로그인一向視我如命的許家三兄弟,卻在我惡性腦瘤折磨時不見蹤影。 做手術可能會導致失憶,我不想忘記他們,於是打電話向他們尋求幫助。 接通後,卻迎來他們劈頭蓋臉的斥罵:「宋小茹,今天阿妍過生日,你能不能別來添堵?」 我疼到昏厥,從醫院醒來後,我看到了手機裡沈妍發來的訊息。 「宋小茹,哥哥們送了我三個平安符保平安呢。」 照片中,是我一步一叩首,在雨中跪了七個小時才為三兄弟求來的平安符。 我終於死心,獨自去異國做手術遺忘他們。 直到某天,我看到了三個陌生男人跪在我家門口,瘋了一樣求我原諒。
더 보기"Nggak bisa, Yud. Orang tuaku bakal ngamuk kalo aku ngenalin kamu sebagai pacarku ke mereka."
"Udah dua tahun loh kita pacaran, Ka. Dan kamu tau kan kalo aku berniat serius sama kamu?"
Ini bukan pertama kalinya Yudha meminta kepada Arka untuk memperkenalkannya kepada kedua orang tua Arka. Mereka sudah dua tahun bersama dan rasanya sungguh tidak nyaman selalu bersembunyi dari kedua orang tua Arka—gadis manis yang dikenal Yudha sejak ia bertemu dengannya di sebuah event.
Arka terus mengaduk iced lemon tea di depannya tanpa minat. Pembicaraan yang sama, yang terus berulang, dan akan berakhir sama. Pertengkaran.
Yudha meraih tangan Arka, mengusap pelan punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya. "Kamu nggak pernah nanya ke orang tuamu, Ka? Kenapa kamu dilarang pacaran? Apa orang tuamu maunya kamu langsung dinikahi? Apa gimana? Kamu udah 23 tahun, Ka. Harusnya kamu udah bisa milih apa yang kamu mau."
"Ralat. Bagi orang tuaku, aku 'baru' 23 tahun, bukan 'sudah' 23 tahun. Ada perbedaan yang jauh antara kata 'baru' dan 'sudah' bagi orang tuaku." Arka mengerucutkan bibir, membuat emosi Yudha yang semula sudah hampir meledak, kembali turun.
Tidak perlu lah Arka membawa nama besar keluarga Bestari yang pasti akan membuat Yudha shock setelah tahu adat dalam keluarga itu.
"Please, Ka. Demi hubungan kita, tolong dong kamu berjuang sedikit. Setelah kamu ngomong ke orang tuamu, aku siap untuk maju meluluhkan hati mereka."
"Aku coba ya."
"Aku nunggu kamu, Ka. Umurku udah 26, dan mamaku udah berharap banget segera ada seseorang yang nemenin aku. Aku bisa aja nekat dateng ke orang tuamu, tapi aku selalu mikirin perasaanmu sebelum melakukan sesuatu."
Arka mengangguk, dalam diam berterima kasih atas apa yang dilakukan Yudha selama ini kepadanya.
"Aku anter pulang?"
"Tapi—"
"I know. Sampe depan kompleks atau perempatan dekat rumah, iya kan?" Yudha meraih tangan Arka kemudian membawanya ke mobil yang terparkir di depan cafe tempat mereka menghabiskan waktu makan siang.
Perjalanan tiga puluh menit itu terasa seperti berjam-jam karena keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Untung Yudha masih bisa fokus dan menghentikan mobilnya tepat di dekat perempatan rumah Arka. "Hati-hati ya, Ka," ucap Yudha sebelum Arka turun dari mobilnya.
"Iya, makasih, Yud."
"Jangan lupa apa yang kita omongin tadi. Ok?"
"Iya, aku janji bakal ngomong ke orang tuaku."
Kalimat itu akhirnya disesali Arka. Harusnya ia tidak menjanjikan apa yang tidak bisa dipenuhinya. Jangankan memenuhi, mau memulainya saja, keberanian Arka bagai ditenggelamkan ke dasar bumi.
Arkadewi Lintang Bestari, tumbuh sebagai anak bungsu yang dimanja keluarga. Sebenarnya semua wanita keturunan Bestari memang selalu dimanjakan layaknya putri.
Kakaknya, Argabima Pandhu bahkan tidak memiliki nama belakang seperti namanya. Hanya wanita yang berhak menyandang nama Bestari sebagai nama belakang keluarga itu. Arga bebas melakukan apa saja, kecuali satu hal, pekerjaan. Arga tidak punya pilihan lain selain mengelola bisnis keluarga.
Sebaliknya dengan Arka. Arka tidak bebas melakukan apa pun, kecuali satu hal, pekerjaan. Arka boleh memilih menjadi apa pun yang dia mau, selama tetap menjaga kehormatan keluarga Bestari.
Karena teringat janjinya pada Yudha, sejak sore Arka mencoba mencari waktu yang tepat untuk berbicara kepada kedua orang tuanya.
Dimulai dengan papanya, Arka mengekor ke mana papanya melangkah.
"Kamu kenapa sih dari tadi ngikutin Papa terus?" Hadi Wijaya, keturunan keluarga Bestari yang juga tidak memiliki nama belakang 'Bestari' itu menatap putri semata wayangnya dengan bingung.
"Papa mau ngapain?"
"Mau ngasih makan ikan di kolam samping," jawabnya sambil meraih pakan ikan yang ada di lemari kecil dekat teras.
Arka masih setia mengekor ke mana papanya melangkah. "Pa."
"Hmm?" tangan Hadi dengan luwesnya menaburkan pakan ikan ke dalam kolam sesuai takaran yang biasanya ia berikan.
"Pa, hmm ... menurut Papa aku udah dewasa belum?"
"Belum, mandi aja mesti diteriakin dulu."
Arka memejamkan mata, kenapa itu yang harus diungkit papanya. Dia bukan satu-satunya orang di dunia ini yang malas mandi kan?
"Pa, aku serius."
"Kenapa sih, Dek?"
"Aku ... pengen punya pacar kayak orang lain, Pa," ucapnya sambil membuat riak-riak air kolam dengan tangannya dan menampilkan wajah sesendu mungkin agar papanya tergerak hatinya.
"Nggak boleh," jawab Hadi dingin.
"Alasannya? Aku udah 23 tahun, dan kayaknya aku berhak tau alasannya deh, Pa."
Hadi hanya menghela napas berat, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Arka tanpa sepatah kata pun.
"Jangan salahin aku kalo nanti aku nggak nikah-nikah ya!" teriak Arka dari pinggir kolam sesaat sebelum papanya masuk ke dalam rumah.
Arka menggeram kesal. Ia berjalan menuju dapur di mana mamanya sedang entah melakukan apa, baking mungkin, atau membuat dessert. Sebagai ibu rumah tangga, mamanya sangat sering berada di dapur, walau hasil masakannya kadang membuat anggota keluarga itu mengernyitkan dahi.
"Ma."
"Kenapa?"
"Hmm ... Mama lagi bikin apa?"
"Setup roti, belum jadi, jangan minta dulu."
Arka mendengkus pelan. Dari mana ia harus mulai mengajukan pertanyaan? Sementara mamanya terkenal lebih galak daripada papanya. Itu sebabnya tadi ia bertanya lebih dulu pada papanya.
"Ma ...."
"Apa?"
"Nggak jadi, aku ambil buah pear yang di kulkas ya." Arka berlari dari dapur setelahnya, padahal tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya yang terkait dengan izin pacaran, tapi debaran jantungnya sudah menggila.
Hadi yang melihat Arka berlari tergopoh dari dapur lantas menghampiri istrinya. "Arka ngomong sesuatu, Ma?"
"Cuma ambil buah pear aja."
"Masa nggak ngomong sesuatu?"
"Nggak, Pa. Arka ngomong apa ke Papa? Dia kan suka takut mau ngomong ke Mama."
"Dia nanya alasan kita ngelarang dia pacaran." Helaan napas berat terdengar dari lelaki paruh baya itu. "Apa udah saatnya kita panggil Caraka ya, Ma? Umur Arka juga udah 23 tahun, Ma. Mungkin udah saatnya Arka tau semuanya."
***
Sebuah cafe bernuansa monokrom menjadi pilihan Yudha untuk makan siang dengan Arka. Tidak setiap hari ia bisa menjemput Arka pulang mengajar. Bersyukur hari ini ia sedang ada penugasan di luar hingga bisa mengajak Arka sekalian makan siang meskipun saat itu adalah hari kerja.
"Gimana, Sayang? Udah ngomong ke orang tuamu?"
Arka hampir saja mendengkus kesal atas pertanyaan Yudha. Tidak bisakah ia istirahat sebentar? Dia baru pulang mengajar, dan mengajar dua puluh anak berusia lima tahun itu tidaklah mudah. Energi yang dihabiskannya mungkin lebih banyak dibanding para dosen yang mengajar tiga puluh mahasiswa di dalam kelasnya.
"Apa kita harus ngomongin ini sekarang, Yud?"
"Kamu capek ya? Sorry." Yudha kemudian mengusapi puncak kepala Arka.
"Next time ya, Yud, kita omongin lagi. Aku pasti ngasih tau kamu kalo udah ada hasil dari pembicaraanku sama orang tuaku."
"Ok, ok, I'm sorry." Sekali lagi Yudha meminta maaf karena melihat gurat letih di wajah kekasihnya. Tangannya dengan lembut menyentuh tangan Arka dan memainkan jari-jarinya.
Namun tiba-tiba, seseorang menarik tangan Arka, berusaha memisahkan genggaman tangan mereka sebelumnya.
Yudha dan Arka menatap lelaki itu dengan tatapan bingung.
Baru saja Yudha akan menegur lelaki yang berani-beraninya mengganggu mereka, tapi lelaki itu sudah lebih dulu bicara.
"Arka, bukan pemandangan seperti ini yang ingin dilihat seorang suami yang baru bertemu istrinya setelah sekian lama!" ucapnya sambil menatap Arka lekat, seakan Yudha sama sekali tidak ada di sana.
"Masnya siapa ya?" Arka benar-benar bingung mendengar penuturan lelaki itu. Tapi tadi lelaki itu memanggil namanya kan?
"Arkadewi Lintang Bestari, saya … suami kamu."
「你早就知道小茹生病了!那天你在我們面前打翻的藥是小茹的特效藥!沈妍,我們對你那麼好!你為什麼要這樣對小茹!」 許言和許諾也變了臉色,連忙躲過那些調查資料翻看起來。 每翻一頁,他們的臉上就少一分血色。 到了最後已經控制不住地顫抖起來。 他們在做這些事情的時候可能覺得沒什麼,但這些事情一筆筆詳細地記錄下來,他們才發覺對我的傷害有多深。 我冷眼看著他們追悔莫及的模樣,只覺得好笑。 當初好的時候不珍惜,現在後悔給誰看呢? 我推著輪椅想要離開。 可倒在不遠處的沈妍猛地站起身衝了上來,口中不斷咆哮嘶吼著:「你腦袋裡不是長了腫瘤嗎?為什麼還沒死!」 「為什麼還要和我搶哥
沈妍衝到他們面前,關切地詢問:「哥哥們,你們這些天都去哪了?」 「我真的很擔心你們!小茹姐回來了嗎?她在哪?」 「我知道她是氣你們對我好,可就這樣一聲不吭地離家出走,也太不懂事了,哥哥們不要生氣。」 三兄弟聽見這話,並沒有像往常一樣露出責怪的表情,反而有些生氣。 沈妍有些慌亂,下意識露出討好的神色:「不過小茹姐生病了,有些脾氣也可以理解。」 許言臉色一變,猛地揪住沈妍的衣領:「你怎麼知道小茹生病了?你對她做了什麼?」 沈妍的表情扭曲了一下,然後又擺出那副楚楚可憐的模樣:「許言哥,我也是剛剛才知道,我同學在醫院實習,他告訴我小茹姐腦袋裡長了腫瘤!」 三兄弟對視一眼,心
