Home / Romansa / Pengantin Pesanan / 22 - Barang Cacat

Share

22 - Barang Cacat

Author: Serafina
last update publish date: 2026-10-19 08:43:32

Pengantin Pesanan

22 – Barang Cacat

Dua hari sejak dokter berambut ikal itu datang, Danesh berubah menjadi orang yang sangat sopan.

Dia mengetuk pintu sebelum masuk dapur. Dia duduk di ujung meja makan dengan satu kursi kosong di antara mereka, selalu satu kursi, tidak pernah kurang. Dia berhenti menyentuh bahu Katya ketika lewat, berhenti memanggilnya dengan nada setengah bercanda, dan setiap malam mengucapkan selamat tidur dari ambang pintu kamarnya dengan kedua tangan terjejal ke saku, seper
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pesanan   23 - Tamu di Pagar

    Pengantin Pesanan23 – Tamu di PagarDanesh terbangun sebelum alarm, dengan firasat buruk yang menekan dadanya seperti telapak tangan raksasa.Jam di ponselnya menunjukkan pukul 05.48. Dia nyaris tidak tidur, hanya tertidur-terbangun dalam potongan pendek yang dipenuhi gaun anggur di ambang pintu dan satu jari yang menyentuh bibirnya. Dia menyibakkan selimut, mengusap wajah, dan turun ke dapur untuk mengambil air, dengan satu-satunya niat membasuh pikiran yang masih berputar.Di meja makan ada selembar kertas.Tulisan Latin yang miring dan hati-hati, hasil menyalin dari layar. Terima kasih. Maaf.Danesh membacanya sekali, dan seluruh darah di tubuhnya turun ke kaki.Dia tidak ingat bagaimana dia sampai di pintu depan. Dia hanya ingat kaki telanjangnya menghantam lantai marmer, pintu terbanting terbuka, dan udara pagi yang dingin menampar wajahnya. Dari ujung halaman, di balik pagar dan lampu taman yang masih menyala, dia melihat sosok kecil berkardigan abu-abu berdiri di depan gerbang

  • Pengantin Pesanan   22 - Barang Cacat

    Pengantin Pesanan22 – Barang CacatDua hari sejak dokter berambut ikal itu datang, Danesh berubah menjadi orang yang sangat sopan.Dia mengetuk pintu sebelum masuk dapur. Dia duduk di ujung meja makan dengan satu kursi kosong di antara mereka, selalu satu kursi, tidak pernah kurang. Dia berhenti menyentuh bahu Katya ketika lewat, berhenti memanggilnya dengan nada setengah bercanda, dan setiap malam mengucapkan selamat tidur dari ambang pintu kamarnya dengan kedua tangan terjejal ke saku, seperti tamu di hotel yang takut memecahkan sesuatu.Katya mengenali perilaku itu. Dia sudah melihatnya berkali-kali, di wajah lelaki yang datang ke ruang tamu Mami, melirik jam, bicara terlalu sopan, lalu mengatakan mereka akan mempertimbangkan. Selalu ada kalimat itu. Kami akan mempertimbangkan. Dan beberapa hari kemudian, perempuan yang dipertimbangkan itu menghilang dari asrama tanpa pamit.Suara Anna menyusup ke kepalanya tanpa permisi, dengan kelembutan yang dulu membuatnya mengigil. Barang yan

  • Pengantin Pesanan   21 - Hasil Tes

    Pengantin Pesanan21 – Hasil TesDokter Riza datang pukul sembilan pagi dengan blus linen krem dan tas kulit yang sudah lusuh. Tidak ada jas putih, dan itu adalah hal pertama yang Danesh perhatikan dan hal pertama yang membuatnya sedikit lega.“Jas putih itu menakutkan,” katanya ketika menyadari arah tatapan Danesh, sambil menjabat tangannya dengan genggaman yang hangat dan singkat. “Terutama bagi orang yang pernah diperiksa tanpa persetujuannya.”Usianya sekitar empat puluh lima, rambut ikalnya pendek dengan uban yang tidak disembunyikan, suaranya rendah dan tenang seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi badai untuk panik di depan angin. Svetlana, yang sudah datang lebih awal dengan sekantong roti, menyapanya dengan anggukan sesama anggota satu barisan. Mereka rupanya sudah bertahun-tahun saling kenal lewat lembaga bantuan yang sama.“Dokter jiwa, Bos?” bisik Ucok di sisi Danesh dengan wajah serius. “Saya harus ngaku dosa dulu?”“Cok.” Danesh melirik Ucok dengan tatapa

