Compartir

21 - Hasil Tes

Autor: Serafina
last update Fecha de publicación: 2026-10-16 15:27:49

Pengantin Pesanan

21 – Hasil Tes

Dokter Riza datang pukul sembilan pagi dengan blus linen krem dan tas kulit yang sudah lusuh. Tidak ada jas putih, dan itu adalah hal pertama yang Danesh perhatikan dan hal pertama yang membuatnya sedikit lega.

“Jas putih itu menakutkan,” katanya ketika menyadari arah tatapan Danesh, sambil menjabat tangannya dengan genggaman yang hangat dan singkat. “Terutama bagi orang yang pernah diperiksa tanpa persetujuannya.”

Usianya sekitar empat puluh lima, rambut ikalny
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pengantin Pesanan   21 - Hasil Tes

    Pengantin Pesanan21 – Hasil TesDokter Riza datang pukul sembilan pagi dengan blus linen krem dan tas kulit yang sudah lusuh. Tidak ada jas putih, dan itu adalah hal pertama yang Danesh perhatikan dan hal pertama yang membuatnya sedikit lega.“Jas putih itu menakutkan,” katanya ketika menyadari arah tatapan Danesh, sambil menjabat tangannya dengan genggaman yang hangat dan singkat. “Terutama bagi orang yang pernah diperiksa tanpa persetujuannya.”Usianya sekitar empat puluh lima, rambut ikalnya pendek dengan uban yang tidak disembunyikan, suaranya rendah dan tenang seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi badai untuk panik di depan angin. Svetlana, yang sudah datang lebih awal dengan sekantong roti, menyapanya dengan anggukan sesama anggota satu barisan. Mereka rupanya sudah bertahun-tahun saling kenal lewat lembaga bantuan yang sama.“Dokter jiwa, Bos?” bisik Ucok di sisi Danesh dengan wajah serius. “Saya harus ngaku dosa dulu?”“Cok.” Danesh melirik Ucok dengan tatapa

  • Pengantin Pesanan   20 - Penerjemah

    Pengantin Pesanan20 – PenerjemahVan itu berhenti di depan gerbang dengan decitan ban yang membuat burung-burung di pohon kamboja beterbangan, dan Danesh sudah melompat turun sebelum Bromo sempat mematikan mesin.Taman belakang rumahnya sunyi dengan cara yang salah. Selang air masih mengalir di atas petak bunga yang mulai tergenang, gerobak dorong terguling di dekat pagar, dan dua topi caping tergeletak di rumput seperti dilemparkan terburu-buru. Pintu kecil di sisi tembok, yang seharusnya selalu dikunci dari dalam, terbuka setengah dan berayun pelan tertiup angin.“Bersih,” lapor Bromo setelah menyisir seluruh sudut taman dalam waktu yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya. Dia menunjuk sebuah termos di atas bangku batu. “Hangat.”Ucok menyentuhnya, mengendus, dan mengangguk dengan serius. “Teh, Bos. Pakai gula. Baru pergi, paling lama lima menit.” Dia mengangkat wajah dari termos yang baru saja dia hidu aromanya dan menatap pagar kosong dengan kekecewaan seorang pejuang yang ke

  • Pengantin Pesanan   19 - Daftar Gelap

    Pengantin Pesanan19 – Daftar GelapVan itu melaju membelah siang Jakarta yang terik, dan Danesh duduk di kursi tengah menatap telapak tangannya yang kosong, seakan kertas lecek tadi masih menempel di sana dan hanya perlu dilihat dengan cara yang tepat.“Jadi gitu,” katanya akhirnya. “Rafi kasih gue kertas. Isinya nama jalan di Kelapa Gading sama satu kata: Angel. Terus sipir ngambil kertasnya.”“Sipir yang senyumnya kayak sales asuransi, Bos?” tanya Ucok dari kursi depan sambil membuka laptop di pangkuannya.“Iya.”“Berarti kita punya masalah, Bos.”“Dua,” kata Bromo dari balik kemudi, tanpa menoleh.“Dua?”“Senyumnya. Sama kertasnya.”Ucok mengangguk-angguk, takjub pada kebijaksanaan rekan sekerjanya. Danesh memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Dia sempat membaca nama jalan itu sebelum kertasnya direnggut, sebuah jalan panjang di Kelapa Gading yang dipenuhi ratusan ruko dan rumah, dan menyebutkannya dengan suara yang terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.“Panjang b

