تسجيل الدخول現代日本風乙女ゲーム『輝け青春☆エイト学園高等部』通称『エイト学園』の世界に転生してしまった佐藤美鈴。男性恐怖症を持ちながらも何とか家族や友達、先生や後輩達に支えて貰いながら成長し高校もいざ卒業となり、乙女ゲームの時間が終わると思った、その時母親からある真実を知らされる。 美鈴は一つの道を選択した。けれど、もしその時の選択肢が違ったならば…。 この外伝は、美鈴が選ばなかったIF(もしも)のストーリーと結末である。 ※この物語は本編の最終章第三十話の続きから、他の攻略対象キャラクターを美鈴が選択した場合のifストーリーとなっております。
عرض المزيد“Astatang, mau sampai kapan mata gue dilimpahi dosa? Mana suara lo panas banget lagi,” kritik Diska, lelah dengan desisan kasar dari mulut Selma.
“Kicep, lo! Kalau bukan karena lo yang kasih info, udah gue mutilasi dari tadi!” desis Selma, kemudian membenahi posisi ponsel yang terselip di antara ronce kerang.
Lepas memastikan belah bibir Diska merapat, Selma kembali memfokuskan bidik kamera ke arah dua sejoli yang dengan tidak tahu malu tengah bercumbu di sudut kafe. Lebih memalukan lagi, pemeran pria dalam video panas itu adalah manusia yang selama dua tahun ini lancang melabeli diri sebagai kekasih Selma.
Posisi panas itu mungkin memang tidak terlalu tersorot karena terhalang penyekat ruangan. Tidak jelas, bukan berarti tidak terlihat. Untungnya Diska cukup andal dalam memilih markas, sehingga sekat beraksen kerang itu justru menjadi profit tersendiri bagi Selma. Dari sekian banyak sumpah serapah dan absen kebun binatang, hanya posisi itulah yang sepertinya akan mendapat pujian Selma.
Diska mencolek bahu Selma. “Kenapa nggak dilabrak aja, sih? Lo cuma menodai mata gue tahu, nggak! Pakai acara direkam segala, kaya situ ada pasangan buat begituan aja,” komentarnya, dengan suara berbisik.
“Sembarangan banget kalau nyablak. Kalau ada pun, gue ogah kali diajak begituan. Apalagi mojok gratisan, kaum nggak kuat nyewa hotel,” ejek Selma, kemudian menyimpan ponsel ke dalam saku celana. “Lagian, lo yang kasih tahu gue, jadi lo harus siap dengan rencana penyergapan kaya gini.”
“Iya, Sel, tapi masalahnya gue gatal sendiri lihat mereka. Bikin pengen ‘anu’ aja.” Diska mengelus dada. Jomblo berkuncir kuda itu berulang kali tarik-ulur akses oksigen ke dalam paru-parunya.
“Anu apaan? Yang begituan lo pengenin?”
“Bodo, lah! Hayati sudah lelah.” Diska menenggelamkan kepala ke lipatan lengan.
Memang benar, Selma pikir Diska harus mempertanggungjawabkan laporannya sampai akhir. Semula ia hanya merebah santai ditemani drama kesukaan di dalam kamar. Pikiran Selma masih aman diombang-ambing oleh teori kasus pelik di layar laptop, tapi tidak lagi sampai sahabatnya itu mengirim sebuah foto pemicu hipertensi lewat pesan singkat.
Selma meremas buku menu di tangannya. “Emang nggak ada otak. Mentang-mentang kafe lagi sepi, seenaknya mojok. Apa dikira pegawai sama segelintir pelanggan ini buta!” cercanya.
“Udah. Daripada mikir pegawai sama pelanggan,” Diska mengelus bahu Selma “mending pikirin diri lo sendiri. Sekarang gimana, apa mau nunggu sampai mereka buka baju?” tanya gadis itu, separuh sarkas.
