author-banner
Chouw
Chouw
Author

Romane von Chouw

Mandat Langit

Mandat Langit

Fantasi TimurPetualanganMisteriKesatriaBeraniKerajaanLegendaBudaya Timur
Di Istana Kekaisaran, pedang dapat membunuh satu orang. Namun sebuah catatan dapat membunuh seribu. Shen Yu hanyalah juru tulis rendah di Kompleks Arsip. Ia tidak punya keluarga besar, tidak punya ilmu pedang, dan tidak punya ambisi selain bertahan hidup. Namun sebuah peti rahasia dari Paviliun Utara menyeretnya ke dalam pusaran yang tidak pernah ia minta. Di dalamnya tertulis perintah kekaisaran dari Tahun Kekosongan Tahta—tahun yang seharusnya tak memiliki cap, tak memiliki nama, dan tak memiliki kehendak. Sejak malam itu, Shen Yu diburu bukan karena dosanya, melainkan karena sesuatu yang ia lihat dan sesuatu yang ia ketahui. Di antara tinta dan pedang, di antara istana dan dunia jianghu, ia harus memilih, tetap menjadi orang kecil yang diam atau menjadi saksi hidup dari rahasia paling berbahaya di bawah langit.
Lesen
Chapter: Bab 29 — Ultimatum di Atas Kabut
Kabut Yunling belum sepenuhnya terangkat ketika halaman sekte sudah dipenuhi kesibukan. Murid-murid yang semalam berjaga kini berganti giliran, sebagian mengganti obor, sebagian menurunkan ember, sebagian membersihkan darah dari lantai Paviliun Pengawas seolah itu noda memalukan dan harus segera dihilangkan. Namun noda itu tidak bisa dibersihkan. Karena darah semalam bukan darah perkelahian biasa. Itu darah yang menandai bahwa istana telah masuk kedalam sekte. Burung Hitam yang tertangkap dibawa ke ruang bawah Aula Pedang. Tidak diumumkan ke semua murid, tapi desas-desus penangkapannya telah menyebar lebih cepat daripada kabut gunung. Aku duduk di Paviliun Pengawas dengan tangan yang terasa dingin. Aku tidak bisa menghapus gambar itu: sosok hitam mendarat di belakangku, tangan yang menyentuh leherku, nafasku putus-putus, dan pelita yang terjatuh. Aku menatap kertas yang semalam ku tulis. Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang orang yang ditakdirkan untuk menulis, bukan u
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-13
Chapter: Bab 28 — Malam Kedua, Bayangan Pertama
Setelah sidang tinta itu, Yunling tampak tenang dari luar. Zhou Yan menurunkan nada bicaranya, memuji “kebijaksanaan sekte”. Ia berkata pemeriksaan akan dilakukan dengan mengikuti tata tertib. Ia bahkan tertawa kecil seolah semua ketegangan tadi hanya kesalahpahaman yang terlalu tajam. Namun aku pernah hidup di istana. Aku tahu seperti apa wajah ketika seseorang tersenyum ketika sudah memutuskan untuk membunuh. Hari menjelang sore dengan pemeriksaan yang berputar-putar. Zhou Yan meminta melihat reruntuhan ruang catatan. Ia menanyai murid-murid yang berjaga saat malam kebakaran terjadi. Ia meminta daftar patroli. Ia menulis banyak hal di buku catatannya, tapi aku tidak percaya satu pun dari pertanyaannya itu. Aku tidak lagi melihatnya sebagai pejabat. Aku melihatnya sebagai pedang di balik jubah, yang kapan saja bisa menghunus saat lawannya lengah. Sore itu tetua memanggil Lin Suyin dan beberapa Penjaga Dalam. Aku tidak diizinkan masuk, tapi aku melihat mereka berkumpul di Aul
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-13
Chapter: Bab 27 — Tinta di Aula Pedang
Aula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-15
Chapter: Bab 26 — Pemeriksaan yang Menggigit
Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-09
Chapter: Bab 25 — Utusan di Kaki Gunung
Pagi itu, kabut Yunling belum sempat hilang ketika lonceng gerbang berbunyi tiga kali. Bunyinya berat, tidak seperti lonceng latihan, tidak seperti lonceng makan. Ini lonceng yang dipukul ketika tamu datang atau musuh datang memakai nama tamu. Para murid sekte segera berkumpul di halaman depan. Barisan mereka rapi, jubah putih kebiruan berkibar pelan dalam angin gunung. Pedang mereka tidak semuanya terhunus, tetapi tangan hampir selalu dekat gagang—sebuah tanda yang jelas bagi siapa pun yang datang: kami menerima kalian dengan sopan, tapi kami siap menebas jika kalian bertindak macam-macam. Aku berdiri di belakang barisan bersama Lin Suyin. Atas perintah tetua, aku memakai jubah sekte sederhana—tanpa lambang, tanpa sabuk murid inti. Rambutku diikat rapi, ekspresi wajah ku buat setenang mungkin. Aku tidak tampak seperti juru tulis istana. Aku tampak seperti murid sekte biasa yang bisa hilang di antara barisan para murid sekte. Tapi aku tahu Burung Hitam tidak mencari lewat pakaia
