Short
رحلة عائلية: حبيبة الطفولة معها تذاكر، بينما أنا أقود

رحلة عائلية: حبيبة الطفولة معها تذاكر، بينما أنا أقود

By:  غوان ييCompleted
Language: Arab
goodnovel4goodnovel
11Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

في عيد الميلاد، أصرّ أخو زوجي على الذهاب في عطلة إلى شاطئ هاواي، فقررتُ أن نسافر جميعًا كعائلة. عندما علمت 'صديقة' زوجي بذلك، أصرت على الذهاب معنا هي وابنها. لم يتردد زوجي لحظة، بل سارع إلى شراء تذاكر الطائرة، بينما طلب مني أنا أن أقود السيارة بنفسي وأن أنقل الأمتعة. كنتُ أتوقع أن ينصفني أفراد عائلته ويدعموني، ولكنهم جميعًا أيدوا قرار زوجي. حسنًا حسنًا، طالما أن الأمر كذلك، فليذهب كل منا في طريقه. ولكن يبدو أن عائلته بأكملها قد شعرت بالخوف...

View More

Chapter 1

الفصل 1

Hujan di luar jendela taksi tidak lagi sekadar air yang jatuh dari langit; ia telah berubah menjadi tirai abu-abu yang menenggelamkan Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit hanya tampak seperti bayangan raksasa yang bersembunyi di balik kabut, mengintip dengan mata-mata lampu neon yang buram.

Elena duduk mematung di kursi belakang. Tangannya yang dingin saling meremas di atas pangkuan, buku-bukunya memutih. Bau jok kulit sintetis yang apek dan pengharum mobil aroma jeruk murahan membuat perutnya semakin mual, namun rasa mual itu tak sebanding dengan teror yang melilit ususnya.

"Mbak, yakin mau turun di lobi depan?" tanya sopir taksi, memecah keheningan panjang. Matanya melirik ragu lewat spion tengah. "Itu Sky Tower, Mbak. Biasanya taksi kayak gini nggak boleh masuk sampai drop-off utama. Satpamnya galak-galak."

Elena menelan ludah yang terasa seperti pasir. "Turunkan saya di gerbang depan saja kalau begitu, Pak."

Sky Tower.

Gedung itu adalah legenda urban di kalangan warga Jakarta, namun bukan jenis legenda yang diceritakan dengan kekaguman. Itu adalah monumen kekayaan yang vulgar dan kekuasaan yang tak tersentuh. Sebuah menara kaca hitam setinggi lima puluh lantai yang menjulang angkuh di pusat distrik bisnis, seolah menantang langit. Orang bilang, hukum Indonesia berhenti berlaku begitu kau melewati gerbang otomatissnya. Di dalam sana, hukum dibuat oleh mereka yang memiliki uang paling banyak.

Dan malam ini, Elena menyerahkan dirinya ke tempat itu.

Taksi berhenti sepuluh meter dari pos penjagaan yang megah. Elena membayar dengan tangan gemetar, lalu keluar. Hujan badai langsung menyambutnya, menghantam tubuhnya tanpa ampun. Jaket tipis yang ia kenakan basah kuyup dalam hitungan detik, menempel di kulitnya yang menggigil. Rambutnya yang tadi sempat ia rapikan kini kembali lepek, menempel di wajahnya yang pucat.

Dia berdiri di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Dua orang penjaga berseragam safari hitam—bukan seragam satpam biasa, melainkan setelan taktis yang ketat—segera menghadangnya. Tubuh mereka besar, tegap, dengan earpiece melingkar di telinga. Di pinggang mereka, Elena bisa melihat tonjolan yang jelas. Pistol.

"Area privat," kata salah satu penjaga dengan suara datar. Wajahnya keras seperti batu granit. Dia tidak membentak, tapi nada bicaranya menyiratkan ancaman yang jelas. "Pergi sebelum kami menyeretmu."

Mereka melihat Elena sebagai sampah. Seorang gadis basah kuyup, berantakan, dengan sepatu sneakers kotor, yang tersesat ke istana para dewa.

Elena tidak mundur. Dia tidak bisa mundur. Bayangan apartemennya yang hancur dan darah di lantai kayu masih menghantui pelupuk matanya.

Dengan jari yang kaku karena kedinginan, Elena merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu hitam itu. Kartu dengan lambang ular melilit pedang. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi, membiarkan air hujan membasahi permukaan beludru kartu tersebut.

"Aku... aku punya undangan," suaranya serak, nyaris hilang ditelan suara guntur.

Penjaga itu menyipitkan mata. Senter di tangannya menyorot kartu itu, lalu beralih menyorot wajah Elena dengan silau yang menyakitkan.

Sikap tubuh penjaga itu berubah seketika. Ketegangan yang tadi bersifat mengusir, kini berubah menjadi kewaspadaan militer. Dia menekan earpiece-nya.

"Elang Satu melapor. Ada tamu dengan kartu hitam. Kode Viper. Seorang wanita. Ya. Dimengerti."

Penjaga itu menurunkan senternya. Dia menatap Elena lagi, kali ini bukan dengan penghinaan, melainkan dengan tatapan aneh—campuran antara rasa hormat yang terpaksa dan... rasa kasihan?

"Masuk," katanya singkat. Gerbang besi raksasa itu bergeser terbuka dengan dengungan mesin hidrolik yang halus. "Seseorang akan menjemputmu di lobi."

Elena melangkah masuk. Kakinya terasa berat, seolah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari dunia normal yang dia kenal, dan semakin dalam ke wilayah kekuasaan Damian Kael.

Lobi Sky Tower terasa seperti katedral modern yang dingin. Lantainya terbuat dari marmer hitam Italia yang dipoles begitu licin hingga memantulkan bayangan Elena seperti cermin air yang gelap. Dindingnya kaca setinggi sepuluh meter, menampilkan pemandangan badai di luar seolah-olah itu adalah lukisan bergerak.

Ruangan itu hening. Tidak ada suara hiruk pikuk kota. Bahkan suara hujan pun teredam sempurna oleh kaca kedap suara. Yang terdengar hanya bunyi squish-squish dari sepatu basah Elena yang merusak kesempurnaan tempat itu. AC sentral berhembus kencang, membuat tubuh basahnya menggigil hebat. Giginya mulai beradu.

"Nona Elena Wijaya?"

Suara itu datang dari arah lift pribadi di ujung ruangan. Halus, sopan, namun memiliki ketajaman yang tersembunyi.

Elena mendongak. Seorang pria berdiri di sana. Dia mengenakan setelan jas abu-abu tiga potong yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang ramping namun atletis. Rambutnya pirang gelap, disisir rapi ke belakang. Kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan intelektual.

Namun, Elena tahu lebih baik daripada tertipu oleh penampilan. Di tempat ini, iblis tidak memakai tanduk; mereka memakai Armani.

"Saya Victor," pria itu memperkenalkan diri sambil berjalan mendekat. Langkahnya tidak bersuara. "Asisten pribadi Tuan Kael. Kami sudah menunggu Anda."

"Ayahku..." Elena memaksakan suara keluar dari tenggorokannya yang kering. "Di mana dia?"

Victor tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. Mata di balik lensa kacamata itu berwarna biru pucat, sedingin es, dan sedang memindai Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki. Menilai. Mengalkulasi.

"Mari kita bicarakan itu di atas," jawab Victor tenang. "Tuan Kael tidak suka menunggu, dan Anda sudah menghabiskan 82 menit dari waktu yang diberikan. Anda nyaris terlambat, Nona Wijaya."

Victor berbalik dan memberi isyarat agar Elena mengikutinya.

Elena menyeret kakinya mengikuti pria itu. Mereka melewati meja resepsionis yang kosong, menuju lift khusus yang terpisah dari lift umum. Panel lift itu tidak memiliki tombol angka, hanya pemindai biometrik. Victor menempelkan telapak tangannya, dan pintu lift terbuka tanpa suara.

Interior lift itu dilapisi cermin emas dan kulit. Begitu pintu tertutup, sensasi naik yang cepat membuat perut Elena bergejolak. Telinganya berdenging karena perubahan tekanan udara. Mereka naik sangat tinggi, sangat cepat.

"Lantai 50," gumam Elena, melihat angka digital yang berkedip cepat di layar atas pintu.

"Penthouse," koreksi Victor tanpa menoleh. Dia berdiri tegak dengan tangan tertaut di belakang punggung. "Dunia Tuan Kael ada di puncak. Dia suka melihat segala sesuatu dari atas."

"Kenapa dia melakukan ini?" tanya Elena tiba-tiba. Pertahanan dirinya mulai retak karena ketegangan. "Ayahku hanya seorang akuntan tua yang bodoh. Uang itu... kami bisa mencarinya. Kenapa harus menculiknya?"

Victor akhirnya menoleh. Tatapannya membuat Elena merasa kecil. "Uang?" Victor tertawa pelan, tawa yang kering tanpa humor. "Nona Wijaya, bagi Tuan Kael, uang yang diambil ayahmu hanyalah recehan. Hilangnya uang itu tidak mengganggu neraca keuangannya sedikit pun."

"Lalu kenapa?"

"Prinsip," jawab Victor dingin. "Di dunia kami, pengkhianatan adalah kanker. Jika satu sel kanker dibiarkan hidup, ia akan menyebar. Ayahmu tidak hanya mencuri; dia mencoba menjual informasi rahasia klien kami kepada pesaing. Itu dosa yang tidak bisa ditebus dengan uang."

Napas Elena tercekat. Ayahnya tidak pernah memberitahukan bagian itu. Handry hanya bilang dia menggelapkan uang untuk judi. Tapi menjual informasi? Itu sama saja dengan bunuh diri di dunia kriminal.

"Jadi... kalian akan membunuhnya?" bisik Elena.

Ting.

Pintu lift terbuka sebelum Victor sempat menjawab.

