LOGINヴィクター・ヴァレンティと離縁するため、私は慰謝料も財産分与も一切求めず、身一つで家を出ることを自ら申し出た。三歳になる息子のルカの親権すら放棄して。 私がわざわざ嫁ぐ前の古い服に着替えたのを見て、ヴィクターは一瞬虚を突かれたような顔をし、すぐに鼻で笑って言った。 「なんだ?お前が必死の思いで産んだ後継者のルカすら捨てるというのか? 芝居もほどほどにしておけ。後で引っ込みがつかなくなるぞ」 私は離婚協議書にサインをし、彼の方へ押しやった。 「安心して。芝居じゃないから」 ヴィクターは驚いたように私を一瞥し、ようやく自分のサインを乱暴に書き込んだ。 「ずいぶんと物分かりがいいな。いいだろう、俺の慈悲だ。今後も子供に会いに来ることは許可してやる」 彼はペンを放り出し、値踏みするような目で私を見据えた。 「もし後悔しているなら、今すぐ俺に泣きつけ。復縁を考えてやっても――」 私は彼の言葉を遮り、そのまま席を立って部屋を出た。 ヴィクターは、私がマフィアの権力に目がくらみ、命を救った恩を着せて彼と結婚し、さらにはファミリーを継がせるために、息子を必死にしがみついて産んだのだと勘違いしている。 だが、私が死んだと知れば、もうそんな誤解をすることもないだろう。
View MoreSial adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Mentari Chrysalis saat ini.
Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu sudah satu tahun ini menjadi seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar yang terkenal. Gajinya memang lumayan besar, tapi tidak akan pernah bisa sepadan dengan kesehatan mentalnya. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan perusahaan dan pekerjaannya. Dia menyukai pekerjaannya tersebut. Masalahnya adalah... orang yang menjadi bosnya.
“Gue pasti jadi gila,” gumam Mentari sambil menaruh beberapa berkas di atas meja kerjanya sendiri dengan sedikit bantingan. Tak lama, perempuan berambut panjang sepunggung yang hari ini dibiarkan tergerai itu duduk di kursinya sendiri, menopang dagu dengan sebelah tangan dan meniup poni yang menutupi keningnya. “Pasti!”
Mellani, sahabat Mentari sejak perempuan itu diterima bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ini, yang usinya dua tahun di atas Mentari, memutar kursi kerjanya agar dia bisa berhadapan dengan Mentari yang sedang cemberut hebat. Perempuan berambut pendek dan sudah menikah serta memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan itu, tersenyum geli.
“Ada apa lagi hari ini?” tanyanya dengan nada ingin tahu.
Mentari menatap Mellani dengan tatapan merengek. “Marah-marah nggak jelas lagi, Mbak. Heran deh, gue. Padahal nih ya, dia ngeliat hasil kerjaan gue aja belum. Dia lagi telepon, pas gue masuk ke dalam ruangannya untuk nyerahin hasil kerjaan gue yang emang harus dia periksa juga. Sekalian, gue mau kasih tau jadwal dia untuk sisa hari ini. Eh, dia malah ngomelin gue dan nyuruh gue kerjain lagi semuanya. Gimana gue mau kerjain lagi, kalau yang ini aja belum diliat?”
“Mungkin dia marah karena lo main masuk ke ruangannya seenaknya?” tanya Mellani lagi. Mencoba untuk mengutarakan pendapatnya.
Mentari mendengus, kemudian tertawa datar. Dia menaruh keningnya di atas kedua lipatan tangannya yang berada di atas meja kerjanya. Suaranya teredam ketika berbicara dengan Mellani.
“Gue ngetuk pintu, Mbak, dan dia udah nyuruh buat masuk.” Mentari terdiam, lalu mendadak kepalanya terangkat dan dia mengerjap. “Mungkin dia lagi menstruasi, Mbak?”
