Share

3. kebenaran

Penulis: Mint Boy
last update Tanggal publikasi: 2025-12-25 18:33:22

Setelah kepergian Lavannya, Jovan masih terduduk diam di tempatnya, menyesap kopinya secara perlahan sembari mengetik pesan di ponselnya.

Kecelakaan yang di alami Damian ini kemungkinan besar akan membuatnnya sibuk, perusahaan harus segera menjelaskan kondisinya kepada media, agar para penggemar bisa lebih tenang.

"Bagaimana kondisinya?"

Suara yang tidak asing membuat Jovan dengan cepat mendongak, menghentikan kegiatannya yang teramat sibuk dengan pekerjaan di layar ponsel.

Antonio Fedorov, ia yang saat itu sedang ada pekerjaan di luar kota segera datang setelah mendengar keadaan Damian, putra bungsunya yang saat ini sedang naik daun.

Jovan bangkit dan berdiri di sisi ayahnya, menatap Damian yang tidak berdaya di atas brankar.

"Buruk, dokter bilang ada benturan hebat yang mengenai dadanya, itu membuat be.... Yah seperti itulah." Jovan berhenti bicara saat ayahnya tampak sudah  cukup paham dengan keadaan Damian saat ini.

Antonio menghela nafas, ia menatap putra sulungnya yang berdiri di sisinya dengan raut wajah tenang. "Pergilah beritahu media tentang kondisinya, jangan biarkan mereka terlalu lama dan menghalangi jalan"

Jovan mengangguk, ia segera menjalankan perintah ayahnya dan berlalu, ia harus segera membereskan para wartawan yang berkerumun di luar agar tidak menghalangi jalan.

Saat itulah Jovan melihat Vannya yang kesakitan dan tanpa pikir panjang segera membawanya untuk di periksa. Alhasil Jovan belum sempat menyampaikan keterangan apapun kepada media.

....

"Tuan... Anda suaminya? Bisa kita bicara sebentar?" Dokter yang baru saja keluar tiba- tiba menodongkan pertanyaan, membuat Jovan kebingungan.

"Saya bu..."

"Jovan, pergilah bicara dengan dokter, biar ayah yang menjaganya"

Jovan dengan wajah tegasnya sampai berkedip bingung mendengar penuturan ayahnya yang baru saja datang, dia terkejut tapi tidak bisa memberikan bantahan apapun karena dokter sudah lebih dulu pergi.

Antonio tidak memberi penjelasan, hanya segera memberi kode agar Jovan segera pergi mengikuti dokter. Pada akhirnya Jovan tetap mengikuti dokter keruangan, untuk mendengar penjelasan tentang kondisi Lavannya.

"Sudah berapa bulan kandungannya?" Dokter kembali menodongkan pertanyaan ketika Jovan baru saja duduk.

Di beri pertanyaan demikian tentu saja Jovan tidak bisa langsung menjawab, ia bukan siapa-siapa dan tidak tahu apa-apa mengenai Lavannya.

"Perkembangan janinnya lemah, ini sudah dua bulan, tapi janin yang berkembang seperti baru satu bulan" Dokter terlihat kecewa, ia menatap Jovan yang duduk di depannya, tapi pria itu bahkan tidak menunjukan reaksi apapun.

Jovan diam dan menyimak, ia tidak mengerti tapi mencoba untuk memahaminya. Tentu saja karena dirinya bukan suami sungguhan.

"Stres yang berlebihan adalah salah satu penyebabnya, sebaiknya biarkan Nyonya beristirahat dan berhenti bekerja, selain itu usahakan agar menciptakan lingkungan yang nyaman untuk ibu hamil, jangan membuatnya mudah marah ataupun menangis"

Dokter menghela nafas, ia tahu Jovan tidak menyimak penjelasannya dengan baik.Sangat terlihat sekali jika pria itu tidak perduli dengan keadaan pasiennya saat ini. "Dia juga sempat ingin menggugurkannya, apa kalian ada masalah?"

Jovan yang sejak tadi diam sontak menatap dokter dengan wajah yang semakin bingung, ia sama sekali tidak memiliki jawaban apapun untuk semua pertanyaan yang di layangkan kepadanya. Ia tidak pernah ingin tahu tentang kehidupan orang lain.

"Sebaiknya bangun hubungan yang baik selama masa kehamilan, itu bisa membuat ibu hamil merasa lebih rileks, dan janin bisa berkembg dengan baik. Kasus seperti kali ini sudah beberapa kali saya temui, percayalah, memiliki seorang bayi rasanya sungguh luar biasa membahagiakan, banyak pasangan tidak jadi berpisah setelah mendapatkan momongan"

"Ya" dan hanya itu yang Jovan berikan sebagai jawabnya, ia tidak ingin terlalu banyak bicara yang membuat dokter akan semakin salah paham.

