Share

TANGIS YANG PECAH

Penulis: Ayuwine
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 17:17:13

Renjana membulatkan mata tak percaya. Lagi-lagi, ia harus merasakan kekecewaan yang teramat mendalam. Tatapannya menyiratkan luka yang telanjur menggores hati, tertuju lurus pada Naren—pria koki yang sebenarnya jarang sekali berinteraksi dengannya.

​Pandangan Renjana terhadap Naren kini berubah total. Padahal selama ini, Renjana diam-diam mengagumi sosok pria itu. Meskipun seorang pria, Naren tidak pernah gengsi berada di dapur seharian, dengan telaten memasak menu demi menu yang berbeda setiap harinya.

​Sikap Naren itu sangat kontras dengan suaminya maupun keluarga suaminya yang masih menganut budaya patriarki sekaku mungkin. Di rumah itu, Renjana sering kali kelelahan setengah mati mengurus domestik. Beruntung ada Naren yang selalu cekatan mengambil alih urusan dapur.

​Selama ini, Renjana mengira Naren berbeda.

Di rumah yang dipenuhi pria-pria dengan ego setinggi langit, Naren adalah satu-satunya yang tidak pernah memandang rendah pekerjaan domestik.

Karena itu, Renjana tidak pernah menyangka pria itu akan berdiri di pihak Andra.

​Renjana menggeleng pelan ke arah Naren yang baru saja menyetujui perintah gila Andra begitu saja. Dada Renjana terasa sangat sesak dan sakit, seolah dihantam oleh ribuan batu.

​Pria itu bahkan tidak menolak lagi setelah Mas Andra mengiming-imingi imbalan? batinnya putus asa. Ia benar-benar merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia kira waras di rumah ini.

​"Bagus, Naren. Itulah kamu. Kamu memang sangat mengabdi pada keluarga kami. Saya bangga padamu," ucap Andra sambil menepuk-nepuk pundak kokoh sang koki. Pemandangan itu membuat Renjana semakin muak.

​"saya akan segera mengatur semuanya. saya akan menyiapkan kontrak yang harus kamu tanda tangani, tapi mungkin lusa saja karena keluarga besarku akan datang berkunjung. Kita tunda tanda tangannya menjadi lusa, tapi ingat, Naren... kamu sudah telanjur bilang 'ya', jadi tidak bisa berubah menjadi 'tidak'!" jelas Andra panjang lebar, yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan patuh oleh Naren.

​Sebelum berlalu pergi, Andra memandang istrinya dengan tatapan penuh kemenangan. Seolah ia ingin memamerkan bahwa di rumah ini, kata-katanya adalah hukum, dan tidak akan ada seorang pun yang berpihak pada Renjana.

​Renjana yang sudah terlanjur sakit hati dan muak langsung membuang wajah, enggan bertatapan langsung dengan sang suami.

​"Aku tunggu di kamar. Bersiaplah untuk besok karena keluargaku akan datang. Jangan pasang wajah sedih, apalagi sampai mengadu!" desis Andra. Kalimat itu lebih terdengar sebagai ancaman yang dingin di telinga Renjana.

​Renjana tidak menjawab. Ia tetap bergeming di tempatnya berdiri, berusaha keras menopang tubuhnya yang sebenarnya sudah terasa sangat lemas dan gemetar.

​Sepeninggal Andra, ruangan itu mendadak sunyi senyap. Keheningan yang mencekam menyelimuti atmosfer di antara mereka berdua.

​"Saya permisi ke dapur, Nyonya," Naren akhirnya bangkit dan membuka suara, memecah keheningan yang menyiksa itu.

​Renjana spontan menoleh, menatap Naren dengan tatapan tajam dan menusuk tanpa berniat menjawab pamitannya.

​Namun, begitu melihat Naren mulai melangkah pergi tanpa memberikan penjelasan apa pun kepadanya, emosi Renjana tersulut. "Tunggu!" panggil Renjana tegas.

​Naren langsung menghentikan langkahnya, membelakangi Renjana.

​Renjana segera mengambil langkah lebar. Ia berjalan cepat dan langsung berdiri tepat di hadapan Naren. Dengan mata yang masih basah oleh sisa air mata, ia menatap langsung ke dalam manik mata elang pria itu.

​"Kenapa kamu menerimanya? Karena uang? Karena harta, kan?!" ucap Renjana, benar-benar tidak bisa lagi membendung amarah yang sejak tadi bergejolak di dadanya.

​"Naren, aku kira kamu pria baik-baik. Aku kira kamu akan menolak permintaan konyol dan gila dari suamiku!" desisnya lagi, suaranya bergetar hebat menahan sesak yang kian mencekik.

​Naren tidak bergeming. Ia tetap berdiri tegap di sana, setia memandangi wajah menyedihkan Renjana yang dipenuhi air mata. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran pria itu, namun Naren tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang nyonya.