Baru saja Mellani ingin menegur Mentari agar tidak sembarangan bicara, seseorang melewati mereka berdua. Tubuhnya tinggi tegap dengan wajah tampan. Kulitnya putih dan tatapannya begitu tegas bak seekor elang. Alis tebal itu menaungi sepasang manik hitam legam yang kini melirik ke arah Mentari. Hidung mancungnya semakin mempertegas ketampanan laki-laki tersebut. Orang yang baru saja menjadi objek pembicaraan Mentari dan Mellani. Seketika itu juga, Mellani menutup kembali mulutnya dan Mentari langsung menegakkan punggung.
“Hanya ingin kamu tahu saja, Mentari, kalau saya nggak pernah mengalami menstruasi selama tiga puluh lima tahun saya hidup di dunia ini. Nggak pernah dan tidak akan pernah.”
Mentari menelan ludah dan meringis sambil mengangguk. Anggukan yang menandakan kalau dirinya menyesal karena sudah berkata yang aneh-aneh. Tapi dalam hati, Mentari tentu saja tidak menyesali ucapannya tersebut. Orang sikap si bos galak ini benar-benar terlihat seperti perempuan yang sedang menstruasi, kok. Mentari sendiri lupa kalau ruangan si bos tepat berada di belakang meja kerjanya.
“Siang, Pak Senja,” sapa Mentari, mencoba terlihat sopan dan imut. Dia berdiri dan membungkuk sebentar untuk menyapa. “Apa Pak Senja mau makan siang di luar? Atau, mau saya saja yang belikan supaya Pak Senja tidak perlu repot-repot jalan kaki keluar? Di luar sedang panas-panasnya, Pak, nanti gantengnya Bapak bisa memudar, loh.”
Senja Abimana mendengus dan mengibaskan sebelah tangannya. Lalu, laki-laki yang usianya sepuluh tahun lebih tua dibandingkan dengan Mentari itu pergi begitu saja. Meninggalkan Mentari yang memutar bola matanya karena kesal dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Senja Abimana, si bos galak yang sudah menghilang dari pandangan.
“Dasar sensi! Emang susah kalau berurusan sama orang yang udah tua, tuh,” gerutu Mentari. Dia baru saja mau duduk, ketika Senja kembali muncul hingga membuatnya buru-buru menegakkan tubuhnya kembali. Senyum sopan dan manis kembali muncul di wajah cantik Mentari. Mentari yang tingginya hanya sekitar 160 senti itu dan tidak sebanding dengan tinggi bosnya yang galak tersebut, kini merasa semakin kecil dan menciut karena ditatap oleh mata tajamnya tersebut. “Eh, Pak Senja balik lagi. Ada apa, Pak?”
“Kamu bilang, kamu bersedia untuk membelikan saya makanan,” sahut Senja. “Terus, apa lagi yang kamu tunggu? Kenapa kamu belum pergi? Saya sudah lapar.”
Mentari mengerjap. “Loh? Tapi, bukannya Bapak mau pergi cari makan sendiri?” tanya Mentari dengan nada polos.
“Siapa yang bilang seperti itu? Apa barusan saya bilang ke kamu kalau saya mau cari makan sendiri?”
Mentari melirik Mellani, meminta dukungan dan bantuan, karena dia yakin Mellani pun melihat apa yang barusan terjadi. Namun, seniornya itu hanya menggeleng singkat dan menyuruh Mentari untuk mengikuti saja kemauan si bos tanpa banyak omong.
“Tapi, barusan Bapak—“
“Saya mau ke toilet,” potong Senja langsung. Dia bersedekap dan menatap Mentari dengan tatapan menantang. “Apa kamu pikir, untuk urusan toilet, saya harus bilang ke kamu? Kamu sendiri kan yang tadi menawarkan diri untuk membelikan saya makan siang karena takut ketampanan saya memudar akibat cuaca panas di luar? Cepat belikan saya makan siang. Lima belas menit. Saya hanya akan menunggu sampai sebatas itu. Kalau dalam lima belas menit kamu belum juga kembali dan membawa makan siang untuk saya, kamu akan saya suruh untuk lembur hari ini.”
