Pagi hari di rumah utama biasanya diliputi keheningan yang menenangkan, diselingi aroma kopi hangat dan gemericik air manjur di kolam tengah. Namun, pagi ini suasana di meja makan terasa begitu mencekik.Aku berdiri di dekat pintu penghubung pantry, memegang baki berisi cangkir teh herbal hangat untuk Bu Wini. Di meja makan kayu jati yang luas itu, Bu Wini duduk di ujung meja, didampingi Mbak Nisa yang tampak pucat dengan perut kehamilannya yang membuncit. Di seberangnya, Erick duduk bersedekap dada dengan wajah yang dipoles senyum miring yang teramat licik.Arkan melangkah masuk ke ruang makan dengan kemeja kerja berwarna abu-abu gelap yang rapi. Langkah kakinya yang tegap dan berirama seketika menarik perhatian semua orang di ruangan itu."Pagi, Bu," sapa Arkan singkat seraya mencium tangan ibunya penuh hormat, lalu mengambil posisi duduk di sebelah Bu Wini."Pagi, Arkan," sahut Bu Wini lembut.Sebelum Arkan sempat meraih cangkir kopinya, Erick b
続きを読む