Chapter: Bab 61 — Wajah Di Balik TopengMalam turun perlahan, menggantungkan cahaya bulan pucat di atas padang tandus. Api unggun menyala redup, tak lagi memberi rasa hangat, hanya cahaya samar yang mengusir kegelapan. Mereka duduk melingkar. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk menenangkan hati masing-masing setelah hari panjang yang dipenuhi luka. Torren mengasah kapaknya dengan gerakan lambat, suara gesekannya justru terdengar seperti bisikan, menyayat kesunyian. Kaelith menatap ke langit, matanya seperti mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan. Seraphine sibuk menuliskan sesuatu di gulungan kecil, tangannya bergetar, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah mantra agar dirinya tidak runtuh. Eldric, berbeda dari mereka, duduk sedikit menjauh, menatap api dengan mata yang seakan tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Dan di sisi lain, Ayundria duduk terdiam. Rambut putihnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah di sana masih terasa dingin dari sentuhan mata purba yang m
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 60 — Gema Takdir yang DitundaLangit Aethoria retak. Suara gemuruh aneh merambat di udara, memantul di menara, membangunkan kota dari tidurnya. Burung-burung sihir yang biasa berputar di menara-menara keemasan jatuh ke tanah, sayap mereka terbakar oleh cahaya merah samar yang entah dari mana datangnya. Di ruang pertemuan tertinggi, Dewan Tetua Aethoria terkumpul tergesa-gesa. Para arkanis agung, jubah mereka berpendar dengan simbol rune yang bergerak liar, seolah dunia sendiri kehilangan keseimbangannya. “Ini bukan hanya retakan di Arkai,” ujar salah satu tetua dengan suara parau. “Ini gema yang menembus lapisan dunia.” “Menembus?” potong yang lain dengan nada marah. “Apa maksudmu, pintu itu sudah mulai terbuka?” Mereka saling pandang. Sunyi. Hanya dengungan kristal yang mengapung di tengah ruangan, menampilkan bayangan mengerikan, sebuah mata raksasa merah yang semalam menatap Arkai, kini tampak samar pula di langit Aethoria. Beberapa anggota dewan terjatuh berlutut, menutup wajah dengan tangan. Yang lain be
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 59 — Melawan Diri SendiriLangit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuatu. Kau merasakannya?” bisiknya, menoleh pada Seraphine. Seraphine mengangguk, wajahnya tegang. “Tidak hanya merasakan. Obelisk itu sedang memanggil.” Retakan di sekitar obelisk tiba-tiba menghitam, seperti tinta yang ditumpahkan ke atas batu. Dari celah-celah itu, asap kelam merembes keluar, melingkar-lingkar di udara sebelum menyatu menjadi siluet samar. Perlahan, bentuk itu menegas, menjelma sosok tinggi, kurus, matanya menyala redup, seolah dua bara yang hampir padam namun menatap jauh ke dalam jiwa mereka. Torren menggenggam kapaknya lebih erat, menahan gemetar. “Astaga! Itu bukan makhluk biasa.” Bill melangkah setengah ke depan, meski jelas tubuhnya masih lelah. “Bukan juga makhluk
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 58 — Bayangan Masa LaluCahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 57 — Api Unggun dan Jalan Menuju GerbangMalam itu, setelah tubuh mereka dibalut ramuan dan mantra, kamp terasa lebih tenang. Api unggun kecil menyala, berbeda jauh dari api biru yang sempat padam saat malam serangan. Api ini biasa saja, tapi justru terasa lebih hangat dan manusiawi. Ayundria duduk di sisi api unggun, rambut putihnya tergerai acak, cahaya oranye membuatnya tampak lembut, meski bayangan di wajahnya tetap menyimpan lelah. Tangannya menggenggam kain bersih yang sudah basah dengan ramuan penyembuh. Bill duduk di seberang, punggungnya membungkuk, bajunya sudah setengah terbuka. Luka di bahu dan dadanya masih berdenyut, hitam di beberapa bagian bekas ia menyerap uap beracun semalam. Ia menyeringai kecil meski wajahnya pucat. “Kalau kau ragu-ragu begitu, Ayundria, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan… yah, paling tidak sedikit humor. Tapi mungkin lukaku malah makin parah.” Ayundria menatapnya tajam, tapi matanya berkaca-kaca. “Kau ini, bahkan saat hampir mati, masih bisa bercanda.” Ia menempelkan kain o
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 56 — Pertempuran dengan BayanganPecahan kaca runtuh, melahirkan musuh yang paling ditakuti, yaitu diri sendiri. Bayangan itu bukan sekadar tiruan, mereka adalah ketakutan, penyesalan, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.Kaelith terpaku pada versi dirinya yang lemah, kurus, tubuhnya terikat rantai gelap. Bayangan itu berbisik dengan suara serak, “Kau tak pernah benar-benar bebas. Kau hanya boneka. Selamanya kau akan selalu menjadi boneka.”Seraphine menjerit ketika melihat bayangannya menginjak tubuh teman-temannya, matanya dingin tanpa belas kasih. Bayangan itu tertawa, “Kau selalu berpikir untuk menyelamatkan dunia?” bayangannya mendengus, “Kau bahkan tak bisa menyelamatkan satu orang pun.”Torren menghadapi versi dirinya tanpa senjata, tangan kosong yang terus mundur, penuh rasa takut. Bayangan itu melolong, “Tanpa kapakmu, kau bukan apa-apa! Kau hanyalah anak ketakutan yang bersembunyi di balik baja!”Bill menegakkan tubuhnya, berhadapan dengan bayangan kegelapan yang masih menyeringai. Kali ini, senyum B
Last Updated: 2026-03-08