ログインDeru angin yang dihasilkan oleh putaran baling-baling helikopter raksasa itu mengempaskan ujung gaun bepergian milik Gia, memaksa dia untuk memegangi kainnya agar tidak terbang tak terkendali.Suara bising mesin turbine memekakkan telinga, menciptakan atmosfer yang semakin memicu kepanikan di dalam dadanya. Beberapa meter di depannya, Marco berdiri tegak memunggungi angin, tampak sangat sibuk berkoordinasi dengan para petinggi klannya melalui telepon satelit hitam yang menempel di telinga kirinya.Ekspresi wajah suaminya begitu tegang, dengan rahang yang mengeras saat sesekali meneriakkan instruksi taktis ke seberang panggilan.Gia ditinggalkan berdiri termenung seorang diri, dikelilingi oleh belasan pengawal Rossi yang bersenjata laras panjang. Pikirannya carut-marut, terus berspekulasi mengenai ke mana helikopter besar di hadapannya ini akan membawa mereka pergi.Di tengah kebingungan Gia yang kian memuncak karena ketidakpastian tersebut, sebuah bayangan tinggi melangkah mendekat da
"Orang itu ingin kau membaca rekaman palsu tersebut, mengamuk, lalu melarikan diri dari mansion ini," ujar Marco sambil bangkit dari posisi miringnya, kini duduk bersandar pada kepala ranjang yang megah. "Dan saat kau berada di luar perlindunganku, dia akan langsung melenyapkanmu untuk selamanya."Gia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya yang kian menyesakkan. "Jadi, benda itu hanyalah pemicu agar aku keluar dari sangkar emasmu?""Tepat sekali. Karena itulah aku ingin kau bekerja sama denganku untuk menjebak orang yang berada di balik konspirasi berdarah ini," kata Marco, matanya mengunci pandangan Gia dengan keseriusan yang mutlak. "Kita tidak bisa lagi hanya bertahan di dalam rumah ini sementara musuh terus menyusun bidak mereka di luar sana."Gia yang masih diliputi kebingungan menatap suaminya dengan penuh keraguan. Dia mengusap wajahnya yang terasa lelah akibat badai emosi yang bertubi-tubi sejak tengah malam tadi."Bagaimana caranya kita bisa menjebak
Gia menatap Marco dengan binar mata yang dipenuhi ketidakpercayaan yang amat sangat. Cengkeramannya pada selimut sutra semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah kenyataan yang mendadak jungkir balik.Dia menggelengkan kepala perlahan, menolak runtuh begitu saja oleh untaian kalimat suaminya.“Kau berbohong,” bisik Gia dengan suara bergetar hebat, air matanya kini benar-benar mengambang di pelupis mata.“Jika kau bukan pembunuhnya, lalu mengapa kau diam saja selama ini? Mengapa kau membiarkan aku menuduhmu, mengutukmu, dan membencimu sebagai pembunuh Dimitri setiap detik dalam hidupku?!”Marco mengubah posisinya menjadi miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Gia tanpa riak emosi yang berlebihan.“Karena kebencianmu adalah perisai terbaikmu, Gia. Selama dunia luar mengira kau membenciku dan aku mengurungmu sebagai tawanan, musuh yang sebenarnya tidak akan menyentuhmu.”“Melindungiku?” Gia tertawa getir, suara tawa yang ter
Dada Gia naik-turun dengan napas memburu setelah jeritannya menggema di sudut kamar. Keberanian wanita itu bukannya membuat Marco mundur, melainkan justru memancing keluar keliaran yang selama ini ditekan dalam-dalam oleh sang penjagal Rossi.Marco menerjang maju, mencengkeram kedua pergelangan tangan Gia dalam satu gerakan kilat, lalu mengempaskannya ke atas ranjang king size yang berantakan.“Kau ingin membuktikan bahwa kau bukan boneka, Gia?” desis Marco, suaranya sangat rendah dan berbahaya tepat di depan wajah Gia.“Lepas—” Kalimat Gia langsung terkunci ketika bibir Marco menghantam miliknya dengan ciuman yang brutal dan liar.Kali ini, tidak ada lagi permainan kendali sepihak. Hubungan intim nan panas terjadi karena emosi keduanya yang meledak bersamaan.Gia tidak hanya pasrah; dia membalas ciuman itu dengan gigitan sengit, menyalurkan kemarahan murninya ke dalam pagutan yang berdarah.Marco merobek sisa gaun sutra marun yang melekat di tubuh Gia hingga hancur tak berbentuk, men
Gia memekik marah saat melihat benda hitam pipih itu kini berada di cengkeraman jemari kekar Marco. “Kembalikan! Jangan berani-berani kau menyentuhnya!” teriak Gia, refleks menerjang ke depan untuk merebut kembali alat perekam rahasia tersebut.Namun, Marco dengan sangat mudah menghalau pergerakan tubuh Gia. Menggunakan satu tangan besarnya, dia menahan kedua pergelangan tangan Gia dan mendorongnya kembali ke atas tumpukan kasur tanpa mengeluarkan tenaga berarti. Pria itu menyunggingkan seringai dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.“Kau pikir bisa menyembunyikan mainan seperti ini dariku di bawah atapku sendiri, Gia?” desis Marco seraya menatap alat perekam itu dengan pandangan meremehkan.“Itu milikku! Kau tidak berhak mengambilnya!” teriak Gia histeris, sambil terus mencoba melepaskan diri dari kungkungan fisik suaminya. “Kau bajingan egois! Berikan benda itu padaku!”Marco tidak memedulikan kemarahan Gia yang kian menggebu-gebu. Dia beranjak dari tempat tidur dengan gerakan yang
Napas Marco yang terasa panas menyapu permukaan kulit leher Gia, mengirimkan sensasi gatal sekaligus desiran aneh yang melumpuhkan seluruh saraf penolakannya.Sentuhan tangan kekar pria itu merayap naik, mencengkeram pinggang Gia dengan tekanan yang tegas, memaksanya untuk semakin merapat pada dada bidang yang beraroma maskulin dan mesiu tersebut.Gia mencoba memalingkan wajah, namun jemari Marco yang kasar telah lebih dulu mengunci rahangnya, memaksa kedua netra mereka untuk saling berhadapan di tengah remangnya kamar tidur utama.“Lepaskan aku, Marco ...,” bisik Gia dengan suara parau bahkan nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang kian memburu.“Kau tahu aku tidak akan pernah melakukannya, Gia,” sahut Marco dengan suara bariton rendah yang bergetar tepat di depan bibir Gia.Tanpa memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk membalas, Marco menundukkan kepalanya, melumat bibir Gia dalam sebuah ciuman membara yang menuntut kepatuhan mutlak.Ciuman itu tidak memiliki kelembutan







