เข้าสู่ระบบBella’s life takes a dark turn when her father’s debt to the Jacksons falls on her shoulders, and the price is paid in blood. Lucas, one of the Jackson brothers, steps in, claiming her as his wife to save her. But before the wedding, Bella finds herself drawn to Damon, Lucas’s enigmatic brother. The ceremony shatters when gunfire erupts, leaving Lucas critically wounded. As he lies in a coma, Bella and Damon grow closer, crossing a line they can’t undo. When Lucas finally wakes up, shaken by his brush with death, he pleads for a chance to make their marriage work. Damon, however, drops the bomb about their affair. Lucas whisks Bella away, determined to salvage what’s left, but secrets and unfinished business loom. Will Damon fight for her, or will Lucas prove he’s the one who can truly win her heart? While traveling through Europe, Lucas discovers Bella is pregnant, with Damon’s child. It’s a gut punch, but he decides he’s got to step up if he’s going to keep her. Just as things start looking up for them, life throws another curveball. A freak accident sends them tumbling down a flight of stairs, Bella breaks her leg, and Lucas fractures his spine, leaving him wheelchair bound. Determined to see him recover, Bella throws herself into rehabilitating him while secretly using her father’s hidden Swiss funds to build a company. Back in America, the family drama kicks into high gear. Bella’s accused of shoving Lucas down the stairs to get rid of him, because, of course, she’d risk breaking her own leg for that. Damon’s met with a version of Bella he doesn’t recognize, convinced she’s only staying with Lucas out of pity.
ดูเพิ่มเติมSenin pagi seperti biasa aktifitas padat dimulai. Jalanan Ibu Kota akan dipenuhi oleh kendaraan yang lalu lalang. Saat fajar datang menyapa, kebanyakan dari para pengais rejeki akan memulai aktifitasnya. Sama seperti diriku yang memilih berangkat setelah shalat subuh kutunaikan agar aku bisa menghirup udara segar di pagi hari, juga menghindari macet yang menjadi ikon kota ini.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, aku tiba di pelantaran sebuah bangunan tempatku mengais rejeki. Bangunan tiga lantai berdiri tegak atas hasil keringat sendiri.
Suasananya masih sepi. Tentu saja. Aku lebih suka datang lebih awal agar aku bisa berehat sejenak sebelum memulai aktifitasku. Menghambakan kepada Sang Pemilik diri ini untuk memohon keberkahan atas segala usahaku hari ini.
Satu jam berlalu, satu persatu karyawan mulai berdatangan dan memulai aktifitas sesaat setelah breafing yang rutin setiap pagi dilakukan untuk menambah semangat kerja para karyawan.
Saat aku tengah sibuk memeriksa laporan bulanan, terdengar pintu diketuk. Seseorang muncul setelah aku persilahkan untuk masuk.
"Hari ini jadi nggak ngisi poadcast di channel Muslimah Berbagi Inspirasi?" tanya Rayyan setelah mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjaku.
Aku melirik jam di tangan sejenak.
"Sepuluh menit lagi aku berangkat," jawabku tanpa menoleh.
"Ayolah, Zafran! Kamu bakal tampil, loh, di channel youtube terkenal. Perbaiki dulu penampilanmu."
Aku tersenyum tipis menanggapi.
"Apa penampilan begitu penting?"
Rayyan beranjak dari tempat duduknya lalu berdiri di hadapanku dengan tangan menyilang di depan dada.
"Kamu akan ditonton oleh banyak orang. Jelaslah penampilan penting," ucapnya sewot.
Aku berdiri mengikuti dia yang lebih dulu sudah di depan lemari pakaian yang memang aku siapkan di ruang kerja. Ini adalah ide Rayyan. Saat aku tanya kenapa, dia malah menjawab di luar perkiraanku.
"Takutnya kamu tiba-tiba butuh untuk berganti pakaian. Kan sampai saat ini belum ada yang ngurusin kamu. Maka bersyukurlah punya sahabat sebaik aku." Aku hanya diam tanpa menanggapi.