Pemandangan di depan Elena membuatnya tertegun sejenak, melupakan ketakutannya barang sedetik.

Penthouse itu luasnya luar biasa, tanpa sekat dinding yang membatasi pandangan. Seluruh dinding luarnya adalah kaca, menyajikan panorama 360 derajat kota Jakarta yang sedang diamuk badai. Kilat menyambar di kejauhan, menerangi ruangan yang temaram itu dengan cahaya putih kebiruan sesaat.

Desain interiornya minimalis, maskulin, dan sangat gelap. Sofa kulit hitam, meja dari kayu ebony, karpet bulu tebal berwarna abu-abu arang. Tidak ada foto keluarga, tidak ada bunga, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang hangat. Ruangan ini indah, tapi mati. Seperti mausoleum.

Udara di sini berbau tembakau mahal, kayu cendana, dan sesuatu yang lebih tajam—aroma bahaya.

"Tunggu di sini," perintah Victor. Dia menunjuk ke arah sofa tunggal di tengah ruangan. "Jangan sentuh apa pun. Jangan berjalan-jalan. CCTV mengawasi setiap inci ruangan ini, dan penembak jitu otomatis aktif di balkon."

Elena tidak tahu apakah Victor bercanda soal penembak jitu, tapi dia tidak berani mengambil risiko. Dia berjalan kaku dan duduk di tepi sofa. Air dari pakaiannya menetes ke karpet mahal di bawah kakinya, menciptakan genangan kecil. Dia merasa kotor, merasa seperti noda di tengah kemewahan yang steril ini.

Victor menghilang ke balik sebuah pintu ganda besar dari kayu mahoni di ujung ruangan, meninggalkan Elena sendirian.

Detik demi detik berlalu. Keheningan di ruangan itu mencekik. Hanya ada suara detak jam antik besar di sudut ruangan dan detak jantung Elena sendiri yang berpacu liar.

Dia mengedarkan pandangan. Di dinding sebelah kiri, ada sebuah lukisan besar. Abstrak, dengan dominasi warna merah darah dan hitam. Lukisan itu tampak kacau, penuh goresan kasar yang menyiratkan kemarahan pelukisnya. Semakin lama Elena menatapnya, semakin dia merasa lukisan itu sedang berteriak padanya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Bukan langkah kaki Victor yang ringan. Ini langkah kaki yang berat, berirama, dan lambat. Langkah kaki seorang predator yang tidak perlu terburu-buru karena mangsanya sudah terperangkap.

Pintu mahoni ganda itu terbuka lebar.

Dua orang penjaga menyeret sesuatu keluar dari ruangan itu dan melemparnya ke lantai tepat di depan kaki Elena.

"AYAH!" jerit Elena.

Dia melompat dari sofa dan menjatuhkan diri ke lantai, meraih tubuh ayahnya. Kondisi Handry Wijaya mengerikan. Wajahnya lebam hingga nyaris tak dikenali. Bibirnya pecah, dan salah satu matanya bengkak menutup. Pakaiannya robek-robek, memperlihatkan noda darah yang merembes di kemejanya.

"El... Elena..." Handry merintih, matanya yang masih berfungsi sedikit terbuka. "Lari..."

"Apa yang kalian lakukan padanya?!" Elena berteriak, menoleh ke arah pintu yang terbuka. Kemarahan meledak di dadanya, mengalahkan rasa takutnya. Dia memeluk kepala ayahnya, berusaha melindunginya dari monster-monster ini.

Dari kegelapan ruangan kerja itu, sesosok pria melangkah keluar.

Cahaya kilat kembali menyambar di luar jendela, menerangi siluet pria itu. Dia tinggi, jauh lebih tinggi dari Victor. Bahunya lebar, terbalut kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat dengan tato samar yang melingkar di pergelangan tangannya. Kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya.

Wajahnya seperti pahatan patung Romawi—tampan, tegas, dengan rahang yang kuat. Namun, matanya adalah hal yang paling menakutkan. Mata itu berwarna abu-abu gelap, setajam silet, dan kosong dari emosi manusiawi. Tidak ada kemarahan, tidak ada kegembiraan. Hanya kehampaan yang dingin.

Damian Kael. Sang Iblis.

Dia memegang gelas kristal berisi cairan berwarna amber di satu tangan, dan sebuah pistol hitam matte di tangan lainnya. Pistol itu tampak santai dalam genggamannya, seolah itu adalah perpanjangan alami dari tubuhnya.

"Aku tidak suka suara berisik," suara Damian rendah, dalam, dan bergetar dengan otoritas mutlak. Dia tidak berteriak, tapi suaranya mengisi seluruh ruangan, membungkam tangisan Elena.

Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. Sepatu kulitnya berhenti tepat di depan wajah Elena yang sedang berlutut memeluk ayahnya.

Elena mendongak, menatap mata monster itu dengan air mata berlinang namun dagu terangkat. "Kau... kau menyiksanya."

