Beranda / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 1 – Menara di Hutan Kesunyian

Share

Whispers of the Lost Princess
Whispers of the Lost Princess
Penulis: Chouw

Bab 1 – Menara di Hutan Kesunyian

Penulis: Chouw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 21:58:49

❄️❄️❄️

Di tengah hutan yang tak pernah dikenal oleh para pengelana, berdiri sebuah menara batu menjulang, kelabu dan anggun, seakan menyatu dengan pepohonan yang mengelilinginya. Menara itu tidak tampak menyeramkan, tapi juga tidak sepenuhnya ramah; ia seperti bagian dari hutan itu sendiri, diliputi kabut tipis yang tak pernah benar-benar hilang.

Hutan Kesunyian—begitu hutan itu dikenal dalam bisikan-bisikan tua—bukan sekadar hutan biasa. Pepohonannya menjulang terlalu tinggi, daunnya berkilau kehijauan dalam gelap, dan sesekali tampak cahaya samar menari di antara batang-batang besar, seperti bintang yang salah tempat. Burung jarang terdengar di sana, dan bila ada angin bertiup, suaranya terdengar seperti bisikan.

Menara itu menjulang dari dasar bukit kecil, batu-batunya dilapisi lumut dan bunga liar yang berwarna ungu pucat. Dari kejauhan, ia tampak seperti peninggalan zaman kuno, namun di dalamnya, ada kehidupan sederhana.

Di balik jendela bundar paling atas, seorang gadis dengan rambut panjang menjuntai ke lantai duduk bersandar, menatap keluar dengan mata penuh cahaya keingintahuan.

Ayundria.

Rambutnya berkilau bagai benang emas, jatuh begitu panjang hingga menyapu lantai. Ia sering memandang hutan di sekeliling menara itu, seakan berharap ada sesuatu di balik kabut dan pepohonan yang enggan menceritakan rahasia mereka.

Bagi Ayundria, menara itu adalah rumah, sekaligus penjara.

Namun, hari itu, hutan terasa berbeda. Kabutnya lebih pekat, dan udara membawa aroma asing yang tak pernah ia cium sebelumnya. Ia menyipitkan mata, mencoba mencari tahu, tapi Hutan Kesunyian selalu pandai menyembunyikan rahasianya.

“Ayundria.”

Suara itu lembut, tapi tegas. Dari balik pintu kayu bundar yang melengkung sempurna, seorang perempuan masuk, membawa nampan berisi roti hangat dan sup harum.

Lyla. Rambutnya hitam, panjang dan sedikit beruban, terikat rapi di belakang kepala. Matanya menyimpan keteduhan, tapi juga sesuatu yang sulit ditebak—sebuah rahasia yang ia simpan erat. Tangannya cekatan, namun gerakannya selalu berhati-hati, seolah setiap langkahnya harus diperhitungkan.

Ayundria menoleh, senyumnya cerah. “Ibu, hutan hari ini tampak berbeda. Kabutnya… lebih berat. Seakan ada sesuatu di baliknya.”

Lyla meletakkan nampan itu di meja bundar kayu. Tatapannya singgah sebentar ke luar jendela sebelum ia kembali menatap Ayundria. “Hutan selalu berubah. Itulah sifatnya. Jangan terlalu lama menatapnya, Ayundria. Kau bisa tersesat bahkan hanya dengan pandangan.”

“Tersesat?” Ayundria tertawa kecil. “Aku bahkan belum pernah melangkah keluar dari sini.”

Lyla mendekat, merapikan helai rambut Ayundria yang berkilau di bawah cahaya sore. “Dan itu sebabnya kau aman. Dunia luar… penuh bahaya yang tak bisa kau bayangkan.”

Ayundria menunduk sejenak, lalu berkata lirih, “Tapi aku ingin tahu, Ibu. Aku ingin melihat apa yang ada di balik hutan ini.”

Ada keheningan singkat. Tatapan Lyla melembut, tapi ada ketegangan yang tersirat dalam sorot matanya. “Ada saatnya, Ayundria. Tapi belum sekarang.”

❄️❄️❄️

Malam di Hutan Kesunyian berbeda dengan malam di tempat lain. Gelapnya begitu pekat, seolah menelan cahaya bintang sekalipun. Suara burung malam, gesekan ranting, dan bisikan angin kerap bercampur, membentuk harmoni yang aneh—antara menenangkan sekaligus menakutkan.