Mentari mengerjap lagi dan melongo. Dia tidak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa mematung, membiarkan Senja Abimana kembali menghilang dari pandangannya. Lalu, Mentari berseru histeris sambil menghentak kedua kakinya ke lantai dan mengacak rambutnya gemas. Tingkahnya itu membuat Mellani meringis, pun dengan beberapa pegawai yang ada di sekitar mereka dan menyaksikan kejadian barusan.
“Sumpah mati ya itu bos galak! Gue sumpahin dia impoten!” seru Mentari. Masa bodoh deh kalau Senja Abimana mendengar sumpah serapahnya barusan. Udah kepalang emosi sampai ke ubun-ubun soalnya. Kalau ini adalah adegan di dalam animasi, mungkin dari atas kepala Mentari sudah akan keluar asap putih, pun dengan kedua telinganya dan wajahnya akan memerah akibat emosi yang saat ini dia rasakan. “Apa gue taruh racun tikus aja di dalam makan siangnya? Ya! Ya! Kayaknya itu ide yang bagus.”
Mellani tertawa pelan dan menggeleng. “Jangan marah-marah gitu ah, Tar. Jangan terlalu benci juga sama si bos. Lo tau kan kalau sekat antara benci dan cinta itu tipis banget? Gimana kalau nanti lo malah jatuh cinta sama si bos?”
Mentari melongo dan detik berikutnya memperagakan adegan orang yang sedang muntah. Dia mengambil dompetnya dan bergegas turun untuk mencari makan siang bagi bos sialannya tersebut. Tak lupa, dia membalas ucapan Mellani lebih dulu.
“Amit-amit, deh. Nggak akan mau gue jatuh cinta sama cowok tua galak model si bos. Matahari bakalan terbit dari Barat kalau sampai gue sama si bos menjalin hubungan! Gue cari makan siangnya dulu, ya, Mbak. Sekalian sama racun tikus.”
Dan Mentari pergi sambil menggerutu entah apa, membuat teman-teman di ruangannya tersenyum geli dan kembali menyelesaikan sisa pekerjaan masing-masing sebelum memutuskan untuk makan siang.
