LOGINStella terdiam sejenak, lalu berkata, "Seluruh beban dipikul oleh satu orang. Kalau orang itu mati, maka semuanya selesai. Kalau orang itu hancur, maka pengobatan tradisional juga akan ikut jatuh ke dalam kehancuran abadi.""Lalu bagaimana Master Arlo membuat orang-orang percaya? Seluruh beban berada di pundakmu. Apa kamu benar-benar punya kemampuan dan moral sebesar itu?"Leonard dan Kamil saling berpandangan. Mau tak mau mereka harus mengakui, apa yang dikatakan dan dikhawatirkan Stella memang ada benarnya.Sejak Arlo muncul hingga sekarang, kemampuan medisnya memang sudah terbukti, tetapi itu hanya dalam lingkup kecil di Hareast. Bahkan di dunia medis, Arlo sama sekali tidak memiliki jabatan apa pun.Kalau ingin membuat semua orang benar-benar percaya, memang masih kurang sedikit pengaruh. Jika semuanya hanya bergantung pada Arlo seorang dan suatu hari nanti Arlo dijatuhkan orang lain, bukankah pengobatan tradisional juga akan ikut terseret?Melihat Arlo tidak membantah, Stella mela
Tatapan Arlo tertuju pada Stella selama beberapa saat, lalu dia hanya mengangkat dagunya sedikit."Ada urusan apa?"Stella sama sekali tidak peduli dengan nada dingin Arlo. Dia tersenyum tipis lalu berkata, "Kami ingin mengundang Master Arlo untuk menunjukkan kemampuan Anda dalam Konferensi Pengobatan Tradisional.""Konferensi Pengobatan Tradisional?"Arlo mengangkat alis dengan bingung.Bibi pendorong kursi roda itu mendecakkan bibir sambil bergumam pelan, "Bahkan Konferensi Pengobatan Tradisional saja nggak tahu, tapi masih mau mendirikan aliran sendiri.""Bi Lona, jangan lancang!"Wajah Stella langsung berubah serius. Wanita itu langsung menyadari dirinya salah bicara.Saat merasakan tatapan Arlo yang tajam mengarah padanya, dia langsung teringat pada Rustam tadi. Hatinya pun bergidik dan wajahnya memerah."Maaf aku telah salah bicara.Arlo mendengus dingin, lalu kembali menatap Stella. "Dari mana datangnya omongan tentang mendirikan aliran sendiri?"Stella menutup mulut sambil tert
Arlo hanya menjawab dengan pendek, "Oh."Lalu, dia mengeluarkan sebuah botol obat kecil. "Kalian kembali ke markas militer Naldern, 'kan? Sekalian tolong bawakan ini untuk Zaem."Rustam tidak banyak bertanya. Dia maju sambil mengangguk dan menerima botol obat itu, lalu segera pergi. Setelah kembali ke markas militer Naldern, mereka berdua menceritakan seluruh kejadian kepada grandmaster markas militer Kota Aramaya, Markos.Bagas dan Zaem juga sedang berada di sana. Keduanya sama sekali tidak terkejut dengan reaksi Arlo. Kali ini saja sebenarnya Arlo sudah sangat menahan diri.Markos menyindir Bagas, "Orang-orang bawahanmu makin nggak tahu aturan! Masa grandmaster tenaga transformasi diperlakukan seperti itu?"Bagas hanya mencibir sambil tersenyum. "Beberapa orang memang layak diperlakukan khusus. Tapi jelas bukan Keluarga Kushanto itu!"Markos mengernyit tidak senang. "Menurutku, sejak kamu tinggal di Hareast, pandanganmu makin sempit!"Memangnya kenapa kalau Arlo seorang grandmaster t
Rustam langsung murka. "Apa maksudmu? Kami cari kamu untuk penyelidikan, ini adalah sebuah misi dan berdasarkan hukum! Sebagai tersangka, kamu seharusnya kooperatif! Kamu malah merasa aku sok berkuasa?"Rustam adalah seorang ahli tingkat semi-grandmaster paling muda di wilayah militer Kota Aramaya. Namun karena sifatnya yang terlalu blak-blakan, dia masih belum bisa naik jabatan menjadi komando seperti sebagaimana seharusnya. Biasanya, dia paling membenci orang yang mengandalkan koneksi.Dalam perjalanannya ke Hareast kali ini, dia melihat bahwa Bagas terus berusaha melindungi Arlo, sedangkan Arlo juga terus menggunakan Bagas untuk menjadi tamengnya. Secara tidak sadar, dia pun menganggap Arlo adalah orang yang melindungi diri dengan menggunakan koneksi dan suka berbuat semena-mena. Saat ini, dia benar-benar merasa kesal.Arlo tertawa pelan dan berpikir, 'Bukannya ini cuma kacung yang dijadikan suruhan?'Arlo sendiri tidak ingin mempersulit bawahan-bawahan seperti Rustam ini, jadi dia
