LOGIN母は私のクラスの担任で、私を見せしめにすることに異常なまでの執着を持っていた。 私が惨めな思いをすればするほど、生徒たちは怯え、自身の威厳が高まると固く信じているのだ。 授業中にクラスメイトに消しゴムを回しただけで、母は全生徒の目の前で、私の顔が腫れ上がるまで平手打ちをした。 休み時間にこっそり菓子を口にした時は、教壇に引きずり出され、口を針で刺されて血まみれにされた。 その後、別の生徒が生活指導主任に異性交遊で捕まった際、母はそれが私だと決めつけ、問答無用で私を廊下に引きずり出し、服を剥ぎ取った。 そしてそのまま主任のオフィスへ向かい、愛想笑いを浮かべてこう言った。 「高橋主任、申し訳ありません。私の教育が行き届いていないばかりに。ご安心ください、今回は深月紬(みづき つむぎ)にきつく罰を与えますから!」 生活指導主任は眉をひそめた。 「深月?交際していたのは彼女じゃありませんよ」 母は一瞬呆然としたが、全く気にする素振りも見せずに言った。 「ああ、いいんです。見せしめみたいなものですから。どうせ紬は普段からミスばかりしていますし、一回くらい罰が増えても変わりませんよ」 しかし、母は知らない。殴られるたびに、私が心の中で密かに減点していたことを。そしてつい先ほど、その減点が100点に達したことを。 私は躊躇うことなく、4階の廊下の窓から身を投げた。 お母さん、死をもって示す威厳は、これで十分?
View MoreDaru meluruskan letak dasinya menghadap sebuah kaca besar yang terletak di ujung kamarnya.
Harus simetris dan presisi. Sesuai dengan motto dan kebiasaannya selama ini. Ponselnya sudah sejak tadi bergetar di atas meja nakas. Ibunya memang selalu tak sabar meski ia hanya terlambat semenit dua menit saja turun ke ruang makan."Pasti yang kemarin lagi dibahas," gumam Daru meraih ponsel dan tabletnya sekaligus.Perlahan ia menuruni tangga menuju lobby utama rumahnya. Para pegawai tak satupun kelihatan di sana. Pasti ulah ibunya lagi yang doyan mengomeli pembantu sampai-sampai semua pegawainya selalu mengulang pekerjaan mereka agar terlihat tak bermalas-malasan."Kok lama banget turunnya? Mama mau pulang, gak bisa lama-lama nginep di sini terus. Papa kamu sendirian di rumah." Anneke menyorongkan piring berisi dua helai roti yang telah dioleskannya unsalted butter pada Daru."Kalau mau pulang, ya pulang aja Ma. Aku dan Bayu gak apa-apa kok," tukas Daru seraya melipat rotinya."Makan yang bener," ucap Anneke."Bayu mana?" tanya Daru."Susah bener bangunin anak itu untuk ke sekolah aja. Terlalu dimanja, anak kamu itu kayak kurang perhatian. Bapaknya diminta nikah lagi, susahnya minta ampun. Sudah bertahun-tahun Ru... Istri kamu udah tenang di sana, kamu harusnya bisa lebih dewasa bersikap. Semua demi anak kamu. Dia perlu seorang wanita sebagai ibu, bukan cuma seorang istri untuk kamu aja." Omelan Anneke yang rasanya sudah ratusan kali didengar Daru kembali terdengar lagi itu.Seminggu dua kali Anneke memang sengaja menginap di rumah anaknya yang berstatus duda untuk menemani sang cucu yang berusia 12 tahun."Aku males sekolah hari ini!" seru Bayu yang tiba-tiba datang dengan wajah cemberut dan menarik kursi di seberang ayahnya."Kenapa lagi kamu?" tanya Daru dengan wajah kesal. Anaknya itu benar-benar banyak tingkah belakangan ini."Aku dapet surat panggilan orang tua, tapi aku nggak mau Oma atau sekretaris Papa yang dateng. Aku mau Papa yang dateng ke sekolahku dan ngomong ke