ログイン"Ayo makan!"
Vanya yang termenung di sudut kasur sederhananya segera menoleh, ia tersenyum kepada wanita tua yang masih berdiri di ambang pintu. "Nenek senang kau datang setelah sekian lama, tapi kenapa terus murung dan diam di kamar? Apa ada masalah?" Sudah sejak dua hari yang lalu Juliana meperhatikan cucunya. Gadis yang sejak dahulu selalu tersenyum dan memeluknya saat pulang, hari itu pulang tanpa kabar dan tanpa suara. Wajahnya sembab, terlihat sangat terpuruk dan gelisah, ada ketakutan yang terpancar dari matanya, namun entah hal apa yang membuat gadis itu murung. Vannya tersenyum simpul ketika nenek Juliana duduk di hadapannya, mengusap kepalanya dengan lembut dan memandang wajahnya dengan kasih sayang. "Bukankah hanya cuti selama tiga hari? Ayo keluar dan jalan-jalan" Juliana sebisa mungkin menghibur cucunya tanpa bertanya apa alasan gadis itu murung. Karena tidak mendapatkan ijin untuk berhenti bekerja, Vannya hanya bisa mengajukan cuti selama tiga hari. Ia berharap hati dan pikirannya bisa tenang saat berkunjung kedesa tempat tinggalnya dahulu. Namun, bukan perasaan tenang yang Vannya dapatkan, ia justru semakin takut dan terpuruk. Takut jika semua orang akan mengetahui segalanya, takut membayangkan Akan sehancur apa wanita tua di hadapannya ini jika tahu cucunya telah di campakan oleh pria yang menghamilinya. "Jangan menangis" tangan keriput itu dengan lembut menyapu setiap air mata Vannya yang terjatuh. Gadis malang itu kini tak lagi dapat menahan rasa gelisahnya, tangisnnya kian menjadi dan terdengar semakin pilu. "Nenek" Serunya seraya berhambur memeluk tubuh renta di hadapannya. "Nenek bagaimana ini..." Jualiana hanya diam tanpa kata, tangannya mengusap surai sang cucu dengan penuh kasih sayang, berharap dengan itu dirinya bisa mengurangi rasa gelisah yang Vannya rasakan. "Nenek maafkan Vannya..." Juliana tidak mengerti, tapi ia dengan tenang terus menyalurkan kasih sayang kepada cucunya agar Vannya bisa sedikit tenang. "Vannya sudah berdosa" Lavannya semakin terisak- isak dalam dekapan neneknya. "Tidak apa-apa, tenanglah" Entah dosa apapun itu, Juliana tidak perduli ia tetap akan menyayangi cucunya seperti dahulu. Perlahan tapi pasti, isakan yang terdengar mulai samar dan gadis itu bisa tenang. Ia menatap neneknya dengan sisa- sisa air mata. "Apa nenek akan kecewa jika mendengarnya?" Seruan Lavannya membuat Juliana segera menggeleng, hal apapun itu ia siap untuk mendengarnya. Lavannya ingin sekali kembalienangis, tetapi ia menahannya sekuat tenaga, ia harus mengatakannya meskipun takut. "Nenek...." Julia hanya diam dan menatap cucunya dengan rasa gugup. "Nenek aku..." Nafasnya tercekat, Vannya tidak sanggup melihat ekspresi terluka neneknya nanti. Vannya menunduk, meremat selimut dengan rasa gugup, sama sekali tidak sanggup menatap langsung mata tua yang memancarkan kasih sayang untuknya. Vannya terlali buruk untuk di banggakan sebagai cucu yang baik. "Vannya hamil nek" akhrinya kalimat yang bagai sebuah bom waktu itu terucap, Vannya harus menerima kenyataan jika neneknya akan marah nanti, setidaknya ia sudah berusaha jujur. .... Di lain sisi, para asisten hebat milik Jovan mulai kebingungan bagaimana cara memuaskan pria itu, setiap laporan yang di berikan komentarnya selalu sama, tidak pernah terlihat sepuas ketika Lavannya ikut mengerjakannya. Bukan berati mereka tidak becus, hanya saja ada beberapa bagian yang kurang di perhatikan, padahal Jovan lebih suka memperhatikan hal- hal kecil seperti itu. Biasanya Vannya selu lebih teliti memrhatikan segalanya, dari detail yang paling kecil hingga yang paling penting, tapi ini baru dua hari sejak kepergian gadis cerdas itu, dan semua orang selalu merasa tidak puas dengan hasil kerja mereka. Tentu saja semua orang ingin memuaskan Jovan dengan pendapat mereka, tapi tetap saja tid bisa sebaik Lavannya. Bukan ketergantungan, lebih tepatnya