MasukMentari bersinar terang. Pagi ini semua dimulai dengan senyum yang merekah.
Termasuk dengan Ken, yang pagi ini sengaja memboloskan diri, karena pertempurannya harus menyita kekuatan dan waktunya.
Tapi, itu tidak masalah. Ken adalah pria perkasa. Ia bahkan mampu melayani istrinya hingga matahari esok.
Namun, nyatanya Kiara lah yang tidak akan mampu melayani suaminya jika seperti itu.
<
Suasana menegang. Betapa buruknya hubungan antara keponakan dan paman itu. Namun, tak ada yang terkejut, situasi tersebut telah lama menyebar dan menjadi momok gosip di kalangan pebisnis. “Kau tak punya bukti menuduhku, Kiara. Jangan buat mendiang orang tuamu sedih dengan sifat kurang ajarmu itu,” tandasnya, menggeram di sela rahangnya mengeras. Matanya berkilat merah, menahan emosi saat menatap tajam mata berani Kiara yang tak kalah dingin dan mengancam. Kiara terkekeh mengejek. ‘Bocah sialan! Harusnya kubunuh kau sejak awal,’ umpat Vino dalam hati. Ia benar-benar semakin penasaran, seberapa kuat orang di belakang sang keponakan hingga ia begitu berani menantangnya.Kiara mengerjapkan mata tenang. Ingatan ia dikurung di ruang hukuman dan tak urung dibawa sejauh mungkin oleh sopir Vino ketika waktu meeting pemegang saham tiba, membuatnya memainkan pena di sela jari kurusnya, lalu mengetuk keras meja di depan wajah sang paman. Tak!Orang-orang tersentak dengan perilaku tak sopan Kia
“Sayang!”Kiara menghela napas karna panggilan itu. “Apa lagi, Ken?” jawabnya dengan mata memutar malas, saat tangan Kiara telah memegang gagang pintu mobil, dan mendorongnya.Ken tertawa puas mendengar kekesalan dalam nada suara sang istri. “Kau lupa sesuatu,” katanya sambil tersenyum nakal. Matanya bergerak, memeriksa tubuh, lalu melirik tas jinjing. Kening Kiara mengernyit bingung, “Tak ada. Sepertinya aku tak meninggalkan apa pun di kantormu Mas ... aakhh!”Kiara menjerit tertahan saat salah satu tangannya ditarik dari belakang, membuat ia jatuh di pangkuan Ken dan punggungnya tersentak dada bidang lelaki itu.“Apa-apaan sih kamu, Mas?” sembur kesal Kiara dengan napas sedikit terengah-engah. Ia memukuli lengan Ken.“Sudah kubilang kau melupakan sesuatu kan?” bisik Ken di tengkuk putih dalam Kiara, yang terlihat warna kemerahan bekas gigitan Ken.Napas Kiara tercekat. Matanya melebar dengan leher menggeliat geli ketika napas hangat Ken mulai mengendus bulu halusnya. Lengan kekar K
Ken seakan tidak ada habisnya mengulang kegiatan panas mereka. Pria tampan itu mengingkari janji untuk yang satu ini.Sedangkan Kiara masih tergulai lemas di tempat tidur kantor Ken.Kiara sedikit mengerjapkan kelopak matanya mengintip bayangan pria yang masih setiap menatap wajah cantiknya."Istriku sudah bangun ... Aku harus mengucapkan apa sekarang? Selamat pagi atau terima kasih?" goda Ken.Kiara mencebikkan bibirnya. Tangannya langsung terangkat ke atas, menutup wajah tampan Ken."Kamu selalu saja tidak punya malu," balas Kiara kesal. "Lihatlah wajah mesummu itu. Kamu hampir membuatku lumpuh hari ini," sambung Kiara lagi.CupcupcupcupKen mencium bertubi-tubi buku tangan Kiara dengan gemas, hingga pemiliknya menarik kembali tangan itu."Aku mesum hanya dengan istriku. Mana bisa wajah t
Kiara memutar tubuhnya di depan cermin besar.Senyumnya terukir begitu cantik. Ia bahkan memuji dirinya sendiri yang memang sangatlah cantik memakai setelahn formal dengan rambut curly-nya.Cantik banget sih aku, pujinya di depan cermin.Jika cermin itu dapat berbicara, mungkin saja bibirnya tak akan lelah menimpali pujian untuk sang Nyonya.Kiara mengambil salah satu koleksi tas bermerek yang sengaja dibelikan Ken.Kira memang sangat dimanjakan oleh pria tampan itu, yang kini telah menjelma menjadi suami sah Kiara hampir 10 bulan.Waktu yang benar-benar tidak Kiara sangka. Pernikahan atas dasar perjanjian jual-beli itu menghasilkan cinta yang tak pernah Kiara pahami akan secepat ini.Ken Ardinanata, aku sangat mencintaimu.Kiara mulai mengayunkan langkahnya menuruni anak tangga untuk menghampir
Ken, semakin menempel dengan Kiara hari demi hari. Seakan dia adalah permen karet.Ken benar-benar tidak mau melepaskan Kiara walaupun hanya sedetik saja.Pagi ini Ken harusnya menghadiri meeting intern perusahaannya. Tapi, lagi-lagi magnet Kiara begitu menyerap dirinya untuk tidak berkutik dalam pelukan Kiara."Mas, ayo bangun dong! Nggak kerja emang?" tanya Kiara yang semakin terbiasa dengan kemanjaan suaminya itu.Ken masih memejam. Ia semakin kuat memeluk Kiara. "Aku Bossnya. Aku bisa masuk kapan pun aku mau, Sayang."Kiara mengulas lembut rambut Ken dari belakang, seraya membalas perkataan Ken, "Jangan seperti itu, Mas. Kamu harus menjadi contoh dari bawahanmu."Ken hanya berdehem, lalu mendongakkan wajahnya. "Baiklah Nyonya Ardinanata," jawab Ken yang langsung dibalas Kiara dengan cub
Mentari bersinar terang. Pagi ini semua dimulai dengan senyum yang merekah.Termasuk dengan Ken, yang pagi ini sengaja memboloskan diri, karena pertempurannya harus menyita kekuatan dan waktunya.Tapi, itu tidak masalah. Ken adalah pria perkasa. Ia bahkan mampu melayani istrinya hingga matahari esok.Namun, nyatanya Kiara lah yang tidak akan mampu melayani suaminya jika seperti itu."Pagi, Mah, Pah!" sapa Ken yang sudah duduk di kursi meja makannya."Pagi, Adikku!" sambung Ken kembali dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.Gea melongo. Apa yang ia dengar, dan apa yang ia lihat sama sekali bukan seperti Kakaknya.Ken sangat berbeda.Begitupula dengan Fredi dan Linda yang ikut menatap putranya tak percaya. Sifat angku







