Beranda / Fantasi / Whispers of the Lost Princess / Bab 3 – Pertemuan Tak Terduga

Share

Bab 3 – Pertemuan Tak Terduga

Penulis: Chouw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-18 22:14:21

❄️❄️❄️

Hari itu terasa berbeda bagi Ayundria. Burung-burung yang biasanya riang di sekitar menara tampak menjauh, hanya tersisa bisikan angin yang menyusup lewat celah jendela batu. Dari tempat tidurnya, ia memeluk lutut, memikirkan mimpi semalam. Mahkota hitam. Tatapan mata yang menusuk. Bisikan "kau milikku" masih bergaung di kepalanya.

Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Namun justru hutan di luar menara terasa… lain. Daun-daun bergoyang tanpa arah angin. Ranting-ranting berderit seolah berbisik, dan Ayundria, untuk pertama kalinya merasa diperhatikan.

Atau aku hanya membayangkan?

Ia berjalan ke jendela tinggi menara, menempelkan dahinya ke kaca. Pandangan luas menampakkan Hutan Kesunyian, hijau gelap dan tak berujung. Seperti biasanya, sunyi. Tapi telinganya menangkap sesuatu—suara samar, hampir tak terdengar.

Siulan.

Nada itu naik-turun, sederhana, tapi menenangkan sekaligus membuat bulu kuduknya meremang. Ayundria membeku, jantungnya berpacu. Selama ini Lyla selalu berkata tidak ada seorang pun yang bisa masuk hutan ini. Tapi suara itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Ia menahan napas. Dan di kejauhan, di antara pepohonan, cahaya biru samar berkelebat.

Ayundria duduk di tepi jendela menara. Matanya menatap jauh, menembus kabut tipis yang menggantung rendah di atas pepohonan Hutan Kesunyian. Malam ini terasa berbeda, lebih sunyi dari biasanya, seakan seluruh hutan menahan napas.

Lalu ia melihatnya.

Awalnya hanya seberkas cahaya biru samar, seperti kilatan api kunang-kunang. Tapi kunang-kunang tak pernah sebesar itu. Cahaya itu bergerak, perlahan, berdenyut seperti detak jantung, sebelum berhenti di bawah naungan pohon oak tua.

Ayundria merasakan bulu kuduknya berdiri. Itu apa?

Dengan hati-hati ia mencondongkan tubuh, menempelkan dahi pada kaca dingin jendela menara. Dan di sanalah ia melihat sosok itu.

Seorang pria.

Ia berdiri tegap, dengan jubah lusuh berwarna biru gelap yang berkibar pelan tertiup angin hutan. Sebatang tongkat panjang tergenggam di tangannya, dan dari ujungnya memancar cahaya biru berdenyut, seolah hidup. Wajahnya terhalang bayangan pepohonan, namun Ayundria bisa merasakan tatapan itu. Tatapan yang menembus, penuh rahasia.

Ayundria menelan ludah. Napasnya tercekat. Tidak mungkin… tidak ada manusia lain di Hutan Kesunyian. Selama ini hanya aku dan Ibu.

Tangannya refleks meremas kusen jendela, jantungnya berdetak kencang. Seolah menyadari bahwa ia sedang diawasi, pria itu mendongak.

Mata mereka bertemu. Hanya sesaat. Tapi cukup membuat Ayundria merasa tubuhnya bergetar hebat. Ada sesuatu di balik tatapan itu—bukan ancaman, tapi juga bukan kenyamanan. Sesuatu yang tak bisa ia pahami, seperti rahasia yang belum seharusnya ia tahu.

Ayundria mundur setengah langkah dari jendela, nyaris kehilangan keseimbangan. Tapi sebelum ia bisa berpaling, pria itu mengangkat tongkatnya.

Cahaya biru menari, membentuk simbol-simbol aneh di udara. Bentuknya seperti lingkaran yang saling bertaut, lalu pecah menjadi pecahan cahaya.

