Share

Witch (Bahasa Indonesia)
Witch (Bahasa Indonesia)
Penulis: Your.cindy

1. Mimpi

Hidupku di dasar tebing yang curam. Orang-orang melihatku tersenyum dengan sangat cerah seakan-akan tidak memiliki masalah sama sekali, namun mereka salah, aku merasa hidupku seperti di neraka, seolah-olah aku melakukan sebuah dosa yang sangat besar yang tidak bisa dimaafkan hanya dengan sebuah kata.

"Oh tuhan, apa yang pernah kulakukan di kehidupan sebelumnya? Mengapa aku merasa dunia begitu sangat menyiksaku? Aku lelah menunggu hari itu, hari di mana aku sangat bahagia, hari di mana aku sangat senang untuk menjalani hidupku, aku merasa sangat sedih, benci, lelah, dan aku sudah tidak sanggup lagi, ya Tuhan, kapan aku bahagia?"

                                    ⚛⚛⚛

Aku berjalan di terowongan gelap, di mana aku? tempat apa ini? Aku terus berjalan di terowongan gelap ini, kakiku ... aku tidak bisa menghentikannya seakan-akan ada seseorang yang mengendalikanku, sekarang aku takut, tubuhku tidak mengikuti isi pikiranku, tubuhku tidak mau diperintahkan oleh otakku, ada apa ini?

Seperti berjalan tanpa tujuan, aku mulai putus asa, aku pasrah, mau tidak mau aku harus mengikuti langkah kakiku menelusuri lorong gelap ini. Tunggu! Aku melihat cahaya di ujung sana, di ujung terowongan ini, seakan melihat harapan, kakiku mulai berlari mengejar cahaya yang berada di ujung sana, akhirnya aku bisa keluar dari terowongan gelap ini.

Satu langkah lagi aku menuju cahaya itu, maka aku akan keluar dari terowongan gelap ini, namun apa yang ku harapkan adalah neraka yang selalu menghantuiku.

Ayah yang menampar wajah ibu, ibu yang memecahkan segala macam benda di hadapannya, ayah yang membawa wanita lain, ibu yang selalu menghubungi kekasih gelapnya.

Semua yang ada di hadapanku, semua yang kulihat seakan-akan di putar di sebuah tv besar, sangat besar ... seolah-olah orang itu ada di hadapanku, seolah-olah itu nyata, seperti memori yang berjalan mundur ke masa lalu, masa lalu yang kelam, masa lalu yang tidak ingin kuingat.

Aku sendirian menahan diri dari hari yang kejam itu, yang membuatku harus berpura-pura bahagia di hadapan orang-orang, aku berjuang untuk masa depanku yang bahagia dan pergi dari neraka yang kejam dan mengerikan ini.

                                    ⚛⚛⚛

Sekarang ingatan-ingatan itu lenyap dan di gantikan dengan sebuah ruangan yang gelap, di tengah-tengah ruang ada sebuah kubus yang memancarkan cahaya berwarna biru muda.

Lagi ... kakiku berjalan sendiri membawa tubuhku menuju kubus tersebut. Ada rasa takut sekaligus membuat hatiku tenang. Kubus itu seakan-akan memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku bisa melihat cahaya yang dikeluarkan oleh kubus dari dekat, sangat indah.

Bisa-bisanya kubus itu melayang di udara kosong, aku tidak bisa mempercayai mataku, apakah aku bermimpi?

Sekarang tanganku bergerak ke arah kubus itu, ingin menggapainya, namun satu centi sebelum ujung jariku menyentuhnya, kubus itu mengeluarkan sinar biru yang sangat terang, sangat menyilaukan, membuatku refleks menutup mata, merasa cahaya itu telah pergi, aku membuka mataku, namun apa yang menantiku adalah sebuah tangga yang tinggi, seakan-akan tangga itu tidak memiliki ujung.

Apa yang harus kulakukan?

Apakah aku harus berbalik lagi? Atau terus maju?

Namun tidak ada gunanya untukku berpikir, karena kakiku perlahan-lahan menaiki anak tangga satu persatu.

Oh ayolah, aku lelah, berjalan tanpa henti membuat tubuhku sangat lelah, kakiku sudah mati rasa!

Menaiki tangga yang tiada habisnya membuatku sangat lelah, kini kakiku tersandung anak tangga, untung saja aku tidak jatuh, membayangkan jatuh dari tangga yang tinggi ini membuat bulu kudukku berdiri.

Akhirnya aku melihat cahaya di ujung sana, mungkin itu adalah akhir dari penderitaan ini.

Tuk tak tuk tak

Yang kudengar hanyalah bunyi dari suara langkah kakiku. Menaiki anak tangga untuk menuju cahaya itu, seberapa tinggi? Berapa anak tangga lagi yang harusku naiki? Aku lelah, tolong aku!

Ini sangat tidak wajar, mana ada tangga setinggi ini. Berkali-kali aku mencubit diriku, namun yang ku rasa adalah rasa sakit dari kulitku.

Ini bukan mimpi tapi ini seperti mimpi, mana ada setiap membuka mata seseorang akan berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lainnya.

Aku terus menaiki anak tangga menuju cahaya itu, ku singkirkan pikiran yang membuatku bingung, karena aku sudah sampai di sini, aku harus fokus menuju cahaya itu.

                                     ⚛⚛⚛

Akhirnya ... sepuluh anak tangga lagi, wah betapa senangnya aku ketika menghitung anak tangga itu, sepuluh kali lagi ... sepuluh kali lagi ... akhirnya.

Kini aku sudah di anak tangga terakhir, di depanku ada sebuah pintu, cahaya yang di pancarkan dari pintu merembes masuk di celah-celah samping pintu, oh ini kah cahaya yang ku kejar sedari tadi?

Tanpa basa-basi lagi, aku membuka pintu di hadapanku.

Ceklek.

"Annyeong haseyo," ucapku sembari membuka pintu, ku majukan kepalaku untuk melihat isi ruangan itu, namun apa yang aku pikirkan ternyata salah, ini di luar ekspektasiku, ini seperti di surga, indah bahkan kata-kata tidak bisa diungkapkan ketika melihat ini.

Apakah aku di surga? Sangat tidak di percaya, beginikah jika orang mati?

Ku langkahkan kakiku menuju surga itu, ku menghirup rakus udara di sekitarku, sangat segar, seakan-akan jiwaku di perbarui lagi, semua lelahku hilang ketika merasakan udara segar ini.

Benar-benar surga, udaranya pun bisa membuat lelahku hilang.

Aku mendengar suara air, seketika tenggorokanku terasa kering, ku lihat di sekitarku, dan menemukan air terjun kecil, sekali lagi aku terperangah melihatnya.

Mana ada air terjun seindah ini, air yang berkilauan seakan-akan ada berlian di dalamnya.

Ah ... aku haus aku ingin minum air itu, sepertinya segar, bedebah dengan racun, aku haus.

Kulangkahkan kakiku menuju air terjun itu, udara di sekitar air terjun itu dingin, namun masih bisa di toleransi oleh tubuhku, aku pun berjongkok dan mengambil air itu dengan kedua tanganku.

Segar ... rasa dingin di tanganku sangat segar, ku bawa air ke mulutku, wah ... air es pun tidak senikmat ini. 

"Hei ... sudah minumnya?" Tanya seseorang di belakangku.

Tunggu!

Seseorang!

Aku membalikkan badanku dan seketika tubuhku menegang, beberapa kali aku meyakinkan diriku bahwa aku tidak bermimpi, namun tetap saja, seperti di dunia mimpi.

Di hadapanku adalah binatang dengan tiga kepala, tiga kepala hewan yang berbeda.

Wah ... apa ini?

  

Kepala singa, kambing dan ular?

*(Chimera)

Bagaimana bisa makhluk ini ada? Bukankah ini hanya makhluk mitologi? Jadi makhluk itu beneran ada? Beberapa kali aku mengusap mataku, beberapa kali aku mencubit lenganku untuk memastikan apakah yang ada di depanku ini nyata, namun mahkluk itu tetap tidak menghilang dari pandanganku bahkan kulitku terasa perih akibat cubitan.

"Hei! Aku tanya sudah minumnya? Kenapa masih belum di jawab?" Tanya si kepala singa.

"Su ... sudah ... aku sudah selesai meminumnya," ucapku terbata.

"Tenanglah wahai anak muda, kami tidak menggigit," ucap si kepala kambing.

Mendengar kata menggigit, aku menelan air liurku dengan susah payah, bulu kudukku berdiri. Apa-apaan ini!

"Hei, kenapa melamun?" Tanya si kepala ular.

"Ah ... tidak ... tidak, aku ingin bertanya, ini di mana? Apakah aku berada di surga?" Tanyaku dengan susah payah mengumpulkan keberanianku.

"Mimpi ...." ucap si kepala singa.

Seketika tubuhku menegang, mimpi? Apakah ini lucid dream? Oh tidak! Aku masih ingin hidup! Aku belum bahagia!

"Tenanglah wahai anak muda, kami mengunjungimu hanya memberikan ini," ucap si kepala singa lagi.

Kini ada cahaya di hadapanku, cahaya itu sedikit demi sedikit berubah bentuk menjadi sebuah kubus dan buku.

Kubus yang ku lihat di ruangan itu.

"Lawanlah Lucifer dan temukan ketujuh penyihir, jagalah kubus dan buku ini," ucap si kepala singa lagi.

Aku pun mengambil buku dan kubus itu dengan perasaan bingung.

Sekali lagi, cahaya terang menyilaukan mataku.

                                    ⚛⚛⚛

Deg! 

Ku buka mataku dan kini aku berada di kamarku.

Di dadaku ada sebuah kalung dengan bandul kubus biru beserta buku yang kulihat di mimpiku.

Sekali lagi pikiranku bingung.

Ini nyata?

Komen (1)
goodnovel comment avatar
kurniamamang
This is one of the best story I've read so far, but I can't seem to find any social media of you, so I can't show you how much I love your work
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status