Masuk"Bu Linda, selamat ya!"
"Hebat sekali tuan Ken. Masih muda tapi, sudah sukses."
"Pasti anak perusahaan yang dihasilkan tuan Ken akan sama majunya dengan perusahaan-perusahaan yang dipimpin tuan Ken."
"Selamat, Tuan Fredi."
Para tamu saling memberikan selamat kepada Linda dan Fredi atas keberhasilan putranya yang telah mendirikan anak perusahaan baru lagi.
Fredi dan Linda hanya membalas dengan senyum dan anggukan saja. Mereka sedari tadi mencari putranya. Menagih janji yang telah Ken katakan pada mereka.
Memberikan menantu.
"Pa, kita pulang saja. Mama yakin, Ken pasti bohong lagi," bisik Linda pada suaminya di tengah keramaian para tamu.
Fredi hanya mengangguk. Karena Ken memang seperti itu. Putra pertamanya itu memang sangat susah dipegang janjinya jika menyangkut soal pernikahan.
Linda dan Fredi akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya untuk pergi dari pesta putranya itu. Baru beberapa langkah kaki mereka melangkah. Tiba-tiba tangan Linda dicekal oleh seseorang.
"Ma, jangan pergi dulu," pinta seseorang itu. Linda langsung memutar badannya. Lalu, melihat siapa yang melarangnya pergi.
"Gea? Ada apa, Sayang?" tanya Linda dengan lembut pada putri terakhirnya itu.
Gea adalah putri ketiga dari keluarga Ardaninata. Gea masih kuliah dan seluruh bakat bisnis juga turun pada gadis cantik tersebut.
"Kak Ken, Ma. Dia benar-benar ingin mengenalkan kekasihnya pada semua orang," tutur Gea.
Gea berharap penjelasannya kepada mamanya bisa membuat kedua orang tuanya tidak meninggalkan pesta kakaknya.
Linda melirik kearah Fredi setelah mendengarkan perkataan putrinya. Fredi mengangkat kedua bahunya dan berkata.
"Coba kita tunggu dulu. Kita lihat apa anak itu benar ingin menepati perkataannya atau tidak."
Linda akhirnya mengangguk, mengiyakan pendapat suaminya.
Gea menghela napas panjangnya. Gea bersyukur kedua orang tuanya akhirnya memutuskan untuk tetap berada di dalam pesta Ken.
"Bagaimana dengan pestanya, Tuan Jino?" Ken melangkahkan kakinya mendekati Jino dan Denia yang sedang menikmati minuman mereka.
Jino dengan sangat berantusias menegakkan tubuhnya lebih tegak lagi. Jino akan mencari simpati dari Ken untuk mendapatkan tender yang lebih besar untuk perusahaannya.
Sedangkan Denia seakan terpanah dengan sosok dari Ken. Pria sukses yang tidak pernah ingin disorot media. Bahkan sosoknya selalu saja misterius dengan para kekasihnya.
"Selamat malam. Nona?" Ken memberikan ucapan selamat malam kepada Denia dengan mengernyit pada Denia. Ken berpura-pura tidak mengenal Denia.
"Selamat malam, Tuan Ken. Denia."
"Oh, Nona Denia. Nama yang sangat cantik," puji bohong Ken.
Denia yang mendengar dirinya telah dipuji Ken. Denia langsung tersipu malu. Bahkan tidak memperdulikan keberadaan Jino di sampingnya.
"Tuan Jino suami Nona Denia?" tanya Ken. Jino membalas Ken dengan tersenyum. Lalu menarik pinggang Denia mendekat pada Jino. "Kami akan segera menikah, Tuan Ken."
Ken berpua-pura mengangguk paham.
"Nikmatilah pestaku. Aku juga telah menyiapkan setiap kamar VVIP untuk seluruh tamu di sini,"
"Jika kalian tidak buru-buru. Tuan Jino bisa mencobanya," tambah Ken. Jino yang mendengar itu pun langsung mengangguk cepat. Bahkan tidak ada basa-basi dari Jino.
"Tuan Ken sungguh sangat baik hati. Kami tentu akan sangat senang jika bisa menikmati fasilitas hotel semewah ini." Ken hanya tersenyum kecut lalu pergi meninggalkan Jino dan Denia yang masih tersenyum bahagia.
Jino dan Denia pikir itu memang adalah fasilitas yang disediakan Ken khusus bagi tamu penting malam ini.
