It is supposed to be a night to celebrate a broken heart but turns into an unexpected occasion in her life. Georgina experiences being cheated and wanted to go to a bar to get drunk. When everything is going smoothly, she didn’t expect that it was the night that her life will change. She is gifted a daughter, the aftermath of that one nightstand. Wilson, a commoner and unemployed man who saves Georgina from a bank robber. She offers money but he refuses. In return, she offers the deal to him and he gladly accepted it. She didn’t need to seek another man to be her fake husband because the man in her front right now is perfect for that position. Little did they know their fate will be twisted and unexpected happenings will be unveiled. What if Georgina discovers that the man, she slept with that night is now in front of her taking care of her child? What if Wilson will remember who was the woman who stole his heart on the day he runs away from his luxurious life? Does he will let go of the contract or stay as her husband and decided to turn it into a real one?
View MoreAku tidak percaya, ternyata tubuh mertuaku jauh lebih nikmat daripada istriku sendiri. Malam ini, akhirnya aku bisa melepaskan hasratku dengan Mama Siska, ibu mertuaku sendiri.
"Enak banget Ma, semakin lama rasanya semakin nikmat." Aku tidak berhenti menggoyang mertuaku di atas kasur. "Kamu juga sangat perkasa Raka, Mama sampai kewalahan. Kamu memang luar biasa, ayo Raka bikin Mama puas!" Desahnya, badannya bergetar. "Siap Ma, akan kubuat Mama puas. Kita main sampai pagi Ma, Mama mau kan aku goyang sampai pagi?" "Mau banget Raka, Mama pasrah apapun yang kamu lakukan." Istriku berselingkuh dengan pria lain, maka dari itu aku membalasnya, berhubungan dengan Ibunya.**
Hujan deras mengguyur malam itu, menciptakan simfoni yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak untukku. Aku terjaga di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berantakan, seperti hujan yang mengguyur tanpa henti. Seharusnya di sebelahku ada istriku yang menemaniku, di saat cuaca dingin begini aku hanya bisa memeluk guling. Aku sudah membayangkan bisa bercinta semalaman dengan istriku, padahal baru beberapa hari saja kita resmi menjadi suami-istri. Memang di saat malam pertama pernikahan kita, aku sudah bercinta dengannya semalaman suntuk tanpa henti. Sekarang benda pusaka ku ingin memuntahkan lahar panas nya, tapi sekarang aku sendirian tidak mungkin jika aku sampai jajan di luar. Aku punya nafsu yang tinggi, apalagi cuaca dingin begini, semakin besar keinginanku untuk bercinta. Ponsel di tanganku masih menyala, menampilkan pesan suara dari Tiara. "Sayang, jangan lupa makan ya. Mama pasti bakal perhatian sama kamu, jadi gak usah khawatir." Suara Tiara terdengar lembut, tapi ada sesuatu yang terasa jauh. Aku menarik napas panjang sebelum membalas. "Iya, hati-hati di sana." Setelah hampir seminggu Tiara pergi dinas ke luar kota. Awalnya, aku pikir tidak masalah tinggal sendiri di apartemen. Tapi dia bersikeras agar aku tinggal di rumah orang tuanya. "Biar Mama bisa nemenin kamu. Lagian, kamu belum terlalu akrab sama Mama, kan?" Dan di sinilah aku sekarang. Di rumah yang bukan rumahku, di bawah atap yang sama dengan seorang wanita yang… semakin sulit untuk tidak kupikirkan. Bu Siska. Bukan ibu kandung Tiara, tapi ibu tirinya—dan itu seharusnya tidak membuat perbedaan. Tapi, entah kenapa, aku mulai melihatnya dengan cara yang tidak seharusnya. Ibu Siska terlihat sangat cantik, badannya seperti gitar spanyol, kulitnya putih mulus dan senyumnya itu rasanya mengajak untuk berbuat maksiat. Aku menggeliat di tempat tidur, mencoba mengabaikan kegelisahan pikiran kotor yang mulai merayapi pikiranku. Tapi rasa lapar memaksa aku keluar kamar. Langkahku di lorong terasa lebih berat dari biasanya, mungkin karena pikiranku yang tidak tenang. Begitu tiba di dapur, aku langsung melihatnya. Bu Siska. Ia berdiri di dekat meja makan, hanya mengenakan gaun tidur satin berwarna biru muda. Kain halus itu membalut tubuhnya dengan pas, menyoroti lekukan yang masih terjaga di usianya yang menginjak 42 tahun. Bahunya terbuka sedikit, memperlihatkan kulitnya yang masih kencang dan mulus, seperti wanita yang jauh lebih muda dari usianya. Rambut hitamnya tergerai santai, memberi kesan liar namun tetap elegan. Mataku tertuju pada buah dadanya yang lumayan montok, saat dia menata piring rasanya buah dadanya akan tumpah. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tapi terlambat. Ada sesuatu yang menancap di benakku. Sesuatu yang mengusik. Astaga, ini ibu mertuamu sendiri, Raka. Fokus. Namun sebelum aku bisa merapikan pikiranku, ia menoleh dan tersenyum. Senyum yang lembut, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. "Raka, ayo makan dulu," ajaknya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Aku mengangguk dan duduk di meja makan. Dia menuangkan sup hangat ke dalam mangkukku, aroma rempah dan jahe menguar, menyebarkan kehangatan di ruangan yang terasa semakin sempit. Entah kenapa rasanya Bu Siska, seperti sengaja menempelkan buah dadanya pada wajahku. Hingga tercium aroma parfum dan body lotion nya, yang membuat pedang pusaka ku berdenyut-denyut. "Tiara pasti sering masakin kamu, ya?" tanyanya, matanya menatapku lebih lama dari seharusnya dan dia meremas buah dadanya sendiri seperti sengaja. Aku menelan ludah. Senyum itu… tidak seperti senyum ibu mertua pada menantunya. Kenapa juga dia harus meremas buah dadanya sendiri di depanku. "Iya, Ma—eh, Bu," jawabku, buru-buru memperbaiki panggilan. Mama Siska terkekeh pelan, suara tawanya renyah, hampir seperti godaan. "Mama aja nggak apa-apa. Toh, kamu memang anak Mama sekarang." Aku ikut tertawa kecil, mencoba tetap tenang. Tapi saat aku hendak mengambil sendok, tangannya tanpa sengaja menyentuh tanganku lagi. Sekilas, itu mungkin hanya kebetulan. Tapi kehangatan yang tertinggal di kulitku bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Aku meneguk air putih, mencoba menenangkan diri. Setelah makan, aku beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Saat aku hendak kembali ke kamar, suara Mama Siska menghentikan langkahku. "Raka," panggilnya pelan. Aku menoleh. Ia berdiri di lorong, bersandar di kusen pintu kamarnya, satu tangan terangkat menyentuh kayu, tubuhnya sedikit miring. Gaun tidurnya tampak lebih pendek daripada tadi, memperlihatkan pahanya yang mulus di bawah cahaya redup. Aku menahan napas. "Kalau butuh sesuatu… jangan ragu panggil Mama, ya?" Dia mengedipkan mata sambil mengigit bibirnya. Suaranya begitu lembut, hampir seperti bisikan di telinga. Seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lebih dari sekadar kata-kata. Aku hanya bisa mengangguk. "I-iya, Ma." Ia tersenyum tipis, sebelum masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Aku diam di tempat, jantungku berdegup lebih cepat dari seharusnya. Tidak. Ini pasti cuma pikiranku saja. Tapi saat aku berbalik, mataku tak sengaja menangkap pantulan di kaca jendela ruang tamu. Pintu kamar Mama Siska belum benar-benar tertutup. Masih sedikit terbuka… cukup untuk kulihat sepasang mata yang mengawasiku dari celah itu. Aku merinding. Aku segera berbaring di kasur, menarik selimut dan berharap segera pagi. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur, pikiranku terbayang wajah Mama Siska apalagi saat dia meremas buah dadanya. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuat gairahku naik. Seketika benda pusaka ku langsung mengeras, sampai terlihat jelas di dalam celanaku. "Ssshhh aaahhhh...." Tiba-tiba terdengar suara aneh, aku turun dari ranjang dan mencari sumber suara itu. Aku membuka pintu dan ternyata pintu kamar Mama Siska masih terbuka, suara itu semakin terdengar jelas. Sekarang aku tau jika itu suara Mama Siska, dia sedang mendesah membuat kerongkonganku mendadak kering. Aku berjalan secara perlahan, sampai berada di depan kamar Mama Siska. Aku mengintip di balik tembok melihat ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya aku, melihat Mama Siska berbaring tanpa sehelai benangpun. Tangan kirinya membelai lembah terlarang nya, dan tangan kanannya meremas buah dadanya. "Ahhh enak Raka, terus sayang.... !" Nafasku terasa sesak, mungkin aku salah dengar. Jantungku berdebar kencang, rasanya udara semakin panas dan keringat menetes di dahi ku. Di tambah lagi benda pusaka ku malah makin keras, apalagi melihat tubuh Mama Siska yang aduhai. "Masuk Raka, jangan ngintip!" Aku semakin terkejut, rupanya Mama Siska tau jika aku sedang ngintip. Akhirnya aku menampakan diri, aku berdiri sambil menatap Mama Siska yang masih berbaring telentang dengan begitu menggoda. "Kamu gak bisa tidur ya? Ayo sini tidur sama Mama!" Aku harus melawan antara nafsu dan status. Dia mertua ku, tidak mungkin jika aku mengkhianati istriku sendiri. Tapi nafsu mengalahkan segalanya, aku tidak peduli yang jelas malam ini harus di lampiaskan. Aku sudah tidak kuat menahannya, dalam beberapa hari ini. Sedangkan di depan mataku, terdapat kenikmatan surgawi yang sudah menantang ku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku butuh pelampiasan. "Raka...... Raka.... Raka.... !" Suara itu semakin terdengar jelas, hingga aku membuka mataku. "Tokkk.... Tokkkk.... Tokkkk... Raka... Raka... Bangun!" Itu suara Mama Siska, ternyata semuanya hanya mimpi. "I-iya Ma, aku sudah bangun." Jawabku gelagapan. "Mama tunggu di meja makan ya?" "Iya Ma," Aku segera berlari ke kamar mandi. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuatku bangun kesiangan.Episode 60 Wilson Point of View Five years later I sighed when I heard the twins making noises. I looked beside me, hoping Georgina was here, and I smiled sadly. I got up. My door opened, and I saw the twins. “Good morning, dad!” I smiled at them. Most of their traits came from Georgina, and Andrea was mine. When I saw them, I was missing Georgina. “Good morning!” I greeted. I woke up late since I had full loads of work yesterday. Today is Sunday, and it means family day. I saw Andrea with a crumpled face and looking at the twins badly. “Dad, they woke me up.” I chuckled. “It is already late,” I said, then she sighed. “I know, but I am still sleepy, dad.” She crawled up to the bed and lay beside me. “Pillow fight!” the twins shouted, and the bed was becoming their boxing ring. “Mason and Marcus!” Andrea shouted, but they didn’t stop hitting their sister. I wanted to laugh, but I know Andrea will sulk if I do that. “Gosh! This is what I am saying if I have brothers.”
Wilson Point of View I cursed when I didn’t see my car. My smartwatch beeps. I send the location to the agents and ask them to be careful in making decisions. My wife is clever, and I know there is a reason why she needs to do that. When we arrived, they started to plan, and I was watching. I saw my car. I look at the small boat. The officer stamps me when we saw how that bastard molested and hurt my Georgina. I wanted to rip his head off. I wanted to kill him. I sighed as I couldn’t do anything. I stood up when he pointed his gun at Georgina’s tummy. “What are we going to do? To watch?” I said sarcastically at them. “Sir, we need to observe first.” I
Wilson Point of View I wipe my wife's tears. I wanted to scold myself. I should ask her if she was okay, yet I got take over of my worry and nervousness. The security says if Anna didn't bow Georgina's head, she would be the one who died. I look at Georgina, and she is sitting silently. "Do you want to go home and rest?" she shook her head and stared blankly at my office wall. I sigh and hug her, and let her head rest on me. She is still in shock because of what happened. "She died because of me, Wilson," she whispered, and tears were rolling down to her beautiful face. "Shh, she saves you, Georgina." She sniffs. "Many civilians are affected, Wilson. What if they have died? This is all of my faults. I should have to trust Anna." "I will make sure to lend a hand at
Chapter 57Georgina Point of View“Don’t worry, and I will ask some of our men to safeguard the safety of your family.” She cries so hard.“Thank you, ma’am.” I contacted Wilson.“Hey, is there any problem?” My lips trembled.“Sebastian asks Melinda to kill the twins,”“What?” He freaked out.“But Melinda can’t do it, and she made the right decision not to do it. Sebastian is now stalking her daughter. Please do something, baby, give them security.”“I will. Wait for me at the house.” I nodded my head even though I knew he couldn’t see me.I look at Melinda, who is still crying, and the food she gave me.I needed to trust myself now for the safety of the twins.&n
Chapter 56Georgina Point of View“Are you okay, mommy?” I looked at Andrea and nodded my head.“I am okay,” she nodded her head even she was confused.We saw Wilson talking to the staff.“Are you done?” I asked and hid the paper from him.“I am. They will deliver tomorrow.” I nodded.“Are you okay? You look pale.” I chuckled, but it sounded so nervous.“Let’s go?” I change the topic. He looked at me suspiciously, but I smiled at him. He sighs.“’ Okay, let’s go home. It is already five pm. What about you, Andrea? Do you want to buy something?”Andrea shook her head.“I have a lot of toys already, dad,” Wilson nodded.&ldqu
Chapter 55Georgina Point of ViewI am walking around the mansion for my exercise. I am excited to see the twins.I am massaging my belly.The workers greeted me, and I greeted them back.When I think my morning walk is already enough, I stop at the grave of Wilson’s mother.It is the kind of routine I make.Even though I always thank her for loving Wilson that she even sacrifices her own life.Neither I. If that happens to me, I will choose my child.I am so proud of her.I gave her freshly picked daisies.“I just wanted to thank you again, mom,” I smiled. “I hope you wouldn’t get tired of me.” I look at the garden where her tomb is.It is so beautiful.Dad really makes an effor
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Comments