เข้าสู่ระบบSetelah satu minggu lamanya meninggalkan lehidupan pelik di kota, hari ini Vannya kembali untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal.
Dan soal pekerjaanya, Vannya sudah mengirim surat pengunduran diri melalui email, tidak perduli apa Jovan akan menyetujuinya atau tidak, Vannya hanya ingin hidup tenang. "Apa rumahnya akan di jual?" Suara Julia membuat Vannya terdiam sejenak, ia memandangi barang- barangnya yang memang tidak begitu berharga. Rumah ini awalnya Vannya hanya mengontrak untuk menyelesaikan pendidikannya beberapa tahun yg lali, tapi tiga tahun yang lalu Vannya memutuskan untuk membelinya setelah berhasil mendapatkan pekerjaan tetap. Satu-satunya momen berharga di rumah ini adalah saat ia berhasil membelinya saja, sisanya tidak ada yang spesial, ia hanya menjalani kehidupan yang datar. Pergi bekerja saat pagi, pulang malam, lalu tidur sepanjang hari saat akhir pekan. "Iya, tidak ada kepentingan untuk kembali kesini, sebaiknya di jual saja" Vannya berujar sembari berlalu masuk kedalam kamarnya. Nenek Julia hanya mengangguk, ia tetap duduk di ruang tamu dengan memandangi ruangan di sekitarnya. Cucunya sukses besar menjadi seorang Asisten bos besar di kota, bahkan bisa mendapatkan rumah dengan fasilitas mewah meskipun minimalis. Di banding dengan kesalahannya, Julia lebih suka melihat kesuksesan Vannya. Gadis itu selalu hidup mandiri, ia bekerja keras tanpa di dampingi kedua orang tuanya. Dia belajar giat sampai bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di kota. Semuanya benar- benar ia usahakan dengan tangannya sendiri, hanya dengan dukungan dari nenek dan kakeknya. Hanya mereka yang mendukung dan bekerja mati-matian untuk membiayai Vannya, tapi sayangnya kakeknya telah lebih dulu pergi sebelum Vannya sempat menyelesaikan masa kuliahnya. Tok Tok Suara ketukan pintu membuat Julia segera menoleh ke arah pintu. "Ya, siapa?" Julia bangkit dan mendekati pintu dengan langkah ringan. "Lavannya Damara, apa dia ada di rumah?" Pria kekar bertubuh tinggi itu segera bertanya saat nenek sampai di hadapannya. Julia terlihat bingung dengan presensi pria itu, tapi dia tetap mengangguk. "Ada, masuklah dan tunggu sebentar, aku akan memanggilnya" Tidak ada ekspresi berarti dari pria itu, karakternya cukup dingin sampai tidak tersenyum hanya untuk basa basi saja. Dia tetap berdiri diam meski nenek sudah mempersilahkan masuk. "Siapa?" Vannya datang dengan kening mengkerut bingung, ia merasa tidak kenal sama sekali dengan tamu yang datang. "Nenek akan buatkan minum" Julia berlalu ke belakang, sedangkan Vannya maju mendekati pintu untuk menemui tamu yang asing baginya. Tidak ada kata yang terucap, pria itu tetap bungkam meski Vannya sudah berdiri di hadapannya. Hanya satu yang dia lakukan, yaitu mengulurkan sebuah amplop coklat. "Apa ini?" Vannya tidak segera menerimannya, ia diam dan menatap pria itu dengan tatapan curiga. "Surat, waktumu sampai besok, jika tidak ada keputusan saya terpaksa membawamu kepadanya" Vannya mengeryit tidak mengerti sama sekali. "Siapa..." Dia belum sempat bicara, tapi pria itu sudah lebih dulu memaksa Vannya untuk menerima amplop dan segera pergi dari sana tanpa menjelaskan apapun. "Hey.." Vannya berusaha mengejarnya untuk meminta penjelasan, tapi pria itu berjalan terlalu cepat dan hilang begitu saja. "Apa- apaan" Vannya mendengus kesal, ia seperti sedang di permainkan saja. Dan amplop itu, Vannya masih membawanya, dia menatapnya dengan penuh kebingungan tapi tidak berniat untuk membukanya sekarang. Entah penting atau tidak Vannya tidak perduli untuk saat ini. Sia- sia Vannya berlari untuk mengejarnya, nyatanya ia tetap tidak mendapatkan penjelasan apapun. Ia pun segera berbalik untuk kembali kedalam rumah, tapi... Ia justru melihat sesuatu yang jauh tidak terduga. Tubuh Vannya sepenuhnya diam, seakan seluruh