  • Pengantin Pesanan   20 - Penerjemah

    Pengantin Pesanan20 – PenerjemahVan itu berhenti di depan gerbang dengan decitan ban yang membuat burung-burung di pohon kamboja beterbangan, dan Danesh sudah melompat turun sebelum Bromo sempat mematikan mesin.Taman belakang rumahnya sunyi dengan cara yang salah. Selang air masih mengalir di atas petak bunga yang mulai tergenang, gerobak dorong terguling di dekat pagar, dan dua topi caping tergeletak di rumput seperti dilemparkan terburu-buru. Pintu kecil di sisi tembok, yang seharusnya selalu dikunci dari dalam, terbuka setengah dan berayun pelan tertiup angin.“Bersih,” lapor Bromo setelah menyisir seluruh sudut taman dalam waktu yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya. Dia menunjuk sebuah termos di atas bangku batu. “Hangat.”Ucok menyentuhnya, mengendus, dan mengangguk dengan serius. “Teh, Bos. Pakai gula. Baru pergi, paling lama lima menit.” Dia mengangkat wajah dari termos yang baru saja dia hidu aromanya dan menatap pagar kosong dengan kekecewaan seorang pejuang yang ke

  • Pengantin Pesanan   19 - Daftar Gelap

    Pengantin Pesanan19 – Daftar GelapVan itu melaju membelah siang Jakarta yang terik, dan Danesh duduk di kursi tengah menatap telapak tangannya yang kosong, seakan kertas lecek tadi masih menempel di sana dan hanya perlu dilihat dengan cara yang tepat.“Jadi gitu,” katanya akhirnya. “Rafi kasih gue kertas. Isinya nama jalan di Kelapa Gading sama satu kata: Angel. Terus sipir ngambil kertasnya.”“Sipir yang senyumnya kayak sales asuransi, Bos?” tanya Ucok dari kursi depan sambil membuka laptop di pangkuannya.“Iya.”“Berarti kita punya masalah, Bos.”“Dua,” kata Bromo dari balik kemudi, tanpa menoleh.“Dua?”“Senyumnya. Sama kertasnya.”Ucok mengangguk-angguk, takjub pada kebijaksanaan rekan sekerjanya. Danesh memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Dia sempat membaca nama jalan itu sebelum kertasnya direnggut, sebuah jalan panjang di Kelapa Gading yang dipenuhi ratusan ruko dan rumah, dan menyebutkannya dengan suara yang terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.“Panjang b

  • Pengantin Pesanan   18 - Kunjungan Lapas

    Pengantin Pesanan18 – Kunjungan LapasBau pembersih lantai bercampur asap kretek dan keringat, itulah aroma yang menyambut Danesh setiap kali pintu besi lapas itu terbuka, dan entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menusuk daripada biasanya.Di meja registrasi, Ucok berdiri dengan sekotak martabak telur di tangan dan senyum penuh persahabatan yang terlalu lebar untuk ukuran seorang tamu. “Buat Bapak-bapak yang jaga,” katanya pada sipir bertubuh gempal di balik kaca. “Uang rokok, Pak. Eh, maksud saya, silaturahmi.”“Cok.” Danesh menarik kerah belakang jaket asistennya. “Klien gue ditangkap KPK gara-gara yang namanya silaturahmi.”“Tapi ini martabak, Bos. Bukan amplop.”“Dingin,” kata Bromo dari belakang mereka, dan tidak jelas apakah dia menilai martabaknya atau suasana hati Danesh. Mereka berdua ditinggal di ruang tunggu sementara Danesh digiring melewati koridor panjang bercat hijau kusam, melewati tiga pintu besi yang masing-masing menutup di belakangnya dengan bunyi dentang yan

  • Pengantin Pesanan   05 - Monster Sesungguhnya

    PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.

  • Pengantin Pesanan   04 - Kedatangan Pengantin

    PENGANTIN PESANAN04 – Kedatangan Pengantin-3 BULAN KEMUDIAN-“Bos, pesawatnya sebentar lagi landing.”Ponsel Danesh yang disetel dalam mode senyap menampilkan notifikasi di layar. Nama Ucok, asisten pribadinya, m

  • Pengantin Pesanan   03 - Pengantin Pesanan

    PENGANTIN PESANAN03 – Pengantin Pesanan“Dunia ini enggak seluas daun kelor, Dan. Lo harus buka diri lo untuk kesempatan yang datang. Eksplor, man.” Rafi memulai presentasinya.Danesh berusaha mendengarkan Rafi, namun perhatiannya teralihkan o

  • Pengantin Pesanan   02 - Tawaran Sekali Seumur Hidup

    Pengantin Pesanan02 – Tawaran Sekali Seumur HidupPesta berlangsung meriah.Lingkaran koneksi Danesh yang kecil, namun terdiri dari para crazy rich dan orang yang punya jabatan mentereng itu berkumpul untuk merayakan status terbaru dari Pengacara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status