Home / Romansa / We Are Not Lovers / Menjadi Nyonya Baru

Share

Menjadi Nyonya Baru

Author: Lily Arriva
last update Last Updated: 2025-08-11 03:32:38

Dunia hanya begitu-begitu saja. Pasti ada hal baru yang harus dicoba. Bahkan kita selalu mendapatkan banyak masalah dalam satu waktu tanpa kita duga. Atau, kita mendapatkan anugerah dalam nestapa.

"Ini adalah kamar yang biasa digunakan oleh keluarga Tuan Pandu jika akan menginap di sini." Wanita berumur sekitar empat puluh lima tahun itu mengajak Arika berkeliling mansion. Perangainya sangat keibuan. Gerak-geriknya terukur dan senada dengan tutur bicaranya yang lembut.

Kesan pertama Arika saat diperkenalkan dengan wanita tersebut adalah wanita ini mempunyai tata krama yang tinggi. Aura kuat sarat 'wanita mahal' benar-benar membuat Arika jadi segan. Akan tetapi kedudukan wanita itu tidak setinggi Arika di sini. Wanita itu adalah ketua pengurus mansion Pandu, bahkan sebelum Pandu menempati bangunan ini. Bisa dikatakan, dia tidak serta merta bekerja untuk Pandu tetapi bekerja untuk mansion ini.

"Jangan segan, Nyonya. Saya akan membantu Anda untuk mengenali seluk beluk mansion ini. Toh, Anda adalah istri dari Tuan Pandu." Wanita itu mempersilakan Arika untuk memasuki ruangan yang pintunya sudah dibukakan olehnya.

"Maaf kalau lancang. Nama Anda tadi ...." Arika tidak meneruskan ucapannya.

"Nama saya Vania, Nyonya." Wanita itu menjawab dengan nada yang lembut dan sangat stabil. Arika merasa seperti sedang diemong.

Arika mengangguk. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Luar ruangan ini terlalu besar untuk ukuran kamar tidur. Bahkan ada sofa dan televisi juga di dalamnya. Ini sudah seperti rumah di dalam rumah.

"Saya memanggil Anda dengan sebutan apa? Tadi belum sempat saya tanyakan."

"Cukup dengan Ci Vania. Lebih baik Anda memperlakukan saya seperti bawahan Anda pada umumnya. Tidak perlu begitu formal karena di sini saya yang bekerja untuk Anda dan Tuan Pandu, Nyonya."

Arika menelan ludah. Dia belum terbiasa dengan ini. Pangkatnya yang tiba-tiba melambung di atas semua orang yang ada di rumah ini, membuatnya merasa aneh dan kaku.

"Saya tahu Anda pasti sungkan atau belum bisa menyesuaikan diri dengan semua ini. Tapi tenang saja. Saya di sini ditugaskan khusus untuk membantu Anda beradaptasi."

Arika mengangguk. Dia duduk di atas salah satu sofa yang membentuk later U ke sebuah televisi besar yang menempel di dinding. Kakinya terasa sedikit perih. Dia agak menyesal tadi menolak untuk berkeliling menggunakan kursi roda.

"Anda bisa beristirahat di sini. Apa ada yang Anda butuhkan?"

Arika yang semula melihat-lihat telapak kakinya, mendongak. Dia menggeleng sungkan. "Ah, tidak. Saya ... ekhm, maksudnya aku. Aku hanya ingin duduk sejenak."

Vania tersenyum melihat cara Arika mengganti sebutan itu. "Semoga Anda cepat beradaptasi, Nyonya. Ke depannya Anda juga harus menemani Tuan Pandu di berbagai acara formal."

Arika menaikkan kedua alisnya. "Acara formal? Apa aku memang sudah diakui menjadi istrinya?"

Vania terkekeh kecil. "Kenapa Anda berpikir begitu? Tentu saja Tuan Pandu sangat mengakui gadis pilihannya dan ingin cepat-cepat membawa Anda di depan banyak orang."

Pipi Arika terasa memanas. Entah gurauan yang dilontarkan Vania atau bayangan dia digandeng Pandu dengan posesifnyan yang membuat dirinya tenggelam dalam rasa malu. "Sepertinya itu tidak mungkin."

"Sangat mungkin. Tuan Pandu tidak memiliki alasan lain untuk memilih Anda sebagai istri kecuali perasaannya yang sangat besar kepada Anda."

