LOGINIn less than 24 hours, I went from being all dolled up for my wedding to being sold at an auction like some animal. I didn't expect to be bought by a handsome stranger. He was an Alpha with Mafia ties. And now, I was his own personal plaything. Will I be able to get my pack back from the evil Alpha that stole it from me? Or will I remain a plaything until my buyer lets me go? Can we work together and defeat our enemies, or will those enemies tear us apart? Read to find out!
View More“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …Rocco POVI knew that I wasn’t supposed to be in this part of the packhouse at this time of night, but I didn’t have a choice. I crept closer to the basement, where faint screams were heard. My hair was standing on end and I shivered at the horrifying sound. Being careful not to draw attention to myself, I snuck closer and peered inside the interrogation room. A man was sitting in a chair, his wrists duct taped to the arm rests. He wasn’t wearing a shirt and several cuts and bruises littered his body. I stifled a gasp when I saw Mia standing behind him. “Please.” The man whimpered. “I’ve told you everything I know.”Mia turned around, her body dressed in a tight leather bodysuit. “Oh, I know.” She purred. “But I’m not done having my fun just yet.”With that, she took out a knife and carved something on the man’s shoulder. He shook and rocked the chair trying to get away from her, but the chair was bolted to the floor. His screams gave me chills and Mia laughed at his anguish. “
Alessandro POVGabriel’s hands trembled as he walked up the steps, his head lowered. I would never admit it to Linnea, but I was going to enjoy this. Gabriel deserved it, and I loved getting my hands dirty. My father had trained me in hurting people the right way to extract information, and I had become really good at it. I took off the cuffs and instructed Gabriel to take off his shirt and face the crowd. Then, I turned to Linnea and made her back away a bit. I didn’t want to risk hitting her. Linnea looked at me questioningly, as if she was trying to see through me. Maybe she was seeing the excitement?I turned my face away and picked up the whip. “I’m going to count to twenty.” I said. “You should probably get down on your knees in case you pass out before then.”Gabriel nodded stiffly and sat down, refusing to look at the crowd in front of him. I unfolded the whip, the silver tip glimmering in the light as it came down on his back. Gabriel cried out from the pain, his hands b
Linnea POVAlessandro sat down behind the desk and I perched myself on his lap when there was a knock at the door. “Come in.” Alessandro called out. Wanda opened the door and showed a man inside. “Dante.” Alessandro smiled. “Thank you for coming.”“Do you know what’s going on?” Dante asked. “Soraya has been missing. I have no idea where she is. When you called, I guessed that this is what you wanted to talk about.”Alessandro nodded. “The council was here and took a lot of the people responsible into custody.” He replied. “I just wanted you to hear it from me first. Soraya contacted Alpha Harald in an attempt for him to claim my Luna as his. It backfired and the council deemed her an accessory to the crimes that had taken place in this pack.”I smiled apologetically when Dante stared at Alessandro in shock. “I’m really sorry about the trouble that she has caused.” He said after a while. “I’ll talk to the council since she is a member of my pack. I just never thought that she woul
Gabriel POVI didn’t know how long I had been in the cell, but I was starting to feel stressed. My mother was locked in the cell beside mine and she hadn’t stopped glaring at me. “Was it worth it?” She asked. “Selling out your family?”I shrugged. “We should never have gone along with this in the first place.” I replied. “Now we lost everything.”“Yes, because of you!” Mom screamed, making the other prisoners throw annoyed looks at her. “You did this to us. You would have been Alpha by now.”“Would I?” I asked. “I want to be Alpha because I earned it, not because I got a pack handed to me that wasn’t even mine in the first place.”Mom sneered at me. “It’s because of your mate, isn’t it?” She asked. “Maybe I should have asked more questions earlier, but let’s do this now instead, since she seems to be the reason for this.”I growled at her. “It’s none of your business.” I replied. Before my mom could reply, a group of MoonStone warriors walked in. “You are being transported.” One
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews