Masuk❄️❄️❄️
Gelap. Ayundria berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding, seolah dunia hanya berisi langit hitam yang tidak berujung. Udara terasa berat, menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas. Di hadapannya, muncul singgasana tinggi dari batu hitam berkilau, menjulang seperti tebing. Dan di atasnya… duduk seorang wanita. Wajah wanita itu samar, seperti tertutup kabut. Tapi Ayundria bisa melihat jelas mahkota hitam di kepalanya, bercabang seperti duri-duri tajam, seolah tumbuh langsung dari tengkoraknya. Mata wanita itu bersinar merah redup. Tatapannya menembus Ayundria, menusuk ke dalam jiwanya. Suara dingin mengalun, bergema dari segala arah. “Kau milikku…” Ayundria ingin berteriak, tapi bibirnya terkunci. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap ketika wanita itu mengangkat tangannya. Dari jari-jarinya, merembes kabut hitam pekat yang menjalar ke lantai. Kabut itu merayap menuju kaki Ayundria. Dinginnya menusuk tulang. Suara itu semakin keras, memecah kehampaan. “Tak peduli sejauh mana kau berlari… Darahmu akan kembali padaku.” Ayundria berusaha mundur, tapi tanah di bawah kakinya retak, seperti kaca rapuh. Di balik retakan itu, ia melihat lautan api dan ribuan bayangan meronta. Wanita bermahkota hitam itu tersenyum samar, dan dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di hadapan Ayundria. Nafasnya terasa dingin di wajah. “Bangunlah, anakku…” Ayundria terperanjat. Kabut hitam melilit lehernya— Dan ia terjaga. Nafasnya terengah, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kamar menara itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan dari jendela. “Tidak… itu hanya mimpi,” bisiknya pelan. Tapi jantungnya berdebar keras, seolah ada sesuatu yang masih mengikuti dari mimpinya. Pintu kamar berderit pelan. Sosok Lyla masuk, membawa lampu minyak kecil yang menerangi sebagian ruangan. Wajahnya teduh seperti biasa, tapi matanya langsung menangkap kegelisahan Ayundria yang duduk pucat di atas ranjang. “Ayundria…” suaranya lembut, tapi ada nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan. “Kau bermimpi buruk lagi?” Ayundria mengangguk cepat, tangannya masih gemetar. “Ada seorang wanita… dia memakai mahkota hitam… dan dia bilang aku miliknya.” Mata Lyla sempat membesar. Sekilas—hanya sekilas—lampu minyak di tangannya bergetar, nyaris padam. Tapi ia segera menguasai diri, duduk di samping Ayundria sambil meraih tangannya. “Itu hanya mimpi, sayang. Tidak nyata,” katanya menenangkan, meski nada suaranya sedikit kaku. “Tapi terasa… sungguh nyata, Ibu. Dia menatapku… aku bisa merasakan dinginnya, seperti dia benar-benar ada di sini.” Ayundria menggenggam tangan Lyla lebih erat. “Siapa dia, Ibu?” Lyla terdiam. Senyumnya tipis, tapi matanya menolak bertemu pandangan Ayundria. “Kau terlalu banyak membaca dongeng lama yang kutinggalkan di rak buku. Imajinasi kadang bisa menakutkan.” Ayundria ingin percaya, tapi sesuatu dalam sorot mata ibunya terasa… berbeda. Seperti ada kebenaran yang ditutupinya. Suara malam merambat masuk dari jendela. Hutan Kesunyian di luar menara begitu sunyi, hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan. Dan entah mengapa, bagi Ayundria, sunyi itu justru terasa semakin berat. Lyla mengelus rambut panjang Ayundria, seolah mengalihkan perhatian. “Tidurlah lagi. Aku akan berada di sini sampai kau tenang.” Namun ketika Ayundria akhirnya perlahan memejamkan mata, Lyla menatap keluar jendela. Cahaya bulan menyinari wajahnya—dan sekejap, bayangan kecemasan yang dalam melintas di matanya. Bisikan lirih nyaris tak terdengar lolos dari bibirnya. “Dia mulai merasakan panggilan itu…” ❄️❄️❄️ Malam berikutnya datang dengan lebih berat. Ayundria mencoba tidur lebih awal, berharap mimpi buruk itu tidak akan kembali. Namun begitu matanya terpejam, kegelapan segera berubah. Ia berdiri di ruangan luas yang tak dikenalnya—langit-langit tinggi dengan dinding batu retak, diterangi cahaya merah samar seperti bara. Di ujung ruangan, wanita bermahkota hitam itu kembali muncul. Matanya yang tajam berkilau seperti permata gelap, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan di lantai. Kali ini, ia tidak hanya menatap Ayundria. Ia mengulurkan tangan. “Anakku…” bisiknya dengan suara yang seakan berasal dari segala arah. “Kau tidak bisa bersembunyi dariku selamanya.” Ayundria ingin berlari, tapi kakinya membeku. Bayangan gelap merambat dari mahkota wanita itu, menjalar ke lantai, mengikat pergelangan kakinya. Jantung Ayundria berdentum keras. “Siapa kau?! Kenapa kau memanggilku begitu?!” Wanita itu tersenyum samar—senyum yang tidak menenangkan, melainkan menusuk jiwa. “Aku darahmu. Aku hidupmu. Dan kau… adalah kunciku.” Seketika ruangan runtuh, cahaya merah padam, dan Ayundria jatuh ke dalam kehampaan. Ayundria terbangun dengan teriakan. Nafasnya memburu, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Lyla berlari masuk, wajahnya tegang. “Ayundria! Tenang, aku di sini!” Ayundria gemetar, memegang kepalanya. “Dia lagi… wanita itu… dia bilang aku miliknya… dia bilang aku kuncinya!” Untuk pertama kalinya, Lyla tidak langsung menjawab. Tangannya sempat terhenti di udara, seolah ada kata-kata yang ingin ia ucapkan tapi tercekat di tenggorokan. Akhirnya, ia hanya menarik napas panjang dan memeluk Ayundria erat. “Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu.” Namun, ketika Ayundria menutup mata di pelukan itu, wajah Lyla tampak pucat di bawah cahaya lampu minyak. Karena ia tahu… mimpi itu bukan sekadar mimpi. Beberapa hari berlalu, tapi Ayundria tidak bisa melupakan mimpi itu. Setiap kali ia menutup mata, wajah wanita bermahkota hitam itu muncul, matanya menusuk, bibirnya berbisik hal-hal yang tidak dimengerti. Lyla menyibukkan Ayundria dengan berbagai kegiatan: belajar meracik ramuan herbal, membaca buku kuno, bahkan melatih kelincahan tubuh di halaman menara. Namun, Ayundria tahu ada sesuatu yang berbeda. Ibunya kini lebih sering menatap keluar jendela, seolah mengawasi sesuatu jauh di balik pepohonan Hutan Kesunyian. Matanya kadang kosong, kadang penuh kegelisahan. ❄️❄️❄️ Suatu malam, ketika Lyla mengira Ayundria sudah tidur, gadis itu mendengar suara berbisik. Ia bangkit perlahan dan mengendap ke ruang bawah tanah menara—ruangan yang jarang sekali Lyla biarkan ia masuki. Di sana, Lyla berdiri di depan cermin hitam besar yang tidak pernah Ayundria lihat sebelumnya. Permukaannya berkilau aneh, seperti cairan yang bergetar. Lyla menempelkan telapak tangannya pada cermin itu. Bibirnya berkomat-kamit dalam bahasa yang asing. Lalu, dari balik permukaan cermin, bayangan wanita bermahkota hitam muncul samar. Ayundria menahan napas. Jantungnya hampir meloncat keluar. Itu—itu sosok dari mimpinya! “Dia semakin kuat,” suara dingin itu terdengar jelas. “Waktu kita semakin dekat, Lyla. Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya.” Lyla mengepalkan tangan. Suaranya bergetar tapi penuh amarah. “Selama aku hidup, kau tak akan menyentuhnya.” Bayangan itu tertawa pelan, gema yang membuat bulu kuduk Ayundria berdiri. “Kau tahu kebenarannya, bukan? Kau hanya menunda… takdir yang tak bisa dihindari.” Ayundria terpaku di balik pintu, tubuhnya gemetar. Apa maksud semua ini? Siapa sebenarnya wanita itu? Dan kenapa Lyla—ibunya sendiri—berbicara dengannya? Untuk pertama kalinya, Ayundria merasa… mungkin Lyla menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mimpi buruk. ❄️❄️❄️ Malam berikutnya, mimpi Ayundria semakin mengerikan. Ia berdiri di tengah hutan gelap. Pohon-pohon menjulang tanpa daun, hanya ranting-ranting kering yang seperti tangan mencoba meraihnya. Di hadapannya, wanita bermahkota hitam itu muncul lebih