LOGINWiro menatap pria itu. Dalam sepersekian detik, dia sudah menilai, pria ini terlatih, gerakannya menyiratkan pengalaman bertarung yang tidak sedikit, tapi levelnya jauh di bawah pembunuh bayaran yang dia hadapi beberapa hari lalu. Dua orang di belakangnya lebih lemah lagi.'Bertindak lemah. Jangan tunjukkan kekuatan yang sebenarnya.' batin WiroWiro langsung memasang ekspresi terkejut yang sangat meyakinkan. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit mundur di kursinya, dan jemarinya yang tadi memegang sendok bergetar dengan akting yang sempurna."Ma-mata-mata?" Wiro mengangkat kedua tangannya dengan gestur menyerah. "Bukan! Aku bukan mata-mata! Sumpah!"Pria sangar itu menyipitkan matanya. "Lalu kenapa kau memperhatikan gedung kami terus?"Wiro menelan ludahnya dengan dramatis. "Karena... karena aku mengagumi organisasi Naga Hitam," katanya dengan suara yang dibuat-buat bergetar oleh campuran ketakutan dan antusiasme. "Sejak kecil aku sudah mendengar tentang Naga Hitam. Organisasi mafia pa
Malam sebelum keberangkatannya, Wiro duduk di tepi ranjang kamar hotel, memandang Viana yang berdiri di depan jendela dengan tangan terlipat di dada. Cahaya kota menyinari wajahnya dari samping, mempertegas garis rahangnya yang tegas dan matanya yang berkilat menahan emosi."Jadi kau akan pergi," kata Viana. Bukan pertanyaan."Bukan pergi." Wiro berdiri dan menghampirinya. Tangannya meraih jemari Viana dan menggenggamnya. "Aku hanya akan bergerak di kota ini. Kota Delta ini masih menyimpan banyak hal yang harus kuurus."Viana menatap matanya lekat-lekat. "Hal seperti apa?"Wiro terdiam sejenak. Ada hal-hal yang belum bisa dia ceritakan sepenuhnya kepada Viana. Bukan karena dia tidak percaya pada gadis itu, tapi karena informasi yang dimilikinya sendiri masih berupa potongan-potongan yang belum utuh, dia belum bisa cerita."Hal-hal yang berbahaya," jawab Wiro jujur. "Tapi aku janji, kapan pun kau membutuhkanku, telpon aku dan aku akan datang. Tidak peduli di mana aku berada di kota in
Kita kembali ke peristiwa sebelum itu, tiga hari setelah kejadian di rumah Viana, setelah pembunuhan yang gagal, Wiro berdiri di depan sebuah gedung tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Angin malam membawa bau karat dan minyak mesin yang sudah lama mengering.Gedung itu dari luar terlihat seperti pabrik yang bangkrut. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, pagar kawatnya berkarat. Tapi Wiro bisa merasakan apa yang ada di dalamnya.Puluhan titik energi manusia. Sebagian besar terkonsentrasi di lantai bawah tanah. Beberapa di lantai atas sebagai penjaga.Ini adalah markas organisasi pembunuh bayaran yang telah mengirim enam orang untuk membunuh Viana.Wiro memandang gedung itu dengan tatapan datar. Baginya, gedung ini bukan benteng yang tidak bisa ditembus. Ini hanyalah sarang yang perlu dibersihkan.Dia melangkah masuk melalui pintu depan.Tidak mengendap. Tidak bersembunyi. Masuk langsung dari depan seperti tamu yang datang berkunjung.Dua penjaga di pin
Wiro duduk di tepi ranjang dan membelai rambut gadis itu dengan lembut.'Mereka mengincarmu. Sepupumu sendiri ingin kau mati. Tapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu.'Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui celah tirai.Viana terbangun dan mendapati Wiro duduk di sofa dekat jendela, secangkir kopi di tangannya, sinar matahari pagi menimpa wajahnya yang tenang."Pagi," sapa Wiro sambil tersenyum.Viana mengerjapkan matanya, lalu tersenyum balik. "Pagi. Kau sudah bangun dari tadi?""Tidak bisa tidur. Terlalu banyak memikirkanmu."Viana tertawa kecil sambil melempar bantal ke arahnya. "Gombal."Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Retakan di dinding dekat pintu masuk. Goresan di lantai marmer. Dan samar-samar, bau metalik yang tidak seharusnya ada di kamar hotel.Senyum Viana menghilang."Wiro." Suaranya berubah serius. "Apa yang terjadi semalam?"Wiro meletakkan cangkir kopinya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Vian
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara di kamar itu dingin oleh hembusan AC yang konstan, namun kehangatan tetap terasa dari dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang king size berlapis seprai sutra.Viana menyandarkan kepalanya di dada Wiro, jemarinya mencengkeram ujung kaus pria itu bahkan dalam tidurnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya damai tanpa beban. Seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah ada.Wiro tidak tidur.Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi kesadarannya menyala terang seperti obor di tengah kegelapan. Setiap detak jantungnya adalah radar. Setiap hembusan angin yang menyusup dari celah ventilasi tercatat oleh indra perasanya yang tajam.'Tiga orang di koridor timur. Dua orang di balkon lantai bawah. Satu lagi di atap.'Wiro sudah merasakannya sejak sejam yang lalu. Enam titik energi asing yang bergerak perlahan, menyusup seperti ular dalam kegelapan. Gerakan mereka terlatih, langkah mereka nyaris tanpa suara. Profesional.
Setelah sesi *lotus* yang membuai di ranjang, Viana dan Wiro terbaring berpelukan, napas mereka teratur, namun sisa-sisa gairah masih terasa hangat di tubuh mereka. Kontol Wiro yang besar masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan puas. Keintiman yang baru saja mereka alami telah menyatukan mereka dalam level yang lebih dalam. Namun, Viana, yang merasakan kehangatan di hatinya, ingin mengakhiri sesi ini dengan sentuhan paling personal dan penuh kasih sayang. Viana mengangkat kepalanya dari dada Wiro, menatap mata pemuda itu dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Wiro..." bisiknya lembut, jari-jarinya yang ramping mengelus pipi Wiro yang berkeringat. "Aku ingin mengakhiri ini dengan yang paling mesra. Aku ingin kamu di atasku... aku ingin kita saling menatap, saling mencium, sampai kita tertidur bersama." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah eksplorasi liar dan intim, Viana menginginkan kepulangan ke posisi
Wiro berdiri di ambang pintu kamar mandi, napasnya masih tersengal setelah sesi panas tadi. Tubuhnya yang kekar, berotot dari latihan gym, basah oleh keringat dan air sisa mandi. Kontolnya yang masih setengah tegang bergoyang pelan saat ia melangkah keluar, siap menuju kamar tidur untuk berpakaia
Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat
Dua hari telah berlalu sejak pertemuan Wiro dengan Wilona.Selama dua hari itu, kehidupan Wiro mulai menemukan ritme barunya. Pagi ini, Wiro memutuskan untuk lari pagi. Sejak mendapatkan liontin misterius itu, tubuhnya terasa jauh lebih bugar dan berenergi. Tidur empat jam saja sudah cukup untuk m
Setelah gelombang kenikmatan kedua mereda, Wiro dan Wilona tetap berbaring di kasur yang basah oleh keringat dan cairan mereka. Tubuh Wilona yang telanjang menempel erat pada dada Wiro, napasnya masih tersengal-sengal, tapi kini disertai senyum lemah yang penuh kepuasan. Hujan di luar jendela ter