Jovan terlalu memanfaatkan tenaga Vannya untuk segala kepentingannya. Semuanya telah di atur oleh Vannya dan Jovan sudah terbiasa dengan setiap detail yang gadis itu kerjakan untuknya. "Ulangi" Jovan dengan auranya yang penuh intimidasi selalu saja membuat semua orang tidak bisa berkutik, hanya bisa mengangguk patuh dan kembali mengerjakan tugasnya meski sudah mengulanginya tiga kali. Jika ada Vannya pasti hanya butuh satu kali melihat dan Jovan akan setuju, tapi sekarang, ah sudahlah. Jovan menghela napas setelah kepergian salah satu asistennya, ia sudah menduga dengan tidak adanya Lavannya semua pasti akan keteteran. Tim yang Jovan ciptakan memang sudah pas dengan adannya Vannya, semuanya telah ia peetimbangkan sedetail mungkin, mungkin sebab itulah para sistennya menjadi sedikit kewalahan karena terbiasa bekerja dengan jumblah tim yang komplit. "Sayang" Sebuah pekikan yang tidak asing membuat Jovan menyipitkan matanya, terlalu nyaring sampai telinga nya berdengung. Tapi setelahnya ia tetap menoleh, lalu tersenyum saat melihat kekasih hatinya datang dengan senyuman ceria. Tentu saja Jovan memilikinya, di usianya sekarang ini mustahil Jovan tidak menjalin hubungan dengan seorang gadis. Ia tetap membutuhkan pendamping hidup. "Sudah makan?" Sang gadis bertanya dengan suara lembut ketika telah sampai di sisi Jovan. Angela Bolton, salah satu keturunan konglomerat di tanah air, ia juga sukses mengejar mimpinya menjadi seorang artis dan juga model ternama. Kini ia baru saja pulang setelah beberapa tahun kemarin berhasil membesarkan namanya di dunia fashion luar negeri. Kira- kira sudah beberapa bulan ini ia di kabarkan telah menjalin hubungan dekat dengan Jovan, calon presdir utama Fedorov Group. Sebenarnya hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, hanya saja Angel yang selalu sibuk membuat hubungan mereka selalu renggang dan berhenti di tengah jalan, baru beberapa bulan ini gadis itu kembali ke tanah air dan juga kembali menjalin hubungan dengan Jovan. "Belum" Pria itu menjawab dengan sedikit senyuman. Ekspresi wajahnya memang selalu datar dan cuek, tetap sama saja meskipun ia sedang berbicara dengan kekasih hatinya. Angel tersenyum, ia dengan berani duduk di atas pangkuan Jovan lalu membelai sisi wajah pria itu. "Ayo makan, aku temani" latanya dengan senyuman yang menggoda. Ak tetapi sepertinya Jovan sedang tidak ingin, ia segera menyingkirkan tangan Angela dari wajahnya, dan menolak tawaran gadis itu dengan lembut. "Ada banyak pekerjaan, saya sedang sibuk" kata Jovan seraya terus menatap layar komputernya. Jovan tidak melirik Angel sama sekali, membiarkan gadis itu kesal sendiri karena telah gagal menggodanya. Jovan pria normal, ia mudah di goda, sebab itulah harus bertahan sekuat mungkin agar tidak cepat kalah. "Pulanglah, sopir akan mengantarmu" kata Jovan lagi, kali ini sambil menatap Angel yang duduk di atas pahanya dan memaksa gadis itu untuk turun "Apa begitu sibuk sampai tidak sempat makan?" Angel terlihat kesal, tapi setelah ya tetap berusaha mengerti kondisi Jovan yang super sibuk. Padahal sudah satu minggu ini mereka jarang bertemu, tapi tampaknya pria itu sama sekali tidak merindukan Angela. Jovan terdiam sejenak, ia menatap kekasihnya dengan raut wajah yang tidak mudah di mengerti. Tangannya dengan lembut mengusap punggung tangan Angela, ia ikut berdiri lalu mengecup kening Angela tanpa mengatakan apapun. "Aku rindu, Jovan. Setidaknya temui aku saat pulang nanti" Angel merengek manja, ia memeluk Jovan dengan wajah cemberut yang lucu. Jovan tersenyum sambil membalas pelukan kekasihnya, ia dengan lembut membelai surai Angel yang begitu wangi. Entah keputusan apa yang harus ia buat, Jovan sungguh sedang bimbang saat ini. Tidak mungkin Jovan membiarkan hubungannya dengan Angel kembali kandas, tapi lebih tidak mungkin ia membiarkan Lavannya kehilangan bayinya. Semuanya harus