Suara Selma hening, namun saraf kepala tengah ramai mengendalikan emosi. Suatu kebohongan besar jika gadis dua puluh satu tahun itu tidak merasa sakit. Hanya bermodalkan percaya, pria yang tidak berani berbuat lebih dari menenteng tangannya ternyata telah mencari kepuasan bersama wanita lain.
Dendang musik beraliran pop dance yang tersiar melalui pengeras suara menyadarkan Selma. Hanya layar televisi padam, namun benda menggantung di tengah atap itu sedikit mencuri atensinya. Tidak bisa terus seperti ini, menjadi lemah dan penuh ratap tidak akan menyelesaikan penderitaan. Hari ini juga, Selma bertekad memperjelas kekuatan yang sebenarnya.
“Mengkhianati Selmara Vallence tidak akan semudah itu,” ucap Selma seraya memasang smirk andalan. “Gue bakal bikin mereka malu, bahkan lebih malu dari sekadar nggak pakai baju,” tambahnya, penuh amarah.
Jangan pernah melupakan satu fakta penting. Seorang Selma adalah pribadi yang tidak pernah gagal mempermalukan orang lain, terlebih lagi orang yang dianggap telah merugikannya. Pernah sewaktu masih putih abu-abu, Selma menyiramkan urine bekas tes kehamilan pada seorang siswi yang menuduhnya positif tanpa bukti.
Tes yang rutin dilakukan oleh pihak sekolah itu otomatis ramai dengan tajuk ‘menyebar kabar miring, tubuh bau pesing’. Memang kurang ajar, tapi itulah Selma. Meski berakhir dihukum, gadis itu tetap bangga karena berhasil menyelamatkan nama baik dengan hasil satu garis merah sepanjang tiga tahun bersekolah.
“Eh, Selmacan! Mau ke mana, woi!” Tangan Diska mengambang di udara, lantas segera menyusul langkah Selma tanpa ribut mengundang perhatian sejoli yang menjadi objek pengintaian mereka.
Mungkin saking seriusnya bermesra, sampai-sampai langkah murka Selma tidak berhasil menggugah kesadaran mereka. Hanya satu tempat yang menjadi fokus gadis ternistakan itu, meja kasir.
“Halo, Kak, ada yang bisa kami bantu?” sapa pelayan wanita sambil tersenyum ramah.
“Saya boleh sewa audio sama televisi di sini sebentar, nggak?” Tanpa banyak pembuka, Selma mengutarakan niatnya.
Diska menampar bahu Selma. “Jangan mengadi, deh! Mau apa sama televisi?” tanyanya, setengah memperingatkan lewat tatapan tajamnya.
Selma menghela napas, menatap Diska sekilas sebelum berakhir mengabaikan sahabatnya itu. “Boleh, Mbak? Saya mau numpang promosi ini.” Gadis itu menyodorkan ponsel, di mana layarnya menampilkan thumbnail adegan panas di sudut kafe.
Pegawai yang bertugas menunggui meja kasir itu terbelalak sembari menutupi separuh mulutnya, lalu mengatakan,”Maaf, Mbak, bukankah ini terlalu … tidak pantas?”
“Lo beneran udah gila, Sel! Nggak gini juga caranya,” peringat Diska, volume suaranya membisik di telinga Selma.
“Gue emang udah gila dari dulu, dan lo yang paling tahu soal itu,” balas Selma dengan yakin.
Dari dulu sampai sekarang, segala kelakar Selma kerap kali mendapat penahanan dan wejangan dari Diska. Namun, Selma tetaplah Selma. Nasehat Diska yang sudah seperti nenek tua pun akan lewat begitu saja. Memang Diska akui bahwa sahabat satu itu sangat menjunjung tinggi namanya kesucian dan kehormatan wanita, bahkan mungkin cocok jika dijuluki titisan Raden Ajeng Kartini. Kendati demikian, polah Selma yang lebih mirip Harley Quinn kerap membuat kesan negatif pada diri gadis itu.
