LOGINKita kembali ke peristiwa sebelum itu, tiga hari setelah kejadian di rumah Viana, setelah pembunuhan yang gagal, Wiro berdiri di depan sebuah gedung tua di kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan. Angin malam membawa bau karat dan minyak mesin yang sudah lama mengering.Gedung itu dari luar terlihat seperti pabrik yang bangkrut. Cat dindingnya mengelupas, jendela-jendelanya pecah, pagar kawatnya berkarat. Tapi Wiro bisa merasakan apa yang ada di dalamnya.Puluhan titik energi manusia. Sebagian besar terkonsentrasi di lantai bawah tanah. Beberapa di lantai atas sebagai penjaga.Ini adalah markas organisasi pembunuh bayaran yang telah mengirim enam orang untuk membunuh Viana.Wiro memandang gedung itu dengan tatapan datar. Baginya, gedung ini bukan benteng yang tidak bisa ditembus. Ini hanyalah sarang yang perlu dibersihkan.Dia melangkah masuk melalui pintu depan.Tidak mengendap. Tidak bersembunyi. Masuk langsung dari depan seperti tamu yang datang berkunjung.Dua penjaga di pin
Wiro duduk di tepi ranjang dan membelai rambut gadis itu dengan lembut.'Mereka mengincarmu. Sepupumu sendiri ingin kau mati. Tapi selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun yang bisa menyentuhmu.'Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyusup melalui celah tirai.Viana terbangun dan mendapati Wiro duduk di sofa dekat jendela, secangkir kopi di tangannya, sinar matahari pagi menimpa wajahnya yang tenang."Pagi," sapa Wiro sambil tersenyum.Viana mengerjapkan matanya, lalu tersenyum balik. "Pagi. Kau sudah bangun dari tadi?""Tidak bisa tidur. Terlalu banyak memikirkanmu."Viana tertawa kecil sambil melempar bantal ke arahnya. "Gombal."Tapi kemudian matanya menangkap sesuatu. Retakan di dinding dekat pintu masuk. Goresan di lantai marmer. Dan samar-samar, bau metalik yang tidak seharusnya ada di kamar hotel.Senyum Viana menghilang."Wiro." Suaranya berubah serius. "Apa yang terjadi semalam?"Wiro meletakkan cangkir kopinya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari Vian
Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Udara di kamar itu dingin oleh hembusan AC yang konstan, namun kehangatan tetap terasa dari dua tubuh yang saling berpelukan di atas ranjang king size berlapis seprai sutra.Viana menyandarkan kepalanya di dada Wiro, jemarinya mencengkeram ujung kaus pria itu bahkan dalam tidurnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya damai tanpa beban. Seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah ada.Wiro tidak tidur.Matanya terpejam, napasnya teratur, tapi kesadarannya menyala terang seperti obor di tengah kegelapan. Setiap detak jantungnya adalah radar. Setiap hembusan angin yang menyusup dari celah ventilasi tercatat oleh indra perasanya yang tajam.'Tiga orang di koridor timur. Dua orang di balkon lantai bawah. Satu lagi di atap.'Wiro sudah merasakannya sejak sejam yang lalu. Enam titik energi asing yang bergerak perlahan, menyusup seperti ular dalam kegelapan. Gerakan mereka terlatih, langkah mereka nyaris tanpa suara. Profesional.