Arika terdiam. Semua yang dia dengarkan tetiba saja berdengung di kepalanya sebagai omong kosong. Bahkan sampai seminggu di mansion ini pun Arika masig tidak percaya bahwa dia sudah menikah dengan orang kaya seperti Pandu. Masalahnya hanya satu, dia sungguh tidak mengenali pria itu.

"Apa aku amnesia?" tanya Arika kesekian kalinya kepada dirinya sendiri. Kini pertanyaan itu terlontar di depan Vania.

Wanita itu tersenyum ramah dan sangat teduh. "Mungkin ingatan Anda masih belum bisa menemukan siapa Tuan Pandu. Namun saya yakin bahwa hati Anda pasti merasakan getaran yang sama seperti dulu."

Arika tidak menjawab. Dia diam dan merenungi ucapan Vania barusan. Kalau memang getaran itu ada, lalu kenapa dia juga tidak merasakannya barang sedikitpun? Apa dia memang benar-benar amnesia?

"Biasanya, kapan Pandu akan pulang? Sepertinya aku sudah tidak melihatnya beberapa hari di rumah ini." Arika dengan sengaja mengalihkan pembicaraan. Entah dia sedang tidak selera saja untuk membuka pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan dirinya dan Pandu meski masih terasa sangat aneh.

"Tuan Pandu ada perjalanan bisnis ke luar kota selama beberapa hari. Beliau juga berpesan selalu untuk memantau keadaan Anda dengan baik."

Dahi Arika mengerut. "Aku? Dipantau? Memangnya barang percobaan?"

Vania tersenyum. "Itu bahasa beliau untuk saya, Nyonya. Tentu saja saya harus melihat perkembangan adaptasi Anda di sini. Sudah satu minggu Anda berada di rumah ini dan baru kali ini Anda mau saya ajak keliling."

Bibir Arika merapat. "Maafkan aku. Aku hanya merasa semua ini hanyalah sandiwara yang dikarang oleh Pandu. Aku sungguh tidak bermaksud untuk menyusahkanmu. Maaf jika kesan pertamaku sangat buruk."

"Tidak apa-apa. Saya sangat mengerti dengan perasaan Anda. Bagaimanapun menerima sesuatu yang dianggap baru dalam hidup memang cukup sulit."

Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Vania membuat hati Arika menjadi adem. Setidaknya di dunia yang terasa sama sekali asing ini masig ada orang yang mendukungnya. Tak peduli jika Vania mengucapkannya hanya sekedar formalitas. Dia cukup terhibur dengan banyak ucapan wanita itu.

"Jadi, dengan ini, apakah Anda bisa dikatakan sudah siap untuk menerima banyak pelajaran dari saya?"

Pertanyaan Vania barusan membuat Arika membeku. Dia menatap Vania dengan sedikit was-was. Namun semua berganti dengan keheranan saat wanita itu tertawa.

"Kenapa Anda terlihat ketakutan seperti itu, Nyonya. Pelajaran yang saya maksudkan adalah pelajaran untuk menjadi NYONYA di rumah ini. Saya tidak akan membalas apa-apa kok."

Arika terkekeh. Dia sudah berburuk sangka. "Ah, iya. Begitu, ya? Hehehe."

"Tawa Anda seperti barusan yang dirindukan oleh Tuan Pandu. Saya akan mengabari beliau bahwa Anda sudah bisa tertawa kecil seperti ini."

Arika tidak memberikan jawaban apa-apa. Dia hanya diam dan melihat ke arah Vania. Masih ada rasa yang menjanggal di dadanya setiap Vania menyebutkan nama Pandu. Terasa asing di hatinya namun seakan sudah biasa di matanya.

"Pelajaran apa yang akan aku terima? Seperti tata krama di depan publik sebagai istri konglomerat begitu?" tanyanya polos.

Vania mengangguk. "Kurang lebih seperti itu. Saya akan mengajari Anda hal-hal dasar yang biasanya akan menjadi sorotan publik. Selebihnya Anda bisa menyesuaikan saat Anda sudah siap tampil di depan mereka."

Tiba-tiba saja hati Arika diselimuti oleh rasa ragu. "Apa pergaulan kelas atas semengerikan itu? Jujur, aku tidak ingat jika sudah bergaul dengan mereka. Maksudku, dulu memang aku sudah terbiasa berinteraksi dengan mereka tapi hanya sekedar antara klien dan penyedia jasa. Tidak lebih."