sarafnya telah di nonaktifkan, satu- satunya yang berfungsi hanyalah indra penglihatannya, dimana saat ini ia melihat dengan jelas sosok pria yang sangat ia kenali. Bukan karena dia penjahat, melainkan karena dia adalah seorang yang tidak Vannya duga akan mendatanginya hari ini. "Tuan" Cicit Vannya sambil mengerjap bingung. Yap, pria di hadapan Vannya saat ini adalah Jovan Fedorov, pria gagah dengan seribu penggemar meskipun dia bukan seorang artis atau model papan atas. Pria dengan pesona luar biasa, juga aura yang begitu memikat wanita. Sungguh tampan dan mapan, semua orang akhir-akhir ini mulai membicarakannya bersamaan dengan Damian yang sedang naik daun. Mereka terlihat mirip, tapi juga tidak terlihat mirip, sangat sulit untuk di jelaskan. Tetapi Vannya, di tengah naiknya nama mereka sebagai idola baru, ia justru telah memutuskan untuk membenci mereka. Setelah apa yang menimpanya, bukankah aneh jika Vannya tidak marah? Ia tentu membenci Damian dan seluruh jajaran keluarga atau apapun yang berkaitan dengan nama Fedorov. Tidak terkecuali dengan Jov yang hari ini tiba- tiba mendatanginya. Surat ini... Mungkinkah berasal dari keluarga itu juga? Tapi tidak ada yang tahu mengenai hubungannya dengan Damian. Lalu, untuk apa Jovan repot- repot datang menemuinya setelah ia telah mengundurkan diri dari perusahaan. "Ayo menikah!" Apa? Apa yang baru saja pria itu katakan? Dia gila atau apa? "Biarkan anak itu menggunakan nama saya" Jovan kembali mengucapkan kata- kata yang sangat tidak Vannya duga, bahkan tidak pernah memikirkannya. Vannya seperti gadis bodoh yang hanya bisa diam setelah mendengar perkataan Jovan. Dia tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi terus memutar otaknya untuk mencerna perkataan Jovan. Sudah tiga tahun sejak Vannya menjadi asistennya, ia tidak pernah terlalu dekat dengan Jovan, benar- benar hanya seperti seorang atasan dan bawahan, bahkan mereka tidak pernah saling menyapa saat berpapasan di jalan, tidak pernah bertukar pesan karena mereka selalu membicarakan semua pekerjaan di kantor. Lalu tiba- tiba... Dia melamar Vannya dengan ekspresinya yang datar itu? Itu bahkan lebih terlihat seperti dia sedang memerintah Vannya untuk membuat perencanaan proyek. "Tidak mau" Vannya memang membenci mereka, sangat- sangat benci. Akan tetapi ia hanyalah orang kecil, tidak memiliki kemampuan untuk melawan meski ia memiliki kebencian seluas samudra. Karena itulah satu -satunya cara untuk dirinya hidup damai adalah dengan menghindari keluarga mereka. Dan Jovan, dia justru ingin mengikat Vannya? Sungguh tidak bisa di terima. Itu artinya penyiksaan Jovan menunduk sejenak untuk berfikir, lalu kembali mendongak untuk menatap Vannya dengan sedikit senyuman. "Maaf" katanya dengan raut wajah berbeda, Vannya tidak tahu ekspresi apa itu karena tidak pernah melihatnya. Seperti sebuah rasa bersalah "Adik saya membuat kesalahan..." "Kau mau bertanggung jawab untuknya?" Vannya dengan ketus memotong perkataan Jovan. "Apa yang bisa kau berikan padaku?... Uang? Rumah? Atau kehormatanku yang sudah hilang?" Meski selalu terlihat anggun dan baik hati, Vannya bukan wanita muda yang lemah dan bodoh, ia tahu kapan harus melawan dan melunak. Jovan yang memiliki karakter kuat-pun ternyata mudah untuk Vannya bungkam. Pria itu sepertinya tidak mempersiapkan diri matang- matang sebelum datang, dia terlalu menganggap remeh Vannya yang menangis pilu di depan semua orang. "Saya bisa memberikan sosok ayah untuk anakmu" kata Jovan ketika Vannya hendak melewatinya. Vannya terkekeh. "Ayah? Aku bisa mencari ayah yang lain" wanita itu kembali menolah kepada Jovan yang juga sedang menatapnya. "Tapi kau.. apa kau juga akan menjadi ayah untuk anak- anaknya yang lain?" Dia tidak berbicara dengan nada ketus atau marah, ekspresinya juga selali stabil. Tapi entah bagaimana Jovan bisa dengan