私の葬儀は、ヴァレンティファミリーの百年の歴史の中で最も壮大なものとなった。屋敷全体が白い薔薇で埋め尽くされていた。それは私が生前一番好きだった花だ。皮肉なことに、生きている間には一度も贈られたことがなかった。ヴィクターは巨万の富を投じて作らせたクリスタルの棺の傍らに立ち、何日も寝ずに過ごしたせいで、すっかり痩せこけて別人のようになっていた。神父が敬虔な祈りの言葉を唱えている。その時、一人の部下が書類を手に駆け込んできた。「ド……ドン……マダムの生前の弁護士が、遺言を持ってまいりました。マダムのご意志により、葬儀の場で必ず読み上げろと……」ヴィクターはそれをひったくり、焦るように中を開いた。そこには、見慣れた私の筆跡があった。それは私が死ぬ前に、ヴィクターに残した最後の「贈り物」だった。文字を追うごとに、ヴィクターの顔から血の気が失せ、最後には死人のような土気色に変わった。覗き込んだ部下の目には、たった二行の短い文が映った。彼は恐る恐る、それを声に出して読み上げた。「依頼人オリヴィアの遺願。死後は火葬に付し、遺灰は海に撒くこと。ヴァレンティ家の墓には入らない。生まれ変わっても、永遠に、二度とヴィクターとは相見えないこと」その遺言は、巨大なハンマーのように、ヴィクターの最後の希望を粉々に打ち砕いた。「だめだ、許さない!」ヴィクターは凄絶な叫び声を上げ、口から鮮血を吐き出した。彼はクリスタルの棺にしがみつき、まるで命綱にすがるように離そうとしなかった。「オリヴィア、俺から逃げられると思うな!生きている間はお前のすべてが俺のものだ!死んだって俺のものだ!行かせるものか!どこへも行かせない!」ヴィクターは私の遺言の執行を拒絶した。彼は私を、永遠に自分の傍に置いておこうとしたのだ。「あいつさえここにいれば、ここはまだ『家』だ」彼は鏡の中の自分に向かって、自己暗示をかけるように呟いた。だが、現実は無情だ。部屋中に満ちた薔薇の香りの奥から、かすかな腐敗臭が鼻を突くようになってきた。「パパ、ママの体が臭いよ……」私の腕を拭いていたヴィクターの手が止まった。彼が猛然と振り向いた時の凶暴な目つきに、ルカは火がついたように泣き出した。「出て行け!」ルカは泣きなが
イザベラが二人のボディーガードに引きずり込まれてきた時、彼女はまだわめき散らしていた。「離しなさい!私はロッシ家の令嬢よ!ヴァレンティファミリーの次期マダムになる人間なのよ!」ヴィクターはソファに深く腰掛け、周囲に底知れぬ恐怖の空気を放っていた。それはまるで地獄の底から這い上がってきた悪魔のようだった。「次期マダム、だと?」彼は低く笑い声を漏らしたが、その声は冷酷だった。「イザベラ、俺の信頼を逆手に取り、俺が一番大切にしていた人を陰で痛めつけて……さぞかし愉快だっただろうな?」イザベラは内心ギクリとしたが、動揺を隠して数滴の涙を絞り出した。「ヴィクター、何を言ってるの?ルカが何か吹き込んだのね?あの子の傷は、他の子供たちと喧嘩してできたものよ。あなたに怒られるのが怖くて、私のせいにしたのよ!」ズドンッ!銃声が轟き、弾丸がイザベラの頬をかすめ、背後にある高価な調度品を粉々に打ち砕いた。イザベラは恐怖のあまり床にへたり込み、頬に走る灼熱の痛みに顔を歪ませた。「喧嘩でできた傷だと?」ヴィクターはルカをそばに引き寄せ、袖をまくり上げてくっきり残ったつねり痕を見せつけた。「子供の喧嘩でこんな指の跡がつくか?」さらに彼は、療養所に薬の支給を止めさせた記録と、ならず者を雇って孤児院に火を放たせた時の送金履歴の束を、彼女の顔に叩きつけた。「お前の見事な手口には、恐れ入ったよ」それらの証拠を目の当たりにしたイザベラは、顔面を蒼白にさせた。もう誤魔化しきれないと悟った彼女は、開き直ったように狂気じみた高笑いを上げた。「アハハハハ……そうよ!私がやったの!それがどうしたっていうの?ヴィクター、善人ぶらないでよ!あなたが甘やかしてくれたから、私はここまでやれたのよ!私が彼女を邪魔に思ってたのも、いじめていたのも、全部知っていたくせに!あなたはそれを見て見ぬふりをした!私の手に殺人のナイフを握らせたのはあなたよ!彼女が死んだからって、今更悲劇のヒーローを気取るつもり?人殺しの共犯者は、他でもないヴィクター、あなたよ!」彼女の言葉は、鋭いナイフとなって、ヴィクターの心臓に突き刺さった。「……お前の言う通りだ」ヴィクターの声は虚ろだった。「俺は罪人だ。地獄に落ちて、あいつに罪を償うさ。だが、その前に…