​"Maaf, Nyonya," balas Naren singkat. Ia menghela napas panjang, bersiap melanjutkan kalimatnya, namun Renjana sudah lebih dulu menyela dengan tawa getir.

​"Maaf? Apa maksudmu dengan maaf?!"

​"Kamu gila, tahu tidak?! Apa bedanya kamu dengan suamiku!" isak Renjana histeris. Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung berbalik dan pergi begitu saja dari hadapan Naren dengan air mata yang berderai.

​Naren masih mematung di tempatnya. Setelah punggung Renjana menghilang di balik pintu, ia perlahan menunduk. Pria itu menatap pergelangan tangannya sendiri—tempat di mana jemari Renjana sempat mencengkeramnya erat dengan gemetar, menahan dirinya agar mau mendengarkan kemarahannya tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   MENYESAL??

    ​Suasana di dalam apartemen mewah milik Selena terasa begitu panas. Bau aroma terapi yang biasanya menenangkan kini tak mampu mengusir hawa permusuhan yang menyelimuti seluruh ruangan. ​Andra duduk terhenyak di sofa kulit, meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ingin pecah. Di atas meja kaca di hadapannya, layar ponsel mewahnya terus menyala, menampilkan pemberitahuan berita infotainment yang terus diperbarui setiap detiknya. ​[EXCLUSIVELY: Terekam Kamera! Suami Influencer Renjana Kabur Lewat Pintu Belakang Saat Dikerumuni Wartawan!] ​Sebuah potongan video pendek memperlihatkan mobil mewahnya melaju kencang, menancap gas dan hampir menyenggol seorang wartawan di dekat gerbang belakang rumahnya. Aksi kaburnya yang nekat itu bukannya meredakan suasana, justru kian mempertegas kesalahannya di mata publik. Tagar nama Andra kini berada di urutan teratas perbincangan nasional, dipenuhi makian dan kecaman dari warganet. ​"Bagus! Sangat ba

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   ASAL USUL NAREN

    ​Keheningan di dalam kamar tidur utama vila terpencil itu mendadak terasa begitu pekat dan menekan. Cahaya temaram dari lampu tidur memantulkan bayangan dua tubuh yang masih bergeming. Pengakuan Naren barusan menggantung di udara, membekukan seluruh hangat gairah yang beberapa saat lalu sempat melingkupi mereka. ​Dada Renjana naik turun, menahan napas yang terasa tertahan di tenggorokan. Pria yang baru saja memeluknya dengan begitu penuh kelembutan, pria yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar di saat dunia menghancurkannya, kini menguraikan identitas aslinya yang kelam dan tak terduga. ​Naren bukan sekadar pelayan, juru masak, atau sosok "koki" biasa yang selama ini diam menuruti semua perintah keluarga Pratama. ​Ia adalah putra tunggal dari Theo Santoso dan Renata Avelin—pasangan konglomerat pemilik sah perusahaan Aurelio Diningrat, sebuah jaringan restoran elit bernilai fantastis yang menguasai berbagai kota besar di Indonesia, bahkan dikenal luas sebagai raksasa bisn

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   RINDU DEKAPAN HANGAT SANG KOKI

    ​"Bukan cuma kamu yang rindu, Na... Aku jauh lebih rindu," bisik Naren lembut. ​Suara berat pria itu bergetar, sarat akan kerinduan yang selama ini tertahan rapat. Tatapan matanya begitu hangat dan dalam, seolah sanggup menyerap seluruh ketakutan, rasa sakit, serta kepedihan yang membelenggu Renjana. Di dalam ruangan vila yang tenang itu, kehadiran Naren secara ajaib membawa kedamaian yang amat langka—sebuah rasa aman dan nyaman yang belum pernah Renjana dapatkan selama bertahun-tahun terjebak dalam kepalsuan rumah tangganya. ​Tangan Naren yang kekar terangkat perlahan, membelai lembut helai demi helai rambut Renjana yang harum. Usapan itu begitu teratur, membuat Renjana spontan memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang menenangkan. ​Namun, saat tatapan Naren turun dan mengunci pada belahan bibir Renjana yang sedikit terbuka, ingatan-ingatan itu mendadak berkelebat hebat di kepalanya. Bayangan saat dirinya memberikan kepuasan, memanjakan, dan membawa wanita itu ke punc