Ayundria duduk di ambang jendela bundar menara, kedua kakinya menggantung, rambut emas panjangnya mengalir turun sampai menyentuh lantai. Bulan yang samar-samar terselip di balik kabut menyorot wajahnya, membuat matanya yang berwarna biru muda tampak berkilau.

Ia menatap jauh ke arah hutan, matanya penuh tanda tanya. Bagi Ayundria, dunia hanya selebar jendela menara ini. Ia tahu pepohonan, burung, hujan, dan kabut. Tapi ia tak pernah tahu bagaimana rasanya berjalan di jalanan kota, mendengar suara pasar, atau mencicipi makanan selain yang dimasak ibunya.

“Ibu selalu bilang dunia di luar penuh bahaya…” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin. “Tapi bukankah aku tidak tahu apa-apa justru lebih berbahaya?”

Ia berdiri, melangkah ke rak kayu di sudut ruangan, lalu menarik sebuah buku lusuh yang sampulnya hampir terkelupas. Buku itu ia temukan bertahun-tahun lalu, terselip di antara perabot lama di loteng. Tak ada yang tahu asalnya, bahkan Lyla pun tak pernah menyebutkan.

Ayundria membuka halaman yang sudah rapuh. Di dalamnya, ada gambar kota dengan menara-menara menjulang, orang-orang berkerumun di jalan, dan pasar penuh warna. Di bawahnya tertulis satu kata samar:

Aethoria.

“Aethoria…” Ayundria menyebutnya pelan, lidahnya seakan terbata karena kata itu terasa asing namun akrab.

Ia membayangkan berjalan di jalanan kota itu, mendengar teriakan pedagang, dan merasakan sinar matahari langsung di wajahnya tanpa terhalang jendela menara. Bibirnya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca.

Di luar sana, hutan bergeming. Kabut semakin tebal, menutupi pandangan. Tapi jika ada yang jeli, di antara rimbun pepohonan, dua cahaya merah samar tampak menyala. Seperti mata—mata yang memperhatikan dari kejauhan.

Ayundria tak menyadarinya. Ia masih sibuk menatap gambar kota itu, hatinya dipenuhi kerinduan yang tak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.

Tangannya menyentuh kaca jendela, dingin menusuk kulit. “Suatu hari… aku ingin melihat dunia dengan mataku sendiri.”

Angin malam meniup masuk, menggetarkan lilin kecil di meja. Api bergoyang, dan sesaat Ayundria merasa seakan menara berbisik lirih.

Malam semakin larut. Ayundria akhirnya menutup buku tua itu dan meletakkannya kembali di rak kayu. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Namun ada sesuatu yang berbeda malam ini—ia bisa merasakannya.

Biasanya, Hutan Kesunyian akan dipenuhi suara-suara alami: serangga, burung malam, atau ranting patah diterpa angin. Tapi sekarang… hening.

Hening yang terlalu sempurna.

Ayundria merapatkan selendang tipis ke tubuhnya. Ia berdiri kembali di jendela, menatap ke luar. Kabut makin tebal, menutup hampir seluruh hutan. Namun di sela kabut itu, ia merasa melihat sesuatu bergerak. Cepat. Seperti bayangan.

“Ah, mungkin cuma rusa,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri.

Tiba-tiba, BUUM!

Sebuah bunyi keras terdengar dari bawah menara, seolah sesuatu yang berat menghantam tanah. Ayundria terlonjak, jantungnya berdegup kencang. Ia berlari ke arah pintu kayu besar yang menuju balkon kecil.

Di bawah sana, hanya kabut. Namun—kabut itu seakan berputar, membentuk lingkaran samar, dan dari lingkaran itu terdengar suara… seperti desisan napas.

“A… apa itu…?” Ayundria berbisik, suaranya gemetar.

Lilin di dalam kamar padam tiba-tiba. Gelap menyelimuti ruangan, hanya menyisakan cahaya pucat bulan yang menembus kaca patri di jendela. Ayundria mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding.

Lalu ia mendengar sesuatu. Tidak dari luar, tapi dari dalam menara.

Tok… tok… tok… suara langkah kaki, pelan, tapi jelas, bergema dari tangga bawah.

“Ibu?” panggilnya, mencoba meyakinkan diri. Tapi tak ada jawaban.

Ayundria menatap ke arah pintu kayu yang menghubungkan kamarnya dengan tangga. Suara langkah itu berhenti tepat di balik pintu. Sunyi.