"Makanya buruan, gih, cari pendamping sebelum aku yang nikah duluan!"
Aku mendelik malas jika ujung-ujungnya membahas ke arah sana. Menikah.
Lamunanku buyar saat sebuah tangan menepuk wajahku.
"Jangan bengong! Entar kesambet kamu."
"Kamu terlalu cerewet. Kayak perempuan aja," ujarku sambil memilih baju yang akan kupilih.
"Terserahlah. Asal kamu nurut."
Sepuluh menit berlalu, tak perlu banyak waktu untuk memilih. Kali ini kemeja koko warna navi adalah pilihan yang tepat untukku yang berkulit cerah. Rambut sedikit kurapikan, jam tangan digital dengan merk ternama melingkar manis di pergelangan tangan kiri serta sepatu santai warna hitam sepadan dengan celana kain berwarna senada.
Dering ponsel menghentikan aktifitasku. Tertera nama Mas Taufik salah satu kru channel Muslimah Berbagi Inspirasi.
"Assalamu'alaikum. Iya, aku sudah menuju ke sana. Mungkin setengah jam lagi aku tiba di sana."
Gegas aku menyambar kunci mobil di atas meja lalu melangkah keluar. Tak kupedulikan teriakan Rayyan yang protes ditinggal begitu saja.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, kembali aku merapikan diri sebelum masuk ke dalam gedung berlantai dua itu.
"Bagaimana?" tanyaku memastikan.
"Udah keren," jawabnya dengan menaikkan dua jempol.
Langkah kaki ini kemudian membawaku menaiki lantai dua. Rayyan tentunya sejak tadi mengekor di belakangku. Selain menjabat sebagai manajer, dia juga merupakan sahabatku sejak kecil. Jadi tak salah jika dia secerewet itu.
Di lantai dua kami disambut oleh tiga orang yang kuyakini para kru.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Zafran," sapa Mas Taufik.
"Wa'alaikumussalam, Mas. Maaf kami telat," ucapku sambil merangkul Mas Taufik.
Pandanganku kemudian tertuju pada dua wanita yang berdiri bersisian di samping Mas Taufik. Salah satu di antara mereka sedikit mengalihkan perhatianku. Kuucapkan istighfar sebelum setan mengambil kesempatan ini.
"Assalamu'alaikum, Ustaz," sapanya lembut sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan.
"Wa'alaikumussalam," balasku kikuk.
"Sudah bisa dimulai, Ustaz?" tanya Mas Taufik kemudian.
"Boleh."
"Silahkan masuk Ustaz. Lima menit lagi kita mulai, ya?" Aku mengangguk kemudian mengikuti langkahnya.
Wanita yang belum aku tahu namanya tersenyum simpul lalu kubalas dengan senyum pula.
Di dalam ruang persegi dengan warna dominan putih serta kaligrafi menghiasi setiap sudut ruangan. Aku dan Rayyan duduk bersisian. Saat aku sedang asyik mengobrol dengan Rayyan, muncul salah satu wanita tadi.
"Maaf mengganggu, Ustaz. Mungkin ustaz Zafran sudah bisa masuk ke ruang utama untuk mengambil rekaman hari ini."
Sejenak aku menoleh ke arah Rayyan yang tak pernah berkedip menatap wanita tadi.
'Semoga nggak kumat,' batinku.
Aku berjalan menuju ruangan yang dituju. Di dalam sudah ada wanita yang duduk di balik meja yang berhadapan langsung dengan kursi yang akan menjadi tempatku nanti. Wanita dengan gamis berwarna navi dengan paduan khimar berwarna abu muda. Sangat cocok dengan wajahnya yang manis.
'Jadi, dia yang akan memandu acara hari ini?'
Sejenak pandangan kami bertemu.
"Silakan duduk, Ustaz," ucapnya dengan lembut dengan senyum menghiasi wajahnya.