"Baiklah, terimakasih. Tuan bisa menemui istri Tuan" uca Dokter dengan senyuman kecut, ia pikir memang pernikahan pasutri itu tidak akan bisa di selamatkan.

Jovan tanpa berlama-lama segera bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah keluar dengan cepat untuk kembali menemui ayahnya dan meminta penjelasan.

"Apa kata dokter?" Antonio yang masih berjaga di depan ruangan Vannya segera menodong Jovan dengan pertanyaannya.

Jovan bahkan belum benar-benar sampai di hadapannya, dia masih melangkah maju hingga akhirnya benar-benar berhenti di hadapan sang ayah. Entah mengapa ayahnya justru terlihat lebih mencemaskan Lavannya di bandingkan dengan Damian yang sedang terbaring kritis.

"Apa kata dokter?" Jovan bertanya dengan alis berkerut. Bahkan Antonio tidak mau mendengarkan penjelasan tentang kondisi Damian, tapi kenapa dia terlihat sangat ingin tahu tentang kondisi Vannya.

"Apa gadis itu penting?" Cicit Jovan yang membuat Antonio segera mengubah mimik wajahnya.

Di sepanjang hidupnya, Jovan tumbuh dengan didikan keras dari ayahnya. Pria di hadapannya ini adalah pria dengan karakter tegas, bertanggung jawab dan sangat tenang.

Karakternya yg cenderung dingin membuat antonio di kenal sebagai pria tanpa hati nurani, sangat jarang bisa melihatnya tersenyum, apalagi mencemaskan putra-putranya. Di dunia bisnis dia sangat di segani, dan saat di rumah dia sangat di takuti oleh keluarganya.

Tapi... Lavannya Damara, siapa gadis itu sampai bisa mendapatkan perhatian dari Antonio?

"Menikahlah dengannya" kata Antonio tanpa berpikir panjang. Wajahnya datar saja seakan itu bukanlah masalah besar.

Tentu saja itu membuat Jovan kehilangan kata-katanya. Ia tidak tahu gadis asing bisa membuat ayahnya yang selama ini bersikap acuh bisa menjadi sangat memikirkannya.

"Kau meminta putramu bertanggung jawab untuk kesalahan orang lain?" Jovan bersungut dengan terkekeh sinis, ayahnya ingin menghancurkan masa depan putranya untuk menolong orang lain, sungguh mengagumkan pemikiran orang tua ini.

Antonio terdiam cukup lama, ia menarik lepas kacamatanya. Wajahnya terlihat putus asa, entah apa yang begitu mengganggunya sehingga mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.

Jovan menatap ayahnya yang tertunduk frustasi. Antonio tampak duduk sembari terus memijat pangkal hidungnya, tidak ada yang Jovan mengerti dari ayahnya, pria itu selalu saja memiliki rencana tanpa melibatkan siapapun. Dia tidak terlihat sefrustasi itu saat mendengar keadaan Damian tadi.

"Damian yang melakukannya"

Suara yang terdengar setelah bermenit-menit hening itu cukup untuk membuat Jovan shock berat. Ia bisa menangkap jelas apa maksud perkataan ayahnya.

Disana, Damian terbaring koma setelah mengalami kecelaka bersama kekasihnya, lalu di dalam ruangan itu, seorang gadis terbaring lemah setelah masa depannya di renggut oleh Damian.

"Aku memang ayah yang buruk. Sikapku selama ini mungkin membuat kalian merasa terkekang, karena itulah Damian banyak melakukan kenakalan karena ingin bebas"

Antonio kembali memasang kacamatanya, ia mendongak menatap Jovan yang terdiam kaku di depan pintu ruangan.

"Saat kecil, ketika Damian melakukan kesalahan kau pasti akan menyembunyikannya, dan mengaku jika itu adalah kesalahanmu. Kali ini mungkin dia juga berpikir sama sehingga memilih tidur di rumah sakit"

Tidak ada yang Jovan katakan, ia tidak mungkin kembali membela adiknya setelah tahu apa kesalahannya. Damian melakukan kesalahan besar, dan itu di luar kendali Jovan.

"Aku selalu mengetahui kebenarannya meski kalian berdua menyembunyikannya." Antonio menatap wajah datar Jovan, ia melihat kekecewaan yang mendalam disana.

