เข้าสู่ระบบ"ayo Akhiri hubungan ini"
Bagai tersambar petir, Angel terbungkam saat mendengar kalimat itu terucap dari mulut kekasihnya. "Hey" Angel menarik Jovan untuk masuk kedalam apartemennya. Gadis itu tercengang, tapi tetap mempertahankan senyuman manisnya. "Kau sedang bercanda? Apa ingin memberikan kejutan untukku?" Angel kembali bicara dengan keceriaan, ia membawa Jovan untuk duduk di sofa bersama, tapi pria itu segera menolaknya. "Ada apa?" Angel bertanya sembari menggenggam kedua tangan Jovan, matanya terus menyorot kedalam tatapan Jovan untuk mencari kebohongan di sana, setidaknya sedikit saja itu sudah cukup untuk menenangkannya. Tapi sama sekali tidak ada kebohongan di manapun Angel mencari. Ada apa sebenarnya? "Ayo akhiri semua ini!" Jovan menatap Angel yang masih terkejut dengan ucapannya, tanpa senyuman ataupun tatapan lembut penuh makna seperti sebelumnya. Kalimat yang terdengar membuat senyuman Angel berubah getir, ia melepaskan genggaman tangannya dari sang pria lalu mengambil satu langkah mundur dengan rasa kecewa yang besar. "Mengapa?" Pertayaan yang mengudara terdengar bergetar menahan tangis, gadis ceria itu tampak terpukul sekali dengan keputusan sepihak yang Jovan berikan. Jovan menghela nafas, ia mengambil satu langkah lebar dan menarik lembut tubuh Angel kedalam dekapannya. Jovan harus cepat mengambil keputusan sebelum terlambat, ia harus tegas dan menyelesaikan urusannya dengan Angel secepat mungkin. "Kau tidak bersalah, sayalah yang membuat segalannya menjadi rumit" Jovan berbicara dengan tenang, ia berusaha memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan ini. Angel yang kala itu masih di peluk perlahan mendongak, menunjukan air matanya yang penuh dengan luka. "Apa yang rumit? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa selama tiga tahun belakangan ini kau sudah menemukan penggantiku?" Kekecewaan di wajah gadisnya bisa Jovan lihat dengan jelas, tapi dirinya tidak bisa menjawab cepat atas pertanyaan yang Angel berikan. Bukan karena tuduhan itu benar, melainkan karena ia memiliki alasan yang jauh lebih menyakitkan untuk di ungkapkan. Sekitar empat tahun yang lalu, keduanya memang telah terlibat hubungan asmara. Hubungan yang benar-benar dekat hingga hampir mencapai pelaminan. Tapi sayangnya Angel memutuskan pergi keluar negri untuk melanjutkan karir modelnya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia berangkat tepat satu hari sebelum acara pertunangannya bersama Jovan. Kecewa? Tentu saja iya, hubungan mereka kandas saat itu juga, sakit hati Jovan semakin bertambah ketika mendengar gadis itu menjalin hubungan dengan dalah satu CEO fashion ternama di luar sana. Namun entah apa yang membuat pria itu goyah dan melupakan amarahnya, ia segera datang saat mendengar kabar kepulangan Angel beberapa bulan yang lalu, mereka kembali dekat dan mengulangi hubungan yang sempat kandas. "Jawab Jovan, apa kau berselingkuh?" Angel berteriak karena Jovan tidak kunjung mau menjawab pertanyaannya. Angel menepis tangan Jovan saat melihat pria itu hanya menunduk tanpa berani menatapnya. Itu artinya... "Jadi itu benar?" Angel menghapus air matanya dengan kasar, menatap Jovan dengan amarah yang menggebu di dalam dadanya. Nafasnya mulai memburu panas, terlihat jelas betapa besar Jovan menorehkan luka di hati kekasihnya. Tega sekali pria ini mempermainkannya, setelah Angel memberikam cintanya, lalu dengan mudah Jovan mengakhirinya begitu saja? PLAK Angel menamparnya sampai wajah