幾個人撕扯得很狼狽,卻還想鑽空子往病房裡跑。他們鬧出來的動靜吸引了附近病房所有人的注意,好多人出來湊熱鬧。我冷著臉:「讓他們進來。」保鏢們動作一停,鬆開了手。許誠瞪了保鏢們一眼:「我們是許家的,說不準以後誰會娶了小茹,你們敢這麼對我們,小心被解僱!」我聽見這話氣笑了:「在我的病房前耍起威風來了?我都不認識你們,憑什麼會嫁給你們?」許諾先一步跑到我面前,試圖牽我的手卻被我躲開。他紅著眼,像是經歷了巨大的痛苦:「小茹,我問了醫生,醫生說你的手術可能會導致你失憶。」「沒關係,就算你真的忘記我們,我們會為你創造新的更美好的回憶,就當是我們贖罪了好不好?」許言也擠過來,聲淚俱下:「我不
許諾變了臉色,立刻站起身往外走。 許言和許誠也意識到了這一點,連忙朝著機場趕去。 他們要趕到宋小茹身邊,要陪著宋小茹度過難關,要對宋小茹贖罪! 6. 我做完手術清醒過來的時候已經是第三天了。 姑姑穿著無菌服守在我身邊,見我醒了開始落淚:「小茹,疼不疼啊?」 我咧嘴笑了笑:「能活下去的話就不疼!」 姑姑噗哧笑出了聲,跟我說:「小茹長命百歲!」 手術非常成功。 醫生說我會失憶,可目前我見到的所有人我都認識。 雖然總覺得確實想不起來一些東西,但我也並沒有想把它們記起來的想法,甚至覺得忘乾淨才能讓我更加開心。 脫離危險期後我就轉入了普通病房,在姑姑的照料下我
許誠在一旁幫腔:「是啊,該是你的東西一點都少不了。」 我扯了扯嘴角,冷淡地說了聲:「知道了。」 隨後也不再看他們的表情,轉身就進了別墅。 到了走廊上,和一臉挑釁的沈妍撞了個正著:「宋小茹,你看,屬於你的東西正在被我一點點搶過來呢!你開心嗎?」 我扯了扯嘴角,懶得理會她的挑釁,翻了個白眼就鑽進了自己的臥室,將門緊緊鎖死。 沈妍沒有再作妖,而是緩緩走下了樓梯。 房間的隔音不太好,我躺在床上,能清楚地聽見沈妍的歡呼聲。 她雀躍驚呼:「哇,許言哥哥,這麼好看的衣服,真的是你特意為我設計,親手做的嗎?」 她這副模樣看得三兄弟心中酸澀,更加心疼她從前受過的苦,嘰嘰喳喳在她身
罵完我,兩個人又像一陣風一樣,急匆匆回到了沈妍身邊。 我拿起體檢報告,顫抖著手翻看著。 上面說沈妍長時間遭受虐待、營養不良、憂鬱症、被害妄想症。 看完之後,我衝出門去想為自己辯白。 門外的醫生們已經離開了,兄弟三人將沈妍圍在中間。 許言正在給她削蘋果,許諾正攬著她的肩膀輕聲安慰著。 而許誠看到了我,極盡厭惡地開口:「你出來幹什麼?想看看我們在不在家,然後又找機會欺負阿妍嗎?」 沈妍瞬間紅了眼眶,兩個眸子溼漉漉地看向我:「小茹姐,我真的知道錯了。」 三兄弟瞬間緊張起來,連忙拿面紙給她擦眼淚。 看著這感人的一幕,我突然沒有了自證清白的心思。 不發一言地走回房
沈妍剛剛的問題不斷地在耳邊迴響。 她用多久才能取代我,可明明,她早就已經取代我了啊! 我心痛到發不出聲音,說不出一句為自己辯駁的話。 這時候的沈妍掙扎著從地上爬起來,跪著不斷地向我磕頭:「對不起小茹姐,我沒想到三個哥哥給我過生日,你會這麼生氣,都是我的錯,你剛剛讓我像狗一樣爬出這個別墅,我答應你,求你不要再為難我,也不要傷三個哥哥的心。」 說著,她就要爬出房間。 許家三兄弟的臉色青一陣白一陣,看向我的眼神都冒著火光。 我輕輕顫抖,張了張嘴,可在觸及到三兄弟看仇人一樣的目光時,只覺得一陣淒涼,因為我知道,無論我說什麼,他們都不會相信的。 2. 已經臨近深夜,巨大的
一向視我如命的許家三兄弟,為了娶到我不擇手段、大打出手,卻在我被惡性腦瘤折磨時不見蹤影。 做手術可能會導致失憶,我不想忘記他們,於是打電話向他們尋求幫助。 接通後,卻迎來他們劈頭蓋臉的斥罵:「宋小茹,今天阿妍過生日,你能不能別來添亂?」 我疼到昏厥,從醫院醒來後,我看到了手機裡沈妍發來的訊息。 「宋小茹,哥哥們可是送了我三個平安符保平安呢。」 照片中,是我一步一叩首,在雨中跪了七個小時才為三兄弟求來的平安符。 我終於死心,獨自去異國做手術,遺忘他們。 直到某天,我看到了三個陌生男人跪在我家門口,瘋了一樣求我原諒。 1. 從醫院回到家裡,我做的第一件事情就是給