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-06
Chapter: Bab 24 — Saksi di Bawah Langit
Kami kembali ke Yunling sebelum fajar. Langit masih gelap, tapi kabut mulai tipis di puncak gunung. Api ruang catatan sudah padam, hanya tersisa asap tipis dan bau arang. Beberapa murid tergeletak kelelahan di halaman, pakaian mereka basah oleh air ember dan keringat. Yang lain berdiri berjaga dengan mata merah dan tangan menggenggam pedang. Sekte ini sudah tidak tidur. Dan sekte yang tidak tidur adalah sekte yang menunggu perang. Mayat Qin Wen tidak kami bawa ke aula. Tetua Hitam memerintahkan Penjaga Dalam mengurusnya, dan itu artinya tidak akan ada upacara melepas jiwa. Tidak akan ada tangisan. Yunling tidak akan menyimpan nama pengkhianat di tanahnya. Aku berjalan di samping Lin Suyin menuju Aula Pedang, lututku masih gemetar. Rasanya seperti seluruh tubuhku dipenuhi sisa suara—pedang beradu, jarum terbang, dan kalimat Qin Wen sebelum mati. Tanpa segel itu, Yunling akan dituduh mencurinya. Aku menelan ludah. Bahkan saat pengkhianat itu mati, ia masih sempat menancapkan dur
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-02
Whispers of the Lost Princess

Whispers of the Lost Princess

PetualanganDunia SihirPenyihirActionIdentitas TersembunyiPewarisKerajaanMelawan TakdirLegenda
Di sebuah dunia di mana cahaya dan kegelapan berperang tanpa henti, lahirlah seorang gadis dengan takdir yang tidak pernah ia pilih. Terasing, terikat pada rahasia yang bahkan ia sendiri tak pahami, Ayundria harus melangkah ke dalam pusaran perang, sihir, dan pengkhianatan. Bisikan dari masa lalu memanggilnya. Mahkota yang hilang menantinya. Namun setiap langkah mendekatkannya pada kenyataan pahit: untuk menyelamatkan dunia, ia mungkin harus menghancurkannya. Dunia hanya punya dua pilihan: hidup bersamanya atau binasa karenanya.
Lesen
Chapter: Epilog — Bisikan Putri yang Hilang
Aethoria kembali bernapas. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, langit tidak retak, tidak merah, tidak bergemuruh oleh raungan purba. Aurora yang dulu penuh amarah kini menari lembut, biru dan hijau, seolah menyapu luka yang ditinggalkan. Di istana yang runtuh setengahnya, para tetua dewan berdiri dalam kebisuan. Mereka menyaksikan retakan besar yang dulu membelah cakrawala kini tertutup oleh cahaya biru yang lembut. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka tahu, harga dari semua ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka gantikan. Di desa-desa, orang-orang yang selamat menatap langit dengan air mata. Anak-anak yang dulu gemetar ketakutan kini berani berlari lagi, memegang tangan orang tua mereka. Dunia masih hancur, tapi dunia juga selamat. Di Arkai Bawah, tepat di tengah reruntuhan obelisk, sebuah cahaya kecil berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang tidak pernah mati. Tidak ada tubuh, tidak ada sosok, hanya cahaya. Namun setiap kali angin berhembus melewati rer
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-26
Chapter: Bab 73 — Penjaga Abadi