ia pikirkan secara matang- matang, atau kalau tidak ia akan memathkan hati kedua wanita itu. "Saya akan datang ke apartemen nanti malam, tunggu ya?" Jovan berujar setelah mereka cukup lama terdiam. "Baiklah" Angel akhirnya mau patuh, gadis itu segera melenggang pergi setelah memberikan satu kecupan singkat di bibir kekasihnya. "Aku menunggumu" katanya sebelum menutup pintu. Jovan kembali menghela nafas frustasi, sekarang ia benar -benar tengah berada dalam dua pilihan yang sulit. Menikahi gadis asing untuk menyelamatkan nama baik keluargannya, atau memilih untuk bertah dengan kekasihnya dan membiarkan seorang Ibu kehilangan bayinya. Jika Jovan membunuh bayi itu, mungkin setelah ini bukan hanya julukan pria angkuh dan acuh yang ia miliki, tetapi pria kejam yang tidak memiliki peri kemanusiaan.Seperti kata Jovan, Vannya menuruti perintah pria itu dan duduk dengan tenang didalam ruang kerja bersamanya.Vannya juga tidak mengerti mengapa Jovan bisa begitu posesif terhadap dirinya, tidak membiarkannya bekerja di tempat lain tapi juga tidak memberikan pekerjaan apapun disini."Minta Andi kerjakan ini!"Bongkahan es itu akhirnya bersuara setelah mengabaikan Vannya sejak dua jam yang lalu. Vannya bangkit dengan semangat dan meraih berkas yang Jovan berikan."Aku boleh keluar?" Untuk berjaga-jaga, Vannya harus bertanya di setiap tindakan yang ia lakukan.Jovan melirik istrinya sekilas lalu menganggukan kepala dengan samar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lavannya tersenyum gembira.Vannya bergegas keluar untuk menemui rekan-rekannya yang lain, ia senang sekali akhirnya bisa bebas dari ruangan Jovan yg sangat monoton.Vannya masuk kedalam ruangan yang tidak kalah senyap dari ruangan Jovan, tapi setidaknya tenpat in
"aku sudah baik-baik saja kok"Jovan sekali lagi menghela nafasnya, ini sudah kesekian kalinya Vannya merengek untuk kembali bekerja. Jovan tidak mengijinkan karena Vannya yang memang belum sepenuhnya pulih, tapi wanita ini terus memaksa bahkan sekarang sudah berpakaian rapi."Saya sibuk" Jovan tetap mengabaikan istrinya, ia justru sibuk bersiap-siap sendiri.Vannya berdiri tepat di depan pintu, memperhatikan setiap pergerakan suaminya dengan wajah masam."Tuan, aku juga bisa bosan jika hanya duduk di rumah" kata Vannya lagi, wajah memelasnya ia tunjukan supaya Jovan bisa sedikit luluh.Jovan meliriknya sekilas tanpa perduli, ia berlalu masuk kedalam walk in closet untuk mengambil dasi.Karena geram Vannya akhirnya mengikuti Jovan, berdiri tepat di belakang pria itu dengan wajah kesal. Jika saja Jovan bukan atasannya, sudah pasti Vannya tidak akan repot-repot membujuk."Hanya bekerja dan duduk, apa salahnya sih" Vannya c
Malam harinya Jovan baru saja masuk kekamar setelah sejak tadi sore banyak berbincang bersama Aldo dan juga Kevin, tentu ada beberapa pekerjaan yang harus mereka urus juga."Tuan"Suara yang tidak asing membuat Jovan yang baru saja hendak membuka pintu kamar menjadi terhenti, ia menoleh dan mendapati Gretta yang sudah berdiri dengan wajah cemasnya.Pelayan tua ini turut Jovan ambil dari kediaman Fedorov, tentu karena satu-satunya orang yang Jovan percayai adalah dia.Sebenarnya berat untuk Adeline meninggalkan Mansion setelah bekerja puluhan tahun disana, tapi tidak apa asal ia tetap bekerja dengan garis keturunan Fedorov."Apa?" Jovan bertanya dengan ketus, dia memanh tidak pernah bersikap ramah."Sejak sore nona tidak keluar kamar, dia juga menolak makanan yang saya bawakan" kata Gretta dengan raut wajah cemas. "Jika terus seperti ini nona akan kembali jatuh sakit"Jovan mendengarkan, ia melirik pintu kamar Vannya yang
