author-banner
Chouw
Chouw
Author

Novels by Chouw

Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

Dihukum ke Pelukan Kembang Desa

Dihukum ke Desa? Rama benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan orangtuanya yang menghukumnya untuk tinggal di desa bersama neneknya. Hanya gara-gara skandal perkelahian dengan anak dari salah satu pejabat di kotanya, Rama dengan berat hati harus meninggalkan kehidupan mewahnya dan tinggal di desa sebagai petani. Awalnya, ia merasa seperti sedang dihukum mati. Tapi setelah ia bertemu dengan janda yang dikenal sebagai janda kembang desa, kehidupannya kembali berubah. Apakah Rama mampu menjalani hari-harinya yang terasa berat sekaligus penuh godaan?
Read
Chapter: BAB 37
Sejak kejadian di sudut kebun itu, ada yang berubah dari cara Pak Karman memperlakukan Rama. Bukan berubah jadi dingin atau menjauh, justru sebaliknya bapak tua itu jadi jauh lebih perhatian, bahkan menurut Rama hampir berlebihan. "Mas Rama, udah capek? Istirahat dulu gih, di sana ada kelapa muda," ujar Pak Karman pagi itu, buru-buru menyodorkan gelas berisi air kelapa segar bahkan sebelum Rama sempat mengeluh kehausan. Rama menerimanya dengan senyum polos, seolah tidak menyadari kalau perlakuan istimewa ini muncul tepat sehari setelah insiden di sudut kebun. "Wah, makasih, Pak. Pak Karman baik banget deh emang." "Ya... namanya juga pekerja rajin, harus dihargai," jawab Pak Karman gelagapan, matanya menghindar dari tatapan Rama. Rama menyesap air kelapanya pelan-pelan, menikmati momen di mana Pak Karman berdiri kikuk di depannya, tidak tahu harus bicara apa lagi. Sebenarnya, ada seribu pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Soal kemarin, soal Mbak Jun, soal yang terjadi di sudut keb
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: BAB 36
Tiga hari sudah Rama bekerja di kebun Pak Karman. Tangannya mulai terbiasa memegang golok, punggungnya juga sudah tidak sakit dan pegal seperti hari pertama. Bahkan kulitnya yang dulu putih pucat khas anak kota kini mulai kecoklatan terbakar matahari, membuatnya terlihat lebih kekar dari biasanya. Pagi itu, Pak Karman menyuruhnya menyortir tandan-tandan pisang yang sudah dipanen kemarin, memisahkan yang bagus untuk dijual ke pasar dan yang agak lecet untuk dijual murah ke pengepul. Pekerjaan itu cukup memakan waktu, membuat Rama harus mondar-mandir dari gudang ke tumpukan pisang yang letaknya cukup jauh, tak jauh dari sudut kebun yang kemarin diperingatkan Pak Karman. "Pak Karman ke mana sih? Dari tadi gak keliatan batang hidungnya. Udah capek banget nih gue," keluh Rama sambil mengelap keringat di dahinya. Biasanya bapak tua itu selalu ikut membantu, tapi sejak setengah jam lalu ia menghilang begitu saja tanpa pamit. Rama celingukan, mencari sosok Pak Karman di antara deretan poho
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: BAB 35
Pagi berikutnya, Rama sudah bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena rajin, tapi karena semalaman ia sibuk menghitung-hitung di kepalanya. Kalau saja ia bisa kerja beberapa jam sehari di kebun Pak Karman, paling tidak dalam seminggu atau dua minggu ia sudah punya cukup uang buat beli ponsel bekas di pasar kecamatan. Ia melangkah keluar rumah sebelum Nenek Ratna sempat menyuruhnya macam-macam, lalu berjalan menyusuri jalan setapak menuju kebun pisang yang kini terasa familiar baginya meski karena alasan yang agak memalukan untuk diakui. Pak Karman sudah ada di sana, sedang memeriksa satu-persatu pohon pisangnya sambil sesekali menepuk-nepuk batangnya seperti sedang menyapa teman lama. "Pak Karman!" panggil Rama dari kejauhan. Pak Karman menoleh, lalu tersenyum lebar begitu melihat siapa yang datang. "Lah, Mas Rama. Mau lari pagi lagi apa mau berjemur lagi di kebun saya?" godanya sambil terkekeh. Rama nyengir kikuk. Bapak satu ini ternyata masih ingat alasan konyolnya kemarin.