guru kalo aku gak suka di kelas itu. Aku gak ada temen. Semua temenku di kelas B. Kalo mereka gak mau pindahin aku, aku mau pindah sekolah!" tegas Bayu dengan wajah cemberut."Udah berapa kali kamu pindah sekolah? Penyelesaian masalah kamu itu bukan pindah sekolah! Papa gak bisa ke sekolah kamu hari ini, nanti papa minta Tyas yang dateng ke sana beresin masalah kamu. Punya anak satu aja susah banget ngaturnya!" Daru meletakkan sisa rotinya dan memandang tajam pada Bayu."Kamu ini kebiasaan, selalu marah-marah! Anak kamu itu butuh perhatian, bukan sekedar uang. Harusnya kamu ngerti itu, makanya Mama nyuruh kamu nikah!" sergah Anneke."Daru lagi sibuk Ma, belum sempet mikirin itu. Masih banyak kasus klien yang belum selesai. And actually, I don't need that (Dan sebenarnya, aku tidak butuh itu)""Tapi kamu kan sudah sempet ketemu Renya dua kali, masa setelah itu nggak ada kabar lagi tante Sisca juga nanyain ke Mama. Akhir minggu ini kamu dateng deh ke rumah mereka. Ajak jalan kek,makan atau apa. Kamu kan pria dewasa. Masa berduaan dengan wanita nggak ada getaran, apa-apa sama sekali. Aneh kamu ini," omel Anneke lagi."Ayo Bay, kali ini papa yang akan datang ke sekolah kamu, cepat ambil tas kamu, kita berangkat sekarang!" Daru bangkit dari duduknya dan mengangguk ke arah Bayu."Yes!" seru bocah berusia 12 tahun itu. Bayu langsung melompat dari duduknya dan berlari kembali ke kamarnya yang terletak di dekat ruang keluarga."Ma aku berangkat sekarang ya. Harus berangkat lebih awal karena bakal mampir ke sekolahannya Bayu. Entar balik ke rumah, dijemput supir kan? Hati-hati di jalan ya, makasih udah nemenin Bayu dua hari ini." Daru mendekati Anneke dan mengecup pipi wanita itu sekilas.Daru lebih memilih datang ke sekolah Bayu dan memenuhi permintaan anaknya itu ketimbang mendengarkan ucapan ibunya yang sudah diulang ratusan kali. Soal Renya.Renya adalah seorang wanita berusia 26 tahun, anak seorang rekan ibunya. Wanita itu telah dua kali keluar makan malam bersama Daru. Ia telah mencium bibir perempuan manis itu pada kencan pertemuan pertama mereka dan rasanya biasa saja buat Daru.Dan pada kencan kedua ternyata Renya lebih agresif dari yang Daru kira. Wanita itu lebih dulu mencium dan menjalari tangannya di tubuh Daru.Sebagai laki-laki, tentu saja Daru suka. Tapi seperti pada laki-laki umumnya, hati dan hasrat adalah dua hal yang berlainan.Meski Daru menyukai saat-saat ibunya yang mendampingi Bayu di rumah, tapi di lain sisi Daru juga merasa tertekan jika terus-terusan berada di dekat ibunya dan dirongrong soal perjodohannya bersama Renya.Daru merasa ia butuh lebih banyak waktu untuk meyakinkan hatinya. Cintanya pada Nadya belum bisa dikalahkan oleh kehadiran Renya di dekatnya. Getaran itu belum cukup, bahkan bisa dibilang belum ada."Nanti papa harus ketemu siapa Bay?" tanya Daru sesaat sebelum mereka tiba di Right Internasional School."Ketemu Miss Ella, dia guru BK yang mendampingi lima anak termasuk aku. Supaya Papa nggak malu-maluin di sana, aku kasi info kalo di sekolahku itu, setiap guru menjadi pendamping bagi lima orang murid. Jadi bukan karena aku bermasalah makanya aku dikasih guru pendamping," terang Bayu pada ayahnya yang betul-betul tak pernah menginjakkan kaki di sekolah anaknya selain hari pertama pendaftaran enam tahun yang lalu."Oke--oke," potong Daru tak sabar. Mobil yang dikemudikannya telah memasuki sebuah halaman yang seluruhnya ditutupi oleh bata."Oke, sekarang papa harus ke mana?" tanya Daru sambil menekan tombol hand break pada dashboard tengah."Ikut aku," ujar Bayu langsung membuka pintu mobil dan melompat keluar.Daru mengikuti langkah Bayu menuju pintu besar mengarah je sebuah lorong yang di sebelahnya terhampar sebuah lapangan berumput yang sangat asri.Bayu terus berlari dan Daru dengan santai mengikuti langkah kecil anaknya yang tergesa-gesa."Ini ruangan Miss Ella, aku aja yang ketuk." Tanpa berkata dua kali Bayu langsung mengetuk pintu di depannya."Masuk," sahut suara dari dalam. Mendengar jawaban itu, Bayu menekan handle dan mengayunkan pintu ke arah dalam."Miss Ella, ini saya sudah bawa Papa saya. Gimana? Hari ini saya udah bisa langsung pindah ke kelas B kan?" tanya Bayu terburu-buru.Daru melangkah masuk ruangan dan terlebih dulu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.Lalu pandangannya terhenti pada seorang wanita muda yang berada di balik meja. Wanita itu adalah Ella, wanita 20 tahun yang sedang magang di sekolah itu."Ehem!" Daru sedikit berdehem untuk memberi isyarat kepada guru BK itu agar segera menoleh kepada mereka yang baru datang.Kepala wanita itu langsung mendongak menatapnya. Mata wanita itu terlihat membulat seolah bertemu dengan seseorang yang dikenalnya."Hmmm... Bayu? Ini..." Ella mengalihkan pandangannya pada Bayu yang telah berdiri di sisi kiri Ella."Papaku Miss, gimana? Aku bisa langsung ke kelas B nggak?" Bayu mengulang pertanyaannya. Ella menatap bocah laki-laki itu dengan senyum termanisnya.Hampir saja ia mengira pria yang baru saja masuk bersama muridnya itu adalah seorang paman yang menemani keponakannya. Orang tua Bayu terkenal karena ketidak-pernah-hadiran mereka di sekolah anaknya."Kamu sekarang masuk ke kelas A dulu ya, Miss ngobrol dengan Papa kamu sebentar. Nanti Miss kabari kamu