Pegawai kafe tampak kebingungan didesak Selma. “Aduh, maaf, Mbak. Masalahnya adalah–“
“Ada apa ini?” Pria berkemeja rapi yang diduga kuat adalah atasan pegawai tersebut pun muncul, mengambil alih posisi pegawainya untuk menghadapi Selma. “Maafkan atas ketidaknyamanan kafe kami, apa ada masalah, Mbak?” tanyanya.
Selma mengangguk kuat. “Tentu saja ada. Saya pikir tindakan mesum tidak dibenarkan di tempat umum mana pun, terlebih lagi jika itu terjadi di kafe ini. Apa Bapak setuju?” timpalnya.
“Ya, Anda benar sekali. Tapi, siapa yang ber–”
Prak!
Diska dan dua manusia lain yang tengah berinteraksi dengan Selma sedikit terjingkat oleh gebrakan tangan gadis itu. Selma kemudian berkata, “Maka dari itu, saya berniat membantu Bapak dalam mempertahankan nama baik kafe dari pasangan tak bertanggung jawab seperti ini.” Selma memperlihatkan layar ponselnya, dibantu Diska yang dengan sukarela menunjuk lokasi konkret dari meja kekasih, emm calon mantan kekasih Selma.
“Astaga, benar-benar tidak tahu malu! Biar saya urus mereka dengan benar!” Pria itu menyingsingkan lengan kemeja, bersiap melabrak.
“Eits, tunggu sebentar, Pak. Daripada membuang tenaga, saya akan dengan senang hati membantu pekerjaan Bapak selesai dengan lebih berkelas. Tidak susah, hanya izinkan saya meminjam audio dan televisi di kafe ini,” ujar Selma, mengajukan penawaran. Diska hanya menanggapi niat gadis itu dengan helaan napas pasrah.
“Tapi, Mbak ….”
“Berapa?” todong Selma, membuat pria di hadapannya terjingkat kebingungan. “Apa dengan membayar bill seluruh pengunjung sudah cukup?” imbuhnya.
“Iyain aja, deh, Pak. Daripada teman saya ini makin menggila,” bujuk Diska, sudah lelah dengan segala kebobrokan Selma.
Pria itu menggaruk kepala. “Eum, tapi saya tidak–“
“Dua kali lipat. Atur semuanya, dan saya bayar tagihan seluruh pengunjung sebanyak dua kali lipat.” Sebuah kartu kredit tersodor di atas meja. Mata Selma menyorot tegas, sama sekali tidak menampakkan keraguan terhadap pundi rupiah yang akan dilayangkan dompetnya.
“Deal!” Pria berkemeja biru navy itu menyodorkan telapak tangan dengan penuh semangat.
Rekaman video sudah berada di posisi, begitu pula dengan Selma yang siap dengan segala rencana eksekusi. Jangan tanya di mana dan sedang apa Diska, karena sahabat baik satu itu hanya anteng seraya mengabadikan susasana kafe lewat kamera ponselnya. Pemeriksaan terakhir, manajer kafe mengacungkan ibu jari di sela giginya yang tersenyum semangat. Selesai, dan klik!
“Selamat siang, semuanya! Mohon maaf mengganggu waktunya.” Suara Selma menggema di seantero kafe, seluruh pengunjung termasuk dua pelaku yang akan dibidik telah tercuri ruang dengarnya.
Prang!
“Selma ….” Pemeran pria yang tengah menyuapi wanitanya cepat sekali tersadar, sendoknya saja sampai tercerai di atas lantai.
“Mungkin yang saya sampaikan ini sedikit tidak nyaman untuk didengarkan, dan saya akan meminta maaf untuk hal itu. Sebagai gantinya, saya akan mengambil alih seluruh tagihan pengunjung sekalian tanpa terkecuali. Tidak perlu berterima kasih, karena saya tidak membutuhkannya.”
Suara yang tak memperlihatkan sosoknya itu sukses besar mengundang sorak bahagia dari pengunjung yang terhitung kurang dari dua puluh orang itu. Tak ingin berlama, otak kejahatan utama memulai lagi orasinya.
