Share

JANGGAL

Penulis: Ayuwine
last update Tanggal publikasi: 2026-06-08 17:31:31

​"Iya, itu tadi rekan bisnisku, Jana!" jawab Andra cepat. Wajahnya sempat menegang sekilas, namun dengan lihai ia mampu menguasai kepanikannya dan kembali memasang topeng angkuh.

​Renjana menyipitkan matanya, lalu terkekeh hambar dengan air mata yang mulai menggenang. "Aku gak bodoh, Mas. Jelas-jelas kamu bicara begitu lembut padanya. Bahkan nada manis seperti itu enggak pernah sekalipun aku dengar dari mulutmu untukku,"

​"Jangan lebay! Kamu tahu siapa aku, hah? Aku ini anak seorang CEO, d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   ADA YANG ANEH?

    ​"Mas, kenapa kamu mengatakan itu? Itu salah, itu fitnah! Bagaimana kalau nanti Oma, Mami, dan yang lainnya menonton?" tanya Renjana di dalam mobil setelah acara selesai. Renjana mendapat bayaran lebih setelah Andra mengatakan hal itu, karena menjadi tayangan perdana. ​Andra tidak menggubris. Ia sibuk melihat saldo Renjana yang semakin menggemuk. "Sudahlah, gapapa, Renjana. Bagus itu, toh kamu juga lagi program hamil sama Naren!" jawab Andra enteng, membuat Renjana menghela nafas panjang dan membuang wajah ke arah jendela. Ia merasa teramat kecewa dengan perlakuan Andra yang semakin semena-mena. ​"Tapi bagaimana kalau gagal?" tanya Renjana kembali menatap Andra. ​"Jangan khawatir, Naren subur. Makanya sering-seringlah minta sama dia selama kalian menjalani proses ini. Aku tak akan menyentuhmu, biarkan kamu fokus bersama Naren!" jelasnya, dan ucapan terakhir itu sukses membuat hati Renjana seolah diremas dengan kuat. ​"Mas, kamu enteng banget ngomongnya!" ​"Diam, Renjan

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HAMIL?

    "Wah, sepertinya bakal ada kejutan, nih, Sobat Ambyar!" sela sang host dengan senyum semringah. "Kejutannya apa? Jangan ke mana-mana, ya. Kita kembali lagi setelah jeda iklan!" Ucapan itu sontak memancing rasa penasaran para penonton. Tak sedikit yang terdengar mengeluh karena harus menunggu. Beberapa saat kemudian, acara pun memasuki jeda iklan. Selama siaran dihentikan sementara, seluruh kru, host, dan para bintang tamu memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak, makan, atau minum sebelum kembali melanjutkan acara. ​"Minum dulu, Mbak," ucap seorang remaja perempuan menghampiri Renjana, menyerahkan roti dan sebotol minuman. ​ "Tunggu, Nak..." cegah Renjana saat gadis itu hendak pergi. "Iya, Kak?" "Kamu bekerja?" Gadis itu mengangguk pelan. "Lalu... kamu masih sekolah?" Perlahan, gadis itu menggeleng. Tatapannya jatuh ke lantai. "Kenapa, Sayang?" tanya Renjana dengan suara yang jauh lebih lembut. Ia bangkit, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang s

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   BINTANG TAMU

    ​Keesokan harinya benar saja, Renjana dituntut sudah harus sembuh oleh Andra. ​"Sayang, kamu kemana saja? Kenapa jarang ada di rumah akhir-akhir ini? Aku sakit, Mas, apa-apa serba sendirian," keluh Renjana saat pagi buta Andra baru pulang dengan keadaan yang sudah kusut masai. ​Mendengar itu, Andra mendelik tajam. "Jangan lebay, Renjana! Kamu gak apa-apa sendiri, ada pembantu yang ladenin kamu!" desisnya sambil fokus membuka semua bajunya, berencana ingin mandi. ​"Mas, tunggu... tunggu..." sela Renjana saat melihat leher Andra merah, ada beberapa bercak di sana. "Ada apa itu, Mas? Tanda ini lagi?" pekiknya sambil menyambar tangan Andra dengan cepat. ​Pria itu langsung tertegun, lalu detik kemudian ia menepis tangan Renjana dengan kasar. ​"Apasih, Renjana! Ini nih yang aku males dari kamu. Pulang kerja bukannya disambut, malah dicurigai mulu! Kamu mau aku pulang ke rumah Mami lagi dan mengadukan lagi kalau kamu udah fitnah aku?" ancamnya, membuat Renjana mengatupkan bibirny