Detik berikutnya—CREEEAAK…

Pintu kayu berderit sedikit, meski tak ada tangan yang menyentuhnya.

Ayundria menutup mulutnya, menahan teriak. Matanya melebar.

Brak!

Sekejap kemudian, pintu itu menutup kembali dengan keras, membuat dinding bergetar. Langkah kaki itu lenyap, hilang begitu saja.

Ayundria jatuh terduduk di lantai, tubuhnya gemetar. Ia tak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi satu hal jelas: malam ini bukan malam yang biasa.

Dan dari luar menara, di balik kabut, sepasang mata merah menyala lebih terang, menatap ke arah jendela Ayundria.

Ayundria masih duduk di lantai, napasnya terengah. Ia mencoba berdiri, tapi lututnya gemetar. Dengan tangan bergetar, ia menyalakan kembali lilin yang padam. Api kecil itu menari, memantulkan cahaya lembut ke dinding batu yang dingin.

Namun api itu seperti takut menyala penuh. Lidah apinya menciut, kadang hampir padam, seolah ada sesuatu di udara yang menekannya.

Ayundria menatap lilin itu lama-lama. Perasaannya kacau. “Apa aku berhalusinasi? Atau memang ada sesuatu di luar sana?” gumamnya pelan.

Perlahan, ia melangkah lagi ke jendela. Kabut masih tebal, tapi lingkaran aneh yang tadi berputar kini menghilang. Hanya ada bayangan pepohonan yang samar.

Hening.

Sampai tiba-tiba, ia mendengar suara baru—bukan dari dalam menara, tapi dari luar. Sebuah suara rendah, nyaris berbisik, terhanyut bersama kabut.

“Menara… terlalu rapuh untuk melindungimu.”

Ayundria menegang. Ia menempelkan tubuh ke jendela, mencoba mencari arah suara itu. Tapi yang terlihat hanya kabut.

“Siapa di sana?!” teriaknya, meski suaranya pecah.

Tak ada jawaban. Hanya keheningan.

Ayundria menelan ludah, lalu mundur. Namun saat ia berbalik, ia mendapati sesuatu yang membuatnya terhenti.

Lilin di meja padam lagi—tapi kali ini bukan karena angin. Api kecil itu berubah menjadi kilatan biru, ckrek! menyambar udara sejenak, lalu padam total. Seakan… ada listrik yang mengalir sebentar di udara.

Ayundria membeku. Jantungnya serasa melompat.

Apa itu tadi? Api biru? Petir?

Sekilas, sebelum padam, ia sempat melihat bayangan di dinding—siluet seorang pria tinggi, berdiri tegak dengan tongkat di tangan. Tapi saat ia menoleh, tak ada siapa pun di sana.

Ayundria terhuyung ke belakang, tangannya mencari pegangan di kursi. Nafasnya makin cepat.

“Tidak mungkin… aku pasti sedang bermimpi.”

Namun di dalam hatinya, ia tahu: itu bukan mimpi.

Itu adalah pertanda.

Dan entah siapa sosok yang tersembunyi dalam kabut itu, satu hal pasti—malam ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 61 — Wajah Di Balik Topeng

    Malam turun perlahan, menggantungkan cahaya bulan pucat di atas padang tandus. Api unggun menyala redup, tak lagi memberi rasa hangat, hanya cahaya samar yang mengusir kegelapan. Mereka duduk melingkar. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk menenangkan hati masing-masing setelah hari panjang yang dipenuhi luka. Torren mengasah kapaknya dengan gerakan lambat, suara gesekannya justru terdengar seperti bisikan, menyayat kesunyian. Kaelith menatap ke langit, matanya seperti mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan. Seraphine sibuk menuliskan sesuatu di gulungan kecil, tangannya bergetar, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah mantra agar dirinya tidak runtuh. Eldric, berbeda dari mereka, duduk sedikit menjauh, menatap api dengan mata yang seakan tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Dan di sisi lain, Ayundria duduk terdiam. Rambut putihnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah di sana masih terasa dingin dari sentuhan mata purba yang m

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 60 — Gema Takdir yang Ditunda

