Beranda / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 2 – Mimpi tentang Mahkota Hitam

Share

Bab 2 – Mimpi tentang Mahkota Hitam

Penulis: Chouw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 22:07:35

❄️❄️❄️

Gelap.

Ayundria berdiri di sebuah ruangan luas tanpa dinding, seolah dunia hanya berisi langit hitam yang tidak berujung. Udara terasa berat, menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.

Di hadapannya, muncul singgasana tinggi dari batu hitam berkilau, menjulang seperti tebing. Dan di atasnya… duduk seorang wanita.

Wajah wanita itu samar, seperti tertutup kabut. Tapi Ayundria bisa melihat jelas mahkota hitam di kepalanya, bercabang seperti duri-duri tajam, seolah tumbuh langsung dari tengkoraknya.

Mata wanita itu bersinar merah redup. Tatapannya menembus Ayundria, menusuk ke dalam jiwanya.

Suara dingin mengalun, bergema dari segala arah. “Kau milikku…”

Ayundria ingin berteriak, tapi bibirnya terkunci. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap ketika wanita itu mengangkat tangannya. Dari jari-jarinya, merembes kabut hitam pekat yang menjalar ke lantai.

Kabut itu merayap menuju kaki Ayundria. Dinginnya menusuk tulang. Suara itu semakin keras, memecah kehampaan.

“Tak peduli sejauh mana kau berlari…

Darahmu akan kembali padaku.”

Ayundria berusaha mundur, tapi tanah di bawah kakinya retak, seperti kaca rapuh. Di balik retakan itu, ia melihat lautan api dan ribuan bayangan meronta.

Wanita bermahkota hitam itu tersenyum samar, dan dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di hadapan Ayundria. Nafasnya terasa dingin di wajah.

“Bangunlah, anakku…”

Ayundria terperanjat. Kabut hitam melilit lehernya—

Dan ia terjaga.

Nafasnya terengah, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kamar menara itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan dari jendela.

“Tidak… itu hanya mimpi,” bisiknya pelan. Tapi jantungnya berdebar keras, seolah ada sesuatu yang masih mengikuti dari mimpinya.

Pintu kamar berderit pelan. Sosok Lyla masuk, membawa lampu minyak kecil yang menerangi sebagian ruangan. Wajahnya teduh seperti biasa, tapi matanya langsung menangkap kegelisahan Ayundria yang duduk pucat di atas ranjang.

“Ayundria…” suaranya lembut, tapi ada nada khawatir yang tak bisa ia sembunyikan. “Kau bermimpi buruk lagi?”

Ayundria mengangguk cepat, tangannya masih gemetar. “Ada seorang wanita… dia memakai mahkota hitam… dan dia bilang aku miliknya.”

Mata Lyla sempat membesar. Sekilas—hanya sekilas—lampu minyak di tangannya bergetar, nyaris padam. Tapi ia segera menguasai diri, duduk di samping Ayundria sambil meraih tangannya. “Itu hanya mimpi, sayang. Tidak nyata,” katanya menenangkan, meski nada suaranya sedikit kaku.

“Tapi terasa… sungguh nyata, Ibu. Dia menatapku… aku bisa merasakan dinginnya, seperti dia benar-benar ada di sini.” Ayundria menggenggam tangan Lyla lebih erat. “Siapa dia, Ibu?”

Lyla terdiam. Senyumnya tipis, tapi matanya menolak bertemu pandangan Ayundria. “Kau terlalu banyak membaca dongeng lama yang kutinggalkan di rak buku. Imajinasi kadang bisa menakutkan.”

Ayundria ingin percaya, tapi sesuatu dalam sorot mata ibunya terasa… berbeda. Seperti ada kebenaran yang ditutupinya.

Suara malam merambat masuk dari jendela. Hutan Kesunyian di luar menara begitu sunyi, hanya suara angin yang berdesir di antara pepohonan. Dan entah mengapa, bagi Ayundria, sunyi itu justru terasa semakin berat.

