INICIAR SESIÓN"Tentu saja. Di Gorasa juga ada pepatah seperti itu."Yusa tersenyum lembut. Wajahnya begitu memesona. Saat tersenyum, dia bagaikan bunga sakura yang bermekaran serentak, tampak indah dan memikat.Suaranya yang lembut dan manja memiliki daya pikat yang mampu mengusik hati. Cahaya jernih berkilau di matanya. Orang biasa mungkin akan kehilangan akal hanya dengan sekali menatapnya."Tapi ada pepatah yang mengatakan bahwa orang yang nggak tahu patut dimaklumi. Muraki hanyalah seorang samurai tingkat rendah. Dia sama sekali nggak memahami betapa menggentarkannya sosok seperti Master Arlo yang bagaikan naga.""Aku mohon, demi aku, Master Arlo berkenan mengampuninya kali ini."Yusa mengangkat wajahnya. Cahaya jernih di matanya tertuju kepada Arlo. Seluruh dirinya memancarkan kesan begitu rapuh hingga membuat orang merasa iba.Seorang wanita secantik itu memohon dengan begitu menyentuh. Kelembutan di matanya cukup untuk meluluhkan pria mana pun.Pria mana pun bisa saja memiliki ilusi bahwa men
Ketika benar-benar dilihat dan dirasakan secara langsung, kekuatan membunuh seseorang hanya dengan satu jentikan jari seperti ini, seratus kali lebih menggetarkan daripada sekadar membaca berbagai catatan pencapaian dalam data.Padahal, Muraki juga pernah melihat seorang grandmaster bertarung.Arlo menyapu pandangannya ke arah semua orang dengan tatapan datar, lalu akhirnya berhenti pada Muraki."Aku sudah menjamin Keluarga Parham. Ada yang keberatan?""Nggak ... nggak ada!" Muraki hampir tak berani menatap langsung ke arah Arlo.Pada saat itu, sebuah suara dingin terdengar dari kejauhan. "Grandmaster nomor satu Doraia benar-benar pantas menyandang namanya!"Semua orang serentak menoleh.Seorang wanita muda terlihat berjalan mendekat. Dia mengenakan kimono mewah, rambutnya ditata dalam sanggul tradisional wanita belum menikah dari Gorasa. Sandal kayunya mengetuk lantai ketika dia melangkah sedikit demi sedikit.Setelah dekat, barulah semua orang dapat melihat wajahnya dengan jelas. Waj
Bagaimanapun juga, Tanaka adalah seorang ahli yang telah mencapai tingkat semi-grandmaster tahap puncak.Ilmu bela diri Gorasa sangat dipengaruhi oleh ilmu bela diri Doraia. Mereka bukan hanya menitikberatkan pada kekuatan fisik dan teknik bela diri, tetapi juga mempelajari metode pengolahan tenaga dalam dari ilmu bela diri Doraia.Ditambah lagi dengan teknik gerakan yang mereka kembangkan sendiri, beberapa teknik bela diri mereka bahkan memiliki daya hancur yang jauh lebih mengerikan saat meledak dengan kekuatan penuh.Terlebih lagi, di bawah pengaruh semangat samurai, mereka memiliki banyak teknik mematikan yang mirip dengan teknik para pembunuh. Teknik-teknik itu tidak mengutamakan keselamatan diri, melainkan hanya berfokus pada membunuh musuh, sehingga kekuatannya menjadi jauh lebih dahsyat.Saat ini, yang digunakan Tanaka adalah teknik bela diri semacam itu.Melalui suatu teknik rahasia khusus, dia mengerahkan seluruh energi yang tersimpan di meridian, titik-titik akupunktur, sert
Pikiran Muraki langsung kosong. Hanya saja, sebagai pewaris yang lahir dari keluarga besar, meski sedang panik, dia tetap secara naluriah berkata, "Kalau begitu, Keluarga Parham akan menghadapi pengepungan dari Keluarga Singgana dan Keluarga Miyamoto."Arlo mencibir. "Kalau begitu, sampaikan ke Keluarga Singgana kalau Keluarga Parham berada di bawah perlindunganku. Kalau nggak terima, datang saja dan lawan aku.""Aku akui kamu memang sangat hebat. Tapi apa kamu yakin punya kemampuan untuk melindungi Keluarga Parham?" Muraki mengernyit.Arlo mampu mengalahkan Tanaka. Mungkin kekuatannya memang sudah mencapai tingkat grandmaster. Namun, bagaimana mungkin keluarga sebesar Keluarga Miyamoto takut kepada seorang grandmaster?"Keluarga Miyamoto kelihatannya memang cukup arogan ya? Kalau begitu, menurutmu, kekuatan seperti apa yang bisa melindungi Keluarga Parham?" Arlo balik bertanya sambil mencibir."Dewa Militer Doraia, Alwin. Kalau beliau yang bicara, Keluarga Miyamoto pasti akan mengalah
