Share

8. Serigala Berbulu Perak

Malam haripun tiba, lelaki berambut coklat terang dan hitam duduk berdua di tepi sungai. Pemandangan langit yang dipenuhi dengan taburan bintang berkelap-kelip indah di gelapnya malam, daun yang berguguran jatuh tertiup angin yang berhembus lembut.

Pemandangan bagaikan surga yang tidak nyata namun tampak di lihat oleh mata.

"Wayne," panggil lelaki berambut hitam segelap malam di langit.

"Ya?" jawab Wayne si pemuda dengan rambut coklat terang.

"Aku tidak tahu bagaimana kedepannya, tapi ku harap semua akan baik-baik saja, namun firasatku mengatakan semuanya tidak baik-baik saja, apa yang harusku lakukan?"

"Hei, tenangkan dirimu, ada aku sebagai temanmu, nanti aku bantu doa jika bahaya akan datang, tenang saja," begitulah kata-kata penghiburan Wayne kepada sahabatnya itu.

"Ka ... kamu hanya bantu doa?!" tanya Eruza terkejut, buyar sudah suasana canggung di antara mereka.

"Aku kan selalu benar, kamu tidak usah kaget, aku akan bantu doa, kalian nanti fokus saja dan lindungi aku," kata Wayne blak-blakan.

"Hei! Kekuatan petirmu hanya pajangan?" jawab Eruza tak percaya, terlihat jelas tatapan yang mengatakan 'kamu tidak bercanda kan?' namun Wayne menjawab.

"Kekuatan petirku itu sangat menarik perhatian, bukankah punya kekuatan cadangan itu hal bagus?" tanya Wayne dengan wajah polos, terlihat jelas di pupil mata berwarna coklatnya itu seolah-olah mengatakan 'aku benar kan? Jadi lindungi aku, nanti aku bantu kalian'

Untuk saat ini Eruza berpikir, 'apa yang sudah aku lakukan kepadamu di kehidupan sebelumnya!'

Begitulah percakapan mereka berakhir tapi untungnya air muka Eruza tidak terlihat gelisah seperti tadi, Wayne bagaikan moodbooster dengan segala tingkah absurd bagi Eruza yang sedang kalut dalam pikirannya.

Eruza mendengar bunyi langkah kaki yang sedang mengendap-endap ke arah mereka berdua. Untuk persiapan, Eruza memasang tampang waspada sambil memperhatikan sekelilingnya namun yang dia lihat ternyata.

"Shut! Cepat kemari," kata Nelson sambil berbisik, akibat kekuatan angin yang ada di dalam dirinya, membuatnya dapat mentransmisi suara dengan jelas walaupun masih jauh dan berupa bisikan.

Setelah itulah Eruza baru menyadari teman-teman yang lainnya sudah terbangun dan mulai sikap siaga.

Satu per satu sepasang mata merah mulai bermunculan di balik semak-semak. Semakin lama sepasang mata itu semakin banyak. Seakan sudah melihat mangsa, mata itu menatap tajam ke arah delapan pemuda.

"Eee ... kira-kira mereka mahluk apa?" tanya Nelson. Terlihat jelas wajah tampan itu pucat, sebagai yang paling muda di antara yang lainnya, tentu saja mental Nelson belum cukup untuk menerima hal yang tidak pernah di lihatnya, Tanner, Raymond, Darrel dan Azareel, mereka cukup mampu untuk menahan tekanan itu.

"Aku tidak tahu karena kita belum melihat sosok di balik semak-semak itu," jawab Azareel, di antara semuanya, hanya Azareellah yang mengetahui lebih banyak tentang Hidden World, dengan kapasitas ingatan yang besar membuatnya ingat berbagai macam tulisan di dalam buku, terlebih buku yang dia baca secara teliti, ingatan itu akan sangat melekat.

Bunyi geraman yang sayup-sayup terdengar kini mulai terdengar jelas. Satu persatu hewan di balik semak menampakkan dirinya.

"Sial! Serigala perak!" terdengar ucapan makian dari mulut Azareel yang terlihat sangat polos. Binatang itu terlihat seperti serigala biasa namun yang menjadi perbedaan adalah bulunya yang berwarna perak, terdapat gumpalan angin di sekitar bulu untuk meringankan serigala saat berlari, serigala perak terkenal dengan kecepatannya karena hewan itu berelemen angin, jika hanya satu saja serigala perak para pembunuh bayaran pasti bisa membunuhnya. Namun sangat di sayangkan, serigala perak adalah hewan yang sering berkelompok, tidak ada pilihan lain selain kabur atau mati jika ada di tengah-tengah Serigala Perak.

"Ada apa dengan Serigala Perak?" tanya Eruza.