Lyla mengelus rambut panjang Ayundria, seolah mengalihkan perhatian. “Tidurlah lagi. Aku akan berada di sini sampai kau tenang.”

Namun ketika Ayundria akhirnya perlahan memejamkan mata, Lyla menatap keluar jendela. Cahaya bulan menyinari wajahnya—dan sekejap, bayangan kecemasan yang dalam melintas di matanya.

Bisikan lirih nyaris tak terdengar lolos dari bibirnya.

“Dia mulai merasakan panggilan itu…”

❄️❄️❄️

Malam berikutnya datang dengan lebih berat. Ayundria mencoba tidur lebih awal, berharap mimpi buruk itu tidak akan kembali. Namun begitu matanya terpejam, kegelapan segera berubah.

Ia berdiri di ruangan luas yang tak dikenalnya—langit-langit tinggi dengan dinding batu retak, diterangi cahaya merah samar seperti bara. Di ujung ruangan, wanita bermahkota hitam itu kembali muncul.

Matanya yang tajam berkilau seperti permata gelap, dan setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan di lantai. Kali ini, ia tidak hanya menatap Ayundria. Ia mengulurkan tangan.

“Anakku…” bisiknya dengan suara yang seakan berasal dari segala arah. “Kau tidak bisa bersembunyi dariku selamanya.”

Ayundria ingin berlari, tapi kakinya membeku. Bayangan gelap merambat dari mahkota wanita itu, menjalar ke lantai, mengikat pergelangan kakinya.

Jantung Ayundria berdentum keras. “Siapa kau?! Kenapa kau memanggilku begitu?!”

Wanita itu tersenyum samar—senyum yang tidak menenangkan, melainkan menusuk jiwa. “Aku darahmu. Aku hidupmu. Dan kau… adalah kunciku.”

Seketika ruangan runtuh, cahaya merah padam, dan Ayundria jatuh ke dalam kehampaan.

Ayundria terbangun dengan teriakan. Nafasnya memburu, tubuhnya basah oleh keringat dingin.

Lyla berlari masuk, wajahnya tegang. “Ayundria! Tenang, aku di sini!”

Ayundria gemetar, memegang kepalanya. “Dia lagi… wanita itu… dia bilang aku miliknya… dia bilang aku kuncinya!”

Untuk pertama kalinya, Lyla tidak langsung menjawab. Tangannya sempat terhenti di udara, seolah ada kata-kata yang ingin ia ucapkan tapi tercekat di tenggorokan.

Akhirnya, ia hanya menarik napas panjang dan memeluk Ayundria erat. “Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu.”

Namun, ketika Ayundria menutup mata di pelukan itu, wajah Lyla tampak pucat di bawah cahaya lampu minyak.

Karena ia tahu… mimpi itu bukan sekadar mimpi.

Beberapa hari berlalu, tapi Ayundria tidak bisa melupakan mimpi itu. Setiap kali ia menutup mata, wajah wanita bermahkota hitam itu muncul, matanya menusuk, bibirnya berbisik hal-hal yang tidak dimengerti.

Lyla menyibukkan Ayundria dengan berbagai kegiatan: belajar meracik ramuan herbal, membaca buku kuno, bahkan melatih kelincahan tubuh di halaman menara. Namun, Ayundria tahu ada sesuatu yang berbeda.

Ibunya kini lebih sering menatap keluar jendela, seolah mengawasi sesuatu jauh di balik pepohonan Hutan Kesunyian. Matanya kadang kosong, kadang penuh kegelisahan.

❄️❄️❄️

Suatu malam, ketika Lyla mengira Ayundria sudah tidur, gadis itu mendengar suara berbisik. Ia bangkit perlahan dan mengendap ke ruang bawah tanah menara—ruangan yang jarang sekali Lyla biarkan ia masuki.

Di sana, Lyla berdiri di depan cermin hitam besar yang tidak pernah Ayundria lihat sebelumnya. Permukaannya berkilau aneh, seperti cairan yang bergetar.

Lyla menempelkan telapak tangannya pada cermin itu. Bibirnya berkomat-kamit dalam bahasa yang asing. Lalu, dari balik permukaan cermin, bayangan wanita bermahkota hitam muncul samar.

