ANMELDEN公交車上,我被人流衝到一個男人的懷裏,隨著車廂的搖晃,我被迫在他的懷裏晃動。 屬於男人的熾熱體溫和侵略性的氣息裹挾著我的神經,伴隨著一次次的身體碰撞,逐漸激起了我身體的快感。 漸漸地,我感受到臀後有什麼堅硬的東西隆起,一下下頂撞著我的腿心。 而那個人的手肆無忌憚地在我身上游移,含笑的聲音在我的耳邊響起。 ……咦,他為什麼知道我是誰?
Mehr anzeigenAku memeriksa aplikasi cek-lokasi di ponselku yang sudah aku sambungkan di ponsel milik Mas Galih, suamiku.
Dengan jantung berdebar aku perlahan memperhatikan gerak lokasi yang sedang dituju olehnya. Titiknya kini berhenti disebuah kafe di pinggir kota, aku lalu menghubungi sepupuku untuk menemaniku menuju lokasi tempat Mas Galih sekarang berada.
“Kak Yuni, lagi sibuk gak?” tanyaku saat Kak Yuni menjawab teleponku.
“Gak Mur, lagi santai, ini kan hari minggu. Ada apa?” sahutnya sambil sesekali terdengar ia menyeruput minuman.
“Bisa temani aku ke Kafe Gemilang?” Ucapku sedikit gugup.
“Boleh, emangnya kamu gak masak hari ini?”
“Bukan, datang saja dulu nanti aku ceritain!” aku tidak sabar ingin segera mendatangi Mas Galih yang ku yakini sedang bersama wanita lain.
Sambil menunggu Kak Yuni datang menjemputku, aku terus menelepon Mas Galih namun tak kunjung dijawab. Malah kini Mas Galih mematikan ponselnya, membuat jantungku semakin berdegup kencang, air mataku berhasil lolos dari mataku yang sedari tadi terbendung.
“Assalamu’alaikum… Murti..!” Kak Yuni datang dan langsung masuk ke rumahku yang tidak terkunci.
Aku dengan cepat menghapus air mataku yang tak mau berhenti mengalir meski sudah berusaha keras untuk menenangkan diri sejak tadi.
“Loh, kamu nangis? Ada apa Mur?” Kak Yuni duduk lalu memeluk tubuhku.
“Aku belum tau pasti Mas Galih dengan siapa ke kafe itu, tapi firasatku sangat kuat, Kak. Sudah puluhan kali aku meneleponnya, tapi tak pernah diangkat, tadi dia reject, lalu sekarang dia mematikan handphonenya,” Aku kembali sesenggukan.
Kak Yuni yang masih belum mengerti dengan perkataanku mencoba perlahan bertanya kembali, “Maksud kamu gimana? Firasat apa?”
“Mas Galih selingkuh, Kak!” Aku kembali tersedu.
Kak Yuni membelalak mata mendengar pernyataanku, pasalnya Mas Galih yang selama ini ia kenal bukanlah tipe lelaki seperti itu. Selama ini ia melihat rumah tanggaku dan Mas Galih selalu bahagia dan harmonis.
“Kamu yakin, Mur? Apa Galih tega melakukan itu? Dia kancinta banget sama kamu,” kening Kak Yuni berkerut, namun ia terus mengelus punggungku agar aku tenang.
“Aku yakin kak, ayo kita lihat dia disana kalau kakak gak percaya sama aku!” Aku sudah mengetahui perselingkuhan Mas Galih dengan wanita ini bahkan sejak sebelum kami menikah, namun aku merahasiakan hal ini dari semua orang, terutama keluargaku.
Dengan jantung yang kian bergemuruh, Aku pergi ke lokasi dimana suamiku berada. Aku yakin saat ini Mas Galih bersama wanita selingkuhannya, karena saat sebelum dia pergi, Mas Galih menerima telepon dari seseorang yang membuatnya sangat riang, lalu bergegas meninggalkanku di rumah tanpa berpamitan.
Usia pernikahan kami kini sudah satu tahun, rahasia ini aku simpan rapat-rapat demi nama baik suamiku dan juga keluarga kami. Hari ini aku akan mengungkapkan rahasia itu di depan Kak Yuni, kakak sepupuku yang sangat dekat denganku. Dialah orang pertama yang nantinya akan mengetahui hal ini pertama kalinya.
Sesampainya di Kafe Gemilang, Aku semakin gugup dan gelisah. Kak Yuni terus mencoba menenangkanku. Melihat ekspresi wajahku yang sangat yakin dengan perselingkuhan Mas Galih, Kak Yuni pun terlihat percaya dengan apa yang ku ungkapkan.
“Mur, tenang, tarik nafas, istighfar!” titahnya.
Aku mencoba mengikuti apa yang dikatakan Kak Yuni. Kini kami berdua perlahan masuk ke dalam kafe tersebut dan menyusuri pondok-pondok lesehan yang bersekat-sekat.
Aku melihat sepasang sepatu milik suamiku yang berdampingan dengan sandal wanita di depan salah satu sebuah pondok lesehan. Gegas aku langsung mendatangi pondok itu, tidak salah lagi, memang benar Mas Galih berada disana sedang bercumbu dengan posisi manja, merebahkan kepalanya diatas paha perempuan itu.
“Mas, kamu ngapain disini? Ayo pulang!” Aku yang tidak berdaya melihat pemandangan itu, sudah tidak bisa lagi marah. Bibirku hanya bisa mengucapkan kalimat itu.
Aku sangat terkejut, marah, kesal, kecewa, perasaanku campur aduk tidak bisa lagi dijelaskan. Meskipun aku sudah tahu kalau selama ini suamiku berselingkuh, namun baru kali ini aku melihatnya secara langsung.
Mas Galih bahkan tidak kaget melihatku datang memergokinya, begitupun dengan wanita selingkuhannya, ekspresinya sangat tenang tidak ada raut diwajahnya yang menampakan perasaan bersalah, ia malah tersenyum sinis kepadaku.
“Kamu yang ngapain disini, sana pulang!” usir Mas Galih.
Tak sadar air mata Aku luruh, aku menangis dalam hati tanpa suara dan isakan. Entah kenapa aku tidak bisa menjambak rambut wanita itu atau bahkan menamparnya begitupun dengan suamiku.
Rasa cintaku terhadap Mas Galih yang begitu besar sukses membuatku meredam amarah. Wajarkah rasa cinta yang aku rasakan saat ini? Ataukah hanya kebodohan semata? Inikah yang dinamakan cinta buta? Benar-benar membutakan segalanya sampai aku rela menahan penderitaan dan sakit hati selama satu tahun pernikahan ini.
“Galih!!! Apa-apaan kamu! Tega-teganya kamu selingkuh! Kurang apa Murti ha? Dia bahkan lebih cantik dan lebih muda dari pada wanita murahan ini!!” hardik Kak Yuni yang tak bisa menahan emosi melihat perbuatan suamiku.
Galih memandangku dan Kak Yuni dengan tatapan acuh, tersenyum miring kepada kami, begitupun dengan wanita itu. Wajahnya memang tampak lebih tua dari pada Mas Galih, namun ku akui, wanita itu memang sangatlah cantik. Mas Galih seperti sedang tidak sadar dengan situasi saat ini.
“Mas, ayo pulang!” ajakku dengan suara serak.
Namun Mas Galih tak menanggapi, ia bahkan masih dalam posisi berbaring dalam pangkuan wanita selingkuhannya.
“Keterlaluan! kalian berdua memang bukan manusia!!!” bentak Kak Yuni lagi yang tak bisa menahan amarahnya.
Kemudian ia mendekati wanita itu yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum kecut. Tanpa pikir panjang Kak Yuni langsung menarik rambut si wanita.
“Dasar wanita murahan! Gak tau diri! Tua bangka gak tau malu! Ini suami orang, jelas-jelas istri sahnya datang tapi kau malah gak peduli! Gak ada sedikitpun rasa bersalahmu, ha?” bentak Kak Yuni geram.
Mas Galih sontak bangkit dari rebahnya lalu menepis tangan Kak Yuni dengan tatapan membunuh.
“Lepasin! Kau siapa ikut campur urusanku ha? Pergi sana!” hardik Galih kepada Kak Yuni.
Kak Yuni hanya bisa menggeleng kesal, ia tak menyangka Mas Galih yang selama ini ia anggap seorang suami yang baik dan setia nyatanya berselingkuh terang-terangan di depanku.
Tangis ku pecah saat melihat kejadian di depan mataku, ketika suamiku lebih membela sang selingkuhan.
“Gak nyangka kakak Gas, liat kelakuan kamu kayak gini apalagi gara-gara membela dia kamu sampai berani membentak kakak.” Lirih Kak Yuni.
Sementara wanita selingkuhannya itu masih sibuk membenarkan rambutnya yang kusut akibat ditarik oleh Kak Yuni.
“Aku bukan perempuan murahan seperti yang kau ucapkan tadi! Galih sendiri yang memintaku untuk menjadi wanita simpanannya, dan kami saling menyukai,” ucap wanita itu dengan santai tanpa rasa bersalah.
“Hah, akhirnya kau bersuara. Tapi, apa tadi? Kau bilang bukan perempuan murahan? Lalu kau mengaku sebagai simpanan? Hahahah konyol sekali. Ini nih tandanya kalau orang gak pernah sekolah,” cibir Kak Yuni.
“Kak Yuni! Cukup kak! Ini bukan urusan kakak, gak usah ikut campur urusan rumah tanggaku! Sekarang silahkan kakak pergi, bawa Murti pulang!” bentak Mas Galih dengan tatapan tajam kepada Kak Yuni, rahangnya mengeras sambil mengepalkan tangannya.
Orang-orang dikafe sudah sejak tadi memperhatikan kejadian ini, beberapa dari mereka saling berbisik dan ada juga yang diam-diam merekam dengan ponselnya. Mungkin bagi mereka hal seperti ini adalah tontonan seru.
“Sudahlah kak, ayo kita pulang, percuma kita berdebat disini, yang ada kita menjadi tontonan orang-orang dan Mas Galih juga lebih membela wanita itu,” Aku mulai gerah dengan keadaan di kafe dan merasa malu.
“Mohon kepada sesiapa yang merekam, Hapus sekarang atau aku akan panggil polisi!” ancam Kak Yuni kepada para pengunjung yang menyaksikan perseteruan kami.
Seketika semuanya kembali ke dalam pondok dan beberapa kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Betapa sakit hati dan malunya Aku, kejadian ini disaksikan oleh banyak orang, dan aku bahkan tidak mendapat perlakuan baik dari suamiku sendiri, aku mengharap setidaknya Mas Galih merasa bersalah dan menjelaskan kenapa dia bisa bersama wanita itu lalu meminta maaf dan mengejarku ketika pergi.
Namun nyatanya Mas Galih lebih memilih membela wanita itu dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaanku sebagai istri sahnya.
「沈瑤微,記住這種感覺。」「記住,是誰……讓你變成了這樣。」10我恨他,恨他的霸道,恨他的無恥,恨他把我變成了一個連自己都感到陌生的、放蕩的女人。可我,又無可救藥地,愛上了這種感覺。愛上了他帶給我的,那種遊走在禁忌邊緣的、極致的刺激和快感。我的身體,已經徹底被他開發,被他馴服。只要他輕輕一碰,我就會潰不成軍。我開始期待每一次和他見面,期待他對我做那些羞恥又過分的事情。我甚至開始嫉妒。嫉妒那些能光明正大站在他身邊的女人,嫉妒她們能擁有他的全部。而我,只是一個見不得光的地下情人。不,連情人都算不上。我們之間,甚至沒有一句關於「愛」的承諾。終於,在一次他以「輔導作業」為名
「比如……」謝承澤的目光,緩緩下移,落在我因為緊張而微微起伏的胸口上。我的睡衣很薄,還是V領的,此時此刻,正春光乍洩。他喉結滾動了一下,聲音變得有些沙啞。「比如,讓我看看,沈老師你……有沒有在好好養病。」說著,他的手,就順著我的衣領,探了進去。「不要!」我驚呼一聲,下意識地想要抓住他的手。可他的動作更快。在我反應過來之前,他已經精準地,握住了那片柔軟。「嗯,看來恢復得不錯。」他一本正經地評價道,手上的動作,卻絲毫沒有停下來的意思,「很有彈性。」我感覺自己全身的血液,都衝上了頭頂。羞恥、憤怒、還有一絲絲……被他玩弄於股掌之間的,變態的快感。「謝承澤,你混蛋!」我用盡全身力氣
他……他怎麼會找到這裡來?!我像一隻受驚的兔子,從沙發上彈了起來,手足無措地看著門口。「沈老師,開門。」謝承澤的聲音裡,帶著一絲不容拒絕的威嚴,「曉星已經三天沒去上學了,我這個做父親的,總得來關心一下,他的老師是不是也生了同樣的病。」他的話,像一把錘子,狠狠地砸在我的心上。我這才想起來,我請了病假,謝曉星那個小魔王,肯定也趁機在家「養病」了。我不能再躲了。我深吸一口氣,走過去,打開了房門。門外,謝承澤穿著一身剪裁得體的休閒裝,手裡提著一個果籃,正似笑非笑地看著我。他的目光,像X光一樣,將我從頭到腳掃視了一遍,最後,落在我那件因為沾了泡麵湯而濕了一大片的睡衣上。「看來,沈老師病
眼淚在眼眶裡打轉,我死死地咬著下唇,不讓它掉下來。屈辱、憤怒、無助……種種情緒交織在一起,像一張密不透風的網,將我牢牢困住。我感覺自己就像砧板上的魚,只能任由他為所欲為。5謝承澤的手,像一條滑膩的蛇,在我腰側的皮膚上游走。他的動作很慢,帶著一種近乎折磨的挑逗。我能清晰地感覺到,他粗糙的指腹,在我細膩的肌膚上,劃過一道道火辣辣的軌跡。每一次觸碰,都讓我身體裡的血液,不受控制地沸騰起來。我痛恨自己這不爭氣的身體。明明心裡怕得要死,可身體卻可恥地,起了一絲絲異樣的反應。那是一種陌生的,卻又無比誘人的酥麻感。尤其是在他手指不經意間,觸碰到我肋骨下方最敏感的那塊軟肉時,我差點沒忍住