Hari ini adalah hari kepulangan Lavannya dari rumah sakit, sebab itulah Jovan meminta Aldo dan Kevin datang untuk membantunya. "Apa kita langsung pulang?" Jovan dan Vannya sejak tadi hanya diam di belakang sana, tapi Aldo dan Kevin sayangnya tidak memiliki kepribadian semonoton mereka. Keduanya masih terus berusaha mencari topik untuk hanya mendengar sepatah kata saja dari Vannya ataupun Jovan. Jovan merengkuh tubuh kecil Vannya, menyalurkan kehangatan di tengah musim dingin yang mulai datang. Sudah satu minggu sejak Vannya kehilangan bayinya, dia benar-benar tidak banyak bicara, tidak jarang Jovan juga melihatnya diam-diam menangis sendirian. "Ingin sesuatu?" Akhirnya suara Jovan keluar, dan itu membuat Aldo yang duduk di depan segera menoleh ke belakang. "Aku ingin makan kepiting" kata Aldo dengan keceriaan di wajahnya. Baik Jovan maupun Vannya hanya menatapnya dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya Aldo di tarik paksa oleh Kevin untuk kembali duduk dengan benar. Padahal K
"Bukankah kita saling mencintai? Untuk apa bercerai?""Eh" Vannya tercengang bukan main mendengar ucapan Jovan. Ini sudah kesekian kalinya Jovan berkata begitu, seakan yang dia ucapkan itu memang benar adanya."Ayo saling mencintai dan umumkan pernikahan kita" Tiba-tiba sekali Jovan menginginkan hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Tentu saja Vannya tidak menyahut sama sekali, Jovan terlalu mengejutkannya."Saya akan buat kontrak, jika selama satu tahun kita tidak saling mencintai maka saya akan menceraikanmu" Lanjut Jovan yang belum mendapatkan reaksi apapun dari Vannya."Jika hanya kau yang jatuh cinta, saya akan alihkan seluruh aset saya untukmu" mengapa pria ini begitu bersemangat membahas hubungan mereka. Wajahnya bahkan tidak sedatar biasanya.Vannya mengeryit, masih belum mengerti apa tujuan Jovan menawarkan perjanjian seperti itu."Bagaimana?" Jovan sangat menunggu jawaban dari Vannya, tapi sepertinya wanita itu terlalu lamban untuk mencerna semua ucapannya.Jovan han
"dia pergi ya?"Jovan menoleh ketika mendengar suara lirih istrinya. Sudah sejak dua jam yang lalu wanita itu hanya melamun dan enggan berbicara, bahkan menolak ketika Jovan menawarkan makanan."Tidak" Jovan masih duduk samping brankar, wajahnya selalu saja datar meski cara bicaranya sangat lembut ketika bersama Vannya.Vannya mengerjap beberapa kali, matanya yang sejak tadi kosong perlahan mulai berbinar kembali. "Tidak pergi?" ia kembali bertanya untuk memastikan jawaban Jovan.Suaminya mengangguk samar, tapi Vannya bisa melihat gelengan kepala itu dengan jelas."Sungguh tidak pergi?" Vannya seakan kembali mendapat harapan. Ia jelas mendengar ucapan dokter yang mengatakan janinnya tidak bisa di pertahankan tadi, tapi sayangnya setelah itu kesadaran Vannya benar-benar hilang dan tidak mendengar apapun lagi.Jovan menghela nafas sejenak, ia bangkit dan mendekati Vannya dengan aura dinginnya."Saya tidak mau memberikan harapan apapun, dokter bilang sebaiknya gugurkan saja" ekspresi itu
"Adeline pulang, mengapa tidak katakan pada saya?" Jovan segera menemui ayahnya untuk melayangkan protes."dia tiba-tiba ingin pulang" Anton menyahut dengan nada ringan dan seadanya, tanpa raut bersalah sama sekali."Dia pulang untuk menyiksa istri saya. Istri saya terluka dan s
Seluruh tubuh Vannya lebam bahkan berdarah, Adeline memukulnya terlalu kuat tadi pagi. Vannya tahu ada begitu besar kebencian Adeline untuk Jovan, tapi apa dengan menyiksa Vannya dia pikir bisa membuat Jovan sengsara?"Bersihkan dengan benarsih!"Setelah segala perbuatannya, Ade
Setelah kepergian Alexa tadi pagi, sore ini Vannya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak ia duga.Hari-harinya yang tenang dan nyaman seakan terhenti saat itu juga, Vannya terdiam seribu bahasa ketika melihat sang ibu mertua berjalan dengan angkuh ke arahnya."Selam
Di restoran sederhana pinggiran kota, senyuman Vannya merekah menikmati suapan demi suapan mie ber kuah kesukaanya.Alexa terlalu bingung memilih tempat makan, dia hanya terus melajukan mobilnya mengitari kota dan tidak ada tujuan, bahkan sampai hari menjadi gelap. Jadilah Vannya mengaj