Ayundria menahan napas. Jantungnya hampir meloncat keluar. Itu—itu sosok dari mimpinya!

“Dia semakin kuat,” suara dingin itu terdengar jelas.

“Waktu kita semakin dekat, Lyla. Kau tidak bisa menyembunyikannya selamanya.”

Lyla mengepalkan tangan. Suaranya bergetar tapi penuh amarah. “Selama aku hidup, kau tak akan menyentuhnya.”

Bayangan itu tertawa pelan, gema yang membuat bulu kuduk Ayundria berdiri. “Kau tahu kebenarannya, bukan? Kau hanya menunda… takdir yang tak bisa dihindari.”

Ayundria terpaku di balik pintu, tubuhnya gemetar.

Apa maksud semua ini? Siapa sebenarnya wanita itu? Dan kenapa Lyla—ibunya sendiri—berbicara dengannya?

Untuk pertama kalinya, Ayundria merasa… mungkin Lyla menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mimpi buruk.

❄️❄️❄️

Malam berikutnya, mimpi Ayundria semakin mengerikan. Ia berdiri di tengah hutan gelap. Pohon-pohon menjulang tanpa daun, hanya ranting-ranting kering yang seperti tangan mencoba meraihnya.

Di hadapannya, wanita bermahkota hitam itu muncul lebih jelas dari sebelumnya. Mata tajamnya menembus jiwa, dan di balik mahkota yang menyerupai duri-duri hitam, wajahnya tampak dingin, cantik, sekaligus menakutkan.

“Kau darahku. Kau milikku. Tak ada tempat untuk bersembunyi.”

Suara itu menggetarkan tanah. Dari kegelapan, ribuan kumbang hitam bermunculan, memenuhi tanah, naik ke kaki Ayundria, mencoba menelannya.

Ayundria menjerit. Tapi di detik terakhir, cahaya biru berkilat dari tubuhnya sendiri. Dari tangannya, pecah kilatan dingin—es yang tiba-tiba membeku, menghentikan ribuan kumbang itu di tempat.

Ia terbangun dengan terengah. Keringat dingin menempel di dahinya, tapi tangannya… benar-benar berembun dingin. Kristal-kristal es kecil menempel di ujung jarinya.

Lyla bergegas masuk ke kamar, wajahnya tegang.

“Apa yang kau lihat?” tanyanya dengan nada yang lebih keras dari biasanya.

Ayundria gemetar. “Ibu… aku—aku membuat ini…”

Ia menunjukkan tangannya yang masih berkilau dengan sisa es.

Lyla menatapnya lama. Tatapan itu bukan sekadar terkejut—melainkan ketakutan. Dengan cepat, ia menutup jendela, menarik tirai, dan memeluk Ayundria erat.

“Dengarkan aku, Ayundria,” bisiknya cepat, penuh desakan. “Apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan seseorang melihat kekuatanmu. Jangan.”

Ayundria terdiam. “Kenapa…? Siapa wanita itu dalam mimpiku? Kenapa dia selalu mengatakan aku miliknya?”

Lyla menutup mata sejenak, wajahnya penuh beban.

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Kau harus percaya padaku… dunia di luar sana tidak seindah yang kau bayangkan. Dan bila mereka tahu siapa kau sebenarnya…”

Lyla menatap lurus ke mata Ayundria, suaranya rendah, bergetar. “Mereka akan datang untukmu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Whispers of the Lost Princess    BAB 13 – Tarian di Atas Awan

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 12 – Pertunjukan di Alam Liar

    ❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 11 – Dunia yang Membentang

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 10 – Gerbang Dunia Luar

    ❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 9 – Keputusan di Balik Api

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat. Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya. Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.” Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain. Lyla. Ibunya berd

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 8 – Raja Bayangan

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk. Ayundria menelan ludah. “Kita… kita bisa mengalahkan itu?” Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja. Kalau tidak bisa, kita mati keren, kan?” Ayundria melotot. “Kau gila!” “Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!” Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah. Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status