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SEBUAH VILA TERSEMBUNYI

    ​Namun, tak berselang beberapa detik setelah mematikan telepon, kesadaran mendadak menghantam kepala Andra. Ia tersentak. Jika Selena nekat dan menambah masalah baru saat ini, Andra benar-benar bisa "dihabisi" oleh keluarga besarnya sendiri. ​Tanpa membuang waktu lagi, dengan jemari yang sedikit gemetar, Andra kembali menelepon Selena. Panggilan itu langsung diangkat pada deringan pertama. ​"Kenapa telepon lagi? Katanya sibuk dengan beban pikiranmu?!" suara Selena menyambutnya, penuh akan sindiran tajam dan nada merendahkan. "Atau baru sadar kalau kamu butuh aku untuk menutupi kelakuan bejatmu, Andra?" ​Andra menelan ludah, mencoba menurunkan intonasi suaranya selembut mungkin untuk membujuk. "Selena, dengarkan aku dulu... Tolong, jangan lakukan hal bodoh apa pun saat ini. Aku mohon." ​"Kenapa? Takut?" cibir Selena dingin. "Bukannya kamu tadi mengancam mau mendepakku?" ​"Aku cuma emosi tadi, Sayang. Tolong mengerti posisiku," bujuk Andra manis, memutar otak setengah mati. Ia

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   PEMBALASAN

    ​Suasana di kediaman utama keluarga besar Andra berubah menjadi seperti neraka. Di ruang keluarga yang luas dan mewah, Andra berdiri mematung di tengah ruangan, dikelilingi oleh seluruh anggota keluarganya yang siap menghakiminya. ​Berita kekacauan ini tak kunjung mereda, justru kian menjadi-jadi. Publik tidak hanya dihebohkan oleh foto skandal perselingkuhan Andra dan Melinda, tetapi juga geger oleh berita hilangnya Renjana. Situasi makin tak terkendali saat sebuah rekaman video singkat beredar luas di media sosial. Video itu memperlihatkan detik-detik saat Renjana dihantam oleh Melinda di ruangan VIP kafe. ​Beruntung, dalam rekaman yang buram itu, wajah dan tubuh tegap Naren tidak terlihat jelas. Yang tampak hanyalah sepasang tangan kekar yang dengan sigap menangkap tubuh Renjana sebelum ambruk ke lantai. Spekulasi publik pun liar tak terkendali. Siapa pria misterius itu? Ke mana Renjana dibawa pergi? Media benar-benar dibuat heboh, dan nama keluarga Andra berada di puncak keh

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   BERITA YANG LANGSUNG MENYEBAR

    ​Sejak awal, Naren sudah mencium ada yang tidak beres. Melalui akses CCTV rahasia di penthouse milik Andra yang terus ia pantau, Naren menyaksikan pergerakan mencurigakan Renjana hingga wanita itu pergi menemui Melinda. Firasat buruk membawanya menyusul hingga ke kafe ini. Namun, ia tak pernah menyangka akan menyaksikan aksi nekat yang hampir merenggut nyawa Renjana tepat di depan matanya sendiri. ​Pemandangan di depannya membuat darah Naren mendidih. Renjana terkulai tak berdaya dalam dekapannya, dengan darah segar yang terus mengalir membasahi dahi dan gaun cantiknya. ​Di hadapannya, Melinda berdiri terengah-engah dengan napas memburu. Tangannya gemetar hebat, masih memegang sisa pecahan vas bunga yang hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Wajah Melinda seketika pucat pasi saat mendongak dan menyadari siapa pria kini berdiri di depannya. ​"Kamu harus bertanggung jawab, Melinda!" desis Naren. Suaranya begitu rendah dan dalam, ​Mata Melinda membelalak panik. Kesa

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   SANG NYONYA YANG KERAS KEPALA

    ​Renjana mengepalkan jemarinya kuat-kuat, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang tercecer sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang megah itu. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat dan menjebak. Pria itu hanya mengenakan kaus

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TAK ADA PILIHAN

    Mendengar perintah gila suaminya kepada pria di hadapan mereka membuat jantung Renjana seolah berhenti berdetak sesaat. Tubuhnya mendadak sedingin es. ​Bukan hanya Renjana yang terguncang, Naren pun tak kalah terkejut. Pria itu menegang, berusaha mencerna kalimat yang baru saja lolos dari mulut at

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   "HAMILI ISTRI SAYA!"

    ​"Mas, apa maksudmu? Pekerjaan baru apa yang mau kamu berikan pada dia?" Renjana langsung menyela. Bibirnya bergetar hebat, firasat buruknya kian menjadi-jadi. ​Andra menoleh, menatap tajam ke arah sang istri. "Sopan begitu, menyela suami yang sedang bicara dengan orang lain?!" desisnya, membuat R

  • Yang Tak Bisa Diberikan Suamiku   TOPENG

    Mata Renjana tampak kosong, memandang layar ponselnya. Ia tengah menyaksikan tayangan hasil wawancara yang dia lakukan bersama Andra, suaminya, dua hari lalu untuk kepentingan promosi brand. ​Di dalam video wawancara itu, Andra maupun Renjana terlihat layaknya pasangan suami istri yang bahagia dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status