Kilatan itu menerangi wajahnya sesaat—cukup untuk memperlihatkan garis wajah muda namun letih, dengan sorot mata tajam seperti petir yang tertahan.

Lalu, secepat cahaya itu muncul, semuanya lenyap.

Sosok pria itu menghilang. Bukan berlari. Bukan bersembunyi. Menghilang begitu saja, seperti hutan menelannya bulat-bulat.

Ayundria terpaku. Tangannya meraba kaca jendela, tubuhnya bergetar hebat. Jantungnya masih berdetak kacau, matanya menatap kosong ke tempat tadi.

Siapa dia? Bagaimana bisa ada orang lain di sini?

Dan lebih menakutkan lagi, satu pikiran terus bergaung di kepalanya, “Aku tidak sendirian di hutan ini.”

Ayundria masih berdiri di depan jendela, kedua tangannya gemetar. Pandangannya kosong, berusaha mencari sisa cahaya biru itu di antara kabut hutan. Tapi gelap sudah kembali menguasai segalanya, seolah apa yang ia lihat tadi hanyalah ilusi.

“Tidak mungkin hanya ilusi, aku jelas-jelas melihatnya. Aku merasakannya,” gumamnya sambil terus menatap hamparan hutan dibawah sana.

Pintu kamarnya berderit pelan. Ayundria tersentak, buru-buru menutup jendela dan memalingkan tubuh. Lyla berdiri di ambang pintu, membawa lentera kecil. Sorot matanya tajam meski wajahnya tetap tersenyum tipis.

“Kau belum tidur?” tanya Lyla dengan suara lembut, tapi ada nada lain di baliknya—nada yang membuat Ayundria merasa seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.

“Aku… aku hanya tidak bisa tidur,” jawab Ayundria terbata. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya, tapi suaranya bergetar.

Lyla melangkah masuk, menaruh lentera di meja kayu. Cahayanya menerangi seluruh ruangan, termasuk wajah Ayundria yang masih pucat.

“Tidak bisa tidur, atau sedang melihat sesuatu di luar?” Pertanyaan itu membuat darah Ayundria terasa membeku.

“A-apa maksud Ibu?” ia mencoba tersenyum, tapi gagal.

Lyla menatapnya lama, seakan ingin menembus isi kepalanya. Lalu, dengan pelan, ia menyentuh pundak putrinya. “Ingat, Ayundria… Hutan Kesunyian bukan tempat yang aman untuk menaruh rasa ingin tahu. Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau lihat.”

Ayundria terdiam. Kata-kata itu membuat jantungnya semakin kacau. Apakah Ibu tahu? Apakah Ibu juga melihat pria itu?

Sebelum ia sempat bertanya, Lyla menambahkan, suaranya lebih lembut, tapi justru semakin membuat bulu kuduk Ayundria meremang:

“Kalau kau pernah merasa sedang diperhatikan… jangan pernah menatap balik.”

❄️❄️❄️

Malam di Hutan Kesunyian bukanlah malam biasa. Angin yang mengalir membawa bisikan samar, seperti suara yang nyaris membentuk kata-kata namun hilang sebelum bisa dipahami. Di luar menara, kabut merayap hingga ke jendela, mengetuk-ngetuk kaca seakan ingin masuk.

Ayundria tidak bisa tidur. Kata-kata Lyla tadi sore terus mengekori pikirannya. “Kalau kau pernah merasa sedang diperhatikan… jangan pernah menatap balik.”

Ia memeluk selimut hingga ke dagu, matanya menatap langit-langit batu yang retak. Bayangan lentera di sudut ruangan menari di dinding, membentuk siluet yang aneh—kadang seperti wajah, kadang seperti tangan yang hendak meraih.

Kenapa Ibu berkata seperti itu? pikirnya. Apakah Ibu… tahu sesuatu yang tidak kuketahui?