Damian menatap Elena. Dia tidak melihat ke arah Handry yang mengerang kesakitan; dia hanya menatap Elena. Matanya menelusuri wajah Elena yang basah, rambutnya yang berantakan, dan matanya yang menyala karena benci. Sesuatu berkedip di mata abu-abu itu—sepercik ketertarikan.

"Dia mencuri dariku," kata Damian datar. Dia berjongkok perlahan, menyamakan tingginya dengan Elena. Aroma whisky dan musk menguar dari tubuhnya, memabukkan sekaligus mematikan. "Di duniaku, hukuman bagi pencuri adalah potong tangan."

Damian mengangkat pistolnya, dan dengan gerakan santai, menempelkan laras dingin itu ke pelipis Handry.

"TIDAK!" Elena menjerit, refleks mencengkeram pergelangan tangan Damian.

Ruangan itu hening seketika.

Para penjaga di belakang menahan napas. Victor yang berdiri di sudut ruangan sedikit melebarkan matanya. Tidak ada yang pernah berani menyentuh Damian Kael. Tidak ada yang berani menyentuh tangan penembaknya.

Elena menyadari kesalahannya sedetik kemudian. Tangannya gemetar di atas kulit hangat pergelangan tangan Damian. Dia bisa merasakan denyut nadi pria itu—tenang, lambat, stabil. Kontras dengan jantung Elena yang rasanya mau meledak.

Damian tidak menarik tangannya. Dia menatap tangan kecil Elena yang pucat mencengkeram lengannya, lalu tatapannya naik ke mata Elena. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai yang mengerikan.

"Nyali yang besar untuk seekor tikus kecil," bisik Damian. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Elena bisa merasakan napas hangat pria itu di wajahnya. "Kau ingin menyelamatkannya?"

"Tolong..." Elena memohon, suaranya bergetar. Dia tidak melepaskan tangan Damian. Itu adalah satu-satunya hal yang menahan pelatuk itu ditarik. "Ambil apa saja. Aku akan melakukan apa saja. Jangan bunuh dia."

"Apa saja?" ulang Damian. Nada suaranya berubah, menjadi lebih berat, lebih gelap.

Dia berdiri tegak kembali, menarik tangannya dari cengkeraman Elena dengan mudah, seolah tenaga Elena tidak ada artinya. Dia menatap Elena dari ketinggian, seperti dewa yang sedang mempertimbangkan nasib manusia fana.

"Victor," panggil Damian tanpa menoleh.

"Ya, Tuan."

"Bawa sampah tua ini ke ruang bawah tanah. Obati lukanya agar dia tidak mati karena infeksi. Tapi jangan beri makan."

"Baik, Tuan."

Dua penjaga segera menyeret Handry menjauh. Handry meronta lemah, memanggil nama Elena, tapi suaranya menghilang saat pintu lift tertutup membawanya pergi.

Kini, hanya tinggal Elena dan Damian di ruangan luas itu.

Elena bangkit berdiri, kakinya goyah. Dia merasa telanjang di bawah tatapan tajam pria itu. "Kau... kau bilang akan melepaskannya jika aku datang."

"Aku bilang aku tidak akan mengirim kepalanya dalam paket jika kau datang," koreksi Damian. Dia berjalan menuju meja bar di sudut, menuang ulang minumannya. "Dia masih hidup. Kepalanya masih di lehernya. Aku menepati janji."

Damian berbalik, bersandar pada meja bar, menyesap minumannya sambil menatap Elena. "Sekarang, mari bicara soal harga nyawa ayahmu."

"Berapa?" tanya Elena cepat. "Berapa utangnya?"

"Tiga puluh miliar rupiah," jawab Damian santai, seolah dia sedang menyebut harga permen. "Ditambah bunga berjalan, dan denda atas kebocoran informasi. Totalnya sekitar empat puluh lima miliar."

Dunia Elena berputar. Empat puluh lima miliar. Dia bahkan tidak bisa membayangkan tumpukan uang sebanyak itu. Seumur hidupnya bermain piano pun tidak akan cukup untuk membayarnya.

"Aku... aku tidak punya uang sebanyak itu," bisik Elena. Harapannya hancur berkeping-keping.

"Aku tahu," kata Damian. Dia meletakkan gelasnya dengan bunyi klak yang tajam di atas meja.

Dia melangkah mendekati Elena lagi. Kali ini dia tidak berhenti sampai ujung sepatu mereka bersentuhan. Elena harus mendongak tajam untuk menatap wajahnya. Aura dominasi pria itu begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa menipis.

Damian mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang kasar namun elegan menyentuh dagu Elena, memaksanya untuk tetap menatap mata abu-abunya. Sentuhan itu panas, mengirimkan sengatan listrik aneh ke tulang belakang Elena.

"Aku tidak butuh uangmu, Elena," suara Damian merendah menjadi bisikan serak yang berbahaya. "Aku punya lebih banyak uang daripada yang bisa kuhabiskan dalam sepuluh masa kehidupan."

"Lalu... apa yang kau inginkan?"

Ibu jari Damian mengusap bibir bawah Elena yang gemetar. Gerakan itu hampir lembut, namun matanya berkilat posesif.

"Kau," jawabnya. Satu kata yang jatuh seperti palu hakim.

"Aku?"

"Kau akan tinggal di sini. Di rumah ini. Di bawah aturanku," kata Damian. Matanya menggelap, pupilnya membesar. "Kau akan menjadi milikku. Menjadi bayanganku. Menjadi mainanku jika aku bosan, dan menjadi pianisku jika aku ingin musik."

Damian mencondongkan tubuhnya, bibirnya menyapu telinga Elena.

"Satu tahun. Serahkan tubuh dan jiwamu padaku selama satu tahun. Dan aku akan menganggap utang ayahmu lunas."

Dia menarik diri sedikit untuk melihat reaksi Elena. "Tolak, dan aku akan mengirim jari-jari ayahmu satu per satu setiap jam. Mulai dari sekarang."

Elena membeku. Pilihan itu bukan pilihan. Itu adalah jalan buntu. Di satu sisi adalah kematian ayahnya yang menyakitkan. Di sisi lain adalah perbudakan pada pria yang lebih mirip monster daripada manusia.

Dia menatap mata kelam Damian, mencari setitik belas kasih, tapi dia tidak menemukannya. Dia hanya menemukan kegelapan yang siap menelannya bulat-bulat.

Elena memejamkan mata, air mata terakhir menetes jatuh ke tangan Damian yang masih mencengkeram dagunya.

"Baik," bisiknya, suaranya pecah namun tegas. "Aku milikmu."

Damian tersenyum. Bukan senyum mengejek seperti tadi, tapi senyum kemenangan. Senyum seorang predator yang baru saja mendapatkan mangsanya.

"Keputusan yang bijak, Little Pianist," katanya. "Selamat datang di neraka."