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 34
"Mas Rama? Lagi ngapain, Mas?" Rama sontak saja menegakkan tubuhnya, ia terkejut bukan main saat melihat keberadaan Pak Karman yang tiba-tiba muncul di belakangnya. "Dia liat gue gak ya tadi? Mampus dah gue kalo dia sampai liat gue sama Mbak Jun di sini," batin Rama. Sedangkan Pak Karman masih berdiri menatap Rama dengan bingung. Sedang apa pemuda itu di kebun pisang miliknya? Apa dia mau mencuri pisang? "Eh, Pak. Anu, saya lagi berjemur," jawab Rama sambil menggaruk belakang kepalanya.Pak Karman mengernyitkan keningnya, "Berjemur? Di kebun saya? Orang-orang mah berjemur di lapangan toh, Mas."Pak Karman menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Jujur, ia benar-benar bingung dengan kelakuan anak muda zaman sekarang. Ada-ada saja tingkah lakunya yang jauh berbeda dengan anak muda di zamannya."Oh, ini kebunnya Pak Karman?" Rama menganggukkan kepalanya. "Sialan banget tuh tukang jamu. Bisa-bisanya dia bawa gue ke kebun Pak Karman.""Saya tadi habis lari pagi, Pak. Capek juga kelili
Last Updated: 2026-09-12
Chapter: Bab 33
Rama masih memegang pergelangan tangan Mbak Jun. Tapi tarikannya mulai melemah. Hampir tidak ada kekuatan untuk menghentikan aksi wanita itu. Jari-jari wanita itu tetap menekan di atas celananya, merasakan denyutan yang semakin kencang.Mbak Jun tersenyum lebar. Ia tahu pemuda di hadapannya itu sudah goyah.“Lepas, Mas ganteng…” bisiknya pelan, hampir seperti membujuk anak kecil. “Biar Mbak Jun yang urus semuanya, kamu cukup duduk manis aja.”Rama tidak melepaskan tangannya, tapi juga tidak menyingkirkan tangan wanita itu. Mbak Jun memanfaatkan keraguan itu. Ia memutar pergelangan tangannya pelan hingga telapak tangannya menghadap ke bawah, lalu menekan lebih tegas tepat di bagian yang sudah menegang.Rama menarik napas tajam. Rahangnya mengeras. “Mbak… cukup.”“Belum cukup, ah! Masa segini doang?” jawab Mbak Jun tanpa ragu. “Baru di luar saja sudah sekeras ini. Gimana kalau udah di dalam…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Hanya tertawa pelan sambil menggesekkan telapak tangannya na
Last Updated: 2026-08-24
Chapter: Bab 32
Rama mengikuti langkah Mbak Jun masuk ke dalam deretan pohon pisang yang berdiri rapat. Tempat itu cukup tersembunyi dari jalan utama. Tanahnya agak rata, ditutupi rumput liar yang masih basah oleh embun.Beberapa batu besar tergeletak di bawah naungan daun pisang yang lebar, menciptakan bayangan teduh meski matahari sudah agak tinggi. Bau tanah basah, getah pisang, dan sedikit aroma rempah dari bakul jamu Mbak Jun bercampur di udara.Mbak Jun meletakkan bakulnya di salah satu batu, lalu berbalik menatap Rama. Senyumnya masih sama seperti tadi, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih dalam. Lebih berani. Dan lebih... Rama memalingkan wajahnya, tak sanggup melihat kecantikan wanita itu lebih lama."Tukang jamu spek bidadari ini mah namanya," batin Rama sembari terus berusaha memfokuskan perhatiannya. Tubuh kencang dan padat milik Mbak Jun benar-benar membuatnya hilang akal.“Sini, Mas ganteng. Duduk dulu,” ujarnya sambil menepuk permukaan batu di sebelahnya.Rama menga
Last Updated: 2026-08-24
Mandat Langit

Mandat Langit

Di Istana Kekaisaran, pedang dapat membunuh satu orang. Namun sebuah catatan dapat membunuh seribu. Shen Yu hanyalah juru tulis rendah di Kompleks Arsip. Ia tidak punya keluarga besar, tidak punya ilmu pedang, dan tidak punya ambisi selain bertahan hidup. Namun sebuah peti rahasia dari Paviliun Utara menyeretnya ke dalam pusaran yang tidak pernah ia minta. Di dalamnya tertulis perintah kekaisaran dari Tahun Kekosongan Tahta—tahun yang seharusnya tak memiliki cap, tak memiliki nama, dan tak memiliki kehendak. Sejak malam itu, Shen Yu diburu bukan karena dosanya, melainkan karena sesuatu yang ia lihat dan sesuatu yang ia ketahui. Di antara tinta dan pedang, di antara istana dan dunia jianghu, ia harus memilih, tetap menjadi orang kecil yang diam atau menjadi saksi hidup dari rahasia paling berbahaya di bawah langit.