Sunyi. Tidak ada lagi raungan kosmik, tidak ada lagi dentuman retakan, dan yang paling menyedihkan, tidak ada lagi Bill di sisinya. Ayundria berdiri di tengah puing-puing Arkai Bawah, tubuhnya berlumuran darah dan debu, napasnya tersengal. Di sekelilingnya hanya ada reruntuhan obelisk, cahaya yang padam, dan sisa energi Bill yang masih bergetar samar di udara, seperti kilatan petir yang belum mau hilang. Di ujung sana, Seraphine sudah lama hilang. Kini, Bill pun ikut bersamanya. Ayundria memegang dada kirinya, seolah hendak memastikan jantungnya masih berdetak. Ia ingin menangis, tapi air mata sudah kering. Yang tersisa hanya perih yang menusuk hingga ke tulang. “Kenapa selalu mereka? Kenapa bukan aku?” bisiknya serak, hampir tak terdengar. Tapi suaranya langsung terpantul dari kegelapan, seolah dunia sendiri menjawab dengan kejam. “Karena kau kunci, Ayundria.” Ia menggenggam tanah yang hancur, jemarinya berdarah. Dalam diamnya, ia tahu satu hal bahwa semua pengorbanan itu akan
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-26
Chapter: Bab 72 — Pengorbanan Terakhir
Hening. Kosmos seakan menguap, hanya meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi debu cahaya dan pecahan obelisk yang melayang-layang. Arkai yang dulu megah kini hanya bayangan patah, gunung-gunung runtuh jadi abu, sungai-sungai hilang, dan tanah bergema dengan jeritan jiwa yang tertinggal. Ayundria berdiri terhuyung, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tangannya gemetar. Sisa es yang masih menempel di ujung jarinya retak perlahan, seakan tubuhnya menyerah untuk terus bertahan. Bill berdiri di sampingnya. Dadanya naik-turun kasar, pakaian compang-camping, darah mengalir deras dari bahunya. Namun matanya tetap menyala, keras kepala seperti baja. “Retakan itu masih ada.” suaranya parau, tapi penuh tekad. Mereka menoleh, dan di hadapan mereka, retakan kosmik masih terbuka. Lebih kecil, tapi berdenyut berbahaya. Seperti luka yang enggan sembuh. Dari celah itu, cahaya dan kegelapan bercampur, berputar, seolah ada sesuatu yang menunggu untuk keluar. Bayangan Archon sempat muncul sekilas,
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-25
Chapter: Bab 71 — Dua Jiwa yang Tersisa
Keheningan merayapi gua setelah cahaya emas Seraphine padam. Retakan masih berdentum samar, tapi suaranya seperti jauh, seakan ikut merunduk oleh pengorbanan yang baru terjadi. Ayundria terduduk, bahunya bergetar. Air mata terus jatuh, menodai lantai batu yang dingin. Jemarinya masih terulur, seolah berusaha meraih cahaya yang sudah tidak ada. “Dia… dia seharusnya tidak…” Bill berdiri terpaku. Matanya kosong, wajahnya kaku, hanya sedikit gemetar di rahang. Api yang biasanya selalu menyala di dirinya kini padam. Ia menggenggam pedang patahnya, menekan erat hingga darah menetes dari genggamannya. “Kenapa selalu begitu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Satu per satu, mereka jatuh. Dan aku—aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.” Lalu di udara, sesuatu bergetar, seperti nada harpa yang dimainkan sekali lalu menghilang. Cahaya samar muncul, gema dari jiwa Seraphine yang belum sepenuhnya hilang. Ayundria menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Seraphine?” Senyum samar
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-24
Chapter: Bab 70 — Rantai Jiwa
Langit Arkai yang retak pecah serentak, seperti kaca raksasa yang dilemparkan palu dewa. Suara gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi juga terasa di dalam tulang. Cahaya merah menyembur keluar, membanjiri dunia bawah dengan semburat seperti darah yang tumpah. Dari celah itu, muncul sesuatu perlahan, berat, seakan setiap langkahnya menghancurkan fondasi dunia. Penjaga Segel Terakhir. Tubuhnya lebih tinggi dari menara Aethoria, kulitnya terbuat dari lempengan obsidian yang terus berganti bentuk, seperti gunung yang hidup. Di dadanya, sebuah lubang menganga, yang di dalamnya terlihat pusaran bintang mati, inti kosong yang berdenyut dengan cahaya ungu. Di punggungnya, enam tangan bayangan keluar-masuk, seakan realitas tidak mampu memutuskan berapa jumlahnya. Dan wajahnya tidak ada, hanya topeng datar, putih, dengan satu garis retakan di tengah, yang setiap detik bertambah panjang. “KUNCI… PINTU HARUS TERTUTUP.” Gelombang energi memukul gua, membuat batu-batu beterbangan, memaksa Ayu