jelas dari sebelumnya. Mata tajamnya menembus jiwa, dan di balik mahkota yang menyerupai duri-duri hitam, wajahnya tampak dingin, cantik, sekaligus menakutkan. “Kau darahku. Kau milikku. Tak ada tempat untuk bersembunyi.” Suara itu menggetarkan tanah. Dari kegelapan, ribuan kumbang hitam bermunculan, memenuhi tanah, naik ke kaki Ayundria, mencoba menelannya. Ayundria menjerit. Tapi di detik terakhir, cahaya biru berkilat dari tubuhnya sendiri. Dari tangannya, pecah kilatan dingin—es yang tiba-tiba membeku, menghentikan ribuan kumbang itu di tempat. Ia terbangun dengan terengah. Keringat dingin menempel di dahinya, tapi tangannya… benar-benar berembun dingin. Kristal-kristal es kecil menempel di ujung jarinya. Lyla bergegas masuk ke kamar, wajahnya tegang. “Apa yang kau lihat?” tanyanya dengan nada yang lebih keras dari biasanya. Ayundria gemetar. “Ibu… aku—aku membuat ini…” Ia menunjukkan tangannya yang masih berkilau dengan sisa es. Lyla menatapnya lama. Tatapan itu bukan sekadar terkejut—melainkan ketakutan. Dengan cepat, ia menutup jendela, menarik tirai, dan memeluk Ayundria erat. “Dengarkan aku, Ayundria,” bisiknya cepat, penuh desakan. “Apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan seseorang melihat kekuatanmu. Jangan.” Ayundria terdiam. “Kenapa…? Siapa wanita itu dalam mimpiku? Kenapa dia selalu mengatakan aku miliknya?” Lyla menutup mata sejenak, wajahnya penuh beban. “Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Kau harus percaya padaku… dunia di luar sana tidak seindah yang kau bayangkan. Dan bila mereka tahu siapa kau sebenarnya…” Lyla menatap lurus ke mata Ayundria, suaranya rendah, bergetar. “Mereka akan datang untukmu.”Malam turun perlahan, menggantungkan cahaya bulan pucat di atas padang tandus. Api unggun menyala redup, tak lagi memberi rasa hangat, hanya cahaya samar yang mengusir kegelapan. Mereka duduk melingkar. Bukan untuk berbincang, melainkan untuk menenangkan hati masing-masing setelah hari panjang yang dipenuhi luka. Torren mengasah kapaknya dengan gerakan lambat, suara gesekannya justru terdengar seperti bisikan, menyayat kesunyian. Kaelith menatap ke langit, matanya seperti mencari sesuatu yang tak bisa ia temukan. Seraphine sibuk menuliskan sesuatu di gulungan kecil, tangannya bergetar, seolah setiap huruf yang ia tulis adalah mantra agar dirinya tidak runtuh. Eldric, berbeda dari mereka, duduk sedikit menjauh, menatap api dengan mata yang seakan tahu lebih banyak daripada yang ia ungkapkan. Dan di sisi lain, Ayundria duduk terdiam. Rambut putihnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah di sana masih terasa dingin dari sentuhan mata purba yang m
Langit Aethoria retak. Suara gemuruh aneh merambat di udara, memantul di menara, membangunkan kota dari tidurnya. Burung-burung sihir yang biasa berputar di menara-menara keemasan jatuh ke tanah, sayap mereka terbakar oleh cahaya merah samar yang entah dari mana datangnya. Di ruang pertemuan tertinggi, Dewan Tetua Aethoria terkumpul tergesa-gesa. Para arkanis agung, jubah mereka berpendar dengan simbol rune yang bergerak liar, seolah dunia sendiri kehilangan keseimbangannya. “Ini bukan hanya retakan di Arkai,” ujar salah satu tetua dengan suara parau. “Ini gema yang menembus lapisan dunia.” “Menembus?” potong yang lain dengan nada marah. “Apa maksudmu, pintu itu sudah mulai terbuka?” Mereka saling pandang. Sunyi. Hanya dengungan kristal yang mengapung di tengah ruangan, menampilkan bayangan mengerikan, sebuah mata raksasa merah yang semalam menatap Arkai, kini tampak samar pula di langit Aethoria. Beberapa anggota dewan terjatuh berlutut, menutup wajah dengan tangan. Yang lain be