"Saya mengerti perasaan Anda, Nyonya. Maka dari itu Tuan Pandu menunjuk saya untuk mendampingi Nyonya."

Arika menghembuskan napas kasar. Rasanya ini terlalu berlebihan. Dia bahkan merasa tidak siap. "Boleh aku di sini sebentar? Kakiku masih terasa sedikit perih."

Vania mengangguk ramah. "Tentu saja. Ruangan ini juga bagian dari rumah Anda. Kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu dan akan kemari beberapa menit lagi."

"Tiga puluh menit. Jalan dari kamarku ke sini cukup capek juga dengan kaki yang terluka."

Vania memaklumi. Dia pun undur diri dan keluar dari kamar tersebut, membiarkan Arika sendiri di sana. Di tengah jalannya menuju bagian belakang mansion, dia mendapatkan satu notifikasi pesan dari Pandu.

'Apakah semua berjalan seperti yang telah direncanakan?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • We Are Not Lovers   Keluarga Yang Kutahu

    Dimas hampir saja tidak bisa menutup mulutnya yang otomatis terbuka karena pernyataan Fatina barusan. Meski tidak lebar, tapi ekspresi lelaki yang biasanya terkontrol itu jadi tak karuan.Setelah jam makan siang selesai tadi, Fatina sengaja mengahadang Dimas untuk membicarakan sesuatu. Itu pun tanpa sepengetahuan Arika karena mereka berpisah di lift. Fatina mengajak Dimas berbicara di tangga darurat. Ya, tempat itu memang jadi langganan untuk berbisik rahasia."Kamu pasti lagi bercanda, kan? Enggak mungkin Arika berpikir seperti itu." Dimas masih ingin memastikan bahwa apa yang barusan dia dengar bukanlah bualan belaka atau salah dengar."Idih, enggak percaya banget. Kamu aja kaget. Apalagi aku yang biasa kenal dia dari luar sampai dalem." Fatina menyandarkan punggungnya ke tembok."Masalahnya, Tin. Publik belum banyak yang tahu masalah hubungan Pandu dan Arika. Kalau dia terlalu mencolok, bisa-bisa bikin gempar jagat persilatan."Fatina mengedikkan bahunya. "Tapi ini Arika. Kalau dia

  • We Are Not Lovers   Belum Pernah Punya Hubungan

    Sedari tadi, Pandu mendengarkan percakapan Dimas dan Arika dari balik pintu ruang kerja gadis itu. Sesekali dia mengumpat saat Dimas malah membuat semua menjadi rumit. Dia juga mengumpati dirinya karena salah memilih utusan untuk menjelaskan bagaimana mekanisme kerja lelaki pada umumnya. Sial, Arika malah semakin ngambek kalau begini.Sejujurnya, Pandu memang tidak ingin mengabaikan Arika tadi pagi. Dia hanya terlalu larut dalam pembicaraan di telepon dengan seorang investor baru dari luar negeri sekaligus teman lamanya. Mungkin yang tidak disadari oleh Arika adalah earbuds yang dipakai oleh lelaki itu. Pandu tidak menyambungkan teleponnya ke benda kecil yang menggelantung di telinga tersebut.Masalah kecil memang bisa jadi runyam seperti ini jika ada kesalahpahaman. Untungnya, Vania tadi meneleponnya dan mengabarkan bahwa Arika ngambek karena tidak disapa. Dia juga disalahkan karena tidak menunggu istrinya untuk berangkat bersama. Nah, masalahnya adalah Arika sendiri yang kemarin bi

  • We Are Not Lovers   Prioritas

    "Aku dengar ada yang kesal karena merasa diabaikan oleh suaminya." Suara itu masuk ke dalam telinga Arika yang sedang fokus di depan komputernya. Tidak menoleh, gadis itu lebih mengutamakan kerjaannya sekarang daripada harus menggubris orang gabut."Sejak kapan kita bicara dengan santai?" tanya Arika dengan sarkas. Yang mengajaknya bicara bukan sahabatnya, Fatina, apalagi Pandu. Itu adalah Dimas, kuasa hukum Pandu."Sebenarnya sejak awal kamu bilang bahwa aku bisa bicara santai saat cuma ada kita berdua, kan?" Dimas malah mengingatkan Arika kepada kejadian saat itu. Kejadiaan saat Arika berantakan dan benar-benar menolak untuk ada di dalam keluarga Baskara. Arika sadar kalau sedang dipojokkan oleh lelaki tersebut. "Terus, meski di kantor sekarang, bisa nih ngomong santai kayak gini?" Arika mengklik tetikus pada tulisan 'save' untuk menyimpan desain rumah yang sedang dia kerjakan. "Enggak takut ditangkap sama Tuan Pandu?" Dia sengaja menekan nada bicaranya saat menyebut nama Pandu.Di