Berarti itu tandanya Jino telah diperhitungkan sebagai salah satu tamu penting dari Ken, kan? Jino bertanya dalam hatinya.
Perusahaan Jino belum ada apa-apanya dibandingkan dengan anak terkecil dari perusahaan Ken. Jadi, menuurut Jino ini adalah kesempatan yang besar untuknya datang di acara malam ini.
Tuan Ken, aku pasti akan bisa mendapatkanmu. Tentunya setelah harta Jino terkuras habis.
Linda dan Fredi diarahkan Gea di kamar yang telah Ken persiapkan untuk keluarganya. Mereka menunggu kedatangan putra pertamanya. Menunggu kebenaran yang akan terjadi pada malam ini.
"Anak itu pasti berbohong lagi," lirih Fredi. Fredi sudah mondar-mandir di depan pintu kamar. Fredi sudah menyiapkan hukuman untuk putranya itu jika benar-benar membohonginya.
Tidak lama dari umpatan kesal Fredi pada Ken. Akhirnya bel kamar berbunyi nyaring. Hingga membuat Fredi dan seluruh orang di dalam kamar tercekat.
"Paling cleaning service." Fredi langsung membuka dengan malas. Tanpa ingin menatap tamu di depan matanya.
"Tidak perlu dibersihkan dulu, Mas."
Ken mengernyit dengan panggilan papanya pada dirinya. Sejak kapan Ken dipanggil 'Mas.'
"Pa, itu Kak Ken," kata Gea sembari menunjuk pada tubuh kekar di depan papanya.
Fredi yang mendengar itupun langsung meluruskan pandangannya. Senyumnya tercetak dengan alaminya saat melihat putranya menatap dirinya tanpa arti.
"Dasar anak durhaka. Dari mana saja kamu? Jangan mentang-mentang kamu berhasil mendirikan perusahaan baru, kamu lupa dengan janjimu, Ken."
Ken menghela napas panjangnya. Tanpa membalas perkataan papanya. Ken langsung masuk dan menemui mamanya yang menatapnya sendu.
"Ken ...." panggil Linda pelan. "Iya, Ma?" jawab Ken sembari mengulas lembut punggung tangan Linda.
"Mana mantu Mama? Jangan seperti ini lagi. Mama dan papa tidak akan bisa selamanya menemanimu. Kamu butuh seorang istri yang dengan tulus menyayangimu," tutur Linda.
Ken hanya menatap lekat Linda lalu mengangguk pelan. Setelah adegan panasnya bersama Kiara tadi di kamar. Ken tahu Kiara adalah wanita baik-baik. Tidak seperti para wanitanya.
"Tunggu Ken, Ma. Ken akan bawa mantu yang baik untuk mama." Ken langsung mendirikan tubuhnya. Tidak lupa Ken mengusap kepala adik kecilnya dengan gemas.
"Uh, Kakak!" dengus kesal Gea.
"Jaga Mama dulu." Gea yang merasa kesal dengan ulah kakaknya yang telah menhancurkan rambutnya hanya membalas dengan anggukan.
Ken berjalan kearah Papanya. Fredi hanya membalas dengan tatapan kesal pada putranya itu yang semakin dekat dengannya.
"Pa, Ken keluar dulu. Masih ada urusan yang harus Ken selesaikan." Fredi hanya membalas dengan satu tangannya mengangkat keudara.
Ken pun pergi meninggalkan kamar keluarganya. Lalu bergegas mengatur segala rencananya. Ken menggambil ponselnya. Lalu mencari kontak asisten pribadinya, David.
"Para media bagaimana?" tanya Ken di ujung telponnya dengan David.
"Sudah saya kumpulkan, Boss. Nona Kiara juga sudah menyadari kedatangan tuan Jino,"
"Dan sekarang nona Kiara sedang diam-diam mengikuti tuan Jino dan kekasihnya menuju ke kamar ," lapor David.
"Bagus. Jangan buat Kiara curiga. Aku akan datang nanti."
"Baik, Bos Ken." Panggilan itupun tertutup dengan ulasan senyum samar dalam garis bibir tampan Ken.
"Kiara, seberapa lama kamu akan menolakku?" gumam Ken dengan tersenyum miring.
Kiara masih diam-diam mengikuti arah langkah Jino dan Denia yang terlihat sangat mabuk. Hati Kiara sangat sakit. Bisa-bisanya calon suaminya bermesra-mesraan dengan keponakannya sendiri.