Aku mendudukkan diri kemudian sedikit merapikan penampilan sebelum di-take.
"Bisa kita mulai ya, Ustaz?" Aku menggangguk. Ada dentuman dari dalam dada yang sedang berusaha kukontrol.
Pandangannya mulai melihat ke arah sisi kanannya kemudian mengangkat jempol kanannya.
"Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama - tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat berkumpul pada hari ini dengan keadaan sehat wal'afiat.
Tak Lupa Sholawat serta salam tak henti - hentinya kita haturkan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam, yang kita tunggu syafaatnya di hari kiamaat nanti. Semoga kita termasuk golongan umat yang mendapatkan syafa'atnya kelak. Aamiin Allahumma Aamiin."
"Sahabat MBI di mana pun berada, apa kabar hari ini? Semoga senatiasa dalam lindungan Allah Subhana Wa Ta'ala. Aamiin. Seperti biasa hari ini Zaira Khazanah kembali menyapa sahabat fillah semua untuk berbagi kisah inspirasi dengan ornag hebat."
Aku sekali-sekali mencuri pandang kepadanya. Zaira, nama yang indah. Tanpa sadar senyum tercipta di wajahku.
"Alhamdulillah hari ini kita kedatangan tamu istimewa yang belakangan ini jadi pembicaraaan hangat akan sosoknya. Ustaz Zafran Abdullah. Pengusaha muda khusus busana muslim. Masya Allah."
"Assalamu'alaikum, Ustaz."
"Wa'alaikumussalam," jawabku yang kini berhadapan dengannya.
"Sebelumnya jazakallah khairan katsiran Ustaz sudah bersedia membagi waktunya di tengah kesibukan Ustaz untuk menjadi narasumber kami hari ini."
"Wa jazakillah khair."
"Sebelumnya kita santai saja ya, Ustaz, agar sharing kita berjalan dengan mudah."
Entah dia menangkap sinyal rasa gugupku atau memang prosedurnya.
"Baik."
"Sebelumnya, apa Ustaz bisa sedikit bercerita bagaimana kisah di balik kesuksesan Ustaz dalam mengelola usaha ini?"
"Awalnya itu bermula pada tiga tahun silam. Saat itu aku masih menempuh pendidikan di salah satu universitas ternama di kota ini. Di kampus kami itu ada suatu lembaga yang mengadakan kegiatan khusus sebagai wadah bagi mahasiswa beragama muslim untuk mengembangkan dakwah di kampus kami. Setiap hari jum'at sore kami akan mengadakan kajian rutinan yang dihadiri oleh beberapa petinggi universitas, staf dan juga mahasiswa."
"Sampai suatu hari kami berencana mengadakan lomba dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Salah satunya adalah kelompok shalawatan. Petinggi kampus meminta untuk membuat seragam sendiri yang akan didanai oleh pihak kampus."
"Kebetulan Umi saya memiliki keahlian menjahit. Lalu dengan bantuan beliaulah, seragam itu jadi. Alhamdulillah setiap kegiatan kampus bertema islami, seragam akan dipesan dengan saya sebagai perantara. Katanya, jahitan, kain dan modelnya berbeda dari yang ada di pasaran."
"Saat itulah saya terinspirasi untuk menjadi pedangan muslim dan banyak belajar dari Umi."
"Masyaa Allah sangat inspiratif sekali yang berawal dari seorang aktifis dakwah di kampus, lalu sentuhan jahitan seorang ibu dan pastinya diselingi do'a sehingga bisa seperti ini ya, Ustaz?" Aku mengangguk ramah.
"Lalu untuk nama brandnya sendiri yaitu An-Nur Barokah itu terinspirasi dari mana, Ustaz?"
"Untuk nama brandnya seperti artinya adalah cahaya berkah. Berharap apa yang saya lakukan senantiasa mendapatkan limpahan cahaya keberkahan di dalamnya."