"Mereka selalu bergerombol, di dalam buku tertulis jika Serigala Perak itu sangat cepat, Nelson tidak cocok untuk melawan Serigala Perak, karena serigala perak berelemen angin," jelas Azareel singkat namun dapat di mengerti oleh semuanya.

Mendengar itupun air muka Nelson semakin memucat, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pelan bahu Nelson.

"Tanner," panggil Nelson.

"Ya?" jawab Tanner.

"Aku takut," kata Nelson, terlihat jelas suara dan tubuhnya bergemetar, apa lagi Azareel memberitahukan jika kekuatannya tidak mampan dengan serigala perak.

"Wayne, untuk berjaga-jaga, lindungi Nelson," perintah Eruza yang sudah berkumpul ke kelompoknya, Wayne yang di suruh hanya diam dan melakukan printah itu.

"Hei tenanglah, semua akan baik-baik saja," kata Wayne yang sudah berada di sisi Nelson, lelaki yang di panggil Nelson itu tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.

Perisai tipis yang terbuat dari air berbentuk gelembung menutupi Nelson dan Wayne. 

Nelson yang melihatnya pun tanpa sadar mengarahkan tatapannya ke Azareel. Lelaki bermata puppy itu merekahkan senyumnya seperti berkata, 'Bukan apa-apa.'

"Leo tolong buatkan aku pedang bermata dua," perintah Eruza.

"Ok!"

Sinar Biru, Merah, Abu-abu, putih, coklat, dan hijau, berkelap-kelip di gelapnya malam.

Minimnya pengalaman tempur membuat keenam lelaki yang sedang bertarung itu bersimbah darah.

Eruza pernah mengikuti latihan berpedang di kelasnya dulu. Pedang lelaki itu sekarang berlumuran darah serigala perak. 

Syut!

Panah cahaya melesat tapat menuju jantung serigala perak. Darrel pun mengikuti kelas memanah berbarengan dengan Eruza kakak sepupunya.

Tanaman merambat menjalar ke arah kaki serigala untuk menahan pergerakan hewan tersebut, kemudian Eruza akan menghampiri serigala yang terjerat untuk membunuhnya.

Serangan dari Leonard langsung membunuh para serigala, kekuatan besinya sangat menguntungkan dirinya. Batang besi dengan ujung yang melancip tajam menikam ke segala arah di badan serigala perak. Yang lainnya dibuat iri oleh Leonard yang mendapatkan kekuatan serangan yang begitu kuat.

Azareel mengurung beberapa serigala di dalam perisai kemudian mengisi penuh air di dalam perisai hingga membuat serigala itu mati lemas. Melihat itu semuanya bergidik ngeri, di antara kematian yang paling menyakitkan di antara mereka, cara Azareel yang paling kejam jika itu dilakukan oleh manusia.

Sedangkan tombak tanah yang muncul di permukaan tanah melesat ke perut Serigala yang berdiri di perangkap Reymond.

Pertarungan yang tiada habisnya mulai membuat keenam remaja lelaki yang bersimbah darah itu lelah.

"Aku bisa mati kelelahan!" maki Leonard sambil mengarahkan batang besinya ke arah serigala perak.

"Bisa-bisa kita dikalahkan karena kekurangan jumlah, mereka tidak ada habisnya," kata Eruza.

"Ayo pikirkan sesuatu, aku sudah sangat lelah, kekuatan ini menguras sedikit demi sedikit energi ku!" keluh Reymond.

Azareel mendengar semua keluhan mereka, sambil melawan Serigala Perak dia mulai berpikir. Bagaimana cara serigala perak mengundurkan diri, namun tidak ada satupun yang melintas di dalam pikirannya. Semuanya berada di jalan buntu.

"Wayne, bagaimana ini, mereka semua kelihatan lelah," kata Nelson khawatir. 

"Tenang, aku tau bagaimana cara menghampirinya, tapi ada satu syarat," kata Wayne sambil menatap Nelson dengan usil.

"Apa apa?" kata Nelson tidak sabar.

"Ayo cium pipi kakak dulu," kata Wayne sambil menunjuk pipi kanannya. Mendengar itupun Nelson di buat merinding oleh permintaan Wayne. Namun melihat kakak-kakak yang lainnya bersusah payah membunuh para serigala itupun membuat lelaki itu khawatir. Menggertakkan giginya dengan tajam, diapun mencium pipi kanan Wayne.

"Hehe, nanti aku mau pamer sama Leonard," Kata Wayne, di wajahnya yang tampan terpampang senyum bodoh.

"Ayo cepat!" desak Nelson.

"Iya iya," 

Waynepun mengarahkan segala pikirannya untuk membuat petir. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status