Pengantin Pesanan23 – Tamu di PagarDanesh terbangun sebelum alarm, dengan firasat buruk yang menekan dadanya seperti telapak tangan raksasa.Jam di ponselnya menunjukkan pukul 05.48. Dia nyaris tidak tidur, hanya tertidur-terbangun dalam potongan pendek yang dipenuhi gaun anggur di ambang pintu dan satu jari yang menyentuh bibirnya. Dia menyibakkan selimut, mengusap wajah, dan turun ke dapur untuk mengambil air, dengan satu-satunya niat membasuh pikiran yang masih berputar.Di meja makan ada selembar kertas.Tulisan Latin yang miring dan hati-hati, hasil menyalin dari layar. Terima kasih. Maaf.Danesh membacanya sekali, dan seluruh darah di tubuhnya turun ke kaki.Dia tidak ingat bagaimana dia sampai di pintu depan. Dia hanya ingat kaki telanjangnya menghantam lantai marmer, pintu terbanting terbuka, dan udara pagi yang dingin menampar wajahnya. Dari ujung halaman, di balik pagar dan lampu taman yang masih menyala, dia melihat sosok kecil berkardigan abu-abu berdiri di depan gerbang
Mehr lesen