Kampus sore itu dibasahi sisa-sisa air hujan. Selama empat jam duduk di ruang kuliah PAUD, pikiranku tak sepenuhnya fokus pada teori perkembangan kognitif anak yang dipaparkan dosen. Sebagian besar ruang di kepalaku justru dipenuhi oleh ingatan tentang sentuhan lembut tangan Arkan di puncak kepalaku tadi pagi, serta janji pria itu yang akan menjemputku sore ini.Saat jam perkuliahan berakhir, aku melangkah keluar menuju gerbang kampus. Sebuah mobil SUV hitam yang sangat kukenal sudah terparkir rapi di bawah naungan pohon trembesi.Arkan menurunkan kaca mobilnya, melambai pelan padaku. Wajahnya yang tegas dan tampan tampak sedikit lelah setelah menyelesaikan urusan bisnisnya seharian, namun binar matanya langsung menyala hangat begitu melihatku mendekat."Gimana kuliahnya hari ini?" tanya Arkan saat aku sudah duduk di sampingnya dan memasang sabuk pengaman."Lancar, Mas," jawabku tersenyum tipis. Aku merogoh tas ranselku, mengeluarkan sebuah buku sketsa ke
続きを読む