"Masyaa Allah berarti sebuah do'a ya, Ustaz?" Aku mengangguk kembali.
Lalu pertanyaan terus terlontar darinya. Wanita yang berhasil menarik perhatianku sejak awal jumpa. Wanita shalihah yang cerdas dan santun. Zaira Khazanah.
Satu jam telah berlalu, obrolan ringan yang sedikit diselingi canda darinya membuatku semakin tertarik. Pembawaannya yang ringan dan mudah membawa lawan bicara sudah seperti sangat dekat.
"Alhamdulillah sharing pada hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang disampaikan oleh narasumber kita pada hari ini bermanfaat untuk kita semua."
"Jazakallah khairan kepada Ustaz Zafran Abdullah yang telah menyampaikan sharing luar biasa pada hari ini. Semoga menjadi amal jariyah untuk Ustaz."
"Sebelum kami akhiri sharing hari ini, ada sedikit kenang - kenangan dari kami sebagai ucapan terimakasih."
Tangan lentiknya mengeluarkan sebuah plakat
sebagai tanda terimakasih dan telah bersedia membagi waktuku untuk berbagi di akun channel mereka.Tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat hingga sharing hari ini selesai. Ada rasa sedikit sesal karena waktu yang kuminta begitu sedikit. Ah, andai saja aku memilih waktu sedikit lwbih lagi, tentu saja aku bisa menikmati kedekatan ini meskipun hanya sebagai tuan rumah dan tamu. Tapi rasa nyaman itu muncul seketika.
'Astagfirullah ada apa ini? Ampuni Hamba' batinku.
Setelah kami selesai sharing di ruangan persegi kini kami terlibat obrolan ringan di sebuah meja kecil.
"Masyaa Allah begitu menginspirasi cerita di balik suksesnya usaha Ustadz." Mas Taufik membuka obrolan.
"Di luaran sana pasti masih banyak lagi inspirator hebat, Mas."
Kami tertawa ringan sambil menikmati kopi dan beberapa irisan kue bronis cokelat pandan.
"Oh, iya, ini dua rekan saya ustadz, yang satunya pasti ustadz sudah kenal tadi. Zaira Khazanah, dan sahabatnya Khadijah." Mas Taufik memperkenalkan dua rekannya kembali.
"Ini sahabat sekaligus partner saya dalam bisnis ini. Rayyan Habibullah."
Mereka kemudian saling berkenalan. Bisa kutangkap sesekai Zaira mencuri pandang kepadaku. Akupun begitu selalu tertangkap basah mencuri pandang ke arahnya. Saat mata kami bertemu, Zaira akan otomatis menunduk, sedang aku membuang pandangan.
"Maaf ustaz, di kisahnya tadi ustaz belum pernah menyebut sosok wanita yang senantiasa mendampingi Ustaz selain sosok Umi. Apa sengaja tidak disebut, Ustaz?"
Khadijah sebagai salah satu yang hadir di sini bertanya sesuatu yang sangat jarang ditanyakan oleh kebayakan orang.
Kulihat rona wajah Zaira seolah menunggu sebuah jawaban dariku. Apakah dia? Ah, aku tak ingin menimbulkan praduga yang berujung kecewa.
"Sayangnya sosok itu memang belum ada," jawabku dengan sedikit terkekeh.
"Jadi ustaz masih sendiri ternyata. Saya pikir Ustaz sudah ada yang punya," celetuk Mas Taufik.
"Apa Mas Taufik ada calon untuk Ustaz Zafran?" tanya Rayyan.
"Segan aku, Ustaz. Nanti Ustaz sendiri yang memilih. Aku yakin pilihan Ustaz paling terbaik," timpal Mas Taufik.
Tak terasa setengah jam berlalu. Aku harus kembali ke kantor. Aku tidak bisa meninggalkan lebih lama lagi pekerjaan di sana.
Sebelum benar-benar berlalu, aku sengaja menyuruh Rayyan turun duluan. Aku menghampiri Zaira yang tengah merapikan bekas minum kami.