Guntur menggelegar di luar, seolah alam semesta sedang menutup pintu keluar bagi Elena, menguncinya dalam sangkar emas bersama sang Iblis.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
11 Chapters
الفصل 1
سمعت فريدة أننا ذاهبون لقضاء العطلة على شاطئ البحر، وتريد أن تحضر هي وأطفالها معنا أيضًا!""لقد قمت بشراء تذاكر الطائرة للجميع. يا ليلى، سيكون دوركِ اصطحاب الأمتعة والقيادة، وسننتظركِ هناك."توقفتُ عن حزم الحقائب فجأة، وشعرتُ للحظة بأن ما أسمعه ضرب من الخيال."ما الذي تقصده بالضبط؟ فريدة ستأتي برفقتنا، وأنا من يُطلب مني القيادة؟""ياسين، ابن فريدة، لم يسبق له زيارة البحر، وفكرتُ أن تكون فرصة لنذهب جميعًا. حين حجزتُ تذكرة الطائرة لكِ، تبين أن المقاعد نفدت."كان أخو زوجي الصغير سامر يُلح طوال عطلة عيد الميلاد على الذهاب إلى الشاطئ لممارسة رياضة التزلج الشراعي، وتزامن ذلك مع حصول زوجي خالد على إجازة سنوية لا تتكرر كثيرًا.ولمكافأة ابن شقيق زوجي وإدخال السرور على قلب العائلة بأسرها.وبمناسبة شرائنا سيارة جديدة، قررنا أن نصطحب والدي زوجي في رحلة إلى شاطئ البحر.خلال الأسابيع الماضية، بذلتُ قصارى جهدي لتجهيز لوازم سفر العائلة، والبحث عن مكان إقامة، ووضع خطط الرحلة، تحملتُ العبء المالي والجهد.والآن، بكلمة عابرة من فريدة، يُغير هو خططي رأسًا على عقب."حين اقترحتُ السفر بالطائرة، ادعيتَ أنها م
Read more
الفصل 2
أرسلتُ لك رسالة ولم ترها؟ أسرع وافتح لي الباب!"نزل أخو زوجي مسرعًا إلى الأسفل، واستقبل فريدة بحماس بالغ وأصعدها إلى الأعلى."أبي، أمي، أخي، فريدة وصلت! يا زوجة أخي، ماذا ستعدين لنا من الأطعمة الشهية في المساء؟!"قالها وهو يناولني حقيبة أمتعة فريدة.اندفع ياسين إلى الداخل وكأنه في داره، وداس بحذائه مباشرة على الأريكة وقفز عليها كأنها ترامبولين، بينما كان يقهقه بصوت عالٍ.عبستُ بشدة، فتلك الأريكة الجلدية هي ما استبدلتها للتو في المنزل بمبلغ ألف دولار.لكن حماتي استقبلت المشهد بوجه بشوش، وأمسكت بيد فريدة بحرارة."يا فريدة، أنتِ وخالد لم يُكتب لكما النصيب معًا، في البداية... آه... لو تعلمين كم أشعر أن ياسين هو حفيدي الحقيقي... على أي حال لا يهمني شيء، عليكِ أن تحضري بابنكِ إلى المنزل كثيرًا في المستقبل."أما حماي الذي كان يتميز بالجدية، فقد حمل الطفل بين ذراعيه وأظهر له حبًا جمًا.وصار يناديه "يا حبيبي" مرارًا وتكرارًا.ثم تنهد قائلًا: "إن عائلتنا عديمة الحظ، لم ننعم بزوجة ابن وحفيد مثلكما!"عاملتني العائلة بأكملها وكأنني غير مرئية، يتبادلون عبارات المديح في فريدة غير آبهين بوجودي.تألم ق
Read more
الفصل 3
عبستُ بشدة وركلتُ المقعد أمامي بقدمي، فصدر عنه صوت ارتطام مدوٍّ.استشعر خالد تغيّر حالي، فتخلى فورًا عن غطرسته."أعرف أنكِ مستاءة، لكن ما حدث قد وقع بالفعل، توقفي عن التصرف كالأطفال.""ألم نتفق عند حجز الفندق أن نقيم في فندق خمس نجوم؟ لن نقتصد بعد الآن، سنقوم بتغيير الحجز فورًا!"ابتسمتُ في سري ببرود، أيظن أنه يستطيع خداعي بهذه الحيل؟"حسنًا، يا زوجي أنت الأفضل!"ولكن في اللحظة التالية، تلقى خالد رسالة نصية من البنك."يا ليلى، كيف سحبتِ كل هذا المبلغ من بطاقتي؟!""ألم تقل أنك موافق على الإقامة في فندق خمس نجوم؟!""أنا وافقتُ أن تقيمي هناك، ولكن من سمح لكِ بسحب المال من بطاقتي؟!"انفجرتُ ضاحكة: "هل أحتاج إلى موافقتكِ لأقيم في مكان ما أو أنفق بعض المال؟ تكسب ٣٥٠ دولار شهريًا وتتصرف كالأثرياء!"احمر وجه خالد غضبًا عند سماع كلماتي."ماذا تقصدين بالضبط بكلامكِ هذا؟"منذ زواجنا، ونحن نتبع نظام (أ-ب) في إدارة الأموال.حيث أتحمل أنا (أ) جميع مصاريف المنزل، بينما يتفضلون هم جميعًا بالإقامة هنا بوجوههم الوقحة (ب).لولا وجودي، لتضوروا جوعًا جميعًا، لقد نسوا بعد أيام قليلة من الرخاء من هو ولي نعمت
Read more
الفصل 4