Jovan berpaling dengan kasar. Memang tidak seberapa sakit, tapi setidaknya itu cukup untuk menyalurkan amarah dari hati Angel. Rencananya malam ini Angel ingin mengajak Jovan untuk makan malam romantis bersama, mereka bisa menikmati malam dan berbicara sepanjang waktu untuk mengganti waktu tiga tahun yang telah hilang. Tapi sepertinya itu hanyalah sebuah harapan, ia tidak bisa mengembalikan segalanya seperti dulu, Jovan telah menghancurkan segalanya. "Maaf" Jovan menatapnya dengan tatapan sendu, ini sudah keputusan yang terbaik. Hanya itu, dan Jovan pergi tanpa menjelaskan apapun, ia meninggalkan rasa kecewa yang teramat besar di hati Angel. Malap yang seharusnya cerah dan penuh dengan kehangatan, kini justru menjadi malam sunyi yang suram untuk Angel lewati. Untuk apa karir dan kekayaannya jika seorang pria saja tidak sanggup ia pertahankan disisinya. Tapi... Sebuah ingatan kembali terlintas di benaknya, mungkin ini yang Jovan rasakan tiga tahun yang lalu. Mungkin sesakit ini, atau justru lebih sakit karena Angel pergi tanpa berpamitan. .... "cari gadis ini" Anton mengulurkan selembar foto di atas meja, tepat di hadapan pria kekar berbaju hitam yang berdiri di depannya. "Lavannya Damara..." Sesaat setelah menyebutkan nama itu, Jovan datang ke ruangannya dan mendengar apa yang ayahnya katakan. Pria tua itu hanya melirik putranya sekilas, lalu kembali fokus dengan pembicaraanya. "...Berikan ini padannya, jika tidak mau... Paksa dia menemuiku" Anton kembali melirik Jovan yang sedang melangkah mendekatinya, ingin sekali memancing reaksi dari sang putra. Pria yang sejak tadi berdiri di hadapan Anton terlihat mengangguk dengan patuh, ia mengambil foto dan juga sebuah amplop yang baru saja Anton berikan. Sebelum sempat Jovan bersuara, pria itu sudah lebih dulu melenggang pergi, membiarkan ayah dan anak itu mengurus urusan mereka sendiri. "Ada apa?" Anton kembali sibuk dengan berkas- berkas pekerjaannya. "Saya akan menikahinya" Suara Jovan yang mengudara segera merebut Atensi penuh dari ayahnya, Anton menatap putranya dengan sedikit riak keterejutan di wajah dinginnya. Sangat sulit membujuk Jovan sebelumnya, lalu mengapa anak itu berubah pikiran dengan cepat? "Akan saya berikan nama saya untuknya" Jovan kembali bersuara, ia tetap hanya berdiri di hadapan ayahnya untuk menunjukan keseriusan. Anton tersenyum simpul. "Apa yang terjadi, kau berubah pikiran?" Jovan menghela nafas, menatap ayahnya dengan seksama. "Ini adalah terakhir kalinya saya akan membatu Damian, sisanya... Saya sungguh tidak akan lagi ikut campur" "Menyesal?" Serkas Anton sesaat setelah kalimat Jovan terdengar. Seharusnya Jovan melakukannya sejak dulu, dia tidak perlu melindungi kesalahan Damian, anak itu jadi tumbuh tidak terkendali karena merasa di lindungi. Jovan dan Anton sungguh sangat berbeda, keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Jika Jovan duplikat Anton sepenuhnya, maka Damian adalah kebalikannya, dia lebih nakal dan suka membuat masalah. "Tidak" Jovan menjawab dengan tegas. Ada alasan lain mengapa ia setuju dengan pernikahan ini. Ia harus memperbaiki apa yang bisa di perbaiki, dan menyelamatkan apa yang bisa ia selamatkan. .... Seharusnya hari ini Lavannya sudah mulai bekerja kembali, tapi sepertinya gadis itu enggan untuk muncul di hadapan semua orang. "Mual lagi?" Tanya Julia saat Vannya baru saja keluar dari kamar mandi. Vannya yang mulai kehilangan tenaga hanya bisa mengangguk lemah, energinya benar-benar sudah ia