MasukSetelah Kaisan pergi, barulah orang-orang mengetahui bahwa Arlo adalah master yang menciptakan Pil Energi. Mereka pun menoleh dan memandangnya dengan sorot mata berbeda.Jelas sekali, Gonzali berani memperlihatkan kemampuan itu karena dia masih memiliki pilihan yang lebih hebat untuk babak final.Jadi, babak final ini bisa dibilang sebagai pertarungan antara Arlo dari Hareast, Gonzali dari Sekte Vitalitas, dan Santo dari Lembah Raja Obat, bukan?Orang-orang terus berbisik-bisik dan berdiskusi."Menurut kalian, antara Master Arlo dan Dokter Gonzali, siapa yang akan menjadi juara hari ini?""Aku nggak kenal Master Arlo, yang kutahu cuma Dokter Gonzali!""Aku dengar Master Arlo adalah orang yang pernah berkata dalam siaran langsung bahwa dia akan membawa pengobatan tradisional melawan pengobatan barat sampai akhir!""Siaran langsung? Anak-anak muda zaman sekarang memang suka cari sensasi dan pamer. Aku lebih menjagokan Dokter Gonzali!""Karena Dokter Gonzali berani membongkar rahasianya d
Di atas panggung, Gonzali terlebih dahulu mengikuti pertandingan kelompok farmakologi.Pemahamannya tentang obat-obatan dan penggunaannya sangat mendalam. Dia mampu menyembuhkan maupun meracuni. Saat membahas kitab dan teori farmakologi, dia sangat fasih."Yang itu adalah putra kepala Lembah Raja Obat, dokter nasional utama yang menjadi andalan Aula Dokter Nasional di ibu kota. Orang-orang memanggilnya Dokter Sakti Santo!"Stella menunjuk pria paruh baya berjubah panjang yang sedang berdebat tentang teori farmakologi dengan Gonzali di atas panggung sambil memperkenalkannya kepada Arlo."Menurut Master Arlo, gimana kemampuan mereka berdua?" tanya Stella sambil tersenyum.Arlo mengangkat dagunya. "Pemahaman kedua orang ini tentang farmakologi memang sudah berada di tingkat kelas atas. Mulai dari catatan kitab kuno, pemahaman pribadi, hingga komposisi resep, semuanya memiliki pandangan dan pemikiran unik masing-masing."Stella mengangguk. Arlo memang berbicara apa adanya. Sambil tersenyum
"Kalau orang-orang di Kota Aramaya mengira diri mereka keluarga konglomerat, merasa hebat karena mendapat warisan, atau karena didukung seseorang lalu memainkan trik-trik kecil, aku cuma bisa bilang kelak mereka akan menuai akibatnya sendiri. Saat keluarga mereka binasa, jangan salahkan siapa pun!"Ucapan Bagas kali ini sangat keras.Markos terdiam cukup lama sebelum berkata, "Aku akan beri tahu semua pihak. Tapi kurasa pengaruhnya nggak akan terlalu besar.""Kalau begitu, biarkan saja mereka menunggu ajal," kata Bagas dengan dingin."Kamu benar-benar begitu yakin pada Arlo? Pernah terpikir bahwa pihak lain mungkin ...." Markos menunjuk ke atas dengan makna tersirat.Bagas tersenyum dingin. "Tentu pernah. Nadhif saja sudah lebih dari sekali mengatakan di berbagai kesempatan bahwa dia nggak menyukai Arlo. Belum lagi orang-orang yang bersembunyi di balik layar, menikmati privilese karena status mereka, dan menganggap diri mereka lebih tinggi dari siapa pun. Aku tahu semuanya.""Lalu kena
Melihat Arlo muncul, wajah Kaisan langsung berubah drastis. Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.Bukankah Sembilan Ular sudah berjanji akan menyingkirkan Arlo sebelum hari ini? Bagaimana mungkin dia muncul di sini tanpa terluka sedikit pun?"Arlo! Kamu ...." Kata-kata itu spontan keluar dari mulutnya.Namun baru mengucapkan setengah kalimat, Kaisan langsung sadar dan buru-buru menelannya kembali.Arlo tersenyum sinis. "Kenapa? Kamu terkejut lihat aku datang? Oh, jadi empat orang Indie itu memang dikirim sama kamu?"Dalam sekejap, Arlo langsung menghubungkan serangan Sembilan Ular dengan Kaisan."Aku nggak mengerti apa yang kamu bicarakan."Kaisan berpura-pura tidak tahu apa-apa. Arlo menggeleng. "Manusia mati demi harta, burung mati demi makanan.""Kalau kamu nggak rela dunia pengobatan tradisional berada di bawah pengaruhku dan menolak proses penyatuan yang kulakukan, aku memang nggak setuju, tetapi setidaknya aku masih bisa memahaminya.""Tapi, menyewa orang untuk membunuhku?"