Perlahan, ia duduk. Dari tempatnya di ranjang, ia bisa melihat Lyla. Perempuan itu duduk di kursi kayu dekat pintu, tubuhnya tegak, wajahnya tenang seakan tak pernah lelah. Lentera di sampingnya membuat sorot matanya berkilat.

“Ibu…” suara Ayundria hampir bergetar. “Apakah kau juga pernah merasa diperhatikan?”

Untuk sesaat, Lyla tidak menjawab. Hanya ada bunyi angin yang menyeret dedaunan kering dari luar. Ayundria menunggu, jantungnya berdetak semakin keras.

Akhirnya, Lyla menoleh. Senyum tipis terbentuk di bibirnya, tapi mata itu—mata yang selama ini ia percayai—terlihat dingin, penuh rahasia yang tak terucapkan.

“Semua orang pernah, Ayundria,” jawabnya pelan. “Tapi tidak semua orang cukup kuat untuk menahan diri agar tidak menatap balik.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam hati Ayundria. Ia ingin bertanya lebih jauh. Tentang pria bercahaya biru yang ia lihat. Tentang mimpinya. Tentang kenapa Lyla selalu menutup-nutupi hal-hal aneh yang ia rasakan sejak kecil. Tapi tatapan ibunya membuat lidahnya kelu.

Tatapan itu bukan milik seorang ibu… melainkan tatapan seseorang yang menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap.

Ayundria berpaling, kembali berbaring dengan punggung menghadap Lyla. Tapi air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ia merasa semakin jauh dari ibunya, seperti ada tembok tak terlihat yang memisahkan mereka.

Di tengah rasa takut dan kebingungannya, ia sempat berbisik lirih, hampir tidak terdengar. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, Ibu…?”

Hening.

Lyla tidak menjawab. Tapi dari kursinya, ia terus menatap punggung Ayundria dengan mata yang sulit ditebak—antara cemas, sedih, dan… waspada.

Dan di luar menara, kabut kian menebal. Dari balik pohon tua yang berakar melilit, sepasang mata samar kembali menyala, menatap ke arah menara itu. Tatapan dingin, tak berkedip, seolah sedang menunggu sesuatu pecah di antara ibu dan anak itu.

Ayundria akhirnya terlelap juga, meski tidurnya gelisah. Tubuhnya berbalik berulang kali, bibirnya terkadang menggumamkan kata-kata yang bahkan ia sendiri tak mengerti.

Lyla masih duduk di kursinya, matanya tak kunjung terpejam. Ia menatap jendela yang mulai berembun. Suara kabut di luar seakan hidup, bergesekan di dinding menara, menyeret bayangan yang tak seharusnya ada.

Tiba-tiba,

Tok… tok… tok…

Suara ketukan terdengar. Tiga kali. Pelan, tapi jelas.

Lyla seketika berdiri, tubuhnya menegang. Ia menoleh ke arah pintu kayu berat itu. Tidak mungkin ada yang bisa mendaki menara tanpa ia ketahui. Tidak mungkin.

Ayundria terbangun setengah sadar, mengucek matanya. “Ibu? Ada siapa?”

Sebelum ia sempat bangun, Lyla mengangkat tangannya, memberi isyarat agar diam. Wajahnya berubah pucat, dan itu lebih menakutkan daripada suara ketukan itu sendiri.

Ketukan berhenti. Hening panjang menyusul. Ayundria hendak kembali berbaring, ketika tiba-tiba.

“Ayundria…”

Suara itu datang dari balik jendela. Bukan suara Lyla. Bukan suara manusia biasa. Suara itu berat, bergetar, dan seolah langsung masuk ke dalam kepalanya.

Ayundria membeku. Seluruh tubuhnya bergetar tanpa kendali. Perlahan ia menoleh ke jendela, meski Lyla berteriak lirih:

“Jangan lihat! Ayundria, jangan!”

Tapi sudah terlambat.

Di balik kaca berembun itu, samar-samar, terlihat wajah pucat dengan mata menyala redup. Seolah tersenyum. Seolah telah menunggu momen ini sejak lama.

Ayundria terperanjat, terisak, matanya membesar.

Lyla segera meraih tangannya, menariknya menjauh dari jendela sambil berbisik keras:

“Dia sudah menemukannya…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Whispers of the Lost Princess    BAB 13 – Tarian di Atas Awan

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria berat tapi matanya terus menyala penuh rasa ingin tahu. Hutan di luar Kesunyian seperti dunia lain yang tak pernah ia bayangkan. Pohon-pohon menjulang setinggi menara dengan batang transparan, mengalirkan cahaya biru dari dalamnya, seperti urat nadi raksasa. Ratusan kunang-kunang sebesar kepalan tangan berputar dalam spiral di udara, membentuk pola yang berubah-ubah—kadang bunga, kadang naga, kadang wajah-wajah asing yang menatap Ayundria. Ia terkesiap, mundur setengah langkah. “Tenang saja,” kata Bill dengan nada sok tahu. “Itu cuma Spirit Glowflies. Mereka suka main sulap dengan cahaya. Kadang membentuk wajah mantan kekasihku juga. Sangat mengganggu.” Ayundria menatapnya tak percaya. “Kau punya mantan kekasih?” Bill menyeringai, petir kecil berloncatan di antara jarinya. “Sepuluh ribu tahun umurku, kau kira aku biara biksu? Tentu saja aku punya. Tapi mereka selalu berakhir membenciku, entah karena aku terlalu tampan, atau terlalu pintar, atau terlal

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 12 – Pertunjukan di Alam Liar

    ❄️❄️❄️ Hening membungkus hutan. Es yang Ayundria ciptakan masih berkilau pucat, membekukan bayangan hitam dalam pose aneh, seperti patung grotesk hasil karya seniman gila. Nafas Ayundria memburu, dadanya naik-turun cepat, lututnya hampir tak kuat menopang tubuh. “Tidak… tidak mungkin aku melakukan semua ini,” gumamnya, suaranya nyaris bergetar. Bill, dengan wajah lebam dan baju penuh sobekan, menyeret kakinya mendekat. Alih-alih wajah tegang, ia malah menyeringai lebar. Dengan dramatis, ia meraih pundak Ayundria, menatapnya seolah ia baru saja menyelamatkan dunia. “Dengar baik-baik, nona kecil,” Bill menahan jeda, lalu berbisik dengan suara bergetar. “Kau baru saja membuatku terlihat jelek di depan monster bayangan!” Ayundria berkedip. “Apa?” Bill tiba-tiba merosot ke tanah, berbaring seolah sedang sekarat. Ia meletakkan tangan di dadanya, mendesah panjang. “Dua abad aku bertarung melawan naga, penyihir jahat, bahkan roh pemakan jiwa, tapi sekarang, seorang gadis dengan ra

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 11 – Dunia yang Membentang

    ❄️❄️❄️ Langkah Ayundria terasa ragu saat ia meninggalkan jejak terakhir dari Hutan Kesunyian. Tanah di bawah kakinya lebih lembut, rerumputan berpendar seolah tiap helainya menelan cahaya bintang dan memantulkannya kembali. Malam menjelang, tapi tidak ada gelap di sini. langit melukiskan warna ungu, emas, dan biru yang bergulung seperti riak samudra. “Aku…” Ayundria mendesah pelan, suaranya tercekat. “Aku bahkan tidak tahu harus menatap ke mana dulu.” Bill berjalan di sampingnya dengan gaya seenaknya. Ia menenteng tongkatnya di bahu seperti tombak mainan, mulutnya bersiul nyaring mengikuti irama yang tidak jelas. “Terserah kau, Putri Salju. Mau menatap ke langit, ke tanah, atau ke arahku. Semuanya sama-sama indah.” Ayundria menoleh cepat, wajahnya memerah. “Kau menyebalkan.” Bill terkekeh puas. “Ah, akhirnya ada yang jujur padaku.” Tiba-tiba sekawanan makhluk melintas di depan mereka. Ayundria menahan napas—bukan burung, bukan kupu-kupu, melainkan ikan bercahaya. Tubuhnya