Setelah sesi *lotus* yang membuai di ranjang, Viana dan Wiro terbaring berpelukan, napas mereka teratur, namun sisa-sisa gairah masih terasa hangat di tubuh mereka. Kontol Wiro yang besar masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan puas. Keintiman yang baru saja mereka alami telah menyatukan mereka dalam level yang lebih dalam. Namun, Viana, yang merasakan kehangatan di hatinya, ingin mengakhiri sesi ini dengan sentuhan paling personal dan penuh kasih sayang. Viana mengangkat kepalanya dari dada Wiro, menatap mata pemuda itu dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Wiro..." bisiknya lembut, jari-jarinya yang ramping mengelus pipi Wiro yang berkeringat. "Aku ingin mengakhiri ini dengan yang paling mesra. Aku ingin kamu di atasku... aku ingin kita saling menatap, saling mencium, sampai kita tertidur bersama." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah eksplorasi liar dan intim, Viana menginginkan kepulangan ke posisi
Setelah eksplorasi doggy-style yang liar dan brutal, Viana dan Wiro ambruk di ranjang, tubuh mereka basah oleh keringat, napas terengah-engah, namun puas. Kontol Wiro yang besar dan panjang masih tertanam di dalam memek Viana yang berdenyut, basah, dan sedikit membengkak. Meskipun baru saja merasakan gairah yang eksplosif, Viana merasa ada kerinduan akan sentuhan yang lebih dalam, lebih terhubung secara emosional. Ia ingin merasakan setiap inci Wiro menyatu dengan dirinya, namun dengan kelembutan yang membuai. Viana menggeliat pelan, memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Wiro. Ia menatap mata pemuda itu, mengusap pipinya yang masih memerah. "Wiro... aku ingin kamu lagi," bisiknya serak, "tapi kali ini aku ingin kita saling menatap, saling merasakan setiap sentuhan. Aku ingin posisi lotus. Aku ingin kamu di dalamku, duduk berhadapan, seperti kita adalah satu." Wiro tersenyum. Ia mengerti keinginan Viana. Setelah badai gairah yang menggila, Viana membutuhkan ketenangan, ke
Setelah keintiman mesra spooning yang membuai, Viana dan Wiro berbaring pelukan erat di ranjang sutra merah apartemen mewahnya. Napas mereka tenang, tapi hasrat Viana—gadis Tionghoa berusia 22 tahun dengan nafsu tak terbendung—kembali membara. Ia geliat pelan, putus pelukan, tatap Wiro dengan mata sipit berkilat liar. "Wiro... aku pengen yang lebih ganas sekarang," bisiknya serak, suara penuh godaan. "Aku mau kamu sodok dari belakang... mainin pantatku sampe puas. Explore doggy-style ini bareng aku." Wiro tersenyum tipis, kontolnya langsung tegang dengar kata-kata itu. Ia tahu Viana suka variasi, dan doggy-style jadi favoritnya buat eksplorasi dalam. "Siap, Viana. Aku bakal bikin kamu jerit nikmat," balasnya, suara rendah penuh janji. Viana bangkit cepat, berlutut di ranjang, posisi merangkak sempurna. Punggung rampingnya melengkung sensual, pantat bulat kenyal terangkat tinggi, belahan pantat terbuka lebar perlihatkan memek basah mengkilap rambut tipis dan lubang pantat pink mungil
Setelah beberapa saat berbaring saling peluk, napas mereka mulai tenang, tapi hasrat masih membara di antara keduanya. Hartini bergeser pelan, memutar tubuhnya hingga punggungnya menempel pada dada Wiro yang lebar dan hangat. “Peluk aku dari belakang, sayang,” bisiknya lembut, tangannya meraih tan
Setelah gelombang kenikmatan mereka mereda dalam posisi menyamping, Wiro perlahan menarik kontolnya yang masih setengah tegang dari memek Hartini yang basah dan penuh cairan mereka. Hartini menggeliat pelan, memutar tubuhnya menghadap Wiro dengan senyum lelah tapi penuh hasrat. “Aku ingin melihat
Wiro membuka pintu kamar hotel suite yang mewah, cahaya lembut dari lampu dinding menyambut mereka. Clarissa mengikuti di belakangnya, tangannya masih gemetar karena kegembiraan dan rasa syukur yang meluap. Ayahnya, yang tadinya lumpuh akibat stroke parah, kini bisa berjalan lagi berkat kekuatan p
Setelah gelombang kenikmatan kedua mereda, Wiro dan Wilona tetap berbaring di kasur yang basah oleh keringat dan cairan mereka. Tubuh Wilona yang telanjang menempel erat pada dada Wiro, napasnya masih tersengal-sengal, tapi kini disertai senyum lemah yang penuh kepuasan. Hujan di luar jendela ter







