Share

5.kebenaran

Author: Mint Boy
last update publish date: 2026-01-09 21:16:58

"Ayo makan!"

Vanya yang termenung di sudut kasur sederhananya segera menoleh, ia tersenyum kepada wanita tua yang masih berdiri di ambang pintu.

"Nenek senang kau datang setelah sekian lama, tapi kenapa terus murung dan diam di kamar? Apa ada masalah?"

Sudah sejak dua hari yang lalu Juliana meperhatikan cucunya. Gadis yang sejak dahulu selalu tersenyum dan memeluknya saat pulang, hari itu pulang tanpa kabar dan tanpa suara.

Wajahnya sembab, terlihat sangat terpuruk dan gelisah, ada ketakutan yang terpancar dari matanya, namun entah hal apa yang membuat gadis itu murung.

Vannya tersenyum simpul ketika nenek Juliana duduk di hadapannya, mengusap kepalanya dengan lembut dan memandang wajahnya dengan kasih sayang.

"Bukankah hanya cuti selama tiga hari? Ayo keluar dan jalan-jalan" Juliana sebisa mungkin menghibur cucunya tanpa bertanya apa alasan gadis itu murung.

Karena tidak mendapatkan ijin untuk berhenti bekerja, Vannya hanya bisa mengajukan cuti selama tiga hari. Ia berharap hati dan pikirannya bisa tenang saat berkunjung kedesa tempat tinggalnya dahulu.

Namun, bukan perasaan tenang yang Vannya dapatkan, ia justru semakin takut dan terpuruk. Takut jika semua orang akan mengetahui segalanya, takut membayangkan Akan sehancur apa wanita tua di hadapannya ini jika tahu cucunya telah di campakan oleh pria yang menghamilinya.

"Jangan menangis" tangan keriput itu dengan lembut menyapu setiap air mata Vannya yang terjatuh.

Gadis malang itu kini tak lagi dapat menahan rasa gelisahnya, tangisnnya kian menjadi dan terdengar semakin pilu.

"Nenek" Serunya seraya berhambur memeluk tubuh renta di hadapannya. "Nenek bagaimana ini..."

Jualiana hanya diam tanpa kata, tangannya mengusap surai sang cucu dengan penuh kasih sayang, berharap dengan itu dirinya bisa mengurangi rasa gelisah yang Vannya rasakan.

"Nenek maafkan Vannya..."

Juliana tidak mengerti, tapi ia dengan tenang terus menyalurkan kasih sayang kepada cucunya agar Vannya bisa sedikit tenang.

"Vannya sudah berdosa" Lavannya semakin terisak- isak dalam dekapan neneknya.

"Tidak apa-apa, tenanglah" Entah dosa apapun itu, Juliana tidak perduli ia tetap akan menyayangi cucunya seperti dahulu.

Perlahan tapi pasti, isakan yang terdengar mulai samar dan gadis itu bisa tenang. Ia menatap neneknya dengan sisa- sisa air mata.

"Apa nenek akan kecewa jika mendengarnya?" Seruan Lavannya membuat Juliana segera menggeleng, hal apapun itu ia siap untuk mendengarnya.

Lavannya ingin sekali kembalienangis, tetapi ia menahannya sekuat tenaga, ia harus mengatakannya meskipun takut.

"Nenek...." Julia hanya diam dan menatap cucunya dengan rasa gugup. "Nenek aku..." Nafasnya tercekat, Vannya tidak sanggup melihat ekspresi terluka neneknya nanti.

Vannya menunduk, meremat selimut dengan rasa gugup, sama sekali tidak sanggup menatap langsung mata tua yang memancarkan kasih sayang untuknya. Vannya terlali buruk untuk di banggakan sebagai cucu yang baik.

"Vannya hamil nek" akhrinya kalimat yang bagai sebuah bom waktu itu terucap, Vannya harus menerima kenyataan jika neneknya akan marah nanti, setidaknya ia sudah berusaha jujur.

....

Di lain sisi, para asisten hebat milik Jovan mulai kebingungan bagaimana cara memuaskan pria itu, setiap laporan yang di berikan komentarnya selalu sama, tidak pernah terlihat sepuas ketika Lavannya ikut mengerjakannya.

Bukan berati mereka tidak becus, hanya saja ada beberapa bagian yang kurang di perhatikan, padahal Jovan lebih suka memperhatikan hal- hal kecil seperti itu.