selanjutnya bagaimana. Setuju?" tanya Ella menyodorkan kelingking kanannya ke arah Bayu.Bayu segera menyambut dengan mengaitkan kelilingnya, "janji jangan lama!" tukas Bayu."Aku janji sebagai seorang teman," balas Ella. Bayu tersenyum kemudian berlari ke luar ruangan."Silakan duduk Pak--" Menyadari bahwa ia tak mengetahui nama orang tua muridnya, Ella sibuk meraba laci di dekat kaki kanannya untuk mencari berkas kesiswaan."Daru," jawab Daru singkat kemudian menarik kursi di seberang meja Ella."Pak Daru. Pak Handaru," ulang Ella saat telah berhasil menemukan sebuah map dan membaca isinya. Ia kemudian mendongak dan tersenyum menatap pria di depannya."Yup," jawab Daru singkat. Bertele-tele sekali pikirnya. Hal seperti inilah yang membuatnya malas menghadiri acara-acara kesiswaan sejak dulu."Bayu mendesak saya agar kembali dipindahkan ke kelas B mengikuti teman-teman lamanya. Padahal maksud sekolah baik, agar dia lebih konsentrasi dalam belajar. Selama ini dia terlalu banyak berbuat iseng jika bersama teman-temannya itu," ujar Ella."Lalu?" tanya Daru."Bayu kurang perhatian, saya ingin menyarankan agar kedua orangtuanya lebih sering berkomunikasi dengannya. Mungkin untuk hal seperti ini kehadiran ibu Bayu lebih cocok," terang Ella."Ibunya sudah meninggal," ujar Daru."Maaf... Kalau saya boleh tau, sejak kap--""Sudah tiga tahun," jawab Daru. Benar-benar bertele-tele, ia sekarang sedikit menyesal datang ke sekolah itu. Guru perempuan itu sepertinya lebih tertarik dengan urusan pribadi keluarganya saja."Baik, kalau begitu saya bisa memasukkan kemungkinan bahwa sikap Bayu selama ini bisa jadi karena ketidakhadiran sosok ibu dalam tumbuh kembangnya.""Bisa jadi," tukas Daru."Tapi apa tidak ada sosok wanita lain yang saat ini bisa menggantikan sosok ibu baginya? Maksud saya bisa saja Bayu mendapatkan perhatian dari wanita itu," ujar Ella.Ella bisa merasakan kalau orang tua muridnya itu sedang menatapnya tajam. Ia sadar kalau pertanyaannya terlalu lancang, tapi Ella memang penasaran.Ini tak ada kaitannya dengan soal Bayu, ia benar-benar hanya penasaran. Ayah Bayu yang ternyata duda tampan namun berwajah dingin ini, membuatnya penasaran."Selain neneknya, ibu saya, Bayu tak ada dekat dengan wanita lain yang bisa dijadikannya sosok model seorang ibu. Kenapa dengan pertanyaan anda Miss? Apa itu begitu penting? Atau anda sendiri berminat menjadi sosok yang bisa dianggap seorang ibu oleh Bayu?" Daru menatap lurus pada bola mata coklat yang sedang memandang serius padanya.Tanpa polesan make up tebal, wanita bermulut lancang di hadapannya itu memang bisa dikatakan cantik sekali. Pasti berusia setengah dari usianya sendiri.Daru sudah sering melihat tatapan serupa yang sedang dilontarkan wanita ini padanya.Ella, atau siapapun namanya. Anak ingusan yang sedang berlagak menjadi seorang wanita dewasa di depannya pikir Daru.To Be Continued.....