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PERLAKUAN YANG BERBEDA

    ​"Enggak, kenapa aku jadi gini?" tanyanya pada diri sendiri, menatap atap langit dengan pandangan yang sulit ia jelaskan. ​"Ini salah. Apa yang aku lakukan tadi? Apa yang aku katakan tadi pada Naren?" ​"Apa tadi aku tersipu?" ucapnya lagi, terus memikirkan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan sejak tadi dalam tubuhnya. ​"Ah, ini salah!" teriaknya frustrasi dengan meraup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu. ​Ia menggigit bibirnya dengan kuat, sampai-sampai... "Aw..." pekik Renjana pelan. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya terlalu kuat karena terus memikirkan kejadian tadi. Belum sempat ia menenangkan diri, suara ketukan di pintu tiba-tiba memecah keheningan. Renjana sontak menoleh ke arah pintu. ​"Nyonya, buburnya sudah siap," teriak asisten di luar sana. ​Dikarenakan kamarnya kedap suara, ia langsung bangkit dan membuka pintu dari dalam. ​"Simpan saja di atas meja, Bi," ucap Renjana yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten. ​Renjana mulai meny

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SENYUM MANIS DI BALIK TELEPON

    Sesampainya di mansion, Renjana justru disambut dengan suasana yang begitu sepi. Rumah seluas itu terasa hampa karena tak ada siapa pun. Tanpa sadar, Renjana mengembuskan napas panjang. ​Renjana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah yang terasa begitu lengang. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampirinya dan dengan sigap mengambil tas yang masih dijinjingnya. ​ ​"Maaf Nyonya, saya tidak mendengar nyonya masuk," ucapnya hati-hati sambil terus menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan bersalah. ​Renjana hanya tersenyum simpul. ​"Gak apa-apa, tapi lain kali jangan gitu ya, takut ada tamu penting. Kamu kan ditugaskan di depan," tegurnya dengan secara sehalus mungkin. Asisten rumah tangga itu mengangguk hormat. Ia mempersilakan sang nyonya masuk ke kamar terlebih dahulu, lalu mengikuti di belakangnya. ​"Bi, tolong siapkan bubur ayam sama buah-buahan segar," titah Renjana pada sang asisten, yang langsung ditanggapi dengan angguk

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SIAPA NAREN SEBENARNYA?

    ​"Get well soon sahabat cantikku!" ​Renjana membaca caption itu, namun yang menjadi masalah bukan itu, tapi di sana foto itu benar-benar buruk dengan rambut yang diikat asal dan wajah sangat pucat tanpa polesan make up sama sekali. Renjana menghela napas, mematikan layarnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. Naren yang memperhatikan itu tak berniat bertanya sama sekali, ia sibuk dengan mengunyah apel. ​Sementara itu di sisi lain, Selena menatap komentar-komentar dalam postingan dirinya bersama Renjana. "Sengaja banget dia foto sama Renjana dengan keadaan begitu biar dia dibilang cantik mungkin!" "Caper banget neng biar disebut cantik makanya jatuhin orang dengan foto begitu." " Sel, yakin kmu lebih cakep dari renjana?" "Kalau mendung ya mendung aja deh, Sel. Nggak usah kepedean." "Kelihatan banget takut kalah saingnya." ​Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang sama sekali Selena tak menyangka. ​"Kurang ajar, bukannya dapat pujian malah dapat hujatan!" gumamn

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TANGIS YANG PECAH

    Renjana membulatkan mata tak percaya. Lagi-lagi, ia harus merasakan kekecewaan yang teramat mendalam. Tatapannya menyiratkan luka yang telanjur menggores hati, tertuju lurus pada Naren—pria koki yang sebenarnya jarang sekali berinteraksi dengannya. ​Pandangan Renjana terhadap Naren kini berubah to

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HOTEL

    ​Sepanjang hari, Renjana tidak bisa tenang. Perkataan suaminya tadi pagi benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sejak saat itu, Renjana sama sekali tidak keluar kamar. Perutnya mendadak mual, sementara rasa lapar dan haus menguar entah ke mana. Hingga malam datang, tubuh perempuan itu mendadak men

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   HOTEL YANG SUDAH DI SIAPKAN

    Begitu sarapan pagi selesai, keluarga besar perlahan meninggalkan meja makan dan berkumpul di ruang tamu untuk menonton televisi bersama. ​Kecuali Renjana. ​Ia memilih tetap berada di ruang makan, membereskan meja dan menata piring-piring kotor ke dekat wastafel. Sengaja ia menjauh dari keramaia

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PANDANGAN YANG TAK BERPALING

    Matahari mulai naik, sinarnya menerobos masuk dan menyoroti wajah Renjana di balik tirai yang sedikit terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Malam tadi benar-benar menguras emosi dan air matanya, hingga Renjana tidak bisa benar-benar tertidur. Semalaman ia hanya melamun, menangis, dan ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status