    Langit Aethoria retak. Suara gemuruh aneh merambat di udara, memantul di menara, membangunkan kota dari tidurnya. Burung-burung sihir yang biasa berputar di menara-menara keemasan jatuh ke tanah, sayap mereka terbakar oleh cahaya merah samar yang entah dari mana datangnya. Di ruang pertemuan tertinggi, Dewan Tetua Aethoria terkumpul tergesa-gesa. Para arkanis agung, jubah mereka berpendar dengan simbol rune yang bergerak liar, seolah dunia sendiri kehilangan keseimbangannya. “Ini bukan hanya retakan di Arkai,” ujar salah satu tetua dengan suara parau. “Ini gema yang menembus lapisan dunia.” “Menembus?” potong yang lain dengan nada marah. “Apa maksudmu, pintu itu sudah mulai terbuka?” Mereka saling pandang. Sunyi. Hanya dengungan kristal yang mengapung di tengah ruangan, menampilkan bayangan mengerikan, sebuah mata raksasa merah yang semalam menatap Arkai, kini tampak samar pula di langit Aethoria. Beberapa anggota dewan terjatuh berlutut, menutup wajah dengan tangan. Yang lain be

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 59 — Melawan Diri Sendiri

    Langit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuatu. Kau merasakannya?” bisiknya, menoleh pada Seraphine. Seraphine mengangguk, wajahnya tegang. “Tidak hanya merasakan. Obelisk itu sedang memanggil.” Retakan di sekitar obelisk tiba-tiba menghitam, seperti tinta yang ditumpahkan ke atas batu. Dari celah-celah itu, asap kelam merembes keluar, melingkar-lingkar di udara sebelum menyatu menjadi siluet samar. Perlahan, bentuk itu menegas, menjelma sosok tinggi, kurus, matanya menyala redup, seolah dua bara yang hampir padam namun menatap jauh ke dalam jiwa mereka. Torren menggenggam kapaknya lebih erat, menahan gemetar. “Astaga! Itu bukan makhluk biasa.” Bill melangkah setengah ke depan, meski jelas tubuhnya masih lelah. “Bukan juga makhluk

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 58 — Bayangan Masa Lalu

    Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 57 — Api Unggun dan Jalan Menuju Gerbang

    Malam itu, setelah tubuh mereka dibalut ramuan dan mantra, kamp terasa lebih tenang. Api unggun kecil menyala, berbeda jauh dari api biru yang sempat padam saat malam serangan. Api ini biasa saja, tapi justru terasa lebih hangat dan manusiawi. Ayundria duduk di sisi api unggun, rambut putihnya tergerai acak, cahaya oranye membuatnya tampak lembut, meski bayangan di wajahnya tetap menyimpan lelah. Tangannya menggenggam kain bersih yang sudah basah dengan ramuan penyembuh. Bill duduk di seberang, punggungnya membungkuk, bajunya sudah setengah terbuka. Luka di bahu dan dadanya masih berdenyut, hitam di beberapa bagian bekas ia menyerap uap beracun semalam. Ia menyeringai kecil meski wajahnya pucat. “Kalau kau ragu-ragu begitu, Ayundria, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan… yah, paling tidak sedikit humor. Tapi mungkin lukaku malah makin parah.” Ayundria menatapnya tajam, tapi matanya berkaca-kaca. “Kau ini, bahkan saat hampir mati, masih bisa bercanda.” Ia menempelkan kain o

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 56 — Pertempuran dengan Bayangan

    Pecahan kaca runtuh, melahirkan musuh yang paling ditakuti, yaitu diri sendiri. Bayangan itu bukan sekadar tiruan, mereka adalah ketakutan, penyesalan, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.Kaelith terpaku pada versi dirinya yang lemah, kurus, tubuhnya terikat rantai gelap. Bayangan itu berbisik dengan suara serak, “Kau tak pernah benar-benar bebas. Kau hanya boneka. Selamanya kau akan selalu menjadi boneka.”Seraphine menjerit ketika melihat bayangannya menginjak tubuh teman-temannya, matanya dingin tanpa belas kasih. Bayangan itu tertawa, “Kau selalu berpikir untuk menyelamatkan dunia?” bayangannya mendengus, “Kau bahkan tak bisa menyelamatkan satu orang pun.”Torren menghadapi versi dirinya tanpa senjata, tangan kosong yang terus mundur, penuh rasa takut. Bayangan itu melolong, “Tanpa kapakmu, kau bukan apa-apa! Kau hanyalah anak ketakutan yang bersembunyi di balik baja!”Bill menegakkan tubuhnya, berhadapan dengan bayangan kegelapan yang masih menyeringai. Kali ini, senyum B

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status