Antonio dan Jovan memang tidak jauh berbeda, keduanya sama- sama memiliki karakter yang kuat. Struktur wajah mereka hampir serupa, bahkan setiap ekspresi di dalamnya juga sama persis.

Keduanya di-didik dengan cara yang sama, seperti saat Antonio dididik oleh ayahnya, ia juga menerapkan hal yang sama kepada kedua putranya. Tapi entah hal apa yang dirinya lewatkan sehingga Damian tumbuh dengan karakter yang jauh berbeda dari kakaknya.

Jovan cenderung patuh meskipun berani melawan, tapi Damian yang terlihat lugu justru selalu ceroboh dan nakal di belakang Antonio. Saat sudah dewasa kenakalan Damian justru semakin menjadi, bahkan tidak ragu untuk merenggut kesucian seorang gadis yang dengan tulus memberikan cinta kepadanya.

"Kesalahannya kali ini... Tidak mungkin kau ingin menutupinya lagi kan?" Antonio menjeda kalimatnya sejenak, ia menatap pintu yang tertutup rapat.

"Ada darah Fedorov di rahim gadis itu, kita tidak bisa membiarkan janin itu hidup dan membuat masalah di masa depan"

Sontak perkataan itu segera mendapat respon dari Jovan, ia melayangkan tatapan tajam kepada ayahnya. Setelah kesuciannya di renggut, apa pantas mereka juga menuntut agar gadis itu membunuh anaknya sendiri?

"Itulah sebabnya aku selalu memarahimu jika menutupi kesalahannya. Bahkan hingga dewasa kau masih harus melakukannya." Antonio akhirnya bangkit, mendekati Jovan yang berdiri tanpa sepatah katapun sejak tadi.

"Karena anak itu sedang sekarat, maka keputusannya ada padamu. Kau ingin menutupinya lagi... atau membuanganya?" Sesaat setelah kakimatnya di ucapkan, Antonio melenggang pergi dengan senyuman super tipis di wajahnya. Ia paham betul dengan katakter Jovan, dan sebaiknya kali ini digaanya tidak salah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Tuan Presdir    35. akhirnya

    Suara dedaunan kering turut mengikuti kemanapun kaki Vannya melangkah. Meskipun sudah terengah-engah dan kelelahan, tapi ia enggan berhenti sebelum menmuk jalan keluar.Hari masih panjang, Vannya yakin ia akan mendapat pertolongan sebelum bulan terlihat.DORSuara tembakan terdengar melengking memekakkan telinga, Vannya terkejut bukan main, bahkan sampai kehilangan fokusnya mencati jalan.Ia ketakutan setengah mati, sudah hampir menangisi takdirnya yang buruk ini. Tapi Vannya ingat, jiwa lain di dalam perutnya juga pasti ingin selamat dan hidup bersamanya, Vannya harus terus mengejar kebebasa itu."Cari sampai dapat, jangan sampai Nyonya marah"Teriakan itu mengapa terdengar semakin dekat, padahal Vannya sudah berlari begitu jauh sejak tadi. Bahkan cuaca panas mulai menguras tenaganya, kakinya semakin melemah, rasanya berat sekali untuk melanjutkan pelarian ini."Dia pasti datang, dia pasti mencari kita, ayo nak berjuang

  • Wanita Tuan Presdir    34. sedikit lagi

    Sejak kepulangannya, Jovan belum sempat benar- benar beristirahat dengan tenang, ia masih terus mencati tahu dimana istrinya saat iniSeperti pagi tadi, pria gagah itu sudah bersiap-siap setelah tidur tidak lebih dari satu jam. Kini ia mulai perjalanannya menuju kawasan terpencil yang sangat jauh dari kota.Setelah berulang kali di paksa oleh Anton, Adeline akhirnya mau bicara dan mengatakan dimana ia menyembunyikan Vannya. Dan sekarang Jovan sedang menuju kesana.Akses yang di lewati cukup sulit dan ekstrim, Jovan khawatir kandungan Vannya akan bermasalah jika di paksa melewati jalur ini. Tapi sayangnya memang tidak ada jalur yang lain.Jovan berulang kali menghela nafas, ia menatap keluar jendela dengan wajah yang dingin, sesekali membenahi kacamatanya dengan ekspresi tenang dan santai. Ia memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar menunjukan raut cemas di wajahnya."Lebih cepat sedikit" kata Jovan yang langsung di angguki oleh