habiskan untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya. "Sebaiknya tidak usah lanjutkan bekerja di kota, nenek khawatir" Kata Julia sembari menuntun Vannya menuju kursi sederhana di ruang tengah. Vannya mengangguk, ia bersandar lemah di sandaran kursi sambil mengatur nafasnya. Memang rencana awalnya Vannya ingin kembali ke desa dan menetap, tapi Jovan malah justru mempersulit dirinya. "Nenek akan menjaga kalian disini, tidak usah cemaskan apapun" Julia memang awalnya terkejut dengan kabar yang Vannya sampaikan, akan tetapi ia juga sadar tidak akan bisa mengubah apapun yang sudah terjadi. Cucunya bersalah, dan ia sudah memaafkan. Jadi... Mereka memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan takdir yang berbicara, jika anak ini memang harus tumbuh tampa seorang ayah maka Vannya sanggup melakukannya, itu bukan masah besar di jaman yang sudah modern ini."Bukankah kita saling mencintai? Untuk apa bercerai?""Eh" Vannya tercengang bukan main mendengar ucapan Jovan. Ini sudah kesekian kalinya Jovan berkata begitu, seakan yang dia ucapkan itu memang benar adanya."Ayo saling mencintai dan umumkan pernikahan kita" Tiba-tiba sekali Jovan menginginkan hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Tentu saja Vannya tidak menyahut sama sekali, Jovan terlalu mengejutkannya."Saya akan buat kontrak, jika selama satu tahun kita tidak saling mencintai maka saya akan menceraikanmu" Lanjut Jovan yang belum mendapatkan reaksi apapun dari Vannya."Jika hanya kau yang jatuh cinta, saya akan alihkan seluruh aset saya untukmu" mengapa pria ini begitu bersemangat membahas hubungan mereka. Wajahnya bahkan tidak sedatar biasanya.Vannya mengeryit, masih belum mengerti apa tujuan Jovan menawarkan perjanjian seperti itu."Bagaimana?" Jovan sangat menunggu jawaban dari Vannya, tapi sepertinya wanita itu terlalu lamban untuk mencerna semua ucapannya.Jovan han
"dia pergi ya?"Jovan menoleh ketika mendengar suara lirih istrinya. Sudah sejak dua jam yang lalu wanita itu hanya melamun dan enggan berbicara, bahkan menolak ketika Jovan menawarkan makanan."Tidak" Jovan masih duduk samping brankar, wajahnya selalu saja datar meski cara bicaranya sangat lembut ketika bersama Vannya.Vannya mengerjap beberapa kali, matanya yang sejak tadi kosong perlahan mulai berbinar kembali. "Tidak pergi?" ia kembali bertanya untuk memastikan jawaban Jovan.Suaminya mengangguk samar, tapi Vannya bisa melihat gelengan kepala itu dengan jelas."Sungguh tidak pergi?" Vannya seakan kembali mendapat harapan. Ia jelas mendengar ucapan dokter yang mengatakan janinnya tidak bisa di pertahankan tadi, tapi sayangnya setelah itu kesadaran Vannya benar-benar hilang dan tidak mendengar apapun lagi.Jovan menghela nafas sejenak, ia bangkit dan mendekati Vannya dengan aura dinginnya."Saya tidak mau memberikan harapan apapun, dokter bilang sebaiknya gugurkan saja" ekspresi itu
Hening, baik Jovan maupun Vannya tidak ada yang berniat membuka suara, keduanya duduk dengan jarak yang luas, seakan saling menjauh setelah tadi sempat saling menunjukan perhatian.Jovan tidak mengerti, Vannya juga jauh tidak mengerti mengapa mereka begitu cepat merubah suasana hati."Perjalanannya jauh, tidurlah" Jovan sama sekali tidak menatap Vannya sedikitpun, justru hanya menatap lurus kedepan dengan raut wajah yang selalu saja terkesan dingin dan tajam.Vannya tidak bisa memejamkan mata, ada sesuatu yang terus mengusik dirinya. Vannya tidak berani bicara dan membuat suasana menjadi gaduh, ia tahu akses untuk keluar dari hutan ini sangat sulit, akan berbahaya jika mobil mengebut hanya untuk menangani keluhan Vannya.Satu-satunya cara yang bisa Vannya lakukan adalah tetap tenang dan menahan rasa sakitnya, meski rasanya hampir pingsan karena rasa sakit yang luar biasa ini."Sedikit lebih cepat" Jovan membentak sopir yang di rasa terlalu pelan menjalankan mobilnya, ia sangat tidak