jelas merasakan amarah dari wanita itu. "Anak yang lain?" Jovan nampaknya terkejut, padahal itu bukan sesuatu yg mengejutkan menurut Vannya. "Para wanita yang Damian tiduri, jika mereka hamil apa kau juga akan menikahinya?" Jovan sepertinya tidak tahu banyak mengenai Damian, ia tidak tahu jika adiknya benar-benar brengsek di luar sana. "Bukankah hanya kau?" Salah, Jovan salah besar menanyakan itu, jelas- jelas ia tahu Damian kecelakaan bersama kekasihnya di saat Vannya sedang mengandung anaknya. "Tidak tahu,dia memiliki banyak wanita di sekitarnya" Lavannya tampak acuh, dia segera kembali kedalam rumah dan menutup pintu rapat- rapat. Kehidupannya di kota memang selalu buruk.Seperti kata Jovan, Vannya menuruti perintah pria itu dan duduk dengan tenang didalam ruang kerja bersamanya.Vannya juga tidak mengerti mengapa Jovan bisa begitu posesif terhadap dirinya, tidak membiarkannya bekerja di tempat lain tapi juga tidak memberikan pekerjaan apapun disini."Minta Andi kerjakan ini!"Bongkahan es itu akhirnya bersuara setelah mengabaikan Vannya sejak dua jam yang lalu. Vannya bangkit dengan semangat dan meraih berkas yang Jovan berikan."Aku boleh keluar?" Untuk berjaga-jaga, Vannya harus bertanya di setiap tindakan yang ia lakukan.Jovan melirik istrinya sekilas lalu menganggukan kepala dengan samar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Lavannya tersenyum gembira.Vannya bergegas keluar untuk menemui rekan-rekannya yang lain, ia senang sekali akhirnya bisa bebas dari ruangan Jovan yg sangat monoton.Vannya masuk kedalam ruangan yang tidak kalah senyap dari ruangan Jovan, tapi setidaknya tenpat in
"aku sudah baik-baik saja kok"Jovan sekali lagi menghela nafasnya, ini sudah kesekian kalinya Vannya merengek untuk kembali bekerja. Jovan tidak mengijinkan karena Vannya yang memang belum sepenuhnya pulih, tapi wanita ini terus memaksa bahkan sekarang sudah berpakaian rapi."Saya sibuk" Jovan tetap mengabaikan istrinya, ia justru sibuk bersiap-siap sendiri.Vannya berdiri tepat di depan pintu, memperhatikan setiap pergerakan suaminya dengan wajah masam."Tuan, aku juga bisa bosan jika hanya duduk di rumah" kata Vannya lagi, wajah memelasnya ia tunjukan supaya Jovan bisa sedikit luluh.Jovan meliriknya sekilas tanpa perduli, ia berlalu masuk kedalam walk in closet untuk mengambil dasi.Karena geram Vannya akhirnya mengikuti Jovan, berdiri tepat di belakang pria itu dengan wajah kesal. Jika saja Jovan bukan atasannya, sudah pasti Vannya tidak akan repot-repot membujuk."Hanya bekerja dan duduk, apa salahnya sih" Vannya c
Malam harinya Jovan baru saja masuk kekamar setelah sejak tadi sore banyak berbincang bersama Aldo dan juga Kevin, tentu ada beberapa pekerjaan yang harus mereka urus juga."Tuan"Suara yang tidak asing membuat Jovan yang baru saja hendak membuka pintu kamar menjadi terhenti, ia menoleh dan mendapati Gretta yang sudah berdiri dengan wajah cemasnya.Pelayan tua ini turut Jovan ambil dari kediaman Fedorov, tentu karena satu-satunya orang yang Jovan percayai adalah dia.Sebenarnya berat untuk Adeline meninggalkan Mansion setelah bekerja puluhan tahun disana, tapi tidak apa asal ia tetap bekerja dengan garis keturunan Fedorov."Apa?" Jovan bertanya dengan ketus, dia memanh tidak pernah bersikap ramah."Sejak sore nona tidak keluar kamar, dia juga menolak makanan yang saya bawakan" kata Gretta dengan raut wajah cemas. "Jika terus seperti ini nona akan kembali jatuh sakit"Jovan mendengarkan, ia melirik pintu kamar Vannya yang
