaanya."Kau akan menikah?" Jovan bersuara dengan nada penuh keharanan, sebab ia belum pernah mendengar jika sekr