Aku berdehem yang membuatnya sedikit tersentak.
"Ada apa, Ustaz?" tanyanya.
"Eum, apa kamu .... masih sendiri?"
Jujur, aku sangat ragu untuk menanyakan hal yang sangat pribadi. Untuk mengumpulkan keberanian bertanya saja sangat butuh lama hingga sedikit terjeda.
Zaira tersenyum lantas menunduk.
"Masih, Ustaz," lirihnya.
"Alhamdulillah."
Zaira mendongak menampakkan wajahnya yang tengah menghangat. Aku mengulum senyum melihat wajahnya begitu lucu saat ini.
"Zaira, jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka ijinkan aku untuk membawa namamu dalam do'aku."
Wajahnya semakin bersemu merah. Secara tidak langsung aku telah mengakui memiliki daya tarik untuknya. Entah Zaira mengerti atau tidak.
"Aku permisi. Assalamu'alaikum."
Aku pemait setelah mendapatkan balasan atas salam yang telah terucap. Meninggalkan dia yang masih mematung di tempat.
"Lama amat sih, di atas masih ada ketinggalan?" tanya Zafran saat aku sudah berada di balik kemudi.
'Ada, Rayyan. Hatiku,' bisikku dalam hati.
"Tidak ada," jawabku santai namun ditanggapi tawa renyah oleh Rayyan.
"Zafran, aku nggak mengenalmu baru kemarin. Sejak tadi tuh gerak-gerik kamu aku awasi semua."
Aku terkesiap. Jangan-jangan dia tahu.
"Sudahlah. Nggak usah berlagak sok kalem di depanku. Aku tahu. Zaira kan?" godanya.
"Ah, sok tahu kamu," kilahku.
"Tatapan mata kamu itu buktinya. Saat sebelum mulai acara. Pandangan kamu itu udah mengarah ke dia. Meskipun ada Khadijah di sampingnya." Aku bergeming.
"Saat mulai sharing. Tatapan kamu nggak lepas dari dia."
"Sok tahu kamu." Aku terus berpura-pura fokus menyetir.
"Zafran, aku sangat mengenal kamu. Aku setuju kalau sama dia. Dia cantik, baik, shalihah." Aku mengerling tajam.
"Hey, biasa aja dong tatapannya. Apa salahnya?" tanyanya seolah-olah apa yang dia lakukan adalah benar.
"Kamu memujinya di depanku. Membayangkan wajahnya. Itu dosa!"
"Hey, kamu cemburu?" Rayyan terkekeh.
Aku diam dan memilih fokus menyetir.
"Tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mencari tahu soal dia." Aku memilih tetap diam.
Zaira, akankah kita akan bertemu lagi? Kapan? Di mana? Atau apakah justru ini adalah pertemuan terakhir kita?
