Sore makin merambat turun di pelataran kolam renang rumah batu itu. Cahaya matahari yang mulanya terik berganti menjadi keemasan hangat, membiaskan bayang dedaunan palem di permukaan air yang tenang. Hawa dingin perlahan menyusup, membelai kulit Anin yang masih terbungkus kaus putih tipis dan basah. Nabas memandangi wanita di sampingnya. Kata 'cerai' yang tadi menggantung di udara seolah menguap, meninggalkan keheningan panjang di antara mereka. Anin masih memejamkan mata, membiarkan jemarinya memutar-mutar gelas jus sayur yang sudah kosong. "Kamu bilang dia menuduhmu konservatif?" buka Nabas tiba-tiba. Suaranya rendah, membelah senyap dengan nada provokatif yang sengaja ia pasang. Nabas memiringkan tubuhnya di atas kursi santai, bertopang pada sebelah siku seraya menatap profil samping wajah Anin yang diterpa pendar sore. Mata Anin terbuka pelan. Ia menoleh, mengerutkan kening mendengar topik yang mendadak dilempar pemuda itu. "Maksudmu?" "Suamimu," lanjut Nabas tanpa ragu.
Last Updated : 2021-09-11 Read more