Read
Chapter: Bab 29 — Ultimatum di Atas Kabut
Kabut Yunling belum sepenuhnya terangkat ketika halaman sekte sudah dipenuhi kesibukan. Murid-murid yang semalam berjaga kini berganti giliran, sebagian mengganti obor, sebagian menurunkan ember, sebagian membersihkan darah dari lantai Paviliun Pengawas seolah itu noda memalukan dan harus segera dihilangkan. Namun noda itu tidak bisa dibersihkan. Karena darah semalam bukan darah perkelahian biasa. Itu darah yang menandai bahwa istana telah masuk kedalam sekte. Burung Hitam yang tertangkap dibawa ke ruang bawah Aula Pedang. Tidak diumumkan ke semua murid, tapi desas-desus penangkapannya telah menyebar lebih cepat daripada kabut gunung. Aku duduk di Paviliun Pengawas dengan tangan yang terasa dingin. Aku tidak bisa menghapus gambar itu: sosok hitam mendarat di belakangku, tangan yang menyentuh leherku, nafasku putus-putus, dan pelita yang terjatuh. Aku menatap kertas yang semalam ku tulis. Aku menghela napas panjang. Mungkin aku memang orang yang ditakdirkan untuk menulis, bukan u
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 28 — Malam Kedua, Bayangan Pertama
Setelah sidang tinta itu, Yunling tampak tenang dari luar. Zhou Yan menurunkan nada bicaranya, memuji “kebijaksanaan sekte”. Ia berkata pemeriksaan akan dilakukan dengan mengikuti tata tertib. Ia bahkan tertawa kecil seolah semua ketegangan tadi hanya kesalahpahaman yang terlalu tajam. Namun aku pernah hidup di istana. Aku tahu seperti apa wajah ketika seseorang tersenyum ketika sudah memutuskan untuk membunuh. Hari menjelang sore dengan pemeriksaan yang berputar-putar. Zhou Yan meminta melihat reruntuhan ruang catatan. Ia menanyai murid-murid yang berjaga saat malam kebakaran terjadi. Ia meminta daftar patroli. Ia menulis banyak hal di buku catatannya, tapi aku tidak percaya satu pun dari pertanyaannya itu. Aku tidak lagi melihatnya sebagai pejabat. Aku melihatnya sebagai pedang di balik jubah, yang kapan saja bisa menghunus saat lawannya lengah. Sore itu tetua memanggil Lin Suyin dan beberapa Penjaga Dalam. Aku tidak diizinkan masuk, tapi aku melihat mereka berkumpul di Aul
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Bab 27 — Tinta di Aula Pedang
Aula Pedang terasa berbeda ketika utusan istana berdiri di dalamnya. Biasanya ruangan itu adalah tempat kehormatan sekte dipertahankan, dengan sumpah, dengan pedang, dengan disiplin. Namun hari ini, kehormatan itu seolah diuji oleh sesuatu yang lebih licin daripada bilah, yaitu bahasa istana. Zhou Yan berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi pengawal kekaisaran. Dua Burung Hitam berdiri sedikit di belakangnya, seperti bayangan yang tidak bisa diusir. Tetua yang tenang berdiri di sisi kanan, bersama Tetua Gao dan Tetua Hitam. Murid-murid Yunling mengisi sisi-sisi aula, tidak berani terlalu dekat, namun mata mereka tajam seperti pedang yang siap terhunus. Aku berdiri di tengah. Sendirian. Tanpa pedang. Tanpa jubah resmi. Hanya seorang juru tulis yang diberi napas satu kali lagi. Zhou Yan menatapku dengan senyum tipis. “Aku tidak suka membuang waktu.” Aku menatap balik, tidak lama, tidak menantang, tapi cukup tegas. “Aku juga,” jawabku. Beberapa murid bergumam kecil, bukan setuj
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: Bab 26 — Pemeriksaan yang Menggigit