Melihat wajah ketiga orang itu yang begitu serius, Arlo langsung tertawa keras. "Apa susahnya sampai dibilang maju salah mundur salah?""Aku sudah sampai di posisi hari ini. Kalau masih harus takut dan terikat sama masalah kecil seperti ini, lebih baik aku mati karena malu di depan pintu klinik ini saja!""Setelah mempelajari ilmu pengobatan ini, aku bisa mempertahankan nyawa seseorang selama aku mau. Memangnya siapa mereka itu sampai layak membatasi langkahku?"Arlo langsung melambaikan tangan, lalu berjalan menuju pasien.Saat itu, asisten dokter sudah selesai membersihkan lukanya."Pak tua, aku akan melakukan akupunktur dulu untuk mengurangi rasa sakitmu. Penyakitmu ini harus dirawat perlahan sambil tinggal di sini. Paling nggak butuh seminggu ...."Sambil melakukan akupunktur pada lelaki tua itu, Arlo juga mengobrol santai beberapa kalimat.Leonard dan Kamil saling berpandangan. Mereka merasa Arlo tampak sedikit berubah. Kalau dulu kemampuan medisnya memang tak tertandingi, tetapi
Tubuh lelaki tua itu mengeluarkan bau asam seperti orang yang sudah lama tidak mandi, ditambah bau busuk dari luka yang membusuk. Saat dia dibaringkan di ranjang pemeriksaan yang bersih, terlihat sedikit rasa gugup dan malu di wajahnya.Seolah takut dokter akan jijik lalu mengobatinya asal-asalan, dia buru-buru berkata lebih dulu, "Aku dengar dari orang-orang di penampungan, di sini ada dokter baik hati. Kalian harus menolongku ...."Arlo tersenyum sambil maju untuk memeriksanya, lalu bertanya santai, "Orang penampungan yang kasih tahu kamu?"Sambil berbicara, Arlo menekan betis lelaki tua itu dan menyadari bahwa bagian yang lebih parah justru kakinya.Kedua kakinya bengkak sampai hampir tidak bisa mengenakan sandal. Terutama jari kaki kiri yang sudah menghitam, membusuk, dan bernanah. Kondisinya jauh lebih parah dibanding betisnya.Melihat Arlo memeriksanya dengan teliti, lelaki tua itu sedikit lega lalu berkata, "Orang penampungan mau membelikan tiket supaya aku pulang kampung, tapi
Arlo tersenyum kecut dan berkata, "Bukan masalah besar, aku bisa mengatasinya."Mutia menggeleng dengan keras kepala. "Nggak, Kak Arlo. Masalah ini terjadi karena aku. Kalau bukan karena aku, semua ini nggak akan terjadi."Setelah berkata begitu, dia menoleh dan bersikap manja sambil berpura-pura me
Setelah meninggalkan rumah Keluarga Hanafi, Arlo pun kembali ke Klinik Wellness. Dia sibuk terus sampai malam.Saat hendak menutup toko dan pulang, Lidya tiba-tiba menelepon."Ada apa?" tanya Arlo dengan nada datar setelah sambungan terhubung."Kenapa? Kalau nggak ada urusan, memangnya nggak boleh c
Mahira meluapkan semua amarahnya pada sang kakak. "Lapor polisi? Lihat saja sikap mereka yang begitu pongah. Memangnya mereka takut polisi? Semua ini gara-gara ulahmu yang ceroboh, sampai menyeret keponakanku juga!"Mahira mendorong kakaknya keras-keras, lalu berteriak, "Sudah! Jangan pukul lagi! Ja
Dengan adanya rekomendasi dari Vijay, pewaris Sekte Vitalitas, Sandy jelas bisa menghemat banyak waktu. Welly juga ikut merasa senang untuk kakaknya. Hanya saja, Isyana tampak tidak fokus sepanjang malam. Dia melamun sambil terus mengkhawatirkan Arlo. Hal itu membuat Welly merasa tidak senang.Kakak