Kaisan mengangguk pelan. Tatapannya menyapu Leonard dan Harto."Kalian berdua adalah ahli pengobatan tradisional yang cukup terkenal. Sudah datang, kenapa masih berdiri di luar dan nggak masuk?"Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, lalu mencibir. "Leonard, jangan-jangan kamu sedang menunggu Arlo?""Nggak usah tunggu lagi. Orang seperti dia cuma pintar ngomong. Kalau benar-benar harus bertarung dengan kemampuan nyata, dia nggak akan berani datang."Nada bicaranya begitu yakin. Seolah-olah Arlo bukan tidak berani datang, melainkan sudah mati. Memang, dalam hati Kaisan merasa Arlo kemungkinan besar sudah tewas. Kalaupun belum tewas, dia pasti sedang berada di ambang kematian.Kaisan sangat memahami betapa mengerikannya Organisasi Sembilan Ular. Sekte Vitalitas memiliki Api Bumi di markas mereka. Karena itu, Sembilan Ular sudah berkali-kali mencoba meminjam Api Bumi selama tiga tahun. Dia juga sudah berkali-kali menolak.Akibatnya, Sembilan Ular berkali-kali mengganggu Sekte Vitalitas.
Ardan hanya merasakan kulit kepalanya mati rasa. Wajahnya kaku, bahkan dia hampir tidak berani menatap mata Arlo. Tanpa sadar, dia langsung menundukkan kepala."Apa yang kukatakan tadi cuma omong kosong. Pak Arlo berhati besar, mohon jangan perhitungan dengan orang sepertiku."Arlo tersenyum. Pemuda di hadapannya ini ternyata cukup cerdas."Sebelumnya Kamar Dagang Nordic berkali-kali membantu Keluarga Sinaga melawanku. Mereka sudah cukup sering membuat masalah untukku."Ardan tidak tahu ke mana arah pembicaraan itu. Tubuhnya langsung menegang dan tanpa sadar mulai gemetar."Pak Arlo, aku ...."Arlo mengibaskan tangannya dan memotong ucapannya. "Kembalilah dan sampaikan sama orang-orangmu. Aku nggak mungkin bergabung dengan Kamar Dagang Nordic.""Adapun masalah yang pernah terjadi sebelumnya, biarkan Kamar Dagang Nordic memikirkan sendiri bagaimana cara memperbaikinya. Kalau masih ada yang berani menyinggungku lagi ...."Suara Arlo tetap tenang, tetapi setiap kata terdengar sangat jelas
"Tsk ...."Yardan tersulut amarah. Kilatan bengis melintas di matanya. Tiga pisau terbang yang detik sebelumnya berputar lincah bak hewan peliharaan, seketika berubah menjadi kilau perak, melesat menuju titik-titik vital Kaesang.Zuhair maju dengan keberanian buas, menghantamkan satu serangan sepert
Whoosh, whoosh, whoosh! Suara siulan tajam terdengar beruntun!Keterkejutan semua orang terhadap keganasan tinju Zuhair belum juga mereda, tiba-tiba tiga bilah pisau terbang muncul di hadapan Zuhair seperti pesawat tempur mengawal pengebom. Pisau itu membentuk formasi segitiga, melesat menuju berbag
"Itu Profesor Jemma!"Kerumunan langsung gempar. Profesor Jemma? Banyak orang tidak mengenal Jemma secara pribadi, tetapi mereka memahami betul makna kata profesor.Di dalam negeri, hanya tokoh otoritas puncak di bidangnya masing-masing yang bisa menyandang gelar tersebut. Setiap profesor adalah fig
Victor menghela napas panjang dengan tak berdaya. Dia baru saja hendak berbicara mewakili Arlo, tetapi saat itu juga masuk panggilan dari Arlo.Begitu sambungan tersambung, Victor langsung terpaku. "Apa? Orangnya sudah ditemukan? Bahkan sudah mengatur wartawan dan menggelar konferensi pers untuk kla