Mendengar itu, Muraki sempat tertegun, lalu menoleh dengan wajah sangat terkejut.Dia sudah memperhitungkan pilihan Keluarga Parham. Reaksi Gandhi juga membuktikan bahwa perhitungannya benar. Namun, pengikut lain Velia justru berani mengatakan hal seperti itu?Saat pandangannya tertuju pada Arlo, Muraki mengerutkan alis. Wajah pria itu terasa agak familier, seolah dia pernah melihatnya di suatu tempat.Namun, sebelum dia sempat mengingatnya, Tanaka sudah mengayunkan pedangnya."Bajingan!" Diiringi raungan keras, cahaya pedang memelesat secepat kilat, bagaikan sabetan panjang yang menembus beberapa meter ruang, lalu menebas lurus ke arah kepala Arlo.Cahaya pedang itu merobek udara hingga menimbulkan ledakan keras. Satu tebasan itu seolah mampu membelah sungai.Pada saat yang sama, entah sejak kapan tangan kiri Tanaka juga sudah memegang sebilah pedang. Pedang itu berputar membentuk lengkungan aneh, sementara satu lagi cahaya pedang berputar menuju Arlo. Kekuatannya sungguh tak terbendu
"Untuk menguasai sebuah keluarga, seseorang harus tahu kapan bersikap keras dan kapan bersikap lembut. Seperti dirimu sekarang."Velia merasa frustrasi. Karena terlahir di Keluarga Parham, sejak kecil dia sudah terbiasa melihat ayahnya yang tetap tenang meski menghadapi tekanan sebesar apa pun, ibunya yang teliti dan mampu memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat, serta para pesaing dan bawahan yang saling menerkam seperti serigala dan harimau.Namun, orang seperti Muraki tetap membuatnya merasakan ketakutan dari lubuk hatinya."Paman Gandhi, tolong dia!" Velia mengepalkan tinjunya dan berteriak. Sebenarnya, dia ingin memanggil Arlo. Namun, kata-kata itu sudah sampai di ujung lidahnya, lalu kembali ditelannya.Dengan status Arlo, sudah cukup baik dia bersedia datang. Bagaimana dia harus bertindak bukanlah sesuatu yang bisa diatur olehnya. Sebagai putri Keluarga Parham, setidaknya dia masih tahu batas dalam hal ini.Namun, Gandhi tidak bergerak. Velia menatap Gandhi dengan heran.Ga
Rayanza tertawa lepas. "Berapa nilainya nyawaku dan anakku ini? Setelah pernah berjalan di ambang kematian, sia-sia saja hidupku kalau masih nggak bisa bedakan mana yang lebih penting!"Fellis merasa terkejut dengan keputusan ayahnya, tetapi tidak menunjukkannya.Arlo tersenyum dan berkata, "Pak Ray
"Ada urusan apa, Pak Dandy? Menurut aturan, Andre sekarang nggak bisa menerima tamu!" kata Jarwa.Dandy tidak berkata apa-apa, sementara Zaem juga menundukkan kepala. Jarwa mengerutkan kening.Saat itu, pemuda yang berdiri di tengah berkata, "Nggak ada hubungannya dengan mereka. Aku yang ingin datan
Kolam dingin yang telah dimurnikan oleh guntur itu tetap dipenuhi hawa dingin yang menusuk tulang.Arlo menduga di dasar kolam ini kemungkinan tersembunyi sesuatu yang lain. Tanpa ragu, dia langsung menyelam masuk, membuat Mohit dan Jivano terkejut.Tak lama kemudian, Mohit seperti teringat sesuatu
Namun, sebenarnya Arlo sejak awal juga tidak berniat menyembunyikannya.Sekarang dia langsung mengerti, sebagian besar dari orang-orang ini datang karena dirinya, lebih tepatnya karena Air Suci.Bahkan orang-orang dari Keluarga Kushanto di Kota Aramaya pun tertarik pada Air Suci. Dari situ sudah ter