Jino telah menghianati cinta Kiara di saat Kiara sedang sangat terpuruk seperti ini.
Kiara pikir Jino adalah pria terakhir dalam hidupnya. Namun ternyata mata Kiara melihat sendiri kebusukan calon suaminya di depan matanya.
Dasar pasangan brengsek!
Jino dan Denia telah memasuki kamar yang memang sengaja disediakan Ken untuk menjebak Jino dan membuat Kiara benar-benar terikat pada Ken.
Setelah beberapa menit. Kiara memberanikan dirinya untuk lebih mendekat pada pintu kamar tersebut. Betapa terkejutnya Kiara saat mendengar suara desahan dari dalam kamar itu.
Air mata Kiara menetes begitu deras saat suara-suara dari dalam kamar sangat jelas Kiara dengar.
Kedua tangan Kiara mengepal erat. Kiara sudah tidak bisa menahan amarah dan rasa jijiknya kepada Jino dan Denia.
BRAK
Kiara langsung menendang pintu kamar Jino. Hingga membuat Jino dan Denia terkejut saat mereka sedang panas-panas beradegan.
"Kalian memang pasangan busuk!" pekik Kiara.
"Kiara?!" panggil Jino terkejut. Sedangkan Denia hanya tersenyum licik. Denia seakan tidak menyesali apa yang sekarang Kiara lihat.
"Aku bisa jelaskan, Kiara." Jino langsung melempar Denia kesamping dan mencoba menghampiri Kiara yang sudah menangisi calon suami yang selalu Kiara banggakan di hadapan kedua orang tuanya, dulu.
"Stop! Jangan mendekat. Aku jijik denganmu. Bahkan untuk memanggil namamu, aku sungguh ingin muntah." Kiara langsung menjauhkan tubuhnya dengan Jino yang sedang tidak memakai sehelai benang apapun.
"Kiara, aku mohon dengarkan penjelasanku."
Tiba-tiba deru beberapa suara derap sepatu semakin terdengar jelas terdengar mendekat kearah kamar Jino.
CREK
CREK
CREK
Kiara, Jino, dan Denia sangat terkejut dengan kedatangan para media yang sedang berebut memotret keadaan di dalam kamar Jino.
"Apa-apaan ini!" teriak Jino pada para media di sana.
Suasana menegang. Betapa buruknya hubungan antara keponakan dan paman itu. Namun, tak ada yang terkejut, situasi tersebut telah lama menyebar dan menjadi momok gosip di kalangan pebisnis. “Kau tak punya bukti menuduhku, Kiara. Jangan buat mendiang orang tuamu sedih dengan sifat kurang ajarmu itu,” tandasnya, menggeram di sela rahangnya mengeras. Matanya berkilat merah, menahan emosi saat menatap tajam mata berani Kiara yang tak kalah dingin dan mengancam. Kiara terkekeh mengejek. ‘Bocah sialan! Harusnya kubunuh kau sejak awal,’ umpat Vino dalam hati. Ia benar-benar semakin penasaran, seberapa kuat orang di belakang sang keponakan hingga ia begitu berani menantangnya.Kiara mengerjapkan mata tenang. Ingatan ia dikurung di ruang hukuman dan tak urung dibawa sejauh mungkin oleh sopir Vino ketika waktu meeting pemegang saham tiba, membuatnya memainkan pena di sela jari kurusnya, lalu mengetuk keras meja di depan wajah sang paman. Tak!Orang-orang tersentak dengan perilaku tak sopan Kia
“Sayang!”Kiara menghela napas karna panggilan itu. “Apa lagi, Ken?” jawabnya dengan mata memutar malas, saat tangan Kiara telah memegang gagang pintu mobil, dan mendorongnya.Ken tertawa puas mendengar kekesalan dalam nada suara sang istri. “Kau lupa sesuatu,” katanya sambil tersenyum nakal. Matanya bergerak, memeriksa tubuh, lalu melirik tas jinjing. Kening Kiara mengernyit bingung, “Tak ada. Sepertinya aku tak meninggalkan apa pun di kantormu Mas ... aakhh!”Kiara menjerit tertahan saat salah satu tangannya ditarik dari belakang, membuat ia jatuh di pangkuan Ken dan punggungnya tersentak dada bidang lelaki itu.“Apa-apaan sih kamu, Mas?” sembur kesal Kiara dengan napas sedikit terengah-engah. Ia memukuli lengan Ken.“Sudah kubilang kau melupakan sesuatu kan?” bisik Ken di tengkuk putih dalam Kiara, yang terlihat warna kemerahan bekas gigitan Ken.Napas Kiara tercekat. Matanya melebar dengan leher menggeliat geli ketika napas hangat Ken mulai mengendus bulu halusnya. Lengan kekar K