Pemeriksaan kekaisaran dimulai seperti upacara, tapi berjalan seperti perburuan. Zhou Yan memasuki Yunling dengan langkah tenang, seolah ia hanya pejabat kecil yang datang untuk melaksanakan tugas. Namun matanya tidak pernah benar-benar diam. Ia memperhatikan posisi murid, jalur jalan, jarak antara lentera, bahkan arah angin yang membawa bau asap. Burung Hitam tetap berada tiga langkah di belakangnya sesuai aturan tetua. Tiga langkah. Namun tiga langkah itu cukup untuk membuat setiap murid Yunling merasakan dingin di tulang mereka. Aku kembali ke Paviliun Pengawas sesuai perintah. Di sepanjang jalan, aku merasakan mata-mata yang tidak terlihat. Tidak semua tatapan berasal dari sekte. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang bergerak seperti asap, tidak menonjol, tapi selalu ada. Begitu aku masuk paviliun, penjaga segera menutup pintu. “Jangan keluar,” kata salah satu dari mereka—bukan perintah tetua, melainkan permintaan yang seperti rasa takut. Aku mengangguk dan duduk. Di meja kec
Last Updated: 2026-06-09
Chapter: Bab 25 — Utusan di Kaki Gunung
Pagi itu, kabut Yunling belum sempat hilang ketika lonceng gerbang berbunyi tiga kali. Bunyinya berat, tidak seperti lonceng latihan, tidak seperti lonceng makan. Ini lonceng yang dipukul ketika tamu datang atau musuh datang memakai nama tamu. Para murid sekte segera berkumpul di halaman depan. Barisan mereka rapi, jubah putih kebiruan berkibar pelan dalam angin gunung. Pedang mereka tidak semuanya terhunus, tetapi tangan hampir selalu dekat gagang—sebuah tanda yang jelas bagi siapa pun yang datang: kami menerima kalian dengan sopan, tapi kami siap menebas jika kalian bertindak macam-macam. Aku berdiri di belakang barisan bersama Lin Suyin. Atas perintah tetua, aku memakai jubah sekte sederhana—tanpa lambang, tanpa sabuk murid inti. Rambutku diikat rapi, ekspresi wajah ku buat setenang mungkin. Aku tidak tampak seperti juru tulis istana. Aku tampak seperti murid sekte biasa yang bisa hilang di antara barisan para murid sekte. Tapi aku tahu Burung Hitam tidak mencari lewat pakaia
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Bab 24 — Saksi di Bawah Langit
Kami kembali ke Yunling sebelum fajar. Langit masih gelap, tapi kabut mulai tipis di puncak gunung. Api ruang catatan sudah padam, hanya tersisa asap tipis dan bau arang. Beberapa murid tergeletak kelelahan di halaman, pakaian mereka basah oleh air ember dan keringat. Yang lain berdiri berjaga dengan mata merah dan tangan menggenggam pedang. Sekte ini sudah tidak tidur. Dan sekte yang tidak tidur adalah sekte yang menunggu perang. Mayat Qin Wen tidak kami bawa ke aula. Tetua Hitam memerintahkan Penjaga Dalam mengurusnya, dan itu artinya tidak akan ada upacara melepas jiwa. Tidak akan ada tangisan. Yunling tidak akan menyimpan nama pengkhianat di tanahnya. Aku berjalan di samping Lin Suyin menuju Aula Pedang, lututku masih gemetar. Rasanya seperti seluruh tubuhku dipenuhi sisa suara—pedang beradu, jarum terbang, dan kalimat Qin Wen sebelum mati. Tanpa segel itu, Yunling akan dituduh mencurinya. Aku menelan ludah. Bahkan saat pengkhianat itu mati, ia masih sempat menancapkan dur
Last Updated: 2026-06-02
Whispers of the Lost Princess

Whispers of the Lost Princess

Di sebuah dunia di mana cahaya dan kegelapan berperang tanpa henti, lahirlah seorang gadis dengan takdir yang tidak pernah ia pilih. Terasing, terikat pada rahasia yang bahkan ia sendiri tak pahami, Ayundria harus melangkah ke dalam pusaran perang, sihir, dan pengkhianatan. Bisikan dari masa lalu memanggilnya. Mahkota yang hilang menantinya. Namun setiap langkah mendekatkannya pada kenyataan pahit: untuk menyelamatkan dunia, ia mungkin harus menghancurkannya. Dunia hanya punya dua pilihan: hidup bersamanya atau binasa karenanya.