  • Wanita Tuan Presdir    33. Rumah sakit jiwa

    Sudah dua puluh empat jam Vannya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia sudah mencoba memberontak sejak semalam, tapi percuma saja karena tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat.Rasa lelah mulai menguasai ya, tenaga Vannya sudah habis sehingga ia memilih untuk di saja. Perutnya terus mengalami keram sejak semalam, Vannya harus benar-benar berhati-hati.Adeline itu gila, dia membuang Vannya ke rumah sakit pedesaan yang sangat jauh dari kota. Rumah sakit jiwa dimana semua pasiennya benar-benar membuat Vannya ikut gila hanya dengan mendengar suaranya saja."Di rumah sakit terpencil ini apa mungkin Tuan Jovan bisa menemukanku?" Vannya bergumam dengan setetes air mata yang membasahi pipi.Pagi ini suster kembali datang untuk memeriksa lukanya, bahkan tanpa melepaskan ikatan tali di tubuh Vannya."Nona sekarang waktunya minum obat dan oleskan salep"Jujur saja para pekerja disini memang

  • Wanita Tuan Presdir    32. Jovan kembali

    "Adeline pulang, mengapa tidak katakan pada saya?" Jovan segera menemui ayahnya untuk melayangkan protes."dia tiba-tiba ingin pulang" Anton menyahut dengan nada ringan dan seadanya, tanpa raut bersalah sama sekali."Dia pulang untuk menyiksa istri saya. Istri saya terluka dan sedang di rumah sakit sekarang" Jovan yang selama ini selalu tenang sekarang terlihat begitu seperti badai ombak yang siap menghantam siapa saja.Tapi Anton justru tetap dengan kebiasaanya yang selalu tenang, ia tersenyum melihat kemarahan putranya, senyuman tipis yang terkesan seperti meremehkan Jovan."Kau ingin pulang? Ingin menemui istrimu?" Anton menoleh ke arah putranya yang begitu marah hampir meledak, ia bisa melihat betapa Jovan sangat mencemaskan istrinya sekarang.Tidak ada jawaban yang Jovan berikan untuk ayahnya, ia hanya segera berpaling dan berlalu pergi sambil membanting pintu kamar hotel Anton.Reaksi itu adalah satu-satunya yang tidak Anto

  • Wanita Tuan Presdir    31. telfone

    Seluruh tubuh Vannya lebam bahkan berdarah, Adeline memukulnya terlalu kuat tadi pagi. Vannya tahu ada begitu besar kebencian Adeline untuk Jovan, tapi apa dengan menyiksa Vannya dia pikir bisa membuat Jovan sengsara?"Bersihkan dengan benarsih!"Setelah segala perbuatannya, Adeline masih meminta Vannya membersihkan seluruh Mansion tanpa bantuan siapapun. Wanita malang itu tidak lagi berani membantah, Vannya takut Adeline akan berbuat lebih dari yang tadi pagi.Vannya bagai seorang pelayan yang siap berjalan kesana kemari untuk membersihkan tempat yang kotor. Tidak perduli meskipun perutnya lapar, atau tubuhnya sakit, Vannya tetap melakukannya agar Adeline tidak lagi marah.Bibi Grett yang melihat kejadian itu terus menghela nafasnya, marah dengan perilaku Adeline tapi juga ia tidak bisa membantah. Tidak seorangpun disana yang berani melawan sang Nyonya besar.Namun, melihat Vannya yang semakin nelangsa membuat bibi Grett tidak lagi bisa

  • Wanita Tuan Presdir    30. Awal penyiksaan

    Setelah kepergian Alexa tadi pagi, sore ini Vannya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang tidak ia duga.Hari-harinya yang tenang dan nyaman seakan terhenti saat itu juga, Vannya terdiam seribu bahasa ketika melihat sang ibu mertua berjalan dengan angkuh ke arahnya."Selamat datang Nyonya" di depan pintu seluruh pelayan berkumpul untuk menyambut kedatangan Adeline. Wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tidak melirik para pelayan itu, hanya terus menatap ke arah Vannya yang berdiri di paling ujung dengan tatapan terpaku."Selamat sore... Menantu" dia berhenti melangkah tepat di hadapan Vannya, ia tersenyum licik sambil menatap Vannya dari atas sampai bawah.Vannya cepat-cepat menundukan pandangannya untuk memberi hormat. "Selamat datang Nyonya Adeline" Ia menyapa dengan canggung dan bingung.Adeline tersenyum semakin lebar, sepertinya ia telah mendapatkan mangsa yang tepat hari ini."Tunggu" Adeline menghentikan seorang p

  • Wanita Tuan Presdir    11. satu kamar

    Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula

  • Wanita Tuan Presdir    10. akta nikah

    Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,

  • Wanita Tuan Presdir    9. syarat

    "Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah

  • Wanita Tuan Presdir    8. Beri keutusan

    Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status