Suara dedaunan kering turut mengikuti kemanapun kaki Vannya melangkah. Meskipun sudah terengah-engah dan kelelahan, tapi ia enggan berhenti sebelum menmuk jalan keluar.Hari masih panjang, Vannya yakin ia akan mendapat pertolongan sebelum bulan terlihat.DORSuara tembakan terdengar melengking memekakkan telinga, Vannya terkejut bukan main, bahkan sampai kehilangan fokusnya mencati jalan.Ia ketakutan setengah mati, sudah hampir menangisi takdirnya yang buruk ini. Tapi Vannya ingat, jiwa lain di dalam perutnya juga pasti ingin selamat dan hidup bersamanya, Vannya harus terus mengejar kebebasa itu."Cari sampai dapat, jangan sampai Nyonya marah"Teriakan itu mengapa terdengar semakin dekat, padahal Vannya sudah berlari begitu jauh sejak tadi. Bahkan cuaca panas mulai menguras tenaganya, kakinya semakin melemah, rasanya berat sekali untuk melanjutkan pelarian ini."Dia pasti datang, dia pasti mencari kita, ayo nak berjuang
Sejak kepulangannya, Jovan belum sempat benar- benar beristirahat dengan tenang, ia masih terus mencati tahu dimana istrinya saat iniSeperti pagi tadi, pria gagah itu sudah bersiap-siap setelah tidur tidak lebih dari satu jam. Kini ia mulai perjalanannya menuju kawasan terpencil yang sangat jauh dari kota.Setelah berulang kali di paksa oleh Anton, Adeline akhirnya mau bicara dan mengatakan dimana ia menyembunyikan Vannya. Dan sekarang Jovan sedang menuju kesana.Akses yang di lewati cukup sulit dan ekstrim, Jovan khawatir kandungan Vannya akan bermasalah jika di paksa melewati jalur ini. Tapi sayangnya memang tidak ada jalur yang lain.Jovan berulang kali menghela nafas, ia menatap keluar jendela dengan wajah yang dingin, sesekali membenahi kacamatanya dengan ekspresi tenang dan santai. Ia memang selalu seperti itu, tidak pernah benar-benar menunjukan raut cemas di wajahnya."Lebih cepat sedikit" kata Jovan yang langsung di angguki oleh
Sudah dua puluh empat jam Vannya berbaring di atas brankar rumah sakit dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat. Ia sudah mencoba memberontak sejak semalam, tapi percuma saja karena tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat.Rasa lelah mulai menguasai ya, tenaga Vannya sudah habis sehingga ia memilih untuk di saja. Perutnya terus mengalami keram sejak semalam, Vannya harus benar-benar berhati-hati.Adeline itu gila, dia membuang Vannya ke rumah sakit pedesaan yang sangat jauh dari kota. Rumah sakit jiwa dimana semua pasiennya benar-benar membuat Vannya ikut gila hanya dengan mendengar suaranya saja."Di rumah sakit terpencil ini apa mungkin Tuan Jovan bisa menemukanku?" Vannya bergumam dengan setetes air mata yang membasahi pipi.Pagi ini suster kembali datang untuk memeriksa lukanya, bahkan tanpa melepaskan ikatan tali di tubuh Vannya."Nona sekarang waktunya minum obat dan oleskan salep"Jujur saja para pekerja disini memang
Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula
Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,
"Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah
Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda







