LOGIN強気な元妻は夢にも思わなかっただろう。 彼女はオークションで幼なじみに玉のペンダントを買っただけで、それを理由に、俺は彼女と離婚し、娘を連れて家を出た。 その玉のペンダントが、俺の父の遺品だったからだ。 そしてその幼なじみは、俺の目の前でその玉のペンダントを完全に壊してしまった。 再会したのは、三年後のジュエリーデザイン大会だ。 元妻は俺の手首をつかみ、歯を食いしばって叫んだ。「三年間も行方をくらましたよ。これだけ拗ねて、もう十分でしょう?百個のペンダントを弁償するから、一緒に家に帰って!」 次の瞬間、娘が彼女の服の端をつかんだ。「おばさん、どいてくれない?ママがパパを探してるの」
View More"Malam ini adalah malam pertamaku, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini..."
Alesha Alister, gadis cantik puluh dua tahun yang kini duduk menekuk kedua lututnya di atas ranjang kamar dan memeluknya dengan wajah frustrasi, juga perasaan was-was tak menentu.Baru beberapa jam yang lalu ia menyelesaikan acara pernikahan dengan laki-laki pilihan sang Ayah. Lebih tepatnya bawahan Ayahnya, seorang pahlawan kelautan, perwira hebat yang digandrungi banyak wanita karena kehebatannya, dia adalah seorang Kapten Oliver Vorgath."Tidak, aku tidak boleh takut. Jangan..."Alesha menepuk dadanya berusaha tenang. Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki berpakaian stelan seragam putih khas perwira laut lengkap dengan lencana dan dan sarung tangan yang masih terpakai, dia membuka pintu kamar.Perlahan Alesha turun dari atas ranjang, mendekati suaminya."A-apa semua tamunya sudah pulang?"Alesha mendekati sang suami barunya, laki-laki berkulit putih, pemilik wajah aristokrat, dengan rambut pirangnya dan mata sebiru lautan. Sosok Kapten Oliver adalah bentuk kesempurnaan.Namun laki-laki itu tidak menjawab, dia melanjutkan melepas sarung tangan putih dan menset kemeja putihnya."Biar aku bantu," pinta Alesha.Begitu dia mendekat dan hendak membantunya, pergerakan Alesha langsung terhenti saat Oliver menatapnya tajam dengan iris birunya."Apa kau belum puas dengan pernikahan ini, Alesha Alister?" Oliver menatap dingin wajah gugup Alesha.Alesha menelan ludah dengan tubuhnya yang menggigil mendengar suara dingin Oliver. Tangan Alesha berhenti di udara ketika dia ingin menyentuh suaminya."Ma-maafkan aku, Kapten Oliver.""Menikahimu atas nama perintah dan sebuah tugas, kau pikir aku kesenangan dengan hal konyol ini," desis Oliver dengan tatapan intimidasi.Kepala Alesha menggeleng cepat."Kapten Oliver, a-aku tidak bisa mengelak keinginan Ayahku. Maaf membuatmu merasa terpaksa menerimanya, tapi aku sungguh tidak bisa menghindari semua ini."Alesha dan keluarganya akan mendapat masalah besar jika Alesha tidak segera menikah.Hingga sang Ayah memerintahkan Oliver untuk menikahi Alesha, keduanya tidak ada yang bisa mengelak atau menolak. Apalagi Ayah Alesha, sekaligus atasan Oliver memberikan ancaman keras pada bawahannya tersebut bahwa dia akan memutasi Oliver kalau dia menolak menikah dengan Alesha, hingga Oliver tak punya jalan lain.Bertahun-tahun lamanya ia berjuang keras untuk kariernya dan menjadi bawahan yang patuh pada Ayah Alesha, tapi kini ia diberikan perintah yang tidak masuk akal dan begitu menjebaknya.Dengan kedua tangan gemetar, Alesha meraih satu telapak tangan Oliver."Aku hanya ingin memenuhi keinginan Ayahku, aku berjanji padamu aku akan menjadi istri yang baik dan pasangan yang setia. Apapun yang kau inginkan, aku akan berusaha mengabulkannya. Kumohon...""Kau tidak akan tahu apa yang aku korbankan untuk menikahimu, Alesha!" desis Oliver. Alesha yang menangis, perasaan takut dan merasa bersalah menyeruak dalam hatinya.Sampai tiba Oliver mendekati ranjang, dia menyahut selimut putih di atas ranjang kamar yang bertabur kelopak mawar merah menjadi berantakan dan berserakan bagai sampah.Nyeri ulu hati Alesha, dia merasa takut melihat Oliver yang kesal dan begitu menunjukkan akan ketidaksukaannya pada pernikahan mereka."Lalu kenapa kau menerima tawaran pernikahan ini?" Alesha berdiri menatap punggung laki-laki itu.Oliver yang kesal, dia melemparkan selimut di hadapan Alesha. mata birunya menyorot tajam."Karena Ayahmu menggancamku, jabatan dan kedudukanku akan menjadi taruhannya kalau aku tidak menikah denganmu! Kau tahu betapa liciknya Ayahmu!" sinis Oliver melangkah mendekat."Aku tidak tahu apapun soal itu, Kapten Oliver. Aku... Aku akan pergi ke tempat Ayah besok pagi dan-"Ucapan Alesha terhenti saat Oliver mendekat dan menarik lengan Alesha, wajah mereka menjadi semakin dekat.Amarah membalut keduanya, tidak ada malam pengantin seperti ini. Malam ini lebih tepatnya seperti sebuah pertempuran yang Alesha rasakan."Dengar... Karenamu, aku harus meninggalkan kekasihku yang sangat aku cintai.""A-Aku sungguh minta maaf untuk itu, Oliver. Aku tidak bermaksud memisahkan kalian," cicit Alesha terisak.Air mata berdesakan di pelupuk mata Alesha, ia mengepalkan kedua tangannya di depan dada Oliver dan wanita itu menggelengkan kepalanya memberi tatapan sedih."Kau bisa meminta apapun padaku, Ayahku juga akan memberikan apapun untukmu dengan pernikahan ini. Tolong jangan begini..." Alesha memohon dengan sangat."Tak ada yang aku inginkan. Dengan pernikahan ini, kau tidak akan bahagia!" seru Oliver menekan ucapannya."Aku tidak peduli kalau memang itu akan terjadi." Alesha menggeleng-gelengkan kepalanya kuekeh. "Aku hanya ingin kau mematuhi perintah Ayahku saja. Tapi tolong, setidaknya anggap aku sebagai istrimu."Oliver tersenyum miring, satu langkah pelan mendekati istrinya. Dia mendorong tubuh Alesha ke atas hamparan ranjang. Menatapnya tajam seolah ingin menerkam, dengan posisi mengurung tubuh gadis itu.Detak jantung Alesha berpacu cepat, dia takut dengan posisi ini. Apapun yang akan Oliver lakukan, Alesha tidak akan sanggup melawannya."Kau memang istriku, tapi istri yang tidak akan pernah aku cintai.""Tak apa," lirih Alesha menatapnya berani. Kedua tangannya dicekal erat oleh suaminya ini."Hanya status, anggap aku istrimu setidaknya di hadapan orang tuaku dan semua orang, aku tidak meminta banyak hal. Cukup biarkan aku sekedar berdiri di sampingmu. Dan aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan kekasihmu."Alesha bagai tercekik mengatakannya, ia menunggu-nunggu apakah jawaban yang Oliver berikan.Terasa sesak dada Alesha saat melihat laki-laki di atasnya ini tersenyum licik dipenuhi amarah."Kau akan menyesali ucapanmu, sekaligus pernikahan ini, Alesha." Oliver berucap lirih."Tidak, aku tahu Ayahku memilihkan orang yang tepat untukki. Aku tidak akan menyesal menjadi pasanganmu," ujar Alesha berusaha meyakinkan laki-laki ini.Napas hangat laki-laki itu membuat Alesha gemetar, wajah tampan dipenuhi kekesalan, Alesha merasa berdosa dan bersalah atas semua ini.Dengan posisi mengurung tubuh Alesha di atas ranjang, Gadis itu menatapnya antara takut dan memohon, dengan wajah cantik yang dulu sempat Oliver kagumi sebelum akhirnya berubah menjadi benci."Aku berjanji untuk selalu menjadi istri yang terbaik untukmu. Aku berjanji untuk hal itu! Kumohon..."Mulut Alesha bergetar, wajah Oliver begitu dekat. Rambut pirangnya begitu lembut jatuh menyentuh kening Alesha.Tatapan mata birunya yang berubah sayu. Ibu jarinya bergerak mengusap pipi Alesha dengan ekspresi mengejek."Bahkan dengan kau menangis dan memohon, aku tidak akan pernah bisa menerimamu," desis Oliver berbisik tajam."Tidak masalah kau tidak menerimaku, tapi tolong jangan kecewakan Ayahku...""Ya, setidaknya demi jabatanku."Detik itu juga Oliver melepaskan tangan Alesha. Dia beranjak dari atas ranjang dan kembali menegakkan tubuhnya.Tatapan mata Alesha menjadi buram karena air matanya. Wanita itu meringkuk meremas sprai. Seumur hidup, Alesha tidak pernah direndahkan oleh siapapun. Tapi kini Oliver Vorgath sungguh menyakitinya.'Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bertahan dengan pernikahan seperti ini?' Alesha berputus asa atas amanat mengerikan dari mendiang suaminya.Samar-samar Alesha menatap Oliver yang kini membawa mantel tebalnya berjalan menuju pintu kamar, dia memegang gagang pintu dan hendak pergi.Sudah Alesha duga, tak akan ada malam pertama di antara mereka.Dan Oliver kini berhenti di ambang pintu, ekor matanya melirik Alesha dengan tatapan tajam."Kita memang menikah, tapi kau tidak bisa mengharapkan apapun dariku, termasuk rasa cinta!"幸枝は少し打ちひしがれ、力の抜けたため息をついた。そして顔を上げると、偶然二階の俺と視線が合った。彼女は素早く俯き、影の死角へと歩み去った。俺は赤ワインのグラスを置き、階下へ向かって歩き出した。遠くないところで、幸枝がゆっくりと長いため息をついた。「ここで何してる?」俺はわざと尋ねた。幸枝は体を硬直させた。「楠彦……」再び会った彼女の傲慢さや自己中心的な態度はほとんど消え、警戒心だけが残っていた。幸枝は俺を見つめ、乾いた唇を軽く噛んだ。「前回のこと、怪我はもう治った?」俺は首を横に振った。「優花が間に合って、怪我はしなかった」「そう……それなら良かった」沈黙の後、幸枝が突然問いかけた。「楠彦、私、間違ってた?」俺は眉を上げた。「間違ってた?何を間違ったっていうんだ?」幸枝は迷いながら答えた。「昔、安男にあんなに優しくするべきじゃなかったのかな?もしあの時、彼にあんなに優しくしなかったら、今の状況にはならなかったかも」その言葉を聞き、俺は心の中で笑った。「幸枝、俺に告白したあの日の誓い、覚えてるか?」大学を卒業した夜、彼女は俺の手を掴み、屋上に駆け上がった。彼女は聞いた。「夢は何?流れ星に向かって叫んで!」馬鹿げた行動だったが、俺は手すりを支えながら、流れ星に向かって叫んだ。「俺の夢は、父さんみたいなデザイナーになること、そして幸枝と結婚することだ!」そう言い終えると、俺は笑顔で幸枝を見た。「幸枝は?」彼女は少女らしい笑顔を見せた。「私は一生、あなたの夢を守る。あなたを一番幸せな男の子にする」俺はその通りに生きたが、彼女は約束を破った。幸枝は両手を震わせ、後悔に満ちた顔で俺を見つめた。「私……思い出したの。楠彦、私、いつから変わったんでしょう……どうしてこうなっちゃったんでしょう……」いつ変わったかなんて、俺には覚えていない。多分、彼女が安男の話を増やし始めた頃か、あるいはインスタに安男の写真を初めて載せた頃かもしれない。だが、もう関係ない。彼らは自分の報いを受けたのだから。幸枝は泣いた。これほど彼女が真摯に、素直に、そして悔しそうに泣くのを、私は初めて見た。しかし、涙で何かが変わるわけではない。おそらく近い将来、
その蹴りに、幸枝は冷や汗をかき、声を震わせて言った。「安男、自分が何をしているのかわかってるの?」安男は顔を上げ、得意げに言った。「もちろん分かってるさ。正直に言うと、ずっとお前が気に食わなかったんだ。三年間、結婚してくれと何度も頼んだのに、お前は頑なに拒否した。俺は外で愛人扱いされ、嘲笑されてきた。お前の情深さは一体誰に見せていたんだ?お前は楠彦を好きだろ?今日、奴がどうやって辱められるか、目に焼き付けろよ」安男は幸枝の頭を掴み、俺の方に向けて口角を歪めた。「さあ、始めろ」俺は淡々と迫る男たちを見据えたその瞬間、外から銃声が響いた。飛びかかってきた男たちは次々にひざまずいた。安男は瞳を大きく見開き、信じられない表情で外を見る。優花と寧々、そして警察の一団が駆け込んできたのだ。安男は本能的に逃げようとしたが、数人の警察が即座に囲み、手錠をかけた。優花は身をかがめて、俺の縄を切ってくれた。そして優しく俺を抱きしめながら言った。「怖がらなくていい。私が来たから」寧々はティッシュでそっと俺の顔を拭きながら、温かさに触れて、俺は初めて涙を流していたことに気づいた。俺は両手を伸ばし、しっかりと彼女を抱きしめ返した。あの一団と安男はそのまま警察に連行された。幸枝は蹴られた衝撃で動けず、救急車で病院へ運ばれた。優花は俺を支えて車に乗せ、安全ベルトを丁寧に締めてくれた。以前、優花が俺に贈ったカップルウォッチにはお互いの位置情報が見られる機能があった。しかし、彼女は仕事で忙しく、ほとんど見ないので、俺は少し不思議に思った。「優花、どうしてこんなに早く、俺が危険に遭っているのに気づいたんだ?」「それはね……」彼女は微笑み、俺の頭を撫でた。「あなたは途中で煮かけた料理を放置して遊びに行くような男じゃないから」「なるほどな」優花はさらに冷たい光を目に宿して言った。「安心して。あなたを傷つけた奴ら、絶対に一人残らず償わせる」優花は言った通り、翌日には裁判の判決が下った。首謀者の安男と他の連中は全員無期懲役を言い渡され、その場で執行された。噂では、安男は逮捕された夜、精神状態が不安定になり、警察が何とか落ち着かせたという。当然の報いだが、俺にはもう関係なかった。俺の休
以前、山登りに行った際、安男が酸素ボンベを失くし、無理やり俺の酸素ボンベを使おうとしたことがあった。俺が酸欠で倒れかけていたその時、幸枝は安男と楽しそうに写真を撮っていた。ほかにも数え切れないほどある。あまりに多すぎて、幸枝のもとを離れて三年経った今でも、俺は夜も昼も悪夢にうなされて目を覚ますことがある。これが幸枝の言う「愛」なのか?もしそうだとしたら、俺はその愛を決して受け入れられない。幸枝は低い声で懺悔するように言った。「楠彦、あなたがいなくなってから気づいたの。私が本当に愛してるのは、やっぱりあなただって。もう一度チャンスをちょうだい。今度こそ一生あなただけを大切にするよ。もし神原が離婚に応じないなら、海外に駆け落ちしましょう。名前も変えて、新しく会社を作ればいい」その言葉に、俺は怒りを通り越して笑いそうになった。やがて、相手にする気も失せ、立ち上がって去ろうとした。幸枝が俺の前に立ちはだかった。「本気なの、楠彦。あなたがその気なら、今すぐでも航空券を買うわ。私……」次の瞬間、冷めきったコーヒーを彼女の顔にぶちまけた。幸枝は一瞬で黙り込んだ。俺はカップを置き、冷笑した。「昔はここまで思い上がった女だとは気づかなかった。俺の目が節穴だったんだ。今後は二度と俺の前に現れるな。じゃないと、次にぶちまけるのは、コーヒーじゃ済まない」幸枝は信じられないという顔で俺を見た。俺は彼女を押しのけ、そのまま立ち去った。あのコーヒーで面目を潰されたのか、それから数日、幸枝は本当に姿を現さなかった。日常はまた平穏に戻るかに見えた。休暇最終日、研修旅行を終える寧々と、連日残業続きの優花のために、俺は久しぶりに腕を振るうことにした。料理の途中、突然電話が鳴った。「江口さん、至急の宅配です。ご本人のサインが必要です」ここ数日、ネットで買い物をした覚えはない。だが優花の荷物かもしれないと思い、火を止めて外に出た。角を曲がった瞬間、俺の鼻と口を強く塞がれ、意識が遠のいていった。次に目を覚ました時、俺は廃墟の地下室でぐるぐる巻きにされていた。目の前の男が俺を見て、残忍な笑みを浮かべた。「楠彦、ようやく俺の手に落ちたな」俺はその顔を見て、思わず息を呑んだ。「安男……何のつも
優花は市場のトップだ。その言葉は豊田グループに宣戦布告するに等しい。以後、どの会社も豊田グループと取引できなくなることを意味していた。事実上、幸枝たちを窮地に追い込んだのだ。優花は彼らを見ず、寧々の手を取り、もう一方の手で俺の腕を組んだ。目には優しさが宿っている。「準備していたケーキが溶けちゃうわ、行きましょう。まずはケーキを食べましょう」次の瞬間、幸枝が俺たちの前に立ちはだかった。幸枝は青ざめた顔で言った。「神原社長、私たちの会社は長年協力してきました。いきなり契約を解除するのは、損失が私だけではありません。江口さんには補償します。どんな条件でも応じますから、どうか再考してください」優花は眉を上げた。「どんな条件でも?」幸枝は指先を握り締め、うなずいた。優花は口角を上げた。「さっき、あなたの秘書が楠彦に平手打ちし、ブレスレットまで捨てたでしょう。私、彼にも同じ代償を払わせたいの」幸枝は迷うことなく答えた。「彼に代償を払わせます」次の瞬間、平手打ちが重く安男の顔に叩きつけられた。安男は信じられないといった表情で顔を押さえた。「幸枝、よそ者のために俺を殴った?」幸枝は青ざめた顔に一片の情けもなく、淡々と言った。「早く江口さんのブレスレットを拾って!そして謝りなさい」目が真っ赤になった安男は怒りを押さえつけ、鼻をつまみながら手をゴミ箱に突っ込んだ。俺は興味深そうに彼を見つめた。しばらくして、彼はブレスレットを掲げて俺に差し出し、歯ぎしりしながら言った。「江口さん、申し訳ございません。誤解でした。どうか許してください」優花は俺の手を取り、警備員に指示を出した。「今夜は楠彦にもっと素敵なブレスレットを贈るわ。この古いのは処分して」警備員はすぐにブレスレットを受け取り、乱暴に引きちぎって袋に入れた。幸枝は慌てて叫んだ。「神原社長、私たちの契約は……」優花は足を止めず答えた。「楠彦の気分次第よ」警備員は幸枝と安男を会場から追い出した。その後、試合は順調に進行した。試合が終わった後、優花は俺が仕事で大変だと思ったので、寧々を研修旅行に参加させ、気前よくブラックカードを俺に渡した。さらに一週間の休暇もくれて、ゆっくり休むようにしてくれた。俺は喜んで受け取り、いつものようにお気に入りの
数人の警備員は震え上がり、慌てて一斉に礼をして声をそろえた。「社長、お疲れ様です!」優花は安男の手を払いのけると、俺の前に歩み出て、乱れた襟を丁寧に整えてくれた。「遅れてごめんね。怪我はない?」寧々も泣きながら俺の胸に飛び込み、「パパ、怪我しないで!」と叫んだ。傍にいた安男は呆然と立ちすくみ、信じられないという表情で口を大きく開けた。「夫?いや、ありえない。お前が神原社長の夫なはずがない!」優花は動きを止め、冷たい目で彼を睨んだ。「私が楠彦にふさわしくないって言いたいの?」安男は慌てて言い訳した。「そ、そんなつもりじゃありません」言い終わると、彼は唇を噛
reviews