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-23
Chapter: Bab 69 — Nyanyian Akhir
Asap masih menggantung di udara gua purba. Bau darah dan besi menempel di setiap tarikan napas. Reruntuhan batu memanas perlahan, diterangi cahaya samar dari retakan segel yang kini bercahaya merah. Ayundria berlutut, tangannya berlumuran debu dan darah. Ia tidak tahu mana milik dirinya dan mana milik orang lain. Di sebelahnya, Bill terengah-engah, satu tangannya menekan luka besar di bahu, satu lagi menggenggam pedangnya yang bergetar. Tak ada kata. Hanya tatapan kosong Seraphine yang penuh air mata. Torren yang sudah tidak bangun lagi, Kaelith yang tubuhnya perlahan larut dalam bayangan, dan Eldric yang tongkatnya retak di tengah, seolah ikut menyerah bersama pemiliknya. Namun bahkan di tengah kepedihan itu, mereka tahu tak ada waktu untuk meratap. Dunia tidak menunggu untuk sekedar menangisi kematian. Bill memaksa dirinya tertawa kecil, tapi suaranya malah terdengar seperti ratapan. “Yah… aku rasa pesta ini lebih brutal dari yang kuundang.” Tidak ada yang menjawab. Tapi justru
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-21
Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

Cinta yang ManisDewasaDramaJandaPria DominanKuatCinta TerlarangHaremCinta Segitiga
Dihukum ke Desa? Rama benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan orangtuanya yang menghukumnya untuk tinggal di desa bersama neneknya. Hanya gara-gara skandal perkelahian dengan anak dari salah satu pejabat di kotanya, Rama dengan berat hati harus meninggalkan kehidupan mewahnya dan tinggal di desa sebagai petani. Awalnya, ia merasa seperti sedang dihukum mati. Tapi setelah ia bertemu dengan janda yang dikenal sebagai janda kembang desa, kehidupannya kembali berubah. Apakah Rama mampu menjalani hari-harinya yang terasa berat sekaligus penuh godaan?
Lesen
Chapter: Bab 15
Setelah selesai makan, Sinta berdiri lebih dulu. Ia mengangkat piring-piring dengan gerakan yang rapi, tapi Rama bisa melihat jari-jarinya sedikit gemetar. Wanita itu tidak berbicara apa-apa, tapi keheningan yang ditinggalkannya terasa lebih berat daripada omelan. Rina ikut membawa piring ke dapur, tapi sebelum membuntuti kakaknya, gadis itu menyempatkan diri untuk mengedipkan sebelah matanya pada Rama. Kini Rama sendirian di ruang makan. Ia menghela napas panjang, mengusap wajah dengan kedua tangan. Tubuhnya masih terasa panas. Setiap kali mengingat sentuhan Rina yang begitu menggoda imannya, sesuatu di bawah sana langsung bereaksi. Tapi anehnya, yang paling mengganggu pikirannya sekarang bukan Rina, melainkan Sinta. Cara wanita itu menatapnya selama makan. Cara ia pura-pura tenang padahal rahangnya mengeras setiap kali Rina melirik ke arahnya. Dan yang paling jelas, rasa cemburu yang tidak bisa disembunyikan Sinta tergambar jelas dimatanya. Rama berdiri, bermaksud ke kamar man
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-26
Chapter: Bab 14
Rama belum sempat menjawab tapi Rina sudah menggeser tubuhnya lebih dekat. Semakin menempelkan dadanya, dan menggeseknya pelan di lengan pemuda itu.Rama mendesah pelan, napasnya semakin berat. Ia bisa merasakan gesekan lembut dari sesuatu yang empuk itu membelai otot lengannya yang tegang. Aroma stoberi yang manis tapi memabukkan dari tubuh gadis itu tercium jelas di hidung Rama, membuatnya semakin sulit mengendalikan diri."Uhh..." Rama memejamkan mata ketika tangan kecil yang halus gadis itu naik perlahan ke perutnya, jari-jarinya yang lentik menyusuri garis otot di bawah kaosnya yang kotor oleh debu."Di kota, cowok kayak Mas Rama banyak gak?" ulang Rina. Ia tersenyum nakal kala melihat reaksi pemuda itu.“Banyak… tapi gak sebanyak yang kamu bayangin,” jawab Rama, suaranya sudah agak serak. Ia mencoba duduk lebih tegak, tapi Rina justru mengikuti gerakannya.Gadis itu memiringkan kepala, sedikit membasahi bibirnya dengan gerakan sensual. "Ya... tapi kayaknya gak se-hot Mas Rama.