“Hadirin sekalian, hari ini adalah momen yang berkesan untuk kekasih saya. Oleh karena itu, sedikit persembahan ini semoga dapat mengesankan Anda juga. Dari Princess Vall teruntuk Marviko Savalas, semoga bahagia bersama kekasih barumu.” Riuh kebingungan dari pengunjung menjeda suara Selma sejenak. Gadis itu kemudian menyambung, “Ah, iya! Bijaklah dalam memilih tontonan, hiburan ini mengandung konten dewasa. Terima kasih.”
Tidak perlu banyak acara, video tidak senonoh yang telah diburamkan wajah pelakunya itu menghiasi layar televisi 50 inch milik kafe. Masih baik Selma tidak mempertontonkan wajah Viko dengan gamblang. Sebagai gantinya, pria itu dan kekasihnya diseret manajer kafe keluar paksa di sela mulut pengunjung yang sibuk melayangkan hujatan.
Entah hujatan itu ditujukan pada Viko atau siapa, yang jelas sekarang gadis bermarga Vallence itu sudah melengang santai diiringi tatapan abstrak dari para pengunjung. Senyum puas tercetak jelas di bibir coral pink milik Selma, bahkan setelah bertatap muka dengan Viko di luar kafe pun kebahagiaan itu tidak meluntur.
“Selma, lo benar-benar, ya!” Viko merah padam, menatap Selma berapi-api.
“Bukankah sepuluh juta terlalu mahal untuk kebobrokan semacam ini?” Diska menatap jijik pada Viko.
Selma bergaya dengan kacamata big frame coklat miliknya. “Bukankah kita harus membayar mahal untuk sesuatu yang menghibur?” Gadis itu memajang senyum miring penuh kejahatan.
“Ah, tidakkah hiburan hari ini terlalu murahan untuk sekelas kita?” timpal Diska. Gadis ini memang partner terbaik Selma dalam menghujat orang lain.
“Jangan berkata seperti itu, Nona,” Selma melepas kacamatanya, “setidaknya harga yang kubayar jauh lebih mahal daripada harga diri mereka.” Gadis itu berancang-ancang pergi, lugas menertawai Viko yang ditinggalkan wanitanya begitu saja.
“Marina, tunggu!” Viko hendak meninggalkan Selma, namun urung dan malah berbalik lagi.
“Oh, namanya Marina. Pantas aja lenjeh, kaya lotion,” decak Selma.
“Sel, awas!”
Wet, brug!
Teriak peringatan dari Diska sepertinya terlampau lambat. Selma yang tidak siap apa-apa hanya bisa diam tertahan. Oh, ayolah! Sangat tidak menyenangkan sekali jika babak kedua di mulai dalam waktu sedekat ini.
船の中。 シャワーを手早く浴びて 落下してからの一連の流れを説明したら。ヒョオオオオオオ…。羅刹の風が吹き荒れていた。 何故って?「…うちの可愛い子を誘拐した罪は重いわ」 「…そうだね。私の旦那さんの親友を誘拐して、何より私の親友を銃で撃って蹴り飛ばした…?万死に値するわ」 「まぁ、花崎さんったら。…でも、私もお付き合いしますわ」 「「「ほほほほほほ…」」」と言う事である。 後ろでお兄ちゃん達も怒っている。 樹先輩と猪塚先輩もどうやら攫われたらしいけど、そっちは…まぁ、あの二人だ。どうにかなる。 でも、優兎くんは違う。 優兎くんは、弱い所があるから。 「それで?美鈴。どうするつもりだ?」 「どうするって、当然取り返しに行くよ」 「犯人は仮面を付けていると言っていたが、お前の事だ。目星は付いているんだろ?」 「付いてると言うか、もう解ってる。自分でそれを言っていたからね。…売られた喧嘩は買うのよ」 「…成程?ならその喧嘩に絶対勝てるように、武器を持つ必要があるな。……必要か?」 言って鴇お兄ちゃんが取り出したのは、スマホである。しかもそれは…。 「必要だね」 「なら直ぐに名義を変更してやろう」 「ありがとう」 そのスマホは鴇お兄ちゃんが管理している私の【仕事用】のスマホ。 鴇お兄ちゃんはそれを手早く操作して、電話で指示を出した。 それに気付いた双子のお兄ちゃん達も動き出す。 そっちに関してはお兄ちゃん達に任せ、私達は優兎くんの居場所を捜索する事にする。 「華菜ちゃん。これを」 「……んんー?」 華菜ちゃんの手に私はもう一方のイヤリングを乗せた。 何も知りません、みたいな顔をしているけど…バレバレだからね? そして今はその事を詮索するつもりはないよ? 「もう一つを優兎くんの服に忍ばせたの。急いでGPSで探索して。服を脱がされたり感知器か何か使われたらバレてしまうから」 「っ!、分かったっ!」 取りだした愛用のノートパソコンを華菜ちゃんは手早く操作する。 逢坂くんも直ぐに華菜ちゃんに手を貸して二人がかりで探索を始めた。 「桃、巳華院くんも。悪いんだけど、今すぐ日本に帰ってくれるかな」 「何故ですの?私達もお手伝い出来ますわ」 「勿論、手伝って貰う為だよ。ごめんね、今はどんな手でも借りたいの」
※ 外伝第二章 御曹司ルートの第三十二話から続くお話です。ルート割れしておりますのでお気をつけてお読みください。「これっ、絶対に死ぬ奴じゃなああああああいっ!!」 全力で叫んだ所で状況は変わらないのよーっ!! 落下してますっ!落下してるんですよーっ! 一先ず気味の悪いクローンは体から引きはがして、蹴り飛ばす。 私が離れてもあっちが離れても問題はない。恐怖から離れられるならそれでいい。 発狂する前に離れられてホッとしつつ考える。 何を考えてるかって?勿論、生存方法である。 そもそもさぁー。ヘリから落ちるなんて体験普通にする人いなくなーい?いたとしても少数派だよねー。 「私落下経験多いよねー。その度に皆に助けて貰ってるけどさー。そろそろ自力でどうにかする術を覚えるべき?」 落下中だけど、空中で正座しつつ考える。 「美鈴ちゃんっ!!」 「へっ!?」 頭上から声が響いた。 ちょっと待ってっ!なんでっ!? 「優兎くんっ!?」 「美鈴ちゃんっ!手をっ!って、何で正座してるのっ!?落ち着き過ぎでしょうっ!?」 手を伸ばせと再度言われたので私は手を伸ばす。 すると優兎くんは私の手を取り、ぐっと自分を私の側に寄せて来た。 先に下に落ちてるのは私だからね。そこは優兎くんの方が体を寄せなきゃ追い付けない。 「何で優兎くんまで落ちて来てんの?」 「何でってっ、ほらっ」 優兎くんが指さした場所を見上げると、そこには落下しているヘリと落下している樹先輩と猪塚先輩が。 「もしかしてあっちもクローンが?」 「そう言う事。ただあっちは僕達三人しか乗ってなかったから、争った上でこうなったよ」 こう?とは、どう言う事? と問う前に、優兎くんが答えをくれた。 私の腰に手を回して、がっちりと捕まえてくれると、バンッと布の開く音が聞こえて体が上へと引っ張られた。 「もしかして、パラシュート?」 「その通り。暫く風に流されるだろうけど」 「それはまぁ仕方ないよ。命があるだけ恩の字ってね。ゆらゆら流されようよ」 「美鈴ちゃんってそう言うとこ、変に肝が据わってるよね」 「ふみー?」 「…まぁ、美鈴ちゃんだもんね。美鈴ちゃんも僕にちゃんと捕まっといてね。僕も離すつもりはないけど」 「了
「えっと…あっ、まーくんっ!あそこの店に入っても良いっ?」夢芽が嬉しそうに私の手を取り、立ち並ぶショッピングモールのテナントを一つ指さした。私は夢芽といられれば、それだけで幸せだからただ頷く。とは言え、あの店は少しハードルが高い…?ブティックや雑貨屋なら普通に入れるが、あそこは…。「あ、勿論、あそこは私だけで行ってくるよっ。ランジェリー専門店だもんね。ごめんね、直ぐ戻って来るからっ。…まーくんが好きそうなの選んでくるねっ」「なっ!?」にぃんまり…。夢芽。悪役の笑い方だ、それは。「まーくんが照れるの可愛いから私好き」…私が照れてるなんて解るのは夢芽くらいだろう。だが、一つ言わせて貰うなら。ぐいっ。「えっ?」引かれていた手を逆に引っ張って夢芽を自分の胸へと引き寄せて抱きしめる。「ま、まーくんっ?」「私も、私の腕の中で顔を真っ赤にして照れる夢芽が好きだよ」ぼんっ。ははっ、夢芽の顔真っ赤だ。可愛い。「も、もうっ、まーくんったら」ポスポスと夢芽が私の胸を叩くが全然痛くない。むしろ可愛い。夢芽の可愛さを堪能していると、横に人の気配がした。「…………道の真ん中で何してるんだ?夢姉…」「陸実くんっ!しっ!折角ユメが可愛い顔してるんだからっ!写真撮ってからにしてっ!」「いや。美鈴センパイ。オレに隠れてる風にしても無駄だと思うぞ。滅茶苦茶バレバレ」「大丈夫っ。さっと撮ってさっと立ち去るからっ」「いやいやいやっ、そもそも友達のデートを隠し撮りってっ」「だって、だって可愛いんだもんっ!私のユメ可愛いのーっ!」「白鳥。夢芽は白鳥のモノではなく私のモノだ」二人の言い合いに割り込み主張だけはしっかりとしておく。「うぅぅーっ…王子と彼氏に取り合われるとか、幸せー…」「夢姉。帰ってこい。弟として色々心配過ぎる」「……例え愚弟の声が聞こえても私幸せー」「おおーいっ!夢姉っ!さっくりディスってるぞーっ!」夢芽の弟が叫んでいる。それに対して夢芽はこっそりと笑っていた。多分、抱き締めてる私にしか解らないだろうが。「うんっ。堪能したっ。それで?どうして王子と陸がここにいるの?」「私が誘ったの。私の渡したテストで陸実くんだけがボーダーライン越せなかったので、これから参考書を買いに行くの。……ね?」キランッ。……成程。白鳥がご立腹なのは理
お財布持ったし携帯もある。最悪何か忘れてたらコタに取りに来て貰えば良いし。 別に部屋に入られてもコタに見られて困るものはない…よね? よし。じゃあ、早速待ち合わせの場所に向かおう。 お父さんもお母さんももう仕事に行ってるから、しっかりと家の鍵を閉めて、マンションのエレベーターに乗りこんで到着を待つ。 3…2……1…ん。着いた。 ドアが開き、足早にマンションを出る。 時間は、十時。うん。待ち合わせ時間ぴったり。 「お待たせ」 私がそれだけを誰もいない目の前に呟くと、 「時間ピッタリでござる。待ってないでござるよ」 空からコタが降ってきた。 その姿に私は一瞬フリーズしてしまった。 「婿?その恰好は一体?」 「?、嫁に合わせたつもりでござったが…何処か可笑しいでござるか?」 おかしい所か…滅多にないカジュアル姿で…顔は流石に抵抗があるのかマスクと深い帽子で隠れてるけど…。 ジャケットにシャツ、細身スタイルのデニムパンツ。…そう言えばコタはイケメンの部類だった…忘れてたけど。 「嫁?」 「…大丈夫。おかしくない。…私は、どう?」 コタの隣に立っている自信がなくなってしまって思わず問いかけてしまう。 するとコタは唯一現れている顔の一部である目だけで優しく微笑んで、 「大丈夫。嫁はいつも綺麗でござるよ。綺麗で可愛い。誰が見てもそう言うでござる」 そう言ってくれた。ミニスカートなんて履いた事なかったけど、似合うって言って貰えたなら良かった。でも…。 「他の誰かに褒められても嬉しくない。私は婿に褒められればそれで良い。ありがと、婿。可愛いって言ってくれて」 真正面からは言えないから、ついつい俯いてしまうけど。伝えたい事は伝えないと。 「……」 何で黙るのよ。…ちょっとだけ、ちょっとだけコタの顔をちら見、ってあれ?コタ?どうしたの?顔を両手で隠してる? 「か」 「か?」 「可愛過ぎるでござるぅぅぅぅぅっ!!」 「む、婿?」 「耐え切れないでござるっ!!嫁ぇっ!!」 「わっ!?な、なにっ!?」 「い、一分だけ待ってて欲しいでござるっ!!」 「え?一分、って、えっ!?婿っ!?」 婿の姿が消えたっ!? ど、何処行ったのっ!? あ。戻って来た。肩で息してるんだけど。生きてる? 「嫁の可愛さに耐え切れなくなったんで走っ
それから、襲撃のある8日まで。私は、一日一回はあえて外出し、買い物をするようにした。と言うのも、お兄ちゃん達が、遭遇すると言う形を作りたいと言ったからだ。ゲームにより近づける為なんだって。私としてはお兄ちゃん達だけ危険な目に合わせるつもりは毛頭なかったから、即頷いた。むしろ一日一回で良いのかと聞き返してしまった位だ。けど余計なことをしてもまたお兄ちゃん達の計画を崩すだけだよねとちゃんと思い止まった。買い物をして、華菜ちゃんの家に帰って、華菜ちゃんのご家族の代わりにご飯を作って、パソコンを借りて一日分の仕事をして。これを数日繰り返した。…私、本当にこれでいいのかなぁ…?ちょっと不安に
「…美鈴?」声が聞こえて目を開くと、ママのドアップ。「美鈴。何をぼんやりしているの?早くその本を持って廊下に出てみなさい」そしてまたこのセリフ。私の手にはセーブの本。流石に二度も同じ事があれば、夢でも幻でもないって理解出来る。いや、元々夢の可能性は大分低かったんだけどね。そしてもう一つ、夢を否定するに思い至る理由がある。ここに、いつもママのドアップがあるこの時に戻る理由。こんな事現実的じゃないと思って、つい思考から排除してたんだけど…。でも…もう、そうとしか考えられない。私はやはり『手に持っていた』本を開いた。そこに書いてある文字は、私の文字。『ハートの意味が解らない。
私の視界は真っ暗闇の中。 ふっ。私を舐めないで貰いたいわねっ。 毎度毎度この真っ暗闇を見ていたら、もう分かるもんねっ! ズバリ、私は気を失っているっ!どやぁっ! ……。 ………。 ……………しくしくしく。全くもって威張れたことじゃないのよぅ…しくしくしく。 何で私はまた意識を失ってるのー…。 えっと…、私は何でこうなってるんだっけ?気を失う前は確か…。 確か私は旭と一緒に買い物した帰りに、旭に扮した表門の人に刺されてー…はて? そこから記憶がないと言う事は、私はあそこで気を失ったって事だよね? んで、今現在意識がない、と。そう言う事だよね? でも
※ このお話は本編である『乙女ゲームのヒロインに転生しました。でも私、男性恐怖症なんですけど…』の三十話から続くお話です。まだ本編をお読みで無い方はまずは本編からお楽しみください。「姫。この鎖主体のデザインと、薔薇主体のデザイン、どっちが可愛いと思う?」「んー…、私としては薔薇の方が可愛いと思うんだけどー…、遠目から見てどっちが可愛いと思う?大地お兄ちゃん」「鎖デザインのネックレスと、薔薇デザインのブレスレットー。成程。姫ちゃんが一番可愛いー」「俺もそう思う。姫さんが一番可愛い」「確かに。姫が一番可愛いな」「ちょ、ちょっと三人共っ、デザインの話でしょーっ。私は関係ないでしょーっ。