ألقيتُ نظرة على الساعة، الوقت متأخر بعض الشيء، أظن أن تلك العائلة قد خلدت إلى النوم بالفعل.عندما يكونون بحاجة إليّ، يعاملونني بألفِ لطفٍ ولين، أما الآن؟ لا يوجد حتى مكالمة هاتفية للاطمئنان عليّ.فتحتُ باب غرفة النوم، فإذا بي أسمع صرخةً مدويةً تملأ أرجاء المنزل."آآآه! يا خالد أنا خائفة!"فزعتُ أنا الأخرى من تلك الصرخة المفاجئة، فأسرعتُ بإنارة المصباح، لأرى فريدة تختبئ في أحضان خالد، وعيناها مغرورقتان بالدموع.عند رؤية هذا المشهد، احتقن وجهي بالدماء، ولم أتمالك نفسي، بل اندفعتُ مباشرةً وصفعتُ فريدة على وجهها صفعةً قوية.تسمّرت فريدة في مكانها للحظة، ثم بدأت الدموع تنهمر من عينيها بغزارة.عندما رأى خالد فريدة في هذا الموقف الحرج، سارع إلى الدفاع عنها."يا ليلى، ما الذي دهاكِ؟ كنا ننتظركِ فشعرنا بالملل، فقررنا مشاهدة فيلم، ولكن من يدري أنه فيلم رعب!""عندما فتحتِ الباب، أفزعتِ فريدة بشدة، فلهذا السبب احتمت بحضني!""مشاهدة فيلم تستدعي هذا العناق الحميم؟ ماذا لو لم أعد إلى المنزل، هل كنتما ستنامان في سرير واحد أيضًا؟""تتجاهلني تمامًا وتفضل قضاء الوقت مع 'صديقة' في الظلام لمشاهدة فيلم، هل
Read more
الفصل 5
بعد مغادرتهم، قمتُ مباشرةً بتغيير رمز قفل بصمة الإصبع وحذف البصمات السابقة.قمت بتعبئة جميع متعلقاتهم وتجهيزها للشحن إلى منزلهم القديم بالدفع عند الاستلام.ثم اتصلتُ بمحامٍ لصياغة اتفاقية طلاق، لحسن الحظ، أصر والداي في البداية على توقيعنا على اتفاقية ما قبل الزواج لاعتقادهما بأنني قد أعماني الحب.والآن، تبين لي أن تصرفهما في ذلك الوقت كان بالغ الحكمة.كيف لم أتبين في البداية أن حسابات هذه العائلة كانت مكشوفة تمامًافي هذه اللحظة، رن الهاتف، كان المتصل موظف الاستقبال في الفندق."سيدتي، بناءً على نمط إقامتك المعتاد، قمنا بترقية جناحك مجانًا إلى جناح رئاسي، نتطلع إلى تشريفك!"ابتسمتُ شاكرةً، بينما كانت عائلة خالد على الأرجح لا تزال تحلم بأحلام الإقامة في فندق خمس نجوم.في الواقع، كنت قد حجزتُ غرفة لي فقط، بعد أن وصل الأمر إلى هذا الحد، لم يعد هناك أي داعٍ لأن أظل لطيفة معهم.طلبت سيارة أجرة لنقلي إلى المطار، واستمتعت برحلة مريحة في الدرجة الأولى متجهةً إلى بالي.عندما هبطت الطائرة، كان هاتفي قد امتلأ برسائل خالد الغاضبة.مئات الرسائل النصية تنهال عليّ كالسيل.في هذه اللحظة، رن جرس الهاتف،
Read more
الفصل 6
كانت مجموعة العائلة تمتلئ بالإشعارات، ففتحت هاتفي ورأيت أن فريدة قد نشرت صورهم فيها.تهافتت عمات وخالات خالد على التعليق، وأثنوا على بر خالد وحسن تصرفه.نقرت على الصفحة الشخصية لفريدة على تطبيق "الواتس اب"، فوجدتها تنشر صورة."شكرًا لخالد لاصطحابه ابنه في عطلة إلى شاطئ البحر، والإقامة في فندق فخم خمس نجوم..."يبدو أن خالد قد أنفق مبلغًا كبيرًا من المال، هذه العائلة بأكملها ستكلفه بالتأكيد عشرات الآلاف.ولكن بالتفكير مليًا، أليس سخاؤه هذا إلا لأنه يعلم أن لديه مصدرًا لا ينضب من الأموال مثلي؟سألتني حماتي في مجموعة العائلة."يا ليلى، إلى أين وصلتِ بالسيارة؟ لماذا تأخرتِ كل هذا الوقت؟ أنتظر بفارغ الصبر أن ألتقط صورًا بالملابس الموجودة في حقيبة الأمتعة!""أجل أجل، يا ليلي، الشمس هنا حارقة جدًا، ماذا أفعل إذا أسمرت بشرتي بسبب غياب واقي الشمس؟!"عندما لم أتجاوب مع رسائلهم، اتصلت حماتي بي مباشرةً."يا ليلى، أين أنتِ؟ لماذا كل هذا البطء والتماطل؟"قاطعها حماي بضجر: "تجعلين عائلة بأكملها تنتظر، فلتتوقفي عن الراحة قليلًا، وزيدي ساعات القيادة، ألن تصلي أسرع؟!"كنت مستلقية على سريري أستمتع بجلسة ا
Read more
الفصل 7
طوال هذه السنوات، كنتُ أعتني بجميع أفراد عائلة آل خالد بكل تفانٍ وإخلاص.سعيتُ جاهدة لتحسين مستوى معيشتنا، فكنت أعمل بلا كلل، وبعد انتهاء ساعات العمل الإضافي، أعود لإعداد الطعام للعائلة بأكملها.كنتُ أعيش دائمًا تحت وطأة التوتر والقلق، خشية الوقوع في أخطاء في العمل، أو التقصير في حق عائلتي.ترددت في أذني كلمات النصيحة التي أسداها لي والداي في الماضي، لقد أدركتُ أن كل ما يحدث اليوم هو نتيجة اندفاعي الأعمى في الحب في ذلك الوقت.من هذه اللحظة فصاعدًا، سأعيش من أجل نفسي فقط.أخذتُ أحسب الوقت، رحلتهم إلى الشاطئ يفترض أنها قد انتهت،كم سأستمتع برؤية تعابير وجوههم عندما يرون هديتي الكبيرة، سيكون مشهدًا مُبهجًا!رن هاتفي، كان رقمًا غريبًا.ما أن أجبت، حتى دوى صوت خالد الغاضب الهائج في أذني."يا ليلى، ما معنى تغييرك لقفل الباب؟ إذا كنتِ لا تنوين العودة، فأخبرينا الآن."""أجل، هذا صحيح، لم أعد أنوي العودة، جميع متعلقاتكم في هذا المنزل قد قمت بإرسالها إليكم بالبريد.""عودي إلى المنزل فورًا، وقدمي اعتذارًا للعائلة بأكملها، وادعي الجميع لتناول وجبة طعام فاخرة، ثم سددي لي تكاليف الرحلة، و