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-26
Chapter: Bab 13
Rama menaikan sebelah alisnya, "Emang kenapa kalau ada mereka?" Ia menatap Sinta dengan senyum nakal, memainkan kedua alisnya. "Yang semalem belum selesai, Mbak. Kapan mau dilanjut?" bisiknya tepat di telinga Sinta.Mendengarnya sontak saja membuat wajah Sinta langsung memerah. Ia memalingkan muka, berusaha menjauhkan dirinya dari Rama. Tapi pemuda itu menahan tangannya."Kamu lucu kalo lagi salting. Mukanya merah," ledek Rama yang semakin gencar menggoda Sinta."Apa sih, Mas." Sinta berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kamu jangan ungkit-ungkit masalah itu didepan mereka, Mas. Aku malu." Rama terkekeh geli melihat tingkah Sinta yang kini seperti malu-malu padanya. Padahal dulu, wanita itu yang selalu menggodanya."Kak, aku ke kamar dulu ya. Masih banyak yang harus aku siapkan buat melamar kerja," pamit Lina yang langsung bergegas menuju kamarnya.Rama menatap punggung Lina, kedua alisnya bertaut. Meski tidak semontok Sinta, gadis itu tetap memiliki tubuh yang pulen. Bo
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-25
Chapter: Bab 12
Suasana perlahan hening kembali. Debu yang tadi beterbangan di halaman rumah perlahan turun, para tetangga yang menyaksikan keributan itupun perlahan bubar meski banyak diantara mereka yang masih berbisik-bisik.Rama berdiri terpaku sejenak, napasnya memburu, dan tangannya sedikit gemetar karena adrenalin yang meluap-luap.Ia menatap punggung mobil Dewi yang lenyap di tikungan jalan, baru kemudian menyadari rasa perih yang berdenyut-denyut di pipi dan bahunya.Namun saat ia menoleh, semua rasa sakit itu seakan hilang begitu saja saat bertatapan dengan mata Sinta.Wanita itu masih berdiri kaku, tangannya meremas ujung bajunya yang kusut, sementara kedua adiknya menyembunyikan wajah di punggung kakaknya, sesekali melirik Rama penuh kekaguman yang tak bisa disembunyikan."Masuk dulu, Mas... lukanya biar aku obati," suara Sinta terdengar lirih namun tegas, memecah keheningan.Tangannya terulur menyentuh lengan Rama. Sentuhan yang terasa begitu lembut, hangat, seolah ada aliran listrik hal
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-25
Chapter: Bab 11
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sinta, tubuhnya bergetar hebat hingga bahunya ikut berguncang. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini mulai menetes perlahan membasahi pipinya yang kemerahan.Rama hanya bisa terpaku menatapnya, hatinya terasa diremas kuat. Padahal ia baru mengenal wanita ini kemarin sore, namun melihat ketakutan yang begitu nyata di mata indah itu, rasanya ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa tinggal diam.Belum sempat Rama bertanya lebih lanjut, suara mesin kendaraan menderu keras mendekat, disusul suara decit ban yang mengerikan. Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Sinta.Saat pintu mobil terbuka, turun empat orang laki-laki bertubuh besar dengan wajah garang, penuh tato di sekujur tubuhnya, memandang sekeliling dengan tatapan merendahkan. Namun mata Rama langsung tertuju pada sosok wanita yang turun paling akhir. Wanita itu bukanlah wanita tua yang keriput seperti dugaan Rama. Ia masih tergolong muda, cantik, bahkan bisa d
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-24
Chapter: Bab 10
Rama masih menatap jari manisnya tak percaya. Rasa lelah yang sedari tadi merayap di sekujur tubuhnya, seolah disapu bersih oleh kehangatan aneh yang menjalar dari cincin itu. Peluh di dahinya terasa kering perlahan, otot-otot yang tadinya pegal karena mengangkat barang berat kini terasa lebih ringan dan kuat. Bahkan pandangannya terasa lebih tajam, napasnya lebih teratur, dan entah kenapa rasa percaya diri yang besar tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia menggerakkan jari-jarinya. Cincin itu berkilau samar diterpa cahaya matahari yang masuk lewat celah atap gudang. "Cincin apa ya ini? Aneh banget rasanya," gumamnya pelan. Ia tersenyum miring. "Tapi gak papa deh, mungkin Nenek lupa atau emang sengaja di buang. Yang penting sekarang cincin ini punya gue." Rama kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi kali ini semuanya terasa berbeda. Tumpukan kayu yang tadi berat saat ia angkat, kini terasa ringan seolah hanya mengangkat bantal. Debu yang tadinya membuatnya sesak napas, tak lagi menjadi
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-23
Das könnte dir auch gefallen
Inheritance
Inheritance
Fantasi · MerryZumer
23.7K Aufrufe
Legenda Kultivator Abadi
Legenda Kultivator Abadi
Fantasi · Bad_Romance
23.4K Aufrufe
Terpaksa Jadi Karakter Utama
Terpaksa Jadi Karakter Utama
Fantasi · Herolich
23.1K Aufrufe
Pewaris Tahta Pedang Ashura
Pewaris Tahta Pedang Ashura
Fantasi · Imgnmln
22.7K Aufrufe
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status