  • Pengantin Pesanan   18 - Kunjungan Lapas

    Pengantin Pesanan18 – Kunjungan LapasBau pembersih lantai bercampur asap kretek dan keringat, itulah aroma yang menyambut Danesh setiap kali pintu besi lapas itu terbuka, dan entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menusuk daripada biasanya.Di meja registrasi, Ucok berdiri dengan sekotak martabak telur di tangan dan senyum penuh persahabatan yang terlalu lebar untuk ukuran seorang tamu. “Buat Bapak-bapak yang jaga,” katanya pada sipir bertubuh gempal di balik kaca. “Uang rokok, Pak. Eh, maksud saya, silaturahmi.”“Cok.” Danesh menarik kerah belakang jaket asistennya. “Klien gue ditangkap KPK gara-gara yang namanya silaturahmi.”“Tapi ini martabak, Bos. Bukan amplop.”“Dingin,” kata Bromo dari belakang mereka, dan tidak jelas apakah dia menilai martabaknya atau suasana hati Danesh. Mereka berdua ditinggal di ruang tunggu sementara Danesh digiring melewati koridor panjang bercat hijau kusam, melewati tiga pintu besi yang masing-masing menutup di belakangnya dengan bunyi dentang yan

  • Pengantin Pesanan   17 - Paspor

    Pengantin Pesanan17 – PasporDanesh terbangun dengan leher yang terasa seperti dipatahkan, lalu dikembalikan ke tempatnya oleh tukang yang sedang buru-buru.Beberapa detik dia tidak tahu kenapa dia tidur di lantai, kemudian kejadian semalam memenuhi kepalanya satu per satu: jeritan, tangan yang terulur, tawa yang tidak dia sangka masih bisa dia dengar dari perempuan itu. Cahaya pagi menyusup lewat celah tirai. Di atas ranjang, Katya masih tidur dengan lutut ditarik ke dada, seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan beristirahat, dan sebelah tangannya menggantung di tepi kasur, tepat di tempat jari-jari mereka tadi bertaut.Danesh menunduk, mencari map cokelat di pangkuannya, dan terdiam.Map itu tidak ada di pangkuannya. Map itu tergeletak di karpet di sampingnya, tertutup rapat, dengan semua lembar di dalamnya tersusun begitu rapi hingga ujung-ujungnya sejajar. Dia yakin dia tidak melakukannya. Dia membuka bagian atas map itu dan salinan paspor yang semalam dia lingkari dengan spid

  • Pengantin Pesanan   16 - Nina Bobo

    Pengantin Pesanan16 – Nina BoboKatya menggosok noda di gaun biru itu sampai kainnya basah dan jari-jarinya memerah. Air keran mengalir dingin di wastafel kamar mandi, bercak merah itu memudar menjadi merah muda dan akhirnya nyaris tak terlihat, tetapi ia terus menggosok seolah noda itu bisa berubah menjadi bukti yang membuatnya dikembalikan.Danesh tidak berkata apa-apa soal itu. Dia hanya mengantarkan Katya ke kamar, menyalakan lampu kecil di samping ranjang, menunjuk Alexa seakan berkata panggil saja kalau perlu apa pun, lalu berdiri canggung di ambang pintu dengan kedua tangan terjejal ke saku celana.“Good night,” katanya.Katya nyaris menjawab dengan kata yang selalu dia pakai untuk menutup hari, kata yang dulu harus diucapkan sambil menunduk dan tersenyum, tetapi bibirnya berhenti di tengah jalan. Dia hanya mengangguk. Pintu ditutup pelan, hampir tanpa suara, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini dia sendirian dalam kamar yang tidak punya kunci dari luar.Ranjangny

  • Pengantin Pesanan   05 - Monster Sesungguhnya

    PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.

  • Pengantin Pesanan   04 - Kedatangan Pengantin

    PENGANTIN PESANAN04 – Kedatangan Pengantin-3 BULAN KEMUDIAN-“Bos, pesawatnya sebentar lagi landing.”Ponsel Danesh yang disetel dalam mode senyap menampilkan notifikasi di layar. Nama Ucok, asisten pribadinya, m

  • Pengantin Pesanan   01 - Resmi Jadi Duda

    Pengantin Pesanan01 – Resmi Jadi Duda“Selamat Dan, sudah resmi jadi duda.”Evan, pengacara perceraian yang mewakilinya, menyerahkan amplop cokelat pada Danesh, dia menyeringai dengan senyum penuh arti pada teman sekampusnya dulu.Danes

  • Pengantin Pesanan   0 - Prolog

    Pengantin Pesanan0 – PrologPerempuan bertubuh ramping dengan pinggang kecil itu mengerjapkan mata hijaunya; begitu jernih bagaikan air danau yang tenang namun menyimpan misteri.Hidungnya tinggi berpadu dengan bibir seksi yang mengundang untuk dikecup, l

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status