로그인帝王切開から一週間後、相賀一斉は友人たちを呼んで、私が彼に息子を産んだことを祝った。 十数人がぞろぞろと押し寄せ、誰一人として靴を脱がず、床は泥だらけになった。 相賀一斉は無理やり私をベッドから起こした。 「外でみんな待ってるんだぞ。隠れて休むなんて、俺の顔に泥を塗る気か」 私は体を無理やり起こして、一人で十品の料理とスープを作った。 最後の一杯の熱いスープを運ぶとき、宮坂沙織がわざと私の腹の傷口を突いてきた。 私は手を震わせ、スープを宮坂沙織の靴にこぼしてしまった。 相賀一斉の顔は瞬間に冷たくなった。 「どういうつもりだ?沙織は帰国したばかりで、すぐにお前の息子を見に来てくれたんだぞ。それなのにこんな嫌がらせをするのか?」 周りの人たちも声を揃えて同調した。 「そうだよ、姉さん、そんなに心が狭いのは良くないよ」 「一斉と沙織は幼馴染なんだぞ。もし二人に本当に何かあったら、姉さんが今ここに立っていることもないだろ」 「沙織の靴は限定品だぞ。少なくとも十千万はするだろ。それを汚すなんて、姉さんどういうつもりだ?」 宮坂沙織は気まずそうに立ち上がり、目尻を赤くして言った。「姉さんが私のことを嫌っているなら、もう先に帰るよ。邪魔になるつもりはないから」 相賀は宮坂沙織の手を掴み、鋭い声で私に命じた。「沙織の靴を綺麗に拭け!」 彼が宮坂沙織を庇う姿を見て、私は胸が痛み、涙を堪えながら言った。「お腹の傷口がまだ治ってなくて、腰を曲げられないんだ」 その言葉を聞いて、彼の顔はさらに冷たくなった。「子供を産んだのを言い訳にするな。腰が曲げられないなら跪いて拭け。それができないなら出て行け!」
더 보기Malam itu, Naina menghadiri pesta ulang tahun teman kuliahnya. Sebenarnya ia malas datang, karena ia sendiri dalam kondisi badmood, habis bertengkar dengan kakak angkatnya.
Brillian, kakak angkatnya menyatakan cintanya secara tiba-tiba. Ia langsung menolaknya. Menganggap Brillian sudah gila, karena ingin menjalin hubungan dengannya.
"Sial! Dia benar-benar sudah gila. Apa yang sudah terpikir di otaknya. Bisa-bisanya dia menyatakan cintanya padaku. Apa di dunia ini tidak ada perempuan lain. Yang benar saja!" Naina mengambil minuman di atas meja. Ia tidak peduli minuman itu milik siapa. Dalam keadaan kesal, ia langsung menenggaknya hingga tandas.
Pikirannya kacau dan tidak tenang. Ia memutuskan untuk pulang. Karena percuma saja, berkumpul dengan teman-temannya, namun hatinya tidak tenang.
"Kamu mau ke mana, Na?" tanya teman-temannya yang masih bercanda ria di pesta.
"Aku mau pulang," jawab Naina singkat.
"Loh! Kok buru-buru. Apa perlu kuantar?" Doni, teman kampusnya menawarkan diri untuk mengantarkannya.
"Tidak perlu! Terimakasih."
Naina langsung melenggang pergi pulang ke rumahnya, dengan menggunakan jasa taksi online.
Tidak lama ia tiba dirumahnya. Ia merasakan panas yang menyerang tubuhnya. Padahal malam itu, udara cukup dingin.
"Hey! Ada apa denganku. Kok, jadi pusing gini. Kenapa tubuhku jadi panas gini, ya?" Naina mengusap dahinya yang dipenuhi oleh keringat. Ia sampai melepaskan pakaiannya di ruang tamu.
Kepalanya pening, ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa.
"Kenapa kepalaku pusing banget sih. Perasaan tadi baik-baik saja. Apa aku tadi salah makan? Bahkan tadi aku tidak makan apapun di pesta. Aku hanya minum air mineral saja. Apa mungkin, minum air saja membuatku pusing. Aneh."
Naina bergumam sendiri dengan memijit pelipisnya. Ia memutuskan untuk istirahat di sofa. Karena jika ia berjalan ke kamarnya sendiri, takut terjatuh.
***
Di tempat lain, tepatnya di bar. Brillian frustasi karena cintanya ditolak oleh Naina. Ia melampiaskan emosinya dengan meminum Vodka. Tidak mungkin ia melampiaskan kekesalannya itu pada Naina.
Sedari kecil ia sudah jatuh cinta pada Naina. Namun ia memendam perasaannya sendirian. Naina adalah anak panti asuhan yang diadopsi oleh orang tuanya. Merasa dia bukan adik kandungnya sendiri, ia tidak mempermasalahkan jika ia menjalin hubungannya. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan. Naina menolaknya mentah-mentah.
"Sial! Cewek sombong itu benar-benar sial! Bisa-bisanya dia menolakku. Apa sih, kurangnya aku ini. Bahkan apapun yang dia minta, aku selalu menurutinya."
Ia memijit kepalanya yang berdenyut nyeri. Dua botol Vodka telah tandas ditenggaknya. Cukup lama menghabiskan waktunya di bar, ia langsung beranjak dan membayarnya pada bartender. Ia memutuskan untuk pulang dan istirahat di rumah.
Setibanya di rumah, ia melihat Naina yang tengah duduk di sofa. Melihat Naina yang hanya menggunakan tank top, ia meneguk ludahnya.
'Naina ...? Apa yang dia lakukan. Kenapa dia belum tidur.' Dengan sedikit kesadarannya, ia bergegas menghampiri Naina di sofa. Walaupun ia sudah sakit hati atas penolakan Naina, tapi ia juga tidak menaruh kebencian padanya.
"Na ...! Ngapain tidur di sofa. Pindah ke kamarmu, sana!"
Mendengar suara Brillian, ia langsung membuka matanya. Ditatapnya wajah Brillian yang tampan, membuatnya terpesona.
Ia pun menarik tangan Brillian, hingga membuatnya terjatuh mengungkungnya di sofa.
Detak jantung Brillian seakan mau lepas. Melihat tubuh Naina yang terekspos putih, membuat jiwa laki-lakinya tidak terkendalikan. Apalagi ia sangat terobsesi pada gadis itu.
"Kak Lian ...! Peluk aku. Naina mengeratkan pelukannya di pinggang Brillian. Ia nampak buas. Menginginkan lebih dari sekedar pelukan.
Brillian tercengang, Naina terlihat nampak Liar. Walaupun ia dalam setengah sadar, ia bisa merasakan, Naina butuh belaian kasihsayang.
"Apa kau menginginkan lebih dari sekedar pelukan, sayang? tanya Brillian berbisik ditelinganya.
Naina mengangguk. Tidak berucap, namun Brillian mengerti. Naina telah menginginkannya.
Brillian tersenyum. Ia mengusap pipinya dengan berbisik lirih. "Baiklah. Malam ini ... Aku akan memuaskanmu!"
Kesempatan emas yang dinanti-nanti, akhirnya datang. Walaupun keadaannya tidak sadar, tapi ia bisa merasakan kebahagiaan bersama gadis yang sangat dicintainya.
Brillian langsung membopongnya menuju kamar dengan berjalan sempoyongan. Setibanya di dalam kamar, ia merebahkannya di ranjang. Meninggalkan semua pakaiannya yang dikenakannya, dan langsung menindihnya.
"Malam ini ... Aku akan membawamu menikmati surga dunia, sayang."
***
Suasana menjelang pagi, udara semakin dingin. Naina mulai terbangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sangat pening, tubuhnya terasa berat dan kaku.
Ia masih belum sadar dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Perlahan ia menyibakkan selimutnya, dan begitu terkejutnya ia ketika mendapati tubuhnya polos tanpa memakai pakaian.
Seketika itu, ia menjerit sekeras-kerasnya. "Argh ...! Tidak. Apa yang sudah terjadi padaku."
Naina benar-benar syok melihat keadaannya yang sudah acak-acakan. Terlihat jelas bercak darah segar yang menempel di spreinya.
Menoleh ke sampingnya, ia mendapati kakak angkatnya yang tertidur pulas dalam keadaan sama-sama polos tanpa memakai sehelai benang pun.
Ia langsung mengumpati kakaknya dengan kasar. "Brillian berengsek! Apa yang sudah dia lakukan padaku!" Dadanya bergemuruh panas. Sangat menyesal, Brillian tega mengambil kesuciannya.
Hampir tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi padanya. Ia menatap darah segar, yang pastinya, ia tidak tengah datang bulan. Mendapati Brillian yang sama-sama polos, membuatnya yakin, Brillian sudah menodainya.
'Tidak ... Ini tidak mungkin.' Naina menjambak rambutnya frustasi. Tubuhnya gemetar, masih syok melihat keadaannya saat itu.
Ia bahkan tidak bisa mengingat apapun, tentang kejadian yang sudah dialaminya.
Sekelebat, ia mengingat, malam itu datang ke pesta ulang tahun teman kuliahnya. Tapi setelah itu ia memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, ia tidak bisa mengingat apapun.
"Apa dia balas dendam padaku, karena aku sudah menolak cintanya? Tapi kan memang tidak salah, jika aku menolaknya. Walaupun kita terlahir bukan sebagai saudara kandung, tapi kan, aku sudah diadopsi oleh keluarganya. Bagaimana mungkin aku menjalin hubungan dengannya. Apakah aku pantas, menjalin hubungan dengan orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri."
Naina sangat sedih menyesali sikap Brilian yang sudah melakukan perbuatan tidak senonoh padanya. Ia memang sengaja menolak cinta Brilian, karena tidak ingin menyakiti orang tua angkatnya yang sudah mengasuhnya dan memberikan kasihsayangnya sejak masih kecil. Bahkan ia belum pernah mendapatkan kasihsayang, atau bertemu dengan orang tua kandungnya sendiri.
Tatapannya beralih kembali pada Brilian yang masih pulas tertidur. Ia benar-benar tidak menyangka, kalau Brillian tega menghancurkan masa depannya.
"Kau sudah menghancurkan masa depanku, berengsek! Kau bukan manusia. Kau itu jelmaan binatang! Beginikah caramu membalas dendam padaku! Hanya karena aku menolakmu ... Kau tega menghancurkan hidupku. Aku benar-benar membencimu!"
Naina beranjak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan tubuhnya gemetar menahan ngilu di area sensitifnya, ia bergegas menuju kamar mandi.
Ia benar-benar dibuat sakit hati oleh sikap kakak angkatnya. Sejauh ini, ia mengenali Brillian sangat baik. Tapi ternyata, dibalik kebaikannya, tersimpan keburukan.
"Bagaimana kalau sampai Mama sama Papa tahu. Aku bisa mati dihajarnya." Naina menggelengkan kepalanya dengan menangis. "Tidak ... Mereka tidak boleh tahu."
Ia harus menyimpan rasa sakitnya sendirian. Tidak ingin kejadian itu didengar oleh orang tuanya. Ia tidak ingin mencemarkan aib dikeluarganya.
"Sekarang ... Apa yang harus aku lakukan. Hidupku sudah hancur! Tidak mungkin juga aku menikah dengannya. Aku yakin, Mama sama Papa tidak akan merestuinya. Lalu jalan apa yang harus kuambil?"
宮坂沙織の名前を聞いて、私はようやく顔を上げた。目の前にいる、もうすぐ三十歳にもなるのに、自分の目が曇っていたと言い訳するこの男を見て、私はただ滑稽に思えた。こんな男のために、自分を犠牲にしてこんな姿になるなんて。「一斉、自分の言葉を聞いてみてよ。滑稽だと思わないのか?」「本当に悪いと思うなら、宮坂に代償を払わせるべきだろ!」「あなた、自分の目で彼女が私の子供を窓の外に投げたのを見てただろ?」「まさか、まだ彼女を庇おうとしてるんじゃないだろうな?」案の定、相賀の表情が一瞬固まり、ためらいながら口を開いた。「子供は無事だったし、沙織はちょっとわがままだっただけで……」「じゃあ、私は?」もう感じることはないと思っていた悔しさが、堰を切った洪水のように胸に押し寄せてきた。「じゃあ、私はどうなるんだ、一斉?私が傷つくのはどうでもいいのか?」「私には痛みなんてないとでも思ってるのか?」「私は宮坂のせいで、半月の間に二度も入院して、傷口が二度も裂けたんだ!」「私があなたと結婚して子供を産んだからって、真剣に扱われる価値がないとでも思ってるの?」「一斉、私だって血の通った人間だよ!私は痛みを感じるんだ!」相賀一斉は口を開けたり閉じたりした。「俺がちゃんと片付けるから。この件が終わったら、家族三人でお宮参りの写真を撮りに行こう」彼は背を向け、逃げるように部屋を出ていった。「お宮参りの写真なんてないよ」私の声は冷たく、突き放すようだった。相賀一斉の足もその場で止まった。「私と子供を解放して、一斉」「少しでも罪悪感が残っているなら」「退院したら、離婚しよう」相賀一斉は何も言わず、体が崩れ落ちるような姿勢で、黙ったまま部屋を出て行った。私は離婚の手続きをすべて日香里に任せた。相賀は負い目を感じていたのか、財産分与について一切争わず、全てを私に譲り渡す決断をした。日香里は私のそばにいて、相賀がどれほど落ちぶれているかを話してくれた。「まあ、あいつにも少しは良心が残ってたんだね。でも梨絵、だからって今さら許してやったらだめだよ」私は頷いた。「安心して、もう二度とバカなことはしないから」私は一度や二度、一年や二年も愚かな選択をしてきた。恋愛から結婚、そして出産に至るまで、
「アルコールは赤ちゃんの脳に取り返しのつかない損傷を与えます」「これくらい育児の常識ですよ。あなた、お父さんなんだからもっと勉強すべきです」医者の言葉を聞いて、相賀の顔には後悔の色が浮かんだ。「アルコールの一部はすでに赤ちゃんの体内に吸収されています。この処方箋を持って薬を受け取ってください」相賀は医者から渡された処方箋を自ら受け取った。「梨絵、ここで子供を見ててくれ。こういう体力仕事は俺がやるから」私は彼を見ようともせず、黙って頷くだけだった。相賀が薬を取りに行き、病室には私と宮坂沙織だけが残った。彼女はもういい子を装うことなく、顔に冷たい陰りを浮かべた。「相賀梨絵、あんたって本当にしつこいな。一斉さんにそんなにくっつきたいの?恥ずかしくないのか?」「私は相賀一斉の法律上の妻よ。恥知らずが誰か、分かってるはずでしょ」宮坂沙織は痛いところを突かれたようで、目を鋭くしながら一歩一歩私に近づいてきた。「何するつもり?私が怖がるとでも思ってるの?」私は宮坂沙織が私に仕返ししようとしているのだと思った。しかし、彼女の狙いが私の子供だとは思いもしなかった。私は結局、一歩遅れてしまった。宮坂沙織はベビーベッドから息子を抱き上げ、数歩で窓際まで駆け寄った。「宮坂沙織!」私は叫び声を上げ、胸が張り裂けそうなほど動揺していた。しかし、宮坂沙織は口を歪め、狂気じみた笑みを浮かべていた。彼女はなんと腕を伸ばし、私の子供を窓の外に差し出した。「私と一斉さんは一緒に育ったのよ。彼は小さい頃から私の犬みたいなものだったわ」「まさか数年海外にいただけで、彼がこんな地味な女と結婚するなんて!」「私のものを奪うなら、それ相応の代償を払ってもらうわ!」宮坂沙織が手を離そうとした瞬間、私は何も考えずに飛びかかり、彼女と子供を奪い合った。薬を取りに行っていた相賀がちょうどその時戻ってきて、窓際の光景を目にして腰が抜けそうになった。宮坂沙織は瞬時に弱々しい表情に切り替えた。「一斉さん、助けて!姉さんがどうやらおかしくなったみたい!」彼女は叫びながら、子供を掴んでいた手を離した。私は心臓が止まる思いで、考える間もなく窓から飛び出し、息子を抱き戻した。幸いにもここは二階で、窓の近くにある木がクッシ
次々と洗練された料理が順番に運ばれてきた。相賀はステーキを切り分けて、宮坂沙織の皿に載せた。「一斉さん、私が海外に出てから、こんな風にステーキを切ってくれる人なんていなかったよ」相賀は私を一瞥したが、その曖昧な言葉には応えなかった。誰が誰のステーキを切るかなんてどうでもいい。ただこの食事を終えて、相賀一斉と離婚の話をきっちりつけることだけが目的だった。宮坂沙織は私のナイフとフォークの持ち方を見て、クスクスと笑い出した。「姉さん、ナイフとフォークそんな持ち方するの?フランス料理ってマナーが大事なの知らないの?食べるときはナイフを置いてフォークだけ使うんだよ」宮坂沙織は私を世間知らずの田舎者だと嘲笑い、私が恥ずかしがる姿を見たがっているようだった。しかし、私は気にも留めず、平然と目の前の料理を食べ続けた。宮坂沙織は私が何も反応しないのを見て、今度は相賀の肘をつつきながら言った。「一斉さん、姉さんに前もって教えてあげればよかったのに。これくらい基本的なことだよ」予想外にも相賀は眉をひそめて言った。「たかが食事だろ。彼女が好きなように食べればいいんだよ」宮坂沙織は口を尖らせ、皮肉っぽく言った。「一斉さん、本当に姉さんに優しいんだね」そう言いながら、彼女は持っていたバッグから精巧なギフトボックスを取り出した。「危うく忘れるところだった。今日お姉さんに謝りに来たんだから、絶対受け取ってね。じゃないと私、すごく気が引けちゃう」私は突き返そうとしたが、宮坂沙織は素早くその箱を私の目の前で開けた。中には精巧なレースの下着が入っていた。しかし、そのサイズは極端に小さく、子供を産んだばかりの私には到底着られそうになかった。宮坂沙織は意地悪そうに口元を歪めて言った。「姉さん、一斉さんとの生活、絶対に幸せにしないとね」私は箱の蓋を閉じると、それを宮坂沙織の胸に投げ返しながら言った。「いらないわ、こういう物は自分で使えば?私はそんなもので男を繋ぎ止めるつもりなんてないから」相賀はまた宮坂沙織を庇おうとしたが、今回の件はさすがに行き過ぎていて、彼も顔を潰すわけにはいかず、それ以上宮坂沙織のために弁護することはできなかった。仕方なく宮坂沙織の手を押さえつけ、そのまま食事を続けた。この食事は本当に退屈だった。私は相賀
私は日香里の家の隣に引っ越し、育児アシスタントを雇った。子供を産む前、相賀は私に約束していた。一流の産後ケア施設に住まわせて、優秀なベビーシッターを雇うと。しかし、子供が生まれた後、彼は「母親が自分で世話をするからこそ、赤ちゃんは母親に愛着を持つんだ」と言い出した。さらに、会社が資金繰りで忙しいから、ベビーシッターにお金を使う必要はないとも言った。でも彼は、私が夜更かしして抜けた髪がベッドにいっぱい付いているのを嫌がった。私の回復が遅いことや、体に血の匂いが残っているのを嫌がり、それが全く興味をそそらないと言った。でも、相賀が宮坂沙織にどれだけ気を使っているのかを見て、私はようやく理解した。人を愛することと結婚することは、全くの別物だということを。今では、ようやくぐっすり眠れるようになり、煩雑な家事からも解放された。そして、日香里と協力して離婚の書類を整理する時間も取れるようになった。書類がようやく整理し終わった時だった。約2週間姿を消していた相賀一斉からメッセージが届いた。「梨絵、どうして俺に話しかけてくれないんだ?また拗ねてるのか?」「一番いいフレンチレストランを予約したから、今夜一緒に行こう」「日香里の家の住所を教えてくれ。迎えに行くから」相賀にとって、私が不満を伝えるのは、ただの拗ねやわがままだった。最初は彼を無視しようと思っていた。でも、離婚の書類がすでに準備できていることを考えると、直接話をしたほうが後々面倒が省けると思った。「そんなに手間をかけなくていいから、レストランの住所を教えて。自分で行くよ」以前の相賀なら、私の物分かりの良さに感心しただろう。しかし、今日はどういうわけか、どうしても迎えに来ると言い張った。日香里の家の住所を知られたくなかった。後々厄介なことにならないようにするためだ。そこで、相賀に母子用品店の住所を送った。「ここに来ればいいよ」私は息子に新しいおもちゃをいくつか買ってあげた。約束の時間になり、私は片手で息子を抱え、もう片方で袋を持ちながら外に出た。そして、相賀の車が店の前に停まっているのを見つけた。助手席のドアを開けると、そこには宮坂沙織が座っていた。「姉さん、この前は気を悪くさせちゃってごめんなさいね。一斉さんと今夜食事に行
日香里が子供の面倒を見てくれている。私は携帯を取り出して、見逃したメッセージがないか確認した。画面を開くと、日香里が私に何があったのか尋ねたメッセージ以外に、相賀の親友グループからの数十件のメッセージが届いていた。親友グループとはいえ、私は相賀と結婚した後に招待されたものだった。一方、宮坂沙織は最初からそのグループにいて、私はその時初めて、相賀に幼なじみの女の子がいることを知った。グループ内の内容は予想通り、すべて宮坂沙織の様子を心配するものだった。「沙織姫、大丈夫か?この件、絶対に一斉を許せないな。どうして沙織ちゃんをちゃんと世話してあげないんだ?」「みんな分かっ
目を開けると、白い天井と鼻を刺す消毒液の匂いがした。「相賀さん、目が覚めましたね。体調はどうですか?」看護師が私に近寄り、目の様子を確認してから血圧を測った。「相賀さん、傷口が裂けて大量出血しましたが、治療のおかげで危険な状態は脱しました。ただ、しばらくは安静に過ごして、傷口を無理に動かさないようにしてくださいね」「そうだぞ梨絵。看護師さんの言うことをちゃんと聞けよ。治療が間に合わなかったら危なかったんだからな」相賀一斉の声が隣から聞こえてきた。私が振り返ると、相賀がずっと私のそばに立っているのが目に入った。彼は私を見捨てて去ったわけではなく、ちゃんと病院まで連れて