Biasanya Vannya selu lebih teliti memrhatikan segalanya, dari detail yang paling kecil hingga yang paling penting, tapi ini baru dua hari sejak kepergian gadis cerdas itu, dan semua orang selalu merasa tidak puas dengan hasil kerja mereka.

Tentu saja semua orang ingin memuaskan Jovan dengan pendapat mereka, tapi tetap saja tid bisa sebaik Lavannya.

Bukan ketergantungan, lebih tepatnya Jovan terlalu memanfaatkan tenaga Vannya untuk segala kepentingannya. Semuanya telah di atur oleh Vannya dan Jovan sudah terbiasa dengan setiap detail yang gadis itu kerjakan untuknya.

"Ulangi"

Jovan dengan auranya yang penuh intimidasi selalu saja membuat semua orang tidak bisa berkutik, hanya bisa mengangguk patuh dan kembali mengerjakan tugasnya meski sudah mengulanginya tiga kali.

Jika ada Vannya pasti hanya butuh satu kali melihat dan Jovan akan setuju, tapi sekarang, ah sudahlah.

Jovan menghela napas setelah kepergian salah satu asistennya, ia sudah menduga dengan tidak adanya Lavannya semua pasti akan keteteran.

Tim yang Jovan ciptakan memang sudah pas dengan adannya Vannya, semuanya telah ia peetimbangkan sedetail mungkin, mungkin sebab itulah para sistennya menjadi sedikit kewalahan karena terbiasa bekerja dengan jumblah tim yang komplit.

"Sayang"

Sebuah pekikan yang tidak asing membuat Jovan menyipitkan matanya, terlalu nyaring sampai telinga nya berdengung. Tapi setelahnya ia tetap menoleh, lalu tersenyum saat melihat kekasih hatinya datang dengan senyuman ceria.

Tentu saja Jovan memilikinya, di usianya sekarang ini mustahil Jovan tidak menjalin hubungan dengan seorang gadis. Ia tetap membutuhkan pendamping hidup.

"Sudah makan?" Sang gadis bertanya dengan suara lembut ketika telah sampai di sisi Jovan.

Angela Bolton, salah satu keturunan konglomerat di tanah air, ia juga sukses mengejar mimpinya menjadi seorang artis dan juga model ternama. Kini ia baru saja pulang setelah beberapa tahun kemarin berhasil membesarkan namanya di dunia fashion luar negeri.

Kira- kira sudah beberapa bulan ini ia di kabarkan telah menjalin hubungan dekat dengan Jovan, calon presdir utama Fedorov Group. Sebenarnya hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, hanya saja Angel yang selalu sibuk membuat hubungan mereka selalu renggang dan berhenti di tengah jalan, baru beberapa bulan ini gadis itu kembali ke tanah air dan juga kembali menjalin hubungan dengan Jovan.

"Belum" Pria itu menjawab dengan sedikit senyuman. Ekspresi wajahnya memang selalu datar dan cuek, tetap sama saja meskipun ia sedang berbicara dengan kekasih hatinya.

Angel tersenyum, ia dengan berani duduk di atas pangkuan Jovan lalu membelai sisi wajah pria itu. "Ayo makan, aku temani" latanya dengan senyuman yang menggoda.

Ak tetapi sepertinya Jovan sedang tidak ingin, ia segera menyingkirkan tangan Angela dari wajahnya, dan menolak tawaran gadis itu dengan lembut.

"Ada banyak pekerjaan, saya sedang sibuk" kata Jovan seraya terus menatap layar komputernya. Jovan tidak melirik Angel sama sekali, membiarkan gadis itu kesal sendiri karena telah gagal menggodanya.

Jovan pria normal, ia mudah di goda, sebab itulah harus bertahan sekuat mungkin agar tidak cepat kalah.

"Pulanglah, sopir akan mengantarmu" kata Jovan lagi, kali ini sambil menatap Angel yang duduk di atas pahanya dan memaksa gadis itu untuk turun

"Apa begitu sibuk sampai tidak sempat makan?" Angel terlihat kesal, tapi setelah ya tetap berusaha mengerti kondisi Jovan yang super sibuk. Padahal sudah satu minggu ini mereka jarang bertemu, tapi tampaknya pria itu sama sekali tidak merindukan Angela.

Jovan terdiam sejenak, ia menatap kekasihnya dengan raut wajah yang tidak mudah di mengerti. Tangannya dengan lembut mengusap punggung tangan Angela, ia ikut berdiri lalu mengecup kening Angela tanpa mengatakan apapun.