Hari ini adalah hari kepulangan Lavannya dari rumah sakit, sebab itulah Jovan meminta Aldo dan Kevin datang untuk membantunya. "Apa kita langsung pulang?" Jovan dan Vannya sejak tadi hanya diam di belakang sana, tapi Aldo dan Kevin sayangnya tidak memiliki kepribadian semonoton mereka. Keduanya masih terus berusaha mencari topik untuk hanya mendengar sepatah kata saja dari Vannya ataupun Jovan. Jovan merengkuh tubuh kecil Vannya, menyalurkan kehangatan di tengah musim dingin yang mulai datang. Sudah satu minggu sejak Vannya kehilangan bayinya, dia benar-benar tidak banyak bicara, tidak jarang Jovan juga melihatnya diam-diam menangis sendirian. "Ingin sesuatu?" Akhirnya suara Jovan keluar, dan itu membuat Aldo yang duduk di depan segera menoleh ke belakang. "Aku ingin makan kepiting" kata Aldo dengan keceriaan di wajahnya. Baik Jovan maupun Vannya hanya menatapnya dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya Aldo di tarik paksa oleh Kevin untuk kembali duduk dengan benar. Padahal K
"Bukankah kita saling mencintai? Untuk apa bercerai?""Eh" Vannya tercengang bukan main mendengar ucapan Jovan. Ini sudah kesekian kalinya Jovan berkata begitu, seakan yang dia ucapkan itu memang benar adanya."Ayo saling mencintai dan umumkan pernikahan kita" Tiba-tiba sekali Jovan menginginkan hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.Tentu saja Vannya tidak menyahut sama sekali, Jovan terlalu mengejutkannya."Saya akan buat kontrak, jika selama satu tahun kita tidak saling mencintai maka saya akan menceraikanmu" Lanjut Jovan yang belum mendapatkan reaksi apapun dari Vannya."Jika hanya kau yang jatuh cinta, saya akan alihkan seluruh aset saya untukmu" mengapa pria ini begitu bersemangat membahas hubungan mereka. Wajahnya bahkan tidak sedatar biasanya.Vannya mengeryit, masih belum mengerti apa tujuan Jovan menawarkan perjanjian seperti itu."Bagaimana?" Jovan sangat menunggu jawaban dari Vannya, tapi sepertinya wanita itu terlalu lamban untuk mencerna semua ucapannya.Jovan han
"dia pergi ya?"Jovan menoleh ketika mendengar suara lirih istrinya. Sudah sejak dua jam yang lalu wanita itu hanya melamun dan enggan berbicara, bahkan menolak ketika Jovan menawarkan makanan."Tidak" Jovan masih duduk samping brankar, wajahnya selalu saja datar meski cara bicaranya sangat lembut ketika bersama Vannya.Vannya mengerjap beberapa kali, matanya yang sejak tadi kosong perlahan mulai berbinar kembali. "Tidak pergi?" ia kembali bertanya untuk memastikan jawaban Jovan.Suaminya mengangguk samar, tapi Vannya bisa melihat gelengan kepala itu dengan jelas."Sungguh tidak pergi?" Vannya seakan kembali mendapat harapan. Ia jelas mendengar ucapan dokter yang mengatakan janinnya tidak bisa di pertahankan tadi, tapi sayangnya setelah itu kesadaran Vannya benar-benar hilang dan tidak mendengar apapun lagi.Jovan menghela nafas sejenak, ia bangkit dan mendekati Vannya dengan aura dinginnya."Saya tidak mau memberikan harapan apapun, dokter bilang sebaiknya gugurkan saja" ekspresi itu
Sepi dan sunyi, malam ini terasa begitu tenang, tapi entah mengapa Vannya tidak bisa terlelap barang satu menit saja. Kamar mewah yang di tempatinya saat ini terasa terlalu asing dan dingin untuk dirinya.Setelah penjelasannya kepada nenek Julia tadi sore, Jovan memutuskan untuk membawa Vannya pula
Siapa yang menyangka, dalam takdir tuhan yang penuh dengan lika liku, Lavannya justru menemukan Jovan sebagai malaikat penolongnya.Pria konglomerat yang sangat terhormat, jauh sekali jika di bandingkan dengan Vannya yang bukan siapa -siapa. Jovan memiliki derajat yang jauh lebih tinggi,
"Tidak... aku mohon aku mohon aku mohon" Vannya terus memohon berulang kali, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk memberontak sekuat mungkin.Tapi seakan dunia telah menulikan telinganya, tidak ada yang mendengar tangisan Vannya, tubuhnya terus di seret paksa keluar dari area rumah megah
Malam ini Vannya mengulur waktunya untuk pulang, ia memutuskan untuk menginap semalam karena kondisi tubuhnya yang lemah.Selalu saja seperti itu, ia sulit mengendalikan dirinya dan selalu kehilangan energi saat mengalami mual hebat."Dia mengancamku?" Vannya yang kala itu henda







