เข้าสู่ระบบSepanjang hari, Renjana tidak bisa tenang. Perkataan suaminya tadi pagi benar-benar membuatnya gelisah. Bahkan sejak saat itu, Renjana sama sekali tidak keluar kamar. Perutnya mendadak mual, sementara rasa lapar dan haus menguar entah ke mana.
Hingga malam datang, tubuh perempuan itu mendadak menggigil. Namun, ia sangat tahu bahwa perintah sang suami tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Ia ingin pergi berlari, tetapi ke mana? Perempuan itu tidak punya siapa-siapa lagi. Sejak tadi ia menggenggam ponselnya. Nomor sahabat dekatnya sudah terpampang di layar. “Apa aku ceritain aja ya semuanya sama dia?” batinnya menimbang-nimbang. Namun akhirnya, ia menggeleng kuat. "Enggak, enggak. gak ada yang boleh tahu, sekalipun sahabatku," lirihnya. Ia pun kembali melempar ponsel itu ke atas ranjang yang empuk dan berukuran over-size tersebut. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Renjana terkesiap kaget. Itu artinya, ia sudah mondar-mandir tak jelas selama dua jam lamanya. Kakinya bahkan tidak terasa pegal sama sekali. Yang ia rasakan sekarang hanyalah gugup, gelisah, dan takut yang bercampur menjadi satu. Baginya, ini adalah masalah besar. Saat ia sedang sibuk dengan pikiran-pikiran buruknya, pintu tiba-tiba saja diketuk. Renjana terlonjak kaget bukan main. Ia sama sekali tidak berani membuka ataupun menjawab ketukan yang bertubi-tubi itu. Pandangannya benar-benar terkunci pada daun pintu, tubuhnya kaku didera ketakutan. "Buka! Kenapa kamu kunci?!" teriak salah seorang pria dari balik pintu. Renjana sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu. Ia memejamkan mata sesaat untuk menguatkan diri. Dengan langkah gemetar, ia mendekat ke arah pintu, memutar kunci, dan perlahan membuka kenopnya. Belum sempat pintu terbuka lebar, Andra langsung menerobos masuk dengan kasar. "Bersiaplah, kita berangkat sekarang!" titahnya. Tatapannya tegas, dingin, dan tanpa bantahan. Baru saja bibir Renjana terbuka hendak memprotes, Andra sudah menyela, "Cepat!" Bentakan nyaring itu membuat Renjana terkesiap. Mau tak mau, ia hanya bisa mengangguk pasrah. Di depan cermin, ia mulai merias wajah dan mengenakan gaun indah pilihan Andra—sebuah gaun merah ketat yang memperlihatkan belahan dadanya. Gaun yang dipastikan akan membuat pria mana pun yang melihatnya tak mampu berkedip. Setelah beberapa menit menunggu, Renjana akhirnya siap. Rambutnya disanggul ke atas, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajahnya. Ia terlihat sangat cantik bak seorang model. Andra menoleh. Begitu melihat penampilan istrinya, senyum puas langsung terukir di bibirnya. "Sempurna," gumam Andra sambil menatap Renjana dari ujung kepala hingga kaki. Nada suaranya terdengar puas, seolah sedang menilai hasil sebuah persiapan yang matang. Dalam benaknya, penampilan Renjana ini cukup untuk menarik perhatian Naren, pria yang telah ia pilih untuk mewujudkan rencananya. "Ayo, pria itu sudah menunggu," ucap Andra tanpa membuang waktu lagi. Ia melangkah keluar lebih dulu dengan begitu semangat. Pemandangan itu membuat dada Renjana terasa perih bukan main. Selama perjalanan, Renjana hanya bisa menunduk. Di dalam hati, ia terus berdoa agar semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun, setiap kali ia mendongak dan menatap wajah suaminya yang begitu sumringah, dadanya kembali dihantam rasa nyeri yang hebat. "Mas..." panggil Renjana lirih. Suaranya yang begitu lembut nyaris tenggelam oleh deru mesin mobil. "Apa sih, Jana? Sudahlah, jangan memasang wajah seperti itu. Tersenyum dong! Uang miliaran sudah di depan mata nih. Jangan dibuat beban, nikmati saja. Anggap ini sebagai pengalaman baru. Kamu cukup tidur beberapa kali dengan dia sampai hamil, setelah itu kalian tidak perlu melakukannya lagi!" "Sederhana kan, Jana!" lanjut Andra. Gestur tangan dan ekspresi wajah pria itu benar-benar menganggap enteng sesuatu yang bagi Renjana teramat berat dan menghancurkan harga dirinya. "Mas, ini istri kamu loh... Dia... dia mau tidur sama—" "Ya terus kenapa? Ah, nikmati saja! Jangan mengajakku berdebat saat menyetir, bahaya rawan kecelakaan!" potong Andra tajam. Renjana menghembuskan napas kasar. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan perasaan hancur. Air matanya langsung luruh. Ia memejamkan mata erat-erat, menahan sesak yang seolah mencekik lehernya. Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah hotel mewah ternama. Andra bahkan sengaja memesan kamar VIP demi menjaga privasi rencananya. "Turun. Aku tunggu di sini!" perintah Andra dingin. Renjana tidak membantah lagi. Ia tahu, berontak atau memohon sekarang pun hanya akan berakhir sia-sia. Sesampainya di depan pintu kamar VIP tersebut, Renjana membukanya menggunakan kartu akses yang baru saja ia terima dari resepsionis. Jantungnya berdebar tak menentu, berpacu dengan rasa takut yang luar biasa saat tangannya perlahan memutar kenop pintu. Klik. Pintu itu terbuka. Nafas renjana tertahan. Di tengah kamar itu, Naren berdiri menatapnya. Tatapan pria itu jauh lebih dingin dibanding biasanya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Naren membuka suara. "Masuk." Tubuh Renjana langsung membeku."Mas, kenapa kamu mengatakan itu? Itu salah, itu fitnah! Bagaimana kalau nanti Oma, Mami, dan yang lainnya menonton?" tanya Renjana di dalam mobil setelah acara selesai. Renjana mendapat bayaran lebih setelah Andra mengatakan hal itu, karena menjadi tayangan perdana. Andra tidak menggubris. Ia sibuk melihat saldo Renjana yang semakin menggemuk. "Sudahlah, gapapa, Renjana. Bagus itu, toh kamu juga lagi program hamil sama Naren!" jawab Andra enteng, membuat Renjana menghela nafas panjang dan membuang wajah ke arah jendela. Ia merasa teramat kecewa dengan perlakuan Andra yang semakin semena-mena. "Tapi bagaimana kalau gagal?" tanya Renjana kembali menatap Andra. "Jangan khawatir, Naren subur. Makanya sering-seringlah minta sama dia selama kalian menjalani proses ini. Aku tak akan menyentuhmu, biarkan kamu fokus bersama Naren!" jelasnya, dan ucapan terakhir itu sukses membuat hati Renjana seolah diremas dengan kuat. "Mas, kamu enteng banget ngomongnya!" "Diam, Renjan
"Wah, sepertinya bakal ada kejutan, nih, Sobat Ambyar!" sela sang host dengan senyum semringah. "Kejutannya apa? Jangan ke mana-mana, ya. Kita kembali lagi setelah jeda iklan!" Ucapan itu sontak memancing rasa penasaran para penonton. Tak sedikit yang terdengar mengeluh karena harus menunggu. Beberapa saat kemudian, acara pun memasuki jeda iklan. Selama siaran dihentikan sementara, seluruh kru, host, dan para bintang tamu memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat sejenak, makan, atau minum sebelum kembali melanjutkan acara. "Minum dulu, Mbak," ucap seorang remaja perempuan menghampiri Renjana, menyerahkan roti dan sebotol minuman. "Tunggu, Nak..." cegah Renjana saat gadis itu hendak pergi. "Iya, Kak?" "Kamu bekerja?" Gadis itu mengangguk pelan. "Lalu... kamu masih sekolah?" Perlahan, gadis itu menggeleng. Tatapannya jatuh ke lantai. "Kenapa, Sayang?" tanya Renjana dengan suara yang jauh lebih lembut. Ia bangkit, lalu menuntun gadis itu untuk duduk di kursi yang s
Keesokan harinya benar saja, Renjana dituntut sudah harus sembuh oleh Andra. "Sayang, kamu kemana saja? Kenapa jarang ada di rumah akhir-akhir ini? Aku sakit, Mas, apa-apa serba sendirian," keluh Renjana saat pagi buta Andra baru pulang dengan keadaan yang sudah kusut masai. Mendengar itu, Andra mendelik tajam. "Jangan lebay, Renjana! Kamu gak apa-apa sendiri, ada pembantu yang ladenin kamu!" desisnya sambil fokus membuka semua bajunya, berencana ingin mandi. "Mas, tunggu... tunggu..." sela Renjana saat melihat leher Andra merah, ada beberapa bercak di sana. "Ada apa itu, Mas? Tanda ini lagi?" pekiknya sambil menyambar tangan Andra dengan cepat. Pria itu langsung tertegun, lalu detik kemudian ia menepis tangan Renjana dengan kasar. "Apasih, Renjana! Ini nih yang aku males dari kamu. Pulang kerja bukannya disambut, malah dicurigai mulu! Kamu mau aku pulang ke rumah Mami lagi dan mengadukan lagi kalau kamu udah fitnah aku?" ancamnya, membuat Renjana mengatupkan bibirny