  • We Are Not Lovers   Pandu Yang Dikenal

    Pandangan mata Arika mengekor ke sosok Pandu yang hanya melewati dirinya. Jelas-jelas gadis itu ada di ruang makan yang sama dengan lelaki tersebut. Kalau terlihat buru-buru, sih, Arika bisa maklum. Masalahnya, lelaki itu malah terlihat sedang sangat santai. Tapi kenapa tidak ada kata untuk menyapanya? Pandu menuju pintu utama dan sosoknya menghilang saat pintu itu ditutup. Arika yang tadinya hendak menghentikan langkah Pandu dengan sapaan hangat di pagi hari, malah sekarang membanting pisau roti dari genggamannya. "Ada yang mengganggu, Nyonya?" tanya salah satu pelayan yang sedang bertugas di pagi ini. Arika menggeleng. Tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya apa yang sedng dia rasakan. Bisa jadi bahan tertawaan kalau begitu. "Enggak papa. Tiba-tiba aku males aja buat makan. Mendingan ini dikalian manfaatkan aja deh." Pelayan tersebut dan satu pelayan yang lain saling bertukar pandang, bertanya-tanya tentang maksud Arika. "Kenapa? Kalian tinggal beresi makanan ini dan b

  • We Are Not Lovers   Lelaki Yang Mempunyai Dua Sisi

    Pandu memandang hidangan yang ada di atas meja di hadapannya. Hanya ada satu piring dengan menu pakai sejumput nasi. Sisanya ada bergelas-gelas smoothie. Dia menatap tak percaya ke arah Arika. Gadis itu masih memasang muka betenya. "Wah, ternyata kayak gini caranya kamu ngabisin duit? Kurang enggak, sih?" Pandu mencoba untuk membuka pembicaraan dengan Arika setelah semua pergi dan meninggalkan dirinya dengan gadis itu di balkon. Masalahnya, meski sedang berada di ruangan terbuka, atmosfer sekitar mereka seperti di ruangan pengap tanpa jendela. "Kalau kamu cuma mau mengejekku, mendingan kamu lompat aja lewat pagar itu." Arika menyuap nasinya dan tidak memedulikan ucapan Pandu. Dia anggap saja lelaki itu tidak ada. "Enggak ada kata makasih atau semacamnya, nih?" Pandu masih mencari bahan untuk bisa berbicara dengan leluasa bersama Arika. Sungguh setelah cekcok di ruang baru mereka tadi dan aksi sok tangguh Pandu, rasanya ketika bersama seperti ini adalah berada dalam selimut cang

  • We Are Not Lovers   Saudara atau Hama?

    "Seharusnya kamu bela aku sebagai wanita yang harus dilindungi saat dilecehkan seperti itu." Arika berhadapan dengan Dimas yang tadinya berdiri di lorong. Dimas diam. Percuma saja kalau dia menjawab. Jawabannya pasti salah semua dan dia mendapatkan nilai minus karena nol nilainya lebih besar untuk ukuran seorang wanita yang sedang marah. Dia harus banyak bersabar menghadapi keluarga ini. Bagaimanapun sumber uangnya juga dari mereka. "Aku mau ruangan di pojok sana. Kalau Pandu tidak setuju, bilang saja ke dia kalau bukan aku yang menempatkan diriku sendiri di posisi ini." Arika langsung pergi setelah mengatakan hal itu dengan tegas dan tanpa ada jeda. Dimas hanya mengangguk paham. Tak selang beberapa detik, Pandu keluar dari balik pintu ruangan luas itu. Dimas mengangkat kedua alisnya kepada tuannya. "Anda pasti dengar apa yang barusan diucapkan oleh Nyonya Arika, kan?" Pandu mengangguk. "Lakukan apa yang dia mau. Kasihan juga dari tadi dia harus marah-marah." "Itu juga karen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status