Read
Chapter: Epilog — Bisikan Putri yang Hilang
Aethoria kembali bernapas. Untuk pertama kalinya setelah berabad-abad, langit tidak retak, tidak merah, tidak bergemuruh oleh raungan purba. Aurora yang dulu penuh amarah kini menari lembut, biru dan hijau, seolah menyapu luka yang ditinggalkan. Di istana yang runtuh setengahnya, para tetua dewan berdiri dalam kebisuan. Mereka menyaksikan retakan besar yang dulu membelah cakrawala kini tertutup oleh cahaya biru yang lembut. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka tahu, harga dari semua ini adalah sesuatu yang tak bisa mereka gantikan. Di desa-desa, orang-orang yang selamat menatap langit dengan air mata. Anak-anak yang dulu gemetar ketakutan kini berani berlari lagi, memegang tangan orang tua mereka. Dunia masih hancur, tapi dunia juga selamat. Di Arkai Bawah, tepat di tengah reruntuhan obelisk, sebuah cahaya kecil berdenyut perlahan, seperti detak jantung yang tidak pernah mati. Tidak ada tubuh, tidak ada sosok, hanya cahaya. Namun setiap kali angin berhembus melewati rer
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 73 — Penjaga Abadi
Sunyi. Tidak ada lagi raungan kosmik, tidak ada lagi dentuman retakan, dan yang paling menyedihkan, tidak ada lagi Bill di sisinya. Ayundria berdiri di tengah puing-puing Arkai Bawah, tubuhnya berlumuran darah dan debu, napasnya tersengal. Di sekelilingnya hanya ada reruntuhan obelisk, cahaya yang padam, dan sisa energi Bill yang masih bergetar samar di udara, seperti kilatan petir yang belum mau hilang. Di ujung sana, Seraphine sudah lama hilang. Kini, Bill pun ikut bersamanya. Ayundria memegang dada kirinya, seolah hendak memastikan jantungnya masih berdetak. Ia ingin menangis, tapi air mata sudah kering. Yang tersisa hanya perih yang menusuk hingga ke tulang. “Kenapa selalu mereka? Kenapa bukan aku?” bisiknya serak, hampir tak terdengar. Tapi suaranya langsung terpantul dari kegelapan, seolah dunia sendiri menjawab dengan kejam. “Karena kau kunci, Ayundria.” Ia menggenggam tanah yang hancur, jemarinya berdarah. Dalam diamnya, ia tahu satu hal bahwa semua pengorbanan itu akan
Last Updated: 2026-03-26
Chapter: Bab 72 — Pengorbanan Terakhir
Hening. Kosmos seakan menguap, hanya meninggalkan ruang kosong yang dipenuhi debu cahaya dan pecahan obelisk yang melayang-layang. Arkai yang dulu megah kini hanya bayangan patah, gunung-gunung runtuh jadi abu, sungai-sungai hilang, dan tanah bergema dengan jeritan jiwa yang tertinggal. Ayundria berdiri terhuyung, wajahnya pucat, rambutnya kusut, dan tangannya gemetar. Sisa es yang masih menempel di ujung jarinya retak perlahan, seakan tubuhnya menyerah untuk terus bertahan. Bill berdiri di sampingnya. Dadanya naik-turun kasar, pakaian compang-camping, darah mengalir deras dari bahunya. Namun matanya tetap menyala, keras kepala seperti baja. “Retakan itu masih ada.” suaranya parau, tapi penuh tekad. Mereka menoleh, dan di hadapan mereka, retakan kosmik masih terbuka. Lebih kecil, tapi berdenyut berbahaya. Seperti luka yang enggan sembuh. Dari celah itu, cahaya dan kegelapan bercampur, berputar, seolah ada sesuatu yang menunggu untuk keluar. Bayangan Archon sempat muncul sekilas,
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: Bab 71 — Dua Jiwa yang Tersisa