ヴィクターは私の遺体を、私たちの部屋へと抱え戻った。彼は私をベッドに寝かせ、丁寧に毛布を掛けた。「カーテンを閉めてくれ。オリヴィアは明るいと眠れないんだ」彼は使用人に命じた。その声は、私を起こすのを恐れるかのようにひどく小さかった。彼はベッドの傍らに座り、微動だにせず私を見つめていた。いつまでもそうしていれば、私が突然目を覚まし、彼に甘えてくるとでも思っているかのようだ。「オリヴィア、俺が焼いたステーキが食べたいって、いつも言ってたよな?今日は俺が腕を振るうから、起きて一口だけでも食べてくれないか?」私は冷ややかに、彼の狂ったような独り言を見つめていた。私の誕生日の夜、私は真夜中まで彼が食事を作ってくれるのを待ちわびていた。しかし、待っていたのは彼とイザベラがベッドで熱く絡み合う姿だったのだ。それが今、冷たい死骸に向かって料理を作る気になったというのか?その時、ドアが乱暴に開けられ、アーサーが分厚い日記帳を手に飛び込んできた。「出て行け!」ヴィクターは振り返りもせずに怒鳴りつけた。「誰が勝手に入っていいと言った?オリヴィアの眠りを妨げるな!」アーサーは震える手で、その日記帳を差し出した。「ドン!これをご覧ください!マダムの遺品を整理していた時に見つけたのです。マダムはあなたに見せたくなかったかもしれませんが、この二年間、マダムがどんな思いで過ごしてこられたか、あなたは知る義務があります!」ヴィクターの指がピクンと痙攣した。彼は振り返り、端が擦り切れたその日記帳を受け取ると、最初のページを開いた。【今日もヴィクターは帰ってこなかった。大丈夫、彼はファミリーの仕事で忙しいのだから、私が理解してあげなきゃ】【ルカが熱を出した。彼に電話をかけたけれど、切られてしまった。後でイザベラさんのSNSを見たら、二人は雪山へ行っていたみたい。写真の雪はとても綺麗だったけれど、私の心はあの雪よりも冷たい】【医者から、私の体はもうボロボロで長くは生きられないと言われた。彼が知ったら悲しんでくれるだろうか?いや、悲しまないだろう。私が死ねば、イザベラにマダムの座を譲ってあげられるのだから】……ヴィクターがページをめくるたび、彼の顔から血の気が引いていった。最後の数ページに至る頃には、病魔の痛みのためか、文字
イザベラはハイヒールの音を響かせ、鼻を覆いながら近づいてきた。ストレッチャーの上に横たわる私を一瞥して嫌悪感に眉をひそめたが、その目には微かな歓喜の光が隠しきれていなかった。「ヴィクター、だから言ったじゃない。お芝居よ。オリヴィアが用意した身代わりに決まってるわ。あなたの気を引くためにこんな悪辣なことまで……本当に恐ろしい人ね」ヴィクターはハッと我に返ったように猛然と振り返り、恐ろしいほど血走った目で彼女を睨みつけた。「そうだ、偽物だ。あいつは誰よりも痛がりなんだ。銃で自分の頭を撃ち抜くなんて真似、できるはずがない!おい、ファミリーの専属医を呼べ!今すぐだ!」私は思わず冷笑した。確かに、かつての私は痛いのが大の苦手だった。指先にほんの小さな切り傷ができただけでも、あなたに包帯を巻いてもらおうと泣きついていたのだから。だが、心が死ぬほどの絶望に比べれば、頭蓋骨を銃弾が貫く痛みなど、どうということもなかった。ファミリーの専属医はすぐに駆けつけた。ヴィクターの殺気立った視線を浴びながら、震える手でサンプルを採取し、歯型の記録を照合する。結果を待つ時間は拷問のようだった。ヴィクターは苛立ちを隠せずにその場を歩き回っていた。「結果はどうだ!」十分後、彼は専属医の医療キットを蹴り飛ばした。専属医は泣きそうな声で、検査報告書を差し出した。「ドン……DNAと歯型を照合した結果……間違いありません。マダムのご遺体です。それに……マダムの臓器はすでに深刻な機能不全を起こしており、自ら命を絶たれなくても……もって一年という状態でした……」頭の中で轟音が鳴り響いたかのような衝撃だった。その言葉は落雷のように、ヴィクターの思考を完全に停止させた。彼はぐらりとよろめき、数歩後ずさって危うく倒れそうになった。「多臓器不全だと……仮病じゃなかったのか?ありえない……あいつの体がそこまで悪化していたはずがない!信じないぞ!お前ら、俺を騙しているな!全員で俺を騙しているんだろう!」彼は目を真っ赤に血走らせ、専属医の胸ぐらを掴み上げた。「もう一度調べろ!一言でも嘘をつけば、その頭を吹き飛ばすぞ!」専属医は恐怖で股間を濡らしながらも、絶望的な顔で首を横に振るしかなかった。「ドン、何回調べても、結果は同じです!」ヴィクタ
reviews