"Aku rindu, Jovan. Setidaknya temui aku saat pulang nanti" Angel merengek manja, ia memeluk Jovan dengan wajah cemberut yang lucu.

Jovan tersenyum sambil membalas pelukan kekasihnya, ia dengan lembut membelai surai Angel yang begitu wangi. Entah keputusan apa yang harus ia buat, Jovan sungguh sedang bimbang saat ini.

Tidak mungkin Jovan membiarkan hubungannya dengan Angel kembali kandas, tapi lebih tidak mungkin ia membiarkan Lavannya kehilangan bayinya. Semuanya harus ia pikirkan secara matang- matang, atau kalau tidak ia akan memathkan hati kedua wanita itu.

"Saya akan datang ke apartemen nanti malam, tunggu ya?" Jovan berujar setelah mereka cukup lama terdiam.

"Baiklah" Angel akhirnya mau patuh, gadis itu segera melenggang pergi setelah memberikan satu kecupan singkat di bibir kekasihnya. "Aku menunggumu" katanya sebelum menutup pintu.

Jovan kembali menghela nafas frustasi, sekarang ia benar -benar tengah berada dalam dua pilihan yang sulit. Menikahi gadis asing untuk menyelamatkan nama baik keluargannya, atau memilih untuk bertah dengan kekasihnya dan membiarkan seorang Ibu kehilangan bayinya.

Jika Jovan membunuh bayi itu, mungkin setelah ini bukan hanya julukan pria angkuh dan acuh yang ia miliki, tetapi pria kejam yang tidak memiliki peri kemanusiaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Wanita Tuan Presdir    35. akhirnya

    Suara dedaunan kering turut mengikuti kemanapun kaki Vannya melangkah. Meskipun sudah terengah-engah dan kelelahan, tapi ia enggan berhenti sebelum menmuk jalan keluar.Hari masih panjang, Vannya yakin ia akan mendapat pertolongan sebelum bulan terlihat.DORSuara tembakan terdengar melengking memekakkan telinga, Vannya terkejut bukan main, bahkan sampai kehilangan fokusnya mencati jalan.Ia ketakutan setengah mati, sudah hampir menangisi takdirnya yang buruk ini. Tapi Vannya ingat, jiwa lain di dalam perutnya juga pasti ingin selamat dan hidup bersamanya, Vannya harus terus mengejar kebebasa itu."Cari sampai dapat, jangan sampai Nyonya marah"Teriakan itu mengapa terdengar semakin dekat, padahal Vannya sudah berlari begitu jauh sejak tadi. Bahkan cuaca panas mulai menguras tenaganya, kakinya semakin melemah, rasanya berat sekali untuk melanjutkan pelarian ini."Dia pasti datang, dia pasti mencari kita, ayo nak berjuang

  • Wanita Tuan Presdir    34. sedikit lagi

    Sejak kepulangannya, Jovan belum sempat benar- benar beristirahat dengan tenang, ia masih terus mencati tahu dimana istrinya saat iniSeperti pagi tadi, pria gagah itu sudah bersiap-siap setelah tidur tidak lebih dari satu jam. Kini ia mulai perjalanannya menuju kawasan terpencil yang sangat jauh dari kota.Setelah berulang kali di paksa oleh Anton, Adeline akhirnya mau bicara dan mengatakan dimana ia menyembunyikan Vannya. Dan sekarang Jovan sedang menuju kesana.Akses yang di lewati cukup sulit dan ekstrim, Jovan khawatir kandungan Vannya akan bermasalah jika di paksa melewati jalur ini. Tapi sayangnya memang tidak ada jalur yang lain.Jovan berulang kali menghela nafas, ia menatap keluar jendela dengan wajah yang dingin, sesekali membenahi kacamatanya dengan ekspresi tenang dan santai. Ia memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar menunjukan raut cemas di wajahnya."Lebih cepat sedikit" kata Jovan yang langsung di angguki oleh

