MasukMutia menyalahkan diri sendiri. "Seharusnya tadi aku dengar katamu. Kalau aku langsung pergi, semua ini nggak akan terjadi. Aku malah mengabaikanmu dan meninggalkanmu. Ini semua salahku."Setelah keluar, dia mencari ke sana sini, tetapi tidak ada satu pun yang berani menyinggung Daiyan. Dia sudah melapor ke polisi, tetapi setelah menunggu lama sekali, tidak ada yang datang menangani.Arlo tersenyum lembut, menghibur, "Nggak ada yang menyangka kita akan bertemu sampah di sini. Kamu meninggalkanku juga karena aku yang menyuruhmu keluar mencari bantuan. Nggak perlu menyalahkan diri sendiri. Toh kita semua baik-baik saja!"Mendengar itu, perasaan Mutia sedikit lebih lega. "Oh ya, Kakak Ipar! Aku sudah telepon polisi, tapi nggak ada yang datang sampai sekarang. Cari bantuan juga nggak ada yang mau nolong! Untung ada Chandra yang mencari orang. Kalau nggak, kamu nggak mungkin bisa keluar! Kamu harus berterima kasih pada Chandra!"Beberapa rekan di samping Chandra memandang Arlo dengan sinis,
Daiyan gemetar menahan sakit, menatap Arlo dengan penuh kebencian."Kamu sebenarnya siapa? Sekalipun kamu kenal ayahku dan dia memberimu muka, kamu tetap nggak pantas mematahkan tanganku. Aku tetap anak kandungnya!"Arlo berkata dengan tenang, "Penyakit ibumu, aku yang menyembuhkannya. Pardus, aku yang menyingkirkannya. Donny, aku yang mengangkatnya ke posisi itu. Faris, orangku!""Pak Santoso, Keluarga Kardinegara, dan Rayanza, semuanya memperlakukanku sebagai tamu kehormatan! Menurutmu, aku cukup layak nggak untuk mematahkan tanganmu?"Daiyan seolah-olah melihat hantu. Seketika, wajahnya pucat pasi.Suasana langsung gempar!Akhir-akhir ini Faris memang menemukan penyokong kuat. Mereka semua tahu itu. Penyokong itu adalah sosok besar di balik jatuhnya keluarga Pardus!Namun, tak satu pun menyangka bahwa orang yang disebut-sebut sebagai dewa dunia mafia itu justru adalah menantu Keluarga Hanafi yang tampak biasa saja di depan mereka, bahkan yang pernah sakit!Sekelompok orang langsung
Daiyan menatap Arlo dengan perasaan campur aduk. Hatinya diguncang ketakutan.Arlo kembali menyalakan sebatang rokok untuk dirinya sendiri. Dengan senyuman tipis yang terlihat sama sekali tidak berbahaya, dia melangkah mendekat."Kamu ... kamu cari mati! Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Cepat hentikan ...."Bum! Belum sempat Daiyan menyelesaikan kalimatnya, Arlo menekan kepala Daiyan dan menghantamkannya dengan keras ke atas meja penuh minuman.Alkohol muncrat ke mana-mana, bercampur dengan darah Daiyan.Daiyan ketakutan setengah mati. "Kamu pantas mati ...."Arlo mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap tepat ke wajah Daiyan. "Berani macam-macam denganku? Hari ini, nggak ada yang bisa menyelamatkanmu. Bahkan dewa pun nggak bisa!"Para preman yang baru tersadar langsung gemetar ketakutan. Dengan kaki gemetar, mereka buru-buru menyebut latar belakangnya."Lepaskan Tuan Daiyan! Dia satu-satunya penerus Keluarga Simarta! Keluarga Simarta adalah keluarga mafia nomor satu
Daiyan sampai tertawa karena marah! Di dunia ini ternyata ada manusia seaneh ini. Seorang menantu numpang hidup yang baru sembuh dari penyakit bodoh justru berani menamparnya dua kali, bahkan berbicara dengan nada yang begitu pongah, seolah-olah dialah yang terlalu melebih-lebihkan kemampuannya.Kalau sampai kabar ini tersebar, bagaimana dengan harga dirinya? Apa dia masih bisa bertahan hidup di Kota Naldern?Daiyan merasa harga dirinya diprovokasi secara serius. Dia harus bertindak untuk memulihkan wibawa dan posisinya, agar menantu tak tahu diri itu mengerti akibatnya!Orang-orang di sekitar diam-diam mengheningkan cipta untuk Arlo. Namun, untungnya ada Arlo sebagai kambing hitam. Perhatian Daiyan jelas teralihkan, sehingga mereka pun aman."Habisi saja dia! Dia juga nggak ada hubungannya dengan kami!"Arlo sama sekali tidak gentar menghadapi tatapan tajam Daiyan. Dengan santai, dia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisap perlahan. "Membosankan! Zaman sekarang, oran
"Kamu kira siapa kamu? Berani sekali menyinggung Tuan Daiyan!""Benar! Kalau mau cari mati, jangan seret kami!"Mutia tertegun. Dia sama sekali tak menyangka, di saat paling genting, Chandra justru meninggalkan para gadis, sementara Arlo malah membela. Hal itu membuat pandangannya terhadap Arlo berubah cukup drastis. Yang lebih tak disangka lagi, Chandra tega mengkhianati rekan sendiri.Saat Mutia masih terdiam, Daiyan menatap Arlo dari atas dengan tatapan penuh ejekan. "Keluarga Hanafi? Belum pernah dengar! Siapa yang memberimu nyali untuk menantangku?"Dia mengangkat kaki dan menginjak meja, lalu mengaitkan jarinya ke arah Arlo yang duduk di sofa beberapa meter jauhnya. "Ayo, merangkak lewat sini, lalu berlutut dan minta maaf. Kalau nggak, hari ini aku bunuh kamu!"Anak buahnya mengepung rapat tanpa celah, hanya menunggu satu perintah dari Daiyan untuk menghabisi Arlo. Chandra dan yang lain pun memasang senyuman dingin, menunggu tontonan.Arlo berdiri, menepuk debu di tubuhnya dengan
Melihat pihak lawan mengenal nama ayahnya, senyuman di wajah Chandra langsung mengembang cerah."Benar, kejadian hari ini cuma salah paham! Kalau kamu mau duduk minum segelas, anggap kita berteman. Soal biaya pengobatan anak buahmu, aku yang tanggung. Kalau nggak mau, hmph ...."Chandra merasa, karena pihak lawan mengenal ayahnya, pasti akan mengakhiri masalah ini."Kalau kami menolak, memangnya kamu bisa apa?" Tiba-tiba, ekspresi pemuda itu berubah drastis. Tatapannya memancarkan niat jahat, lalu satu tamparan keras menghantam wajah Chandra.Chandra terpental akibat tamparan itu. Beberapa giginya copot, mulutnya penuh darah, wajahnya babak belur."Aku kekurangan uang recehmu itu?" Pemuda itu menginjak tubuh Chandra yang tergeletak di lantai, lalu mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di depan wajah Chandra."Telepon ayahmu. Suruh dia datang. Kita lihat, apa dia berani mengatakan sepatah kata pun di hadapanku, Daiyan."Semua orang tercengang. Keringat dingin langsung mengalir deras di