'Astaghfirullah'
6 months later…Mateo groaned.“Come on, hurry up, my parents are going to be here any second.”He kissed her, and she wrapped her arms around his neck.“Love you,” he muttered.“Yeah, yeah, I know you do,” Isabella teased, rolling her eyes.“Alright, enough of that. Save it for the honeymoon,” Maria interrupted, walking in. She smiled at Isabella. “But seriously, you’re good for him. He hasn’t been this happy in years.” She gently cupped Isabella’s cheek.“Ma, did you really have to cook enough for an army?” Mateo asked, eyeing the table piled with food.“Well, your sister and Airam are coming too,” Maria replied casually.Mateo stiffened. Isabella squeezed his hand. “It’s fine. We were gonna have to face them eventually. She’s your sister, after all.”The sound of car doors slamming outside broke the tension. Thiago and Amelia walked in first, and Isabella practically launched herself at her dad.“Dad! Missed you,” she said, hugging him tight before turning to her mom.Then Airam an
Lucas and Bella exchanged uneasy glances. Everyone was here except Isabella.“Something’s off,” Lucas muttered, his voice low. “I don’t like this. They’re hiding something.”“Come on,” Bella urged, her tone sharp but steady. “Let’s grab the kids and figure out how to find her.”Just then, a car pulled up. Airam stumbled out, his arm in a sling and a noticeable limp in his step. “Where’s Isabella?” he demanded, panic edging his voice.“She’s gone,” Lucas said flatly as Thiago approached, his eyes narrowing.“What aren’t you saying, Airam?” Thiago pressed, his voice cutting through the tension.Airam hesitated, then sighed. “We grabbed the daughters of a few arms dealers. They need to pay up.”“Damn it,” Lucas cursed under his breath. “Why Isabella?”“Yeah, that doesn’t add up,” Thiago agreed, just as another car rolled in. A striking woman stepped out, and Airam’s face went pale.“Laura? What the hell are you doing here?” he stammered.She marched up to him, slapped him hard across the
Isabella opened her eyes, her wrists cuffed to the bedframe. Stay calm, she reminded herself. Focus. Then Airam’s face flashed in her mind, and her chest tightened. She bit back the urge to cry.The door creaked open. “Hello, Isabella,” the man said smoothly.“Do I know you?” she shot back, her voice sharp. She stared into his eyes, hazel, piercing, since the rest of his face was masked.He chuckled. “Not yet, but I’m hoping we can change that.” He stepped closer, reaching out to touch her face. She jerked her head away and slapped his hand.“I’m not the enemy here,” he said, feigning innocence.“You hurt my husband, my family. You’ll pay for that,” she snapped.“Oh, that wasn’t me. That was the parents of the girls they took. I came here for you,” he replied casually.“Bullshit. Nice try. What do you want with me?” she demanded.“See, Airam was engaged to my sister,” he said, pulling off his mask. His dark hair was longer than she remembered, a faint stubble on his jaw. “He promised
Lucas and Thiago stood by the door, and when she stepped out, they froze.“Damn, princess,” Lucas smirked, “you clean up good.”Isabella rolled her eyes but grinned, hugging him. “Grandpa, don’t make me ruin my makeup already.”Her dress was flawless, fitting her like it was made just for her. She linked arms with them, and they made their way down the stairs.At the bottom, Airam was waiting. His jaw nearly hit the floor when he saw her.“Remember, Airam,” Lucas said, clapping him on the shoulder, “she’s got a whole army of family ready to hunt you down if you mess this up.”Thiago kissed her forehead, his eyes suspiciously shiny. “Take care of my girl,” he said, giving Airam a stern look.Airam took her hand, and she smiled at him, soft, but with a hint of mischief.The ceremony went smoothly, followed by the obligatory family photos, and then the reception kicked off.Cristiano walked over to his sister, raising his glass with a smirk."To my stunning sister, let’s hope Airam remem
A man pushed through the crowd, his gaze locked on her, a cocky grin plastered across his face. Mid-forties, swagger in his step, he closed the distance.“You took out ten of my guys. Cop?” he said, sizing her up.She turned to face him, gun still in hand. “Do I look like a cop to you?”“Nah, you l
Lucas's eyes widened. "Selena?"Amelia lunged forward, but Thiago caught her by the waist."He's your son and you want him dead!" she shouted, her face flushed with anger."Mom," Cristiano stepped between them. "Please. We have guests."Amelia jabbed a finger toward Selena. "This is not over."José
She blinked awake, Andres’ face coming into focus. Amelia shut her eyes quickly, then opened them again, as if testing the reality of it. She sat up, staring at him like he was a ghost. “You can’t be real. I’m losing my damn mind…”“I’m here, Amelia,” Andres said quietly. “I had to do this. So you
He dialed. "Diego, where the hell are you?""At school. Why?""Get out, find Isabella, and take her somewhere safe. No questions—just move."Next, he called Oliver. "They never got the shipment, and now they’re threatening Isabella.""Shit," Oliver muttered. "On it. Give me a sec." He checked the G
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.