Ken seakan tidak ada habisnya mengulang kegiatan panas mereka. Pria tampan itu mengingkari janji untuk yang satu ini.Sedangkan Kiara masih tergulai lemas di tempat tidur kantor Ken.Kiara sedikit mengerjapkan kelopak matanya mengintip bayangan pria yang masih setiap menatap wajah cantiknya."Istriku sudah bangun ... Aku harus mengucapkan apa sekarang? Selamat pagi atau terima kasih?" goda Ken.Kiara mencebikkan bibirnya. Tangannya langsung terangkat ke atas, menutup wajah tampan Ken."Kamu selalu saja tidak punya malu," balas Kiara kesal. "Lihatlah wajah mesummu itu. Kamu hampir membuatku lumpuh hari ini," sambung Kiara lagi.CupcupcupcupKen mencium bertubi-tubi buku tangan Kiara dengan gemas, hingga pemiliknya menarik kembali tangan itu."Aku mesum hanya dengan istriku. Mana bisa wajah t
Kiara memutar tubuhnya di depan cermin besar.Senyumnya terukir begitu cantik. Ia bahkan memuji dirinya sendiri yang memang sangatlah cantik memakai setelahn formal dengan rambut curly-nya.Cantik banget sih aku, pujinya di depan cermin.Jika cermin itu dapat berbicara, mungkin saja bibirnya tak akan lelah menimpali pujian untuk sang Nyonya.Kiara mengambil salah satu koleksi tas bermerek yang sengaja dibelikan Ken.Kira memang sangat dimanjakan oleh pria tampan itu, yang kini telah menjelma menjadi suami sah Kiara hampir 10 bulan.Waktu yang benar-benar tidak Kiara sangka. Pernikahan atas dasar perjanjian jual-beli itu menghasilkan cinta yang tak pernah Kiara pahami akan secepat ini.Ken Ardinanata, aku sangat mencintaimu.Kiara mulai mengayunkan langkahnya menuruni anak tangga untuk menghampir
Ken, semakin menempel dengan Kiara hari demi hari. Seakan dia adalah permen karet.Ken benar-benar tidak mau melepaskan Kiara walaupun hanya sedetik saja.Pagi ini Ken harusnya menghadiri meeting intern perusahaannya. Tapi, lagi-lagi magnet Kiara begitu menyerap dirinya untuk tidak berkutik dalam pelukan Kiara."Mas, ayo bangun dong! Nggak kerja emang?" tanya Kiara yang semakin terbiasa dengan kemanjaan suaminya itu.Ken masih memejam. Ia semakin kuat memeluk Kiara. "Aku Bossnya. Aku bisa masuk kapan pun aku mau, Sayang."Kiara mengulas lembut rambut Ken dari belakang, seraya membalas perkataan Ken, "Jangan seperti itu, Mas. Kamu harus menjadi contoh dari bawahanmu."Ken hanya berdehem, lalu mendongakkan wajahnya. "Baiklah Nyonya Ardinanata," jawab Ken yang langsung dibalas Kiara dengan cub
Mentari bersinar terang. Pagi ini semua dimulai dengan senyum yang merekah.Termasuk dengan Ken, yang pagi ini sengaja memboloskan diri, karena pertempurannya harus menyita kekuatan dan waktunya.Tapi, itu tidak masalah. Ken adalah pria perkasa. Ia bahkan mampu melayani istrinya hingga matahari esok.Namun, nyatanya Kiara lah yang tidak akan mampu melayani suaminya jika seperti itu."Pagi, Mah, Pah!" sapa Ken yang sudah duduk di kursi meja makannya."Pagi, Adikku!" sambung Ken kembali dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.Gea melongo. Apa yang ia dengar, dan apa yang ia lihat sama sekali bukan seperti Kakaknya.Ken sangat berbeda.Begitupula dengan Fredi dan Linda yang ikut menatap putranya tak percaya. Sifat angku