Keheningan merayapi gua setelah cahaya emas Seraphine padam. Retakan masih berdentum samar, tapi suaranya seperti jauh, seakan ikut merunduk oleh pengorbanan yang baru terjadi. Ayundria terduduk, bahunya bergetar. Air mata terus jatuh, menodai lantai batu yang dingin. Jemarinya masih terulur, seolah berusaha meraih cahaya yang sudah tidak ada. “Dia… dia seharusnya tidak…” Bill berdiri terpaku. Matanya kosong, wajahnya kaku, hanya sedikit gemetar di rahang. Api yang biasanya selalu menyala di dirinya kini padam. Ia menggenggam pedang patahnya, menekan erat hingga darah menetes dari genggamannya. “Kenapa selalu begitu?” bisiknya, hampir tak terdengar. “Satu per satu, mereka jatuh. Dan aku—aku hanya bisa menyaksikan tanpa bisa melakukan apa-apa.” Lalu di udara, sesuatu bergetar, seperti nada harpa yang dimainkan sekali lalu menghilang. Cahaya samar muncul, gema dari jiwa Seraphine yang belum sepenuhnya hilang. Ayundria menegakkan tubuhnya, matanya melebar. “Seraphine?” Senyum samar
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 70 — Rantai Jiwa
Langit Arkai yang retak pecah serentak, seperti kaca raksasa yang dilemparkan palu dewa. Suara gemuruhnya tidak hanya terdengar, tapi juga terasa di dalam tulang. Cahaya merah menyembur keluar, membanjiri dunia bawah dengan semburat seperti darah yang tumpah. Dari celah itu, muncul sesuatu perlahan, berat, seakan setiap langkahnya menghancurkan fondasi dunia. Penjaga Segel Terakhir. Tubuhnya lebih tinggi dari menara Aethoria, kulitnya terbuat dari lempengan obsidian yang terus berganti bentuk, seperti gunung yang hidup. Di dadanya, sebuah lubang menganga, yang di dalamnya terlihat pusaran bintang mati, inti kosong yang berdenyut dengan cahaya ungu. Di punggungnya, enam tangan bayangan keluar-masuk, seakan realitas tidak mampu memutuskan berapa jumlahnya. Dan wajahnya tidak ada, hanya topeng datar, putih, dengan satu garis retakan di tengah, yang setiap detik bertambah panjang. “KUNCI… PINTU HARUS TERTUTUP.” Gelombang energi memukul gua, membuat batu-batu beterbangan, memaksa Ayu
Last Updated: 2026-03-23
Chapter: Bab 69 — Nyanyian Akhir
Asap masih menggantung di udara gua purba. Bau darah dan besi menempel di setiap tarikan napas. Reruntuhan batu memanas perlahan, diterangi cahaya samar dari retakan segel yang kini bercahaya merah. Ayundria berlutut, tangannya berlumuran debu dan darah. Ia tidak tahu mana milik dirinya dan mana milik orang lain. Di sebelahnya, Bill terengah-engah, satu tangannya menekan luka besar di bahu, satu lagi menggenggam pedangnya yang bergetar. Tak ada kata. Hanya tatapan kosong Seraphine yang penuh air mata. Torren yang sudah tidak bangun lagi, Kaelith yang tubuhnya perlahan larut dalam bayangan, dan Eldric yang tongkatnya retak di tengah, seolah ikut menyerah bersama pemiliknya. Namun bahkan di tengah kepedihan itu, mereka tahu tak ada waktu untuk meratap. Dunia tidak menunggu untuk sekedar menangisi kematian. Bill memaksa dirinya tertawa kecil, tapi suaranya malah terdengar seperti ratapan. “Yah… aku rasa pesta ini lebih brutal dari yang kuundang.” Tidak ada yang menjawab. Tapi justru
Last Updated: 2026-03-21
You May Also Like
Ah! Mantap Mas Ramli
Ah! Mantap Mas Ramli
Male Adult · Miss Luxy
4.4M views
Gairah Sopir dan Majikan
Gairah Sopir dan Majikan
Male Adult · Irbapiko
602.0K views
Jatah Malam Untuk Mertua
Jatah Malam Untuk Mertua
Male Adult · WAZA PENA
453.5K views
Tergoda Pesona Ibu Mertua
Tergoda Pesona Ibu Mertua
Male Adult · Galaxybimasakti
367.6K views
Nyonya Puas Abang Lemas
Nyonya Puas Abang Lemas
Male Adult · Arandiah
328.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status