"Enggak, kenapa aku jadi gini?" tanyanya pada diri sendiri, menatap atap langit dengan pandangan yang sulit ia jelaskan. "Ini salah. Apa yang aku lakukan tadi? Apa yang aku katakan tadi pada Naren?" "Apa tadi aku tersipu?" ucapnya lagi, terus memikirkan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan sejak tadi dalam tubuhnya. "Ah, ini salah!" teriaknya frustrasi dengan meraup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu. Ia menggigit bibirnya dengan kuat, sampai-sampai... "Aw..." pekik Renjana pelan. Tanpa sadar, ia menggigit bibir bawahnya terlalu kuat karena terus memikirkan kejadian tadi. Belum sempat ia menenangkan diri, suara ketukan di pintu tiba-tiba memecah keheningan. Renjana sontak menoleh ke arah pintu. "Nyonya, buburnya sudah siap," teriak asisten di luar sana. Dikarenakan kamarnya kedap suara, ia langsung bangkit dan membuka pintu dari dalam. "Simpan saja di atas meja, Bi," ucap Renjana yang langsung mendapat anggukan dari sang asisten. Renjana mulai meny
Sesampainya di mansion, Renjana justru disambut dengan suasana yang begitu sepi. Rumah seluas itu terasa hampa karena tak ada siapa pun. Tanpa sadar, Renjana mengembuskan napas panjang. Renjana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah yang terasa begitu lengang. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga tergopoh-gopoh menghampirinya dan dengan sigap mengambil tas yang masih dijinjingnya. "Maaf Nyonya, saya tidak mendengar nyonya masuk," ucapnya hati-hati sambil terus menundukkan kepalanya, merasa sangat malu dan bersalah. Renjana hanya tersenyum simpul. "Gak apa-apa, tapi lain kali jangan gitu ya, takut ada tamu penting. Kamu kan ditugaskan di depan," tegurnya dengan secara sehalus mungkin. Asisten rumah tangga itu mengangguk hormat. Ia mempersilakan sang nyonya masuk ke kamar terlebih dahulu, lalu mengikuti di belakangnya. "Bi, tolong siapkan bubur ayam sama buah-buahan segar," titah Renjana pada sang asisten, yang langsung ditanggapi dengan angguk
"Get well soon sahabat cantikku!" Renjana membaca caption itu, namun yang menjadi masalah bukan itu, tapi di sana foto itu benar-benar buruk dengan rambut yang diikat asal dan wajah sangat pucat tanpa polesan make up sama sekali. Renjana menghela napas, mematikan layarnya dan menyimpannya kembali ke atas meja. Naren yang memperhatikan itu tak berniat bertanya sama sekali, ia sibuk dengan mengunyah apel. Sementara itu di sisi lain, Selena menatap komentar-komentar dalam postingan dirinya bersama Renjana. "Sengaja banget dia foto sama Renjana dengan keadaan begitu biar dia dibilang cantik mungkin!" "Caper banget neng biar disebut cantik makanya jatuhin orang dengan foto begitu." " Sel, yakin kmu lebih cakep dari renjana?" "Kalau mendung ya mendung aja deh, Sel. Nggak usah kepedean." "Kelihatan banget takut kalah saingnya." Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang sama sekali Selena tak menyangka. "Kurang ajar, bukannya dapat pujian malah dapat hujatan!" gumamn
Tubuhnya langsung terjerembab ke dada bidang Naren. Pria itulah yang baru saja menarik tangan Renjana dari belakang. Renjana melotot sempurna. Dengan gerakan cepat, ia mendorong tubuh Naren sekuat tenaga. "Kenapa kamu menarik tanganku, Naren?! Lancang sekali kamu!" desisnya kesal. S
Naren tersenyum kaku. "Saya bercanda, Nyonya. Saya akan bersiap di kamar mandi lain," ucapnya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Renjana yang masih melongo di ujung bathtub. Renjana menggeleng pelan, menghela napas panjang, lalu mulai bersiap untuk mandi. Tiga puluh menit berlalu. Renjana s
Naren mulai mengambil alih kendali sepenuhnya, tidak membiarkan ritme permainan mereka mengendur sedikit pun. Bahkan belum sempat Renjana menghela napas untuk menenangkan detak jantungnya yang menggila, pria itu sudah memosisikan diri di belakang tubuhnya. Tanpa menunggu lama, Naren kembali mema
Naren membopong tubuh Renjana dengan kedua tangan kekarnya, membawa langkah mereka menuju area dapur yang sunyi. Di sana, ruangan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu sudut. Begitu tautan bibir mereka terlepas sejenak, Renjana langsung terengah-engah. Dadanya naik-turun de







