Home / Romansa / When I Me(e)t You / 94 Hukuman untuk Arka

Share

94 Hukuman untuk Arka

Author: Ans18
last update Last Updated: 2025-05-23 22:29:13

“Abang khawatir, Arka,” ucap Caraka akhirnya sebelum ia menarik Arka ke dalam pelukannya. “Abang bener-bener khawatir, lain kali jangan begini lagi.”

Arka hanya bisa mengangguk pasrah dalam pelukan Caraka, walau ia sedikit bingung dengan sikap Caraka yang berlebihan, ia lebih memilih memendam pertanyaannya, karena bagaimana pun juga perhatian Caraka padanya berhasil membuatnya berbunga-bunga.

Setelah Caraka merenggangkan pelukannya, keduanya hanya saling tatap, sampai Caraka kembali memupus jaraknya, kali ini dengan lumatan lembut di bibir istrinya.

“Udah ya, Abang. Impas kan?” Arka menggigit-gigit bibir bawahnya karena khawatir Caraka benar-benar ‘bikin perhitungan’ seperti yang tadi ia ucapkan. Apalagi ancaman Caraka yang akan membuatnya sampai tidak bisa berjalan. Mengerikan! Membayangkannya saja membuat Arka merasakan ngilu.

“Impas gimana?”

“Aku udah bikin Abang khawatir. Udah kubayar barusan kan.”

“Kamu pikir cukup dengan itu? Kan Abang mau bikin kamu nggak bisa jalan.”

Arka lang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • When I Me(e)t You   104 Celah Besar

    “Arka di mana?” tanya Caraka begitu sambungan teleponnya dijawab.Lelaki di seberang sambungan telepon yang bisa menangkap kekhawatiran dari nada bicara Caraka langsung berusaha menenangkan. “Di rumah ibu Pak Caraka. Sejak siang, sampai sekarang masih di sana.”“Di Bogor? Dia nganter adik saya sampe Bogor?”“Iya, Pak.”Caraka sedikit lega walau tetap saja dahinya berkerut karena merasakan keanehan. Kenapa Arka tidak mengatakan kalau ia akan mengantar Oshi sampai Bogor? Bukankah tadi ia meminta Arka untuk mengantar Oshi sampai stasiun terdekat dari lokasi mereka membeli ponsel dan kebutuhan Oshi lainnya? Dan kenapa sekarang malah ponsel Arka tidak aktif? Apa Arka takut dia akan marah?“Dilihat terus ya, tolong kasih kabar ke saya kalau Arka pulang dari rumah ibu saya.”“Baik, Pak.”Caraka yang masih merasa tidak tenang langsung mengubah tujuannya. Semula ia melajukan mobilnya menuju Jakarta, demi bisa makan malam bersama dengan Arka yang seharian nyaris diabaikannya karena masalah long

  • When I Me(e)t You   103 Tragedi Oshi

    “Abang, aku bawa mobil sendiri ya, please! Nanti pulangnya aku langsung ke rumah Papa. Ya?”Caraka berpikir sesaat, ia memang harus site visit ke daerah Serpong karena ada sedikit permasalahan yang tidak bisa diselesaikan manager proyek.“Tenang aja, Bang. Kan kata Abang ada orang suruhan yang disuruh jagain aku dari jauh. Nanti aku sering-sering ngasih kabar ke Abang. Hpku stand by setiap detik untuk Abang,” rayu Arka sambil menggoyang-goyangkan tangan suaminya dan menunjukkan senyumnya, berharap Caraka memberikannya izin untuk sesekali membawa mobil sendiri menuju sekolah.“Kalo kamu nggak bisa dihubungi, Abang kasih hukuman ya!” ancam Caraka.“Iya, Bang.”Arka segera melajukan mobilnya setelah menghabiskan sepanjang pagi untuk merayu Caraka yang akhirnya mengizinkannya untuk berangkat sendiri ke sekolah.Bukannya Arka tidak takut, tapi mengingat ada orang suruhan keluarganya yang menjaganya dari jauh, ia pun bisa sedikit tenang. Lagipula berdasarkan cerita dari suaminya, orang yang

  • When I Me(e)t You   102 Semua Ini tentang Kompromi

    "Iya, Mas. Seharian ini bakal sama Abang kok.”“…”“Bisa tenang aja nggak, Mas? Udah ah, Mas Arga katanya mau ketemu WO, sana. Ntar Kak Lei ngambek loh kalo Mas telat.”“…”“Iya. Salam buat Kak Lei.”“Mas Arga?” tanya Caraka ketika melihat Arka sudah meletakkan ponselnya.“Iya.”“Ngomong apa?”“Sebelas-dua belas kayak omongan Abang. Hati-hati, nggak usah khawatir. Gitu pokoknya. Heran, kalian tuh kompak banget kalo lagi akur, kalo lagi pada meledak emosinya, gampang banget tonjok-tonjokan—”Caraka menarik Arka—yang masih wira-wiri—untuk duduk di pangkuannya. “Jangan ngomel terus. Ini karena kita khawatir sama kamu loh.”“Iya, tau.”“Udah siap-siapnya? Kalo udah siap yang mau dibawa, kita turun bawa barangnya sekalian sarapan, jadi nanti kita nggak perlu balik ke kamar lagi.”“Udah kok. Itu aja. Kan katanya nanti disediain wetsuit di sana.”Keduanya lantas keluar kamar dan tak sengaja bertemu Sydney yang berjalan di belakang seorang lelaki asing.Tanpa perlu diperkenalkan pun, Arka yak

  • When I Me(e)t You   101 Fight Fire with Fire

    Caraka kembali ke kamarnya sekitar pukul tiga sore. Beruntung karena Mister Harry masih merasa kelelahan akibat perjalanan panjangnya, dan meminta acara dipercepat agar ia bisa beristirahat.Ia menghela napas lega karena kali ini istrinya benar-benar menurut. Arka tengah tidur di atas kasur tanpa menggunakan bedcover. Caraka lantas berjalan ke arah dinding di mana remote AC tergantung, 22 derajat, dan Arka mengenakan baju kekurangan bahan saking panasnya cuaca, ditambah dengan posisi tidurnya yang membuat dress-nya tersingkap.Serba salah! Caraka ingin merebahkan diri, tapi pasti tidak akan bisa tidur karena Arka berhasil membuatnya melirik setiap beberapa detik.Setelah berganti dengan kaos yang lebih nyaman, akhirnya, mau tidak mau, Caraka ikut merebahkan diri di atas kasur di mana Arka tertidur tepat di tengah-tengah dan menyisakan seperempat bagian kasur untuknya.Merasakan pergerakan di sampingnya, membuat Arka mengerjap pelan.“Abang? Udah balik?”“Hmm. Udah dari tadi tidurnya?”

  • When I Me(e)t You   100 Ingkar Janji

    Caraka kembali menahan senyumnya setiap ia mengingat peringatan Arka sebelum ia pergi tadi.Astaga! Kenapa sih istrinya itu begitu menggemaskan. Ia sampai harus memaksa Daniel bertukar tempat duduk demi menuruti permintaan Arka, walau sebenarnya Arka tidak bisa melihat posisi duduknya yang sekarang membelakangi Sydney.Sebagai kepala kantor cabang di Indonesia, harusnya Caraka mendapat tempat terbaik yang bisa langsung menghadap kepada Mister Harry, yang artinya juga ia harus menghadap Sydney. Kini ia bergeser ke samping, memberikan kursinya untuk Daniel, demi siapa?"Lo lama-lama kayak orang gila deh, Ka. Senyum-senyum sendiri mulu.""Nanti lo juga begini kalo udah punya istri.""Sialan! Pamer aja terus!"Acara annual meeting itu berlangsung hingga menjelang makan siang. Sydney selaku asisten Mister Harry, mengarahkan semua petinggi kantor cabang untuk menuju restoran yang sudah mereka booked sebelumnya.Saat berjalan menuju restoran, Caraka menyempatkan diri untuk mengirim pesan pad

  • When I Me(e)t You   99 Tidak Mudah Cemburu

    "Panas banget ya, Bang. Perasaan lebih panas dari Jakarta deh.”Keduanya sedang dalam perjalanan kembali ke kota setelah puas menikmati pemandangan di sekitar Danau Tondano. Caraka memang melanjutkan perjalanan ke Danau Tondano setelah dari Danau Linow.Meskipun membutuhkan waktu hampir satu setengah jam perjalanan dari Danau Linow menuju Danau Tondano, tapi ia tidak keberatan, justru ia merasa puas menyaksikan pemandangan yang disajikan, ditambah dengan menatap Arka yang tersenyum sepanjang hari, hatinya menghangat dan harinya terasa lengkap.Tidak ada lagi frasa ‘buang-buang waktu’ yang keluar dari mulutnya, seperti saat dulu ia terjebak kemacetan Jakarta dan Arka malah menolak saat mereka hampir tiba di toko perhiasan.Bukan berarti saat itu ia tidak mencintai Arka, toh Caraka memang sudah menjatuhkan hatinya sejak ia di London, tapi … hati Arka yang saat itu masih untuk Yudha membuat Caraka sering lepas kendali, meledakkan amarahnya sesuka hatinya.“Perasaan kamu yang panas atau c

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status