  • Wanita Tuan Presdir    33. Rumah sakit jiwa

    Sudah dua puluh empat jam Vannya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia sudah mencoba memberontak sejak semalam, tapi percuma saja karena tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat.Rasa lelah mulai menguasai ya, tenaga Vannya sudah habis sehingga ia memilih untuk di saja. Perutnya terus mengalami keram sejak semalam, Vannya harus benar-benar berhati-hati.Adeline itu gila, dia membuang Vannya ke rumah sakit pedesaan yang sangat jauh dari kota. Rumah sakit jiwa dimana semua pasiennya benar-benar membuat Vannya ikut gila hanya dengan mendengar suaranya saja."Di rumah sakit terpencil ini apa mungkin Tuan Jovan bisa menemukanku?" Vannya bergumam dengan setetes air mata yang membasahi pipi.Pagi ini suster kembali datang untuk memeriksa lukanya, bahkan tanpa melepaskan ikatan tali di tubuh Vannya."Nona sekarang waktunya minum obat dan oleskan salep"Jujur saja para pekerja disini memang

  • Wanita Tuan Presdir    32. Jovan kembali

    "Adeline pulang, mengapa tidak katakan pada saya?" Jovan segera menemui ayahnya untuk melayangkan protes."dia tiba-tiba ingin pulang" Anton menyahut dengan nada ringan dan seadanya, tanpa raut bersalah sama sekali."Dia pulang untuk menyiksa istri saya. Istri saya terluka dan sedang di rumah sakit sekarang" Jovan yang selama ini selalu tenang sekarang terlihat begitu seperti badai ombak yang siap menghantam siapa saja.Tapi Anton justru tetap dengan kebiasaanya yang selalu tenang, ia tersenyum melihat kemarahan putranya, senyuman tipis yang terkesan seperti meremehkan Jovan."Kau ingin pulang? Ingin menemui istrimu?" Anton menoleh ke arah putranya yang begitu marah hampir meledak, ia bisa melihat betapa Jovan sangat mencemaskan istrinya sekarang.Tidak ada jawaban yang Jovan berikan untuk ayahnya, ia hanya segera berpaling dan berlalu pergi sambil membanting pintu kamar hotel Anton.Reaksi itu adalah satu-satunya yang tidak Anto

  • Wanita Tuan Presdir    31. telfone

    Seluruh tubuh Vannya lebam bahkan berdarah, Adeline memukulnya terlalu kuat tadi pagi. Vannya tahu ada begitu besar kebencian Adeline untuk Jovan, tapi apa dengan menyiksa Vannya dia pikir bisa membuat Jovan sengsara?"Bersihkan dengan benarsih!"Setelah segala perbuatannya, Adeline masih meminta Vannya membersihkan seluruh Mansion tanpa bantuan siapapun. Wanita malang itu tidak lagi berani membantah, Vannya takut Adeline akan berbuat lebih dari yang tadi pagi.Vannya bagai seorang pelayan yang siap berjalan kesana kemari untuk membersihkan tempat yang kotor. Tidak perduli meskipun perutnya lapar, atau tubuhnya sakit, Vannya tetap melakukannya agar Adeline tidak lagi marah.Bibi Grett yang melihat kejadian itu terus menghela nafasnya, marah dengan perilaku Adeline tapi juga ia tidak bisa membantah. Tidak seorangpun disana yang berani melawan sang Nyonya besar.Namun, melihat Vannya yang semakin nelangsa membuat bibi Grett tidak lagi bisa

  • Wanita Tuan Presdir    30. Awal penyiksaan

    Setelah kepergian Alexa tadi pagi, sore ini Vannya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak ia duga.Hari-harinya yang tenang dan nyaman seakan terhenti saat itu juga, Vannya terdiam seribu bahasa ketika melihat sang ibu mertua berjalan dengan angkuh ke arahnya."Selamat datang Nyonya" di depan pintu seluruh pelayan berkumpul untuk menyambut kedatangan Adeline. Wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tidak melirik para pelayan itu, hanya terus menatap ke arah Vannya yang berdiri di paling ujung dengan tatapan terpaku."Selamat sore... Menantu" dia berhenti melangkah tepat di hadapan Vannya, ia tersenyum licik sambil menatap Vannya dari atas sampai bawah.Vannya cepat-cepat menundukan pandangannya untuk memberi hormat. "Selamat datang Nyonya Adeline" Ia menyapa dengan canggung dan bingung.Adeline tersenyum semakin lebar, sepertinya ia telah mendapatkan mangsa yang tepat hari ini."Tunggu" Adeline menghentikan seorang p

  • Wanita Tuan Presdir    11. satu kamar

    Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula

  • Wanita Tuan Presdir    10. akta nikah

    Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,

  • Wanita Tuan Presdir    9. syarat

    "Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah

  • Wanita Tuan Presdir    8. Beri keutusan

    Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status