Langit di atas obelisk memucat, aurora yang sebelumnya bergelora kini meredup, seperti tersedot oleh sesuatu yang tak kasatmata. Tanah bergetar halus, hampir tak terdengar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Kaelith menegakkan tubuhnya, jemari bersiap di atas busurnya. “Ada sesuatu. Kau merasakannya?” bisiknya, menoleh pada Seraphine. Seraphine mengangguk, wajahnya tegang. “Tidak hanya merasakan. Obelisk itu sedang memanggil.” Retakan di sekitar obelisk tiba-tiba menghitam, seperti tinta yang ditumpahkan ke atas batu. Dari celah-celah itu, asap kelam merembes keluar, melingkar-lingkar di udara sebelum menyatu menjadi siluet samar. Perlahan, bentuk itu menegas, menjelma sosok tinggi, kurus, matanya menyala redup, seolah dua bara yang hampir padam namun menatap jauh ke dalam jiwa mereka. Torren menggenggam kapaknya lebih erat, menahan gemetar. “Astaga! Itu bukan makhluk biasa.” Bill melangkah setengah ke depan, meski jelas tubuhnya masih lelah. “Bukan juga makhluk
Cahaya menelan mereka. Tapi tubuh mereka tidak jatuh, tidak juga terbang, hanya melayang dalam kehampaan. Lalu, perlahan, dunia lain terbentuk di sekitar masing-masing. Torren berdiri di padang perang. Tanah penuh tengkorak, langit merah, dan di tangannya, kapaknya berlumur darah. Di depannya, ribuan wajah yang pernah ia bunuh menatapnya tanpa suara. Tangannya bergetar, berusaha melepaskan kapaknya. Tapi ia tak bisa melepaskan kapak itu, seolah kapak lah yang memegang dirinya. “Apakah aku hanya mesin pembantai?” bisiknya. Tapi tiba-tiba suara lain menjawab dari dalam kepalanya, “Tanpa darah, kau bukan siapa-siapa.” Kaelith berada di perpustakaan tak berujung. Rak-rak buku menjulang ke langit tanpa batas, tapi setiap buku yang ia tarik berubah menjadi abu. Ia berlari, mencari satu kebenaran, tapi semakin ia mencarinya, semakin perpustakaan itu hancur. Tiba-tiba, ia menemukan satu buku utuh, namun di sampulnya hanya tertulis, satu kata yang membuat tubuhnya menegang. ‘Pengkhianat’.
Malam itu, setelah tubuh mereka dibalut ramuan dan mantra, kamp terasa lebih tenang. Api unggun kecil menyala, berbeda jauh dari api biru yang sempat padam saat malam serangan. Api ini biasa saja, tapi justru terasa lebih hangat dan manusiawi. Ayundria duduk di sisi api unggun, rambut putihnya tergerai acak, cahaya oranye membuatnya tampak lembut, meski bayangan di wajahnya tetap menyimpan lelah. Tangannya menggenggam kain bersih yang sudah basah dengan ramuan penyembuh. Bill duduk di seberang, punggungnya membungkuk, bajunya sudah setengah terbuka. Luka di bahu dan dadanya masih berdenyut, hitam di beberapa bagian bekas ia menyerap uap beracun semalam. Ia menyeringai kecil meski wajahnya pucat. “Kalau kau ragu-ragu begitu, Ayundria, aku bisa menyembuhkan diriku sendiri dengan… yah, paling tidak sedikit humor. Tapi mungkin lukaku malah makin parah.” Ayundria menatapnya tajam, tapi matanya berkaca-kaca. “Kau ini, bahkan saat hampir mati, masih bisa bercanda.” Ia menempelkan kain o
Pecahan kaca runtuh, melahirkan musuh yang paling ditakuti, yaitu diri sendiri. Bayangan itu bukan sekadar tiruan, mereka adalah ketakutan, penyesalan, dan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.Kaelith terpaku pada versi dirinya yang lemah, kurus, tubuhnya terikat rantai gelap. Bayangan itu berbisik dengan suara serak, “Kau tak pernah benar-benar bebas. Kau hanya boneka. Selamanya kau akan selalu menjadi boneka.”Seraphine menjerit ketika melihat bayangannya menginjak tubuh teman-temannya, matanya dingin tanpa belas kasih. Bayangan itu tertawa, “Kau selalu berpikir untuk menyelamatkan dunia?” bayangannya mendengus, “Kau bahkan tak bisa menyelamatkan satu orang pun.”Torren menghadapi versi dirinya tanpa senjata, tangan kosong yang terus mundur, penuh rasa takut. Bayangan itu melolong, “Tanpa kapakmu, kau bukan apa-apa! Kau hanyalah anak ketakutan yang bersembunyi di balik baja!”Bill menegakkan tubuhnya, berhadapan dengan bayangan kegelapan yang masih menyeringai. Kali ini, senyum B