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 10 – Gerbang Dunia Luar

    ❄️❄️❄️ Udara pagi menyelimuti Hutan Kesunyian dengan kabut tipis berkilau. Cahaya matahari menembus celah pepohonan raksasa, menciptakan pilar-pilar cahaya seperti tiang istana. Ayundria berjalan pelan di samping Bill, jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut, melainkan kagum. Seumur hidupnya, dunia hanya sebatas dinding batu menara. Tapi kini, matanya dibanjiri warna-warna yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Burung-burung kecil dengan bulu seperti pecahan kristal beterbangan, meninggalkan jejak cahaya di udara. Bunga liar berwarna ungu lembut tumbuh di akar pohon, mekar dengan kelopak yang bergetar seolah sedang bernapas. Dari balik semak, seekor kelinci berbulu perak muncul, menatap Ayundria dengan mata bundar berpendar biru, lalu meloncat ringan, meninggalkan jejak bercahaya di rerumputan. Ayundria tertegun, bibirnya sedikit terbuka. “Indah sekali…” Bill menoleh padanya, senyumnya nakal. “Oh, itu? Itu hanya menu pembuka. Kau belum lihat hidangan utama.” “Hidan

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 9 – Keputusan di Balik Api

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian kembali hening. Bau tanah basah bercampur dengan asap tipis masih menggantung di udara. Bekas luka pertempuran jelas terlihat—batang-batang pohon hangus, tanah retak akibat sambaran petir, dan bongkahan es yang masih berdiri kaku memantulkan cahaya bulan pucat. Ayundria berdiri terengah-engah di tengah semua itu. Rambutnya berantakan, tangannya masih bergetar karena adrenalin yang belum surut. Ia menatap jejak kakinya sendiri di atas es yang retak, hampir tidak percaya bahwa dialah yang menciptakannya. Bill tergeletak di atas bongkahan batu, tangannya bersilang di belakang kepala, wajahnya penuh luka lebam tapi senyum liarnya tetap terpasang. “Hah! lama sekali aku tidak menari seindah ini,” gumamnya, suaranya ringan seolah pertarungan tadi hanya permainan. “Ayundria, kau punya bakat besar. Jangan bilang kau belum pernah latihan? Karena kalau iya, aku resmi iri.” Ayundria menoleh, ingin menjawab, tapi pandangannya terhenti pada sosok lain. Lyla. Ibunya berd

  • Whispers of the Lost Princess    Bab 8 – Raja Bayangan

    ❄️❄️❄️ Hutan Kesunyian bergetar seolah bernapas. Akar-akar raksasa terangkat dari tanah, pepohonan berderak, dan dari kegelapan, sosok itu muncul sepenuhnya—Raja Bayangan. Tubuhnya menjulang, hitam legam, wajahnya samar seperti kabut pekat, namun sepasang mata merah menyala menatap Ayundria dan Bill. Nafasnya saja membuat udara bergetar, seolah dunia sedang dipaksa tunduk. Ayundria menelan ludah. “Kita… kita bisa mengalahkan itu?” Bill malah menyeringai, jubahnya masih berkilat tersambar sisa petir. “Oh, tentu saja. Kalau tidak bisa, kita mati keren, kan?” Ayundria melotot. “Kau gila!” “Gila itu relatif!” Bill menepuk pundaknya cepat, lalu menoleh ke Raja Bayangan. “Ayo, kita buat si raksasa murung ini menari!” Raja Bayangan meraung, suara yang membuat langit seolah retak. Bayangan pekat menjulur dari tubuhnya, membentuk tentakel hitam yang menyapu tanah. Bill berlari lebih dulu—tidak, menyambar. Kakinya menghantam tanah, tubuhnya berubah jadi kilatan biru yang melesat di antar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status