Read more
الفصل 8
انتظرتُ في مكتب الأحوال المدنية لساعتين كاملتين، ولم أرَ خالدًا يظهر، وبينما كنتُ أستعد للعودة إلى المنزل، تلقيتُ مكالمة من والدتي."يا ابنتي ليلى، ما الذي يحدث بينكِ وبين خالد؟ لقد انتقلت عائلته بأكملها للإقامة في منزلنا!"شعرتُ وكأن رأسي يدور بي، يا لهم من وقحين حقًا، طمأنتُ والديّ، ثم انطلقتُ بالسيارة عائدة إلى المنزل.ما أن فتحتُ الباب، حتى رأيت حماتي وحماي جالسين على الأريكة يتناولان الفاكهة، بينما كان والداي مختبئين في غرفتهما، وقد اعتلاهما الغضب.اشتعلت نيران الغضب في صدري عند رؤية هذا المشهد.تقدمت حماتي نحوي، وتناولت حقيبتي بحفاوة مصطنعة."يا ابنتي ليلى، لقد تكبدتِ عناءً كبيرًا، هل تناولتِ الطعام؟ سأطلب من الخادمة أن تعد لكِ شيئًا لتأكلينه."عبستُ بوجهي، لقد تجرأوا بالفعل على اعتبار منزل والديّ ملكًا لهم."ما الذي تفعلونه هنا؟ لتغادروا منزلنا فورًا!"عندما سمع حماي كلماتي، هوى بكوب الماء على الأرض محطمًا."يا ليلى، منذ متى وأنتِ تتصرفين بهذه السلطوية؟ ما معنى"منزل والديّ"؟ أليس والداكِ بلا أبناء ذكور، ألن يصبح هذا المنزل ملكًا لعائلة آل خالد في نهاية المطاف؟ ما المشك
Read more
الفصل 9
بالطبع لم يكن خالد ليقبل بالخروج من الزواج خالي الوفاض، فبذل قصارى جهده للقائي.فكان يأتي إلى شركتي ليقدم لي الزهور، أو يشتري لي الحلوى، ولكن في كل مرة كنت أراه، كنت أشعر بالاشمئزاز والغثيان."يا زوجتي، أنا آسف، أنا آسف حقًا، أرجوكِ اسمحي لي بالعودة إلى المنزل!"أمام جميع الزملاء، كان يتصرف وكأنه الزوج المثالي.مما جعل الجميع يعتقدون أنني أتصرف بلا منطق وأصر على الطلاق دون سبب.أيظن أنه بهذه الحيلة سيجعلني أتراجع عن قراري؟فليحلم!"أين “صديقتك” لِمَ لم تأتِ برفقتك؟ طالما أنك مغرم بها، وهي فأل خير عليك، فلماذا تتمسك بي هكذا؟""لا ليس الأمر كذلك، فريدة مجرد صديقة جيدة!"ضحكت باستهزاء."حقًا؟ صديقة جيدة لدرجة العناق في منتصف الليل، والسفر بالطائرة سويًا، وترك الزوجة تقود السيارة وحدها؟"وجه إلينا المحيطون نظرات غريبة، مما جعل وجه خالد يحتقن بالدماء."أنا آسف، لقد أدركتُ حقًا خطئي، كان يجب عليّ أن أحافظ على مسافة بيني وبين فريدة، أنا حقًا شخص عديم الإحساس!"وبينما هو يتحدث، همّ بالجثو على ركبتيه أمامي.رأيتُ من بعيد أشخاصاً يركضون نحونا، وأدركت أن المسرحية الحقيقية كانت على وشك أن تبدأ.سا
Read more
الفصل 10
يوم استلام وثيقة الطلاق كان يومًا حافلًا بالمشاكل.وصلتُ إلى مكتب الأحوال المدنية منهكة القوى، وأنا أستند على ذراع صديقتي، فوجدت خالدًا وفريدة بانتظاري عند البوابة وهما يحتضنان الطفل.عند رؤيتهم، بدا المشهد وكأنه صورة لعائلة مثالية.عبس خالد بوجهه، وبدت عليه علامات الاستياء والامتعاض.بينما أخذت فريدة تخاطب ياسين قائلة: "من الآن فصاعدًا، خالد هو والدك الحقيقي!"ثم تشبثت بذراع خالد، وتبدو عليها علامات الغبطة والانتصار."يا ليلي، زوجة خالد السابقة، يجب أن أتقدم بالشكر الجزيل لكِ على تفهمكِ وإيثاركِ، عندما أتزوج أنا وخالد، سأحرص على دعوتكِ لتناول حلوى الزفاف!"فإذا بي أهوي بصفعة قوية على وجه فريدة، حتى سال الدم من زاوية فمها."ما الذي تفعلينه؟ يا ليلى، أنتِ حقًا امرأة همجية!"ثم اختبأت في أحضان خالد، وهي تنتحب وتذرف الدموع."ما زلنا لم ننفصل رسميًا بعد، ما زلتُ زوجته، يحق للزوجة أن تضرب “العشيقة”، ومن سيجرؤ على الاعتراض؟!"ثم قلبت عينيّ ساخرةً تجاه خالد."أسرع، لا تكن مترددًا ومتباطئًا، وإلا فإن “عشيقتك” ستتلقى المزيد من الضربات!"بعد أن انفصلنا رسميًا، حصل خالد وفريدة على وثيقة زواجهما.
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status