@juskelapa_警察署。当直の警察官は、心神喪失したような様子でありながらも断固とした口調の女性を前に、根気よく彼女の話に耳を傾けた。「被害届を出します!教え子の白石琴音が名誉毀損と虚偽の告発を行い、間接的に私の娘、深月紬に重傷を負わせたとして告訴します!」母は感情を失ったように、事の顛末をすべて話し終えた。警察官は事態の深刻さを認識し、詳細な記録を取り、直ちに防犯カメラの映像の確認と証拠収集に乗り出した。警察署を後にして、母は再び学校へと戻った。まっすぐ校長室へ向かい、用意していた退職届を机の上に置くと、そのまま立ち去った。校長室を出た彼女は、見慣れた自分のクラスへと向かった。ちょうど休み時間だったが、校内には異様な静けさが漂っていた。紬が飛び降りたという知らせはすでに広まっており、生徒たちは三々五々群れを成ってひそひそと話し合っていた。彼女の姿を見ると、複雑な視線を向けながら次々と道を空けた。「深月さん、本当に死んじゃったのかな……」「深月先生がごり押しするからだよ。娘だって知らなきゃ、仇かって思うくらいだったもん」こうした話し声を聞きながら、母の心臓は無数の針で刺されるように痛んだ。母の視線が教室を巡り、琴音の席で止まった。琴音は顔面を蒼白にし、目を泳がせ、ペンを握りしめる指の関節は白くなっていた。母は中には入らず、いつものように説教をして威厳を示すこともしなかった。彼女はただ静かにドアの前に立ち、あの空っぽの席に視線を落としていた。それは紬の席だった。机の上はきれいに片付いており、まるで主が一時的に席を外しているだけのようだった。だが彼女は分かっていた。自分の娘は、もう二度と戻ってこないかもしれないと。再び涙が堰を切ったように溢れ出し、母は口を覆って背を向け、立ち去った。後には死に絶えたような静寂の教室が残された。それからの日々、母の世界には病院と娘しか存在しなくなった。彼女は仕事を辞め、人間関係の大部分を断ち切り、一日中集中治療室の外で付き添った。来る日も来る日も、彼女の声は掠れてからほとんど出なくなり、また少しずつ回復していった。目の下には常に隈があり、急速に痩せ細り憔悴して、まるで20歳も老け込んだかのようだった。警察と学校の調査結果が次々と出始めた。複数の生徒の証言に
空が白み始めた頃、ようやく手術室のドアが開いた。執刀医が疲労の色を濃くして出てきて、駆け寄ってきた彼らに言った。「手術は一応成功し、命は取り留めました。しかし、依然として状況は非常に厳しいです。頭部の損傷がひどく、意識が戻るかどうか、戻ったとしてどのような状態になるかは未知数です。他の臓器の損傷も、回復には長い時間がかかるでしょう。それに……」医師は立っているのもやっとの母に視線を向け、皮肉めいた口調で言った。「患者の生きようとする意志が極めて弱いです。一体、彼女がこれまでに何を背負わされてきたのかは分かりませんが」命は助かった。だが、「意識が戻るかどうか」「生きる意志が弱い」という言葉が、氷柱のように母の心に突き刺さった。「生きる意志が弱い……どうして……」その直後に押し出されてきた移動式ベッドに、彼女はよろめきながらすがりついた。一晩中泣き明かしたため目は血走り、目は針で刺されるように痛んだが、それでもとめどなく涙が溢れ出た。様々な管や医療機器に囲まれた紬の小さな体を見ると、顔色は雪のように白く、呼吸は微弱で、今にも消え入ってしまいそうだった。母は震える手を伸ばし、娘の顔に触れようとしたが、そのひんやりとした肌に指先が触れた瞬間、火傷でもしたかのように手を引っ込めた。触れるのが怖かった。自分が触れれば娘を汚してしまい、更なる苦痛を与えてしまうのではないかと恐れたのだ。「紬……お母さんはここにいるわ……お母さんが間違っていた……目を覚ましてちょうだい。お母さんを殴っても、罵っても、どうしたっていいから……ただ目を覚まして……」彼女はベッドの傍らにひざまずき、むせび泣きながら、何度も何度も懺悔の言葉を繰り返した。しかし、ベッドに横たわる少女は何の反応も示さなかった。副校長と女性教師は彼女を隣の家族控室に支えて連れて行き、少し休むように勧めた。母は隅の椅子に丸く縮こまり、虚ろな目をしていた。突然、彼女は何かを思い出したように勢いよく顔を上げた。血走った目に、恐ろしい光が宿っていた。「白石琴音……」彼女はその名前を掠れた声で吐き出した。その声には骨の髄まで染み込んだような憎悪が込められていた。「あの子よ!あの子が紬に濡れ衣を着せたの!あの子があんなことを言ったから!あの子さえいなければ…
中央病院。救急救命室の外で点灯する赤いランプが目に痛い。母は廊下の冷たいベンチにへたり込み、魂を抜かれたように、固く閉ざされたドアを瞬きもせずに見つめていた。副校長は手続きに行き、女性教師が母に寄り添って慰めの言葉をかけようとしたが、今の状況ではどんな言葉も空々しく無力であることに気づいた。時間が過ぎていく。その一秒一秒が身を焼くような苦痛だった。どれだけの時間が経っただろうか。救命室のドアが開き、険しい表情をした医師が出てきた。母はバネのように飛び起き、駆け寄って医師の腕を掴んだ。「先生!娘はどうですか?無事なんですか?!」医師は目の前の惨憺たる有様で、狂気を宿した目をしている女性を見て、沈んだ声で言った。「負傷された深月紬さんのお母様ですね?」「はい!私が母親です!」「非常に危険な状態です」医師の口調は厳しかった。「高所からの転落により、多発性骨折、内臓出血、重度の頭部損傷が見られます。バイタルサインの安定に努めましたが、まだ危険な状態を脱しておらず、緊急手術が必要です。それから……」医師は言葉を区切り、母を見つめた。「負傷者の体に、複数の古い傷跡が見つかりました。顔面の軟部組織の度重なる損傷の痕や、口腔内にも異常な治癒をした傷口があります。これらは……一体どういうことですか?」母の体は激しく震え出し、口を開けても一言も発することができなかった。それらの傷跡は……すべて彼女の「作品」だった。副校長が一歩前に進み出た。その顔色は暗かった。「先生、まずは命を助けてください!他のことは後回しにしましょう!」医師は彼らを一瞥し、手術の同意書を差し出した。「サインを。手術の危険性は非常に高いです、覚悟しておいてください」母はペンを受け取ったが、手が震えて全く文字を書くことができなかった。ペン先が紙の上で乱れた歪な軌跡を描き、最後は副校長が彼女の手を握るようにして、ようやく「深月芳江(みづき よしえ)」という文字を書いた。「出血量が多いため輸血が必要です。現在血液センターに手配しています」医師はそう付け加えると、向き直って再び救命室へと戻っていった。母は床に滑り落ち、冷たい壁に背を預けたまま、虚ろな目をしていた。「古い傷跡」……「複数」……彼女が紬の体に叩き込んだ平手打ちも、
校舎の前の緑の芝生は、目に刺さるような赤色で大きく染まっていた。すでに規制線が張られ、白衣を着た救急隊員たちが懸命に処置を行っている。ストレッチャーの傍らには、顔面を蒼白にさせた数名の教師と、急報を聞いて駆けつけた学校の幹部たちが取り囲んでいた。母は人混みをかき分け、ストレッチャーの上に乗せられた見慣れた小さな人影を目にした。深月紬はそこに静かに横たわっていた。制服の上着ははだけ、その下に着ている薄手の服は土埃と血まみれになっている。彼女の顔の腫れはまだ引いておらず、口角には乾いた血の跡が残っていた。両目は固く閉じられ、顔色は紙のように白い。汗と涙に濡れた何筋かの黒髪が額に張り付いている。とても静かで、恐ろしいほどに静かだった。「紬!紬!!」母はストレッチャーのそばに崩れ落ち、娘に触れようと手を伸ばしたが、その手は激しく震え、宙に浮いたまま下ろすことができなかった。「紬、お母さんを見て!お母さんを見てちょうだい!」救急隊員が彼女を制止した。「お母さん、落ち着いてください!負傷者をすぐに病院へ運んで救命処置を行う必要があります」「救命処置……そう、救命処置!救急隊員さん、お願いです、どうか娘を助けてください!絶対に助けてください!」母は藁にもすがる思いで一人の隊員の腕を掴み、爪が白衣に食い込むほどの力で懇願した。「この子を死なせないで!お願いだから助けて……」その声は悲痛を極め、顔は涙でぐしゃぐしゃになっていた。朝綺麗にセットした髪は乱れ果て、目は充血し、まるで狂人のようだった。先ほどまでオフィスにいた、あの冷静で冷酷ですらあった「深月先生」の面影など微塵もなかった。救急車のサイレンが甲高く鳴り響き、ストレッチャーが素早く車内へと運び込まれた。母も一緒に乗り込もうとしたが、学校の幹部に止められた。「深月先生、落ち着きなさい!まずは自分の怪我の手当てをして。病院へは誰かを付き添わせるから。今のあなたの状態では……」母はヒステリックに泣き叫んだ。「止めないでください、紬は私の娘なんです、行かなきゃいけないんです!私が悪かったの、全部私が……」数名の幹部たちは母の様子を見て、重いため息をついた。高橋主任は見るに耐えかねて呟いた。「こんなことになるなら、最初からあんなことをしなければよ
私、深月紬(みづき つむぎ)は中間テストの答案用紙を手に教室へ入った。右頬はひどく腫れ上がり、口角にはうっすらと血が滲んでいる。周囲のクラスメイトたちがひそひそと囁き合う。「深月、また殴られたんだって。数学が満点じゃなかっただけで。可哀想に……」白石琴音(しらいし ことね)は呆れたように目を剥いた。「何が可哀想なの?お母さんが担任で、一番いい環境にいるのに満点も取れないんだから、殴られて当然でしょ?」私は立ち止まり、込み上げてくる辛い感情を飲み込んで、自分の席へと向かった。先ほど職員室で、母は他の教師や生徒の目の前で私の顔を平手打ちし、腫れ上がらせたのだ。「98点?
母はもう、私を一瞥することもなかった。先ほどの暴力で少し乱れた自分の髪を整え、服のシワを伸ばすと、その顔には再び深月先生としての厳粛さが戻っていた。彼女は踵を返し、生活指導主任のオフィスの方へ向かって歩き出した。私は恐怖で震え上がり、心臓が切り刻まれるように痛んだ。なぜ私がこんな目に遭わなければならないのか、全く理解できなかった。なぜ私の尊厳は、ただ彼女の威厳を保つための道具でしかないのか。どれくらいの時間が経ったのか分からない。ほんの数分だったかもしれないし、一時間が流れたのかもしれない。左腕はまだ動ける。私はゆっくりと、極めてゆっくりと震えが止まらない手を持
世界が瞬時に反転し、轟音が鳴り響いた。激痛が爆発し、頬から一気に頭蓋骨全体へと広がっていく。目の前が真っ暗になり、鼻と口角から同時に温かい液体が溢れ出した。血の生臭い鉄の味が口いっぱいに広がる。「まだ口答えする気?!まだ嘘をつく気?!」母の声は甲高く変ずり、私の前髪を強く掴み、まるで死人を引きずるように、教壇の方へよろめく私を無理やり引っ張っていった。頭皮が引き裂かれるような痛みが走ったが、私にはもう何も感じられなかった。ただ、顔の火照るような痛みと、圧倒的な屈辱感だけがあった。「全員、よく見なさい!」母は私を教壇の硬い角に強く打ち付けた。腰を強打し、私は苦悶の声を
夜、家のドアを開けると、見慣れた食事の匂いが漂ってきた。リビングには暖かなオレンジ色の明かりが灯り、母はダイニングテーブルのそばに座っていた。目の前にはご飯が二杯、生姜焼きと味噌汁が並べられている。私はひどく腫れた右頬と口角の血の跡を暗がりに隠したくて、音を立てずに靴を脱いだ。しかし、私が一歩踏み出した途端、母が顔を上げた。「お帰り」その声は相変わらず厳格だったが、ほんのわずかな気遣いが混じっていた。「顔、まだ痛む?」私は目を伏せ、首を横に振ってからテーブルの反対側に座り、少しずつご飯を口に運んだ。見た目も味も良